Ekonomi Digital Makin Binal
berita
Ekonomika
09 October 2019 16:10
Penulis
Watyutink.com - Indonesia bakal mencatat sejarah baru sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di AsiaTenggara dalam 5 tahun mendatang. Riset terbaru Google, Temasek dan Bain & Company menyebutkan potensi omzet ekonomi digital di Indonesia dari tahun ke tahun semakin besar.

Google memperkirakan ekonomi digital di Indonesia akan terus meningkat dari posisi 40 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 133 miliar dolar AS pada 2025. Faktor yang mendorong pertumbuhan yang pesat tersebut adalah wilayah Nusantara yang luas dan jumlah penduduknya yang besar, menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan dengan negara lain di Asean.

Ditambah lagi dengan pembangunan infrastruktur dan ekosistem ekonomi digital yang terus membaik membawa Indonesia ke posisi puncak di kawasan Asia Tenggara dengan rata-rata pertumbuhan omzet sebesar 49 persen per tahun.  

Namun apakah benar pembangunan infrastruktur dan ekosistem ekonomi digital telah mampu meningkatkan nilai? Jangan-jangan hanya cerita yang dilebih-lebihkan tentang inovasi teknologi. Jumlah penduduk Indonesia yang melimpah ruah digadang-gadang sebagai market yang sangat potensial. Tetapi apakah semua populasi membutuhkan produk yang dijual?

Di samping itu, penetrasi internet juga meningkat tajam dari 92 pengguna pada 2015 menjadi 153 juta pengguna pada tahuh ini. Kondisis tersebut menjadi salah satu faktor penting yang turut mendorong tumbuhnya ekonomi digital dengan cepat.

Indonesia dipandang memiliki kemiripan karakteristik dengan China yang kini menjadi raksasa dalam industri digital. Untuk bisa mengejar omzet yang lebih tinggi, Indonesia harus mengoptimalkan penggunaan layanan pembayaran digital. Dari 264 juta penduduk, hanya 42 juta yang memiliki rekening bank. Hal ini memberikan peluang besar bagi sistem pembayaran online. Apakah kesamaan karakter ini membuka peluang lebih lebar kepada China untuk membangun ekonomi digital di Tanah Air?

Riset tersebut juga menyebutkan penyumbang terbesar petumbuhan omzet ekonomi digital berasal dari empat subkategori  yakni  e-commerce, online travel, media online, dan transportasi online.  E-commerce mencatat pertumbuhan paling tinggi dari 12,2 miliar dolar AS pada tahun lalu menjadi 22 miliar dolar AS pada tahun ini. Posisi  kedua ditempati transportasi online yang naik dari 3,7 miliar dolar AS menjadi 6 miliar dolar AS pada periode yang sama.

Namun hasil riset tersebut seperti bertolak belakang dengan kondisi perusahaan yang masuk dalam kategori ekonomi digital. Dalam beberapa waktu terakhir saham Uber dan Lyft anjlok nilainya lantaran gagal memenuhi harapan investor.

Uber, sebagai pelopor ride-hailing yang diikuti oleh Gojek dan Grab, misalnya, mengalami penurunan nilai sebanyak 30 persen, lebih rendah dari harga perdananya. WeWork memangkas valuasi hingga Rp450 triliun atau 70 persen lebih rendah dari valuasi sebelumnya, sehinggga terpaksa menunda IPO.

Ekonomi digital lain yang mulai gonjang-ganjing adalah Bukalapak yang disebut-sebut mengalami kesulitan pendanaan. E-commerce itu menepis rumor tersebut dan menyebutkan bahwa mereka sedang melakukan reorientasi bisnis agar dapat menurunkan kerugian. Selain Bukalapak, ada OYO, startup serupa Airbnb, yang juga mulai goyang karena dicurigai melakukan praktik russian-doll ponzi game, terkait dengan valuasinya yang fantastis dan tidak wajar.

Melihat beberapa kasus yang berkembang belakangan ini, apakah sudah tepat bagi Indonesia mengandalkan pertumbuhan di masa depan pada ekonomi digital?  Apakah ekonomi digital bisa menjadi bubble baru yang siap pecah kapan saja? Bagaimana memfasilitasi pertumbuhan ekonomi digital yang pesat agar berkembang baik dan memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang lebih baik  bagi seluruh rakyat Indonesia?

Apa pendapat Anda? Watytink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Kita mau kemana dulu dengan ekonomi  digital?  Apakah ke e-commerce, P to P, atau bentuk lain. Namun hampir semua perusahaan digital masih bakar uang, bahkan gojek saja masih bakar uang. Barangkali karena persaingannya cukup besar.

Ekonomi digital merupakan bisnis baru yang menarik sehingga banyak sekali yang mencoba masuk ke dalamnya, tetapi tidak banyak yang sukses. Yang menjadi unicorn masih terbatas. Dalam bisnis ini permodalan yang kuat sangat diperlukan, tidak sekadar beraktivitas saja.

Banyak anak-anak muda yang kreatif tetapi kalau tidak ada yang memberikan modal maka akan berat untuk bertahan hidup. Sejauh ini belum banyak perusahaan digital yang mendapatkan untung. Umumnya mereka masih bakar uang. Jika kondisinya seperti ini apakah bisa diharapkan ekonomi digital ke depannya akan menjadi tulang punggung ekonomi? Kondisinya masih berat.

Kecuali sifat bisnisnya individual seperti dilakukan oleh IKEA yang memasarkan produknya di Instagram dengan biaya yang tidak terlalu besar. Hal ini bisa dikembangkan sebagai bagian dari promosi UKM, tentu dengan skala ekonomi yang tidak terlalu besar, omzetnya tidak akan terlalu besar, karena usaha rumah tangga.

Ekonomi digital belum menjadi bubble saat ini karena tidak membuat harga naik tinggi, berlebihan. Namun dari sisi kemampuan untuk bertahan hidup harus menjadi perhatian. Transaksinya masih kecil dan belum tentu bisa hidup lama.

E-commerce besar seperti Tokopedi,  Bukalapak dan lain-lain masih membutuhkan investor.  Bisnis ini membutuhkan modal besar, tidak bisa apa adanya.

Ekonomi  digital lebih baik untuk melengkapi  sektor ekonomi yang sudah ada, komplemen, tidak  menjadi tujuan utama. Tujuan utamanya tetap usaha skala besar seperti membuat pabrik dan ada output yang dihasilkan.

E-commerce bagus juga karena banyak UKM menempatkan barangnya di situ. Fungsinya seperti mal, mal online, tanpa perlu gedung. Konsepnya melengkapi saja. Pemerintah mempersilakan e-commerce berkembang karena ikut menambah kegiatan ekonomi.

Namun pemerintah tidak perlu memberikan insentif karena e-commerce merupakan kegiatan bisnis biasa yang sifatnya tidak harus dilindungi. Cukup diperlakukan secara sama dengan bisnis yang lain sebagaimana mestinya.

Ekonomi digital memang bisnis baru yang menarik tetapi serapan terhadap tenaga kerjanya bagaimana?  Dibandingkan mal yang menyerap banyak tenaga kerja, bisnis online tidak membuka banyak lapangan kerja. Jika mau memberikan insentif sebaiknya ditujukan ke mal. Ini bentuk keberpihakan. (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Ekonomi digital memiliki prospek yang baik ke depan seperti disebutkan dalam riset Google, Temasek dan Bain & Company. Indef juga memperkirakan ekonomi digital masih akan berkembang minimal sampai 2025 karena pesat sekali pertumbuhannya.

Namun di sisi lain, pelaku ekonomi digital seperti Bukalapak sempat merumahkan karyawannya, karena ada ancaman krisis ekonomi di 2020 yang menyebabkan start up digital menghadapi kesulitan dalam mendapatkan modal.

Tidak hanya Bukalapak. Start up lain di dunia juga melakukan hal yang sama yakni merestrukturisasi biaya. Salah satu yang cukup kencang pemberitaannya adalah mengenai start up WeWork yang melaporkan kerugian ratusan miliar dolar AS. Hal ini yang menyebabkan investor semakin berhati-hati.

Ke depan yang akan terjadi pada start up adalah perubahan strategi bisnis dari semula bakar uang ke strategi bagaimana menciptakan keuntungan. Ini merupakan siklus bisnis dimana pada tahun lalu mencapai puncaknya, lalu akan turun lagi.

Yang harus dilakukan perusahaan start up adalah meminimalisasi dampak dari perubahan siklus tersebut dengan menciptakan strategi yang lebih sustain terhadap siklus bisnis, seperti perubahan strategi dari bakar uang ke penciptaan profit.

Pertumbuhan ekonomi digital pada tahun depan diperkirakan tidak akan setinggi tahun sebelumnya karena ada ancaman krisis ekonomi.  Krisis ekonomi memberikan dampak yang luas mulai dari penurunan konsumsi yang berimbas ke penurunan investasi. Investor menjadi bertanya-tanya mengenai prospek perusahaan start up ke depannya.

Menghadapi tantangan ke depan, pemerintah perlu menyelamatkan bisnis perusahaan ekonomi digital yang berhubungan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena kekuatan mereka dalam menghadapi krisis cukup besar. UMKM terbukti mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi 1998.

Pemerintah harus bisa melindungi UMKM sehingga krisis ekonomi tidak akan memberikan dampak yang besar kepada mereka.  Keberadaan UMKM akan membantu kestabilan konsumsi nasional yang  jadi penopang perekonomian. Berbeda dengan investasi asing langsung (FDI) yang akan menjadi sektor yang paling terkena dampak  krisis global.

Pemerintah dapat membantu dan mendorong UMKM masuk ke pasar e-commerce yang banyak bermunculan. Di dalam ekonomi digital banyak sekali perusahaan e-commerce. Untuk itu pemerintah perlu mendorong UMKM masuk ke pasar e-commerce. Di sini banyak strategi yang harus dilaksanakan.

Selain itu, bagaimana produk UMKM Indonesia bisa bersaing dengan produk dari luar negeri dalam efisiensi harga karena faktor ini yang sangat menjual.  Konsumen di e-commerce sangat  rasional terhadap harga. Mereka hanya memilih produk yang menurut mereka terjangkau dan murah. (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja