Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona
berita
Ekonomika
Sumber Foto: pymnts.com 16 March 2020 19:00
Penulis
Watyutink.com - Covid-19 semakin mengganas di Indonesia. Mereka yang terkena infeksi terus bertambah, begitu juga korban meninggal. Tidak pandang bulu siapa yang menjadi korbannya, rakyat biasa hingga menteri.

Hingga minggu lalu jumlah pasien positif virus corona di Indonesia tercatat sudah 96 pasien, termasuk Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi yang dinyatakan positif Covid-19. Sedangkan di seluruh dunia, angka infeksi Covid-19 mencapai 147.960 kasus di 149 negara dengan korban meninggal 6.500 orang hingga akhir pekan lalu.

Merebaknya virus Corona juga mempengaruhi sektor ekonomi. Kegiatan perdagangan dan industri berkurang sebagai dampak dari upaya menghindari penyebaran lebih luas virus Corona. Perekonomian di seluruh dunia berjalan melambat, tidak terkecuali Indonesia.

Kecepatan penularan virus Corona melebihi virus yang ada sebelumnya seperti SARS atau MERS sehingga dalam waktu singkat banyak yang menjadi korbannya. Karena itu, begitu virus Corona meletup di satu negara, kebijakan membatasi kegiatan masyarakat diberlakukan.

Jika kejadiannya hanya di sedikit negara dengan kekuatan ekonomi yang kecil dan dapat dilokalisasi, dampaknya mungkin tidak akan begitu dirasakan oleh masyarakat global. Namun realitasnya negara pertama yang terkena virus Corona adalah China yang menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat.

Penyebaran virus di China menyebabkan terhentinya aktivitas ekonomi di negara lain. Pabrik perakitan Nissan di Fukuoka, Jepang untuk tujuan ekspor menyatakan akan memberhentikan produksi karena pasokan komponen otomotif yang tidak mencukupi dari China. Industri elektronik dan semi konduktor di Filipina juga berhenti karena berkurangnya pasokan bahan baku dari China.

Industri di Tanah Air bernasib sama. Sejumlah industri hidup Senin-Kamis kekurangan pasokan bahan baku dari China. Bidang usaha lain menghadapi pengurangan ekspor karena pasar yang menjadi tujuan penjualan barangnya mengurangi permintaan.

Industri dalam negeri mengandalkan pasokan bahan baku sebesar 30 persen dari China. Ketergantungan yang cukup besar pada satu negeri ini mengganggu lalu lintas perdagangan baik dari impor dan ekspor serta efek domino lain akibat pandemi ini.

Apa yang akan terjadi dalam perdagangan dunia dengan merebaknya virus Corona ini? Gangguan apa yang akan dialami Indonesia dan apa antisipasi yang harus dilakukan dalam jangka pendek, menengah dan panjang?

Untuk mengurangi dampak ekonomi pandemi virus Corona, pemerintah mengeluarkan jurus penyelamatan dengan mengeluarkan sejumlah kebijakan berupa stimulus fiskal dan non-fiskal untuk memitigasi dampak ini, namun apakah upaya tersebut cukup?

Apakah stimulus yang baru saja diumumkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak negatif penyebaran virus Corona terhadap perekonomian nasional akan efektif?  kebijakan apa yang lebih efektif dalam mengatasi penyebaran virus tersebut?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Sebagaimana diketahui bahwa penyebaran Covid-19 membawa dampak terhadap segala aktivitas ekonomi, diantaranya kegiatan industri, perdagangan, investasi serta pariwisata. Salah satu yang menjadi keprihatinan banyak pihak adalah dampaknya pada perdagangan internasional.

RRT sebagai negara yang terbilang mengawali kasus ini mengalami guncangan ekonomi yang cukup berat dan membawa dampak ke negara-negara mitranya, kegiatan perdagangan internasional menjadi tersendat akibat menurunnya produktivitas di RRT, mengingat saat ini 17 persen ekonomi dunia disumbang oleh RRT, maka diperkirakan dampak Covid-19 ini akan lebih besar dari SARS

RRT merupakan mitra dagang yang semakin penting atau dengan kata lain Indonesia semakin bergantung dalam berdagang dengan RRT. Sebanyak 30 persen impor nonmigas Indonesia berasal dari RRT, diantaranya yang paling besar adalah kelompok bahan baku dan penolong.

Selain bergantung terhadap impor nonmigas yang mencapai 30 persen, hampir 17 persen ekspor nonmigas Indonesia juga bergantung ke pasar RRT.  Rilis Badan Pusat Statistik per Januari 2020 menyebutkan impor asal RRT mengalami penurunan cukup besar.  Begitu juga dengan ekspor ke RRT yang turun drastis.

Hal ini tentu membawa dampak lanjutan terhadap kegiatan industri di dalam negeri, yang mulai kesulitan mengakses bahan baku/penolong impor, akibatnya produktivitas industri pun menurun, maka tidak heran kalau kita mendengar banyak terjadi pemutusan hubungan kerja.  Demikian pula halnya dengan ekspor beberapa produk andalan ke RRT yang mengalami gangguan.

Sementara untuk impor, beberapa produk Indonesia sangat bergantung kepada RRT, terlihat dari porsinya yang sangat tinggi, sementara alternatif negara asal impor yang lain hanya bisa berperan cukup kecil, misalnya untuk impor komponen HP, RRT memberikan 62 persen, Hongkong 22 persen, Taiwan 8,9 persen. Dalam kondisi seperti ini seharusnya Indonesia perlu melakukan diplomasi bilateral dengan Hong Kong dan Taiwan untuk negoisasi apakah kedua negara tersebut mampu menggantikan peran RRT dalam mensupport komponen HP tersebut.

Bagi negara lain, peranan RRT juga cukup penting dalam aliran rantai pasok impor bahan baku/penolong

Akibat merebaknya virus Corona, perdagangan dunia akan menurun 8 persen pada 2020, dan dampak terhadap Indonesia cukup besar, dimana ekspor Indonesia berpotensi anjlok 6,8 persen, dengan menggunakan kalkukasi Global Trade Analysis Project (GTAP).

Oleh sebab itu, agar perhitungan tersebut tidak menjadi kenyataan, maka Indonesia harus melakukan berbagai hal di luar paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah baru-baru ini. Perlu strategi jangka pendek untuk mengupayakan agar produktivitas output industri dan perdagangan tetap tumbuh sesuai target.

Solusi jangka pendek dalam mengatasi ancaman kelangkaan pasokan impor bahan baku/penolong dari China adalah dengan mencari substitusi negara asal untuk impor bahan baku yang kompetitif. Pemerintah dan dunia usaha perlu melakukan pemetaan terhadap negara lain yang mampu menyediakan bahan baku/penolong bagi Indonesia.

Hal ini perlu dilakukan mengingat suplai impor bahan baku dari China berpotensi mengalami penurunan akibat wabah virus Corona. Bahan baku/penolong yang berasal dari negara lain harus kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan industri domestik.

Solusi jangka menengah dan panjangnya adalah dengan membangun industri bahan baku di dalam negeri. Gejolak yang diakibatkan wabah virus Corona bisa menjadi momentum untuk memperkuat struktur industri nasional. Penguatan struktur industri nasional dilakukan dengan mengembangkan industri bahan baku/penolong hingga industri hilirnya. (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Dalam berbagai proyeksi ekonomi untuk tahun ini yang dilakukan pada tahun lalu, tidak ada yang menyangka bahwa tahun ini akan ada pandemik, yakni Covid-19 yang memiliki dampak besar bagi ekonomi;

Parahnya, wabah penyakit tersebut bersumber dari negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, Tiongkok. Di sisi lain, Indonesia memiliki hubungan ekonomi yang sangat kuat dengan Tiongkok, terutama investasi.

Sejak 2016, investasi dari Tiongkok di Indonesia merupakan terbesar ketiga setelah Singapura dan Jepang, sehingga dapat dipastikan realisasi investasi dari Tiongkok dan negara lain yang sudah terimbas Covid-19 akan terganggu. Selain itu, WHO baru saja mengumumkan bahwa Eropa sudah menjadi epicentrum baru Covid-19.

Namun demikian, berdasarkan tren Covid-19, insentif yang baru saja diumumkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi dampak negatif penyebaran virus Corona terhadap perekonomian nasional tidak akan efektif.

Dalam paket insentif tersebut pemerintah hanya mencoba untuk mengurangi dampak ekonomi dari Covid-19. Padahal insentif harus diarahkan untuk mengatasi inti masalah, yakni penyebaran Covid-19. Artinya, jika pemerintah hanya memprioritaskan dampak ekonomi, bukan mengatasi penyebaran Covid-19, maka hal tersebut akan sia-sia, sebab Covid-19 dapat menjangkit siapa saja, tanpa mengenal kondisi kesehatan, status, dan lain-lain.

Covid-19 sudah menjangkit beberapa olahragawan profesional dunia dan pejabat di berbagai negara. Di Indonesia, Menteri Perhubungan sudah positif terjangkit virus Corona. Artinya, siapapun dapat terjangkit Covid-19.

Oleh sebab itu, kebijakan/insentif investasi yang dikeluarkan harus mendorong pengurangan penyebaran Covid-19 serta peningkatan imunitas.

Dalam kebijakan investasi, BKPM dapat mewajibkan investor existing untuk melakukan disinfektan pabrik, kantor atau lokasi investasi setiap hari, pengecekan kesehatan (temperature check) berkala kepada karyawan/staf, menyediakan hand sanitizer di semua pintu masuk gedung dan ruangan kantor, dan rotasi penugasan karyawan yang kerja di kantor, serta menunda kegiatan aktivitas keramaian seperti outing, serta social distancing.

Selain itu, BKPM dan Kementerian Ketenagakerjaan perlu menyusun pola komunikasi digital dari existing investor kepada pemerintah terkait karyawan yang positif atau suspected Covid-19.

Untuk promosi investasi, BKPM harus memprioritaskan investasi sektor farmasi dan alat-alat kesehatan, serta menggunakan video conference dalam melakukan business meeting, sehingga penyebaran Covid-19 dapat dikendalikan dan aktivitas ekonomi segera recover.

Kesehatan merupakan aspek penting bagi ekonomi, sehingga ke depan pemerintah perlu memberikan prioritas terhadap aspek kesehatan, bukan omnibus law atau proyek pindah ibu kota. (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF