Ekspor Impor Lesu, Ekonomi Pilu
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 21 March 2019 17:30
Penulis
Watyutink.com - Neraca perdagangan mengalami surplus pada Februari 2019, setelah 4 bulan sebelumnya mengalami defisit. Namun berita tersebut tidak membuat pemerintah senang. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah tetap waspada.

Pasalnya, baik impor maupun ekspor mengalami penurunan secara  bulanan maupun tahunan. Badan Pusat Statistik merilis neraca perdagangan Februari 2019 mengalami surplus 330 juta dolar AS karena impor yang turun tajam. Nilai ekspor tercatat 12,53 miliar dolar AS atau turun 10,03 persen jika dibandingkan Januari 2019.

Di sisi impor, nilainya malah turun tajam sebesar 18,61 persen dibandingkan dengan Januari 2019 dan turun 14,02 persen secara tahunan. Impor migas dan nonmigas berbarengan turun masing-masing 6,6 persen dan 20,1 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Impor yang mengalami penurunan paling banyak adalah mesin dan peralatan listrik, bahan kimia organik, benda-benda besi dan baja, serta kendaraan dan bagiannya.

Secara kumulatif neraca perdagangan dalam dua bulan pertama  2019 masih mencatatkan defisit 734 juta dolar AS. Penyebabnya, defisit perdagangan migas yang mencapai 886 juta dolar AS, melebihi surplus neraca perdagangan nonmigas yang hanya 152 juta dolar AS. Karena itu, surplus perdagangan pada Februari belum dapat memperbaiki neraca perdagangan.

Strategi yang disiapkan pemerintahh adalah dengan meningkatkan ekspor produk berdaya saing dan bernilai tambah tinggi untuk meraih target ekspor nonmigas pada tahun ini dan melampaui surplus neraca perdagangan nonmigas tahun lalu yang mencapai 3,84 miliar dolar AS.

Faktor-faktor yang menyebabkan surplus pada neraca perdagangan Februari akan dilihat apakah karena faktor musiman atau lebih jauh lagi karena masalah fundamental ekonomi  Indonesia sebagai dampak dari pelemahan ekonomi dunia.

Di samping itu, pemerintah juga akan mencermati dampak dari penurunan impor, apakah ada penggantian oleh substitusi impor, sehingga kebutuhan bahan baku barang modal masih didatangkan dari luar. Jika tidak ada substitusi impor, hal itu menandakan sektor-sektor produksi yang membutuhkan bahan baku dan barang modal akan mengalami dampak dari penurunan impor.

Di sisi lain, Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tantangan dalam meningkatkan ekspor, seperti melambatnya pertumbuhan ekonomi global yang dipicu oleh perang dagang China dan Amerika Serikat dan fluktuasi harga komoditas mentah.

Pemerintah tampaknya menyadari ada sesuatu yang perlu dibenahi terkait kebijakan ekspor dan impor yang cenderung menurun belakangan ini.  Apa muara sebenarnya dari semua masalah ekspor impor ini? Apakah hanya masalah sederhana seperti harmonisasi sistem dalam pencatatan impor?

Jika masalahnya fundamental, apa saja yang perlu dibenahi oleh pemerintah? Apakah daya saing Indonesia sudah sedemikian terpuruk sehingga ekspor menurun? Demikian juga dengan impor yang semakin mengecil, apakah menandakan perekonomian dalam negeri melambat?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Kontraksi ekspor pada Februari 2019 bukan hanya bersifat bulanan tetapi secara tahunan merupakan yang tertinggi sejak April 2016, hampir 3 tahun. Biasanya kontraksi  terjadi secara musiman pada saat lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya.

Yang terjadi saat ini agak mengkhawatirkan karena semata-mata bukan karena faktor musiman tetapi  lebih ke masalah struktural.  Memang ada pengaruh eksternal dimana ekonomi negara tujuan ekspor utama Indonesia  melambat sangat drastis, terutama China. Di sisi lain harga komoditas andalan Indonesia hampir semuanya turun. Ini yang membuat kontraksinya menjadi tajam.

Masalah ini perlu segera dicari cara penyelesaiannya, baik dari sisi ekspor maupun pada sisi kontrol impor. Penurunan impor juga terjadi sangat dalam terutama untuk bahan baku dan  bahan penolong.  Selain itu, pasar domestik atau konsumsi domestik juga perlu mendapatkan perhatian karena bisa jadi ini yang membuat impor bahan baku dan bahan penolong turun.  Permintaan dari dalam negeri sudah mengalami gejala penurunan.

Jika sebelumnya permintaan domestik pada 2018 cukup kuat, walaupun permintaan luar negeri terhadap produk ekspor melemah, maka pada awal 2019 sudah mulai melemah permintaan di dalam negeri. Ini sudah harus serius direspon oleh pemerintah.

Permintaan terhadap produk ekspor turun sejak Desember 2017, sudah lebih dari 1 tahun. Tetapi permintaan domestik masih kuat. Industri masih ekspansif jika dilihat dari Purchasing Managers’ Index pada 2018. Mulai awal 2019 PMI mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam 1 tahun terakhir.

Kontraksi PMI belum dapat disimpulkan bahwa ekonomi domestik lesu karena baru terjadi sebulan. Sejumlah indikator juga masih menunjukkan hal positif seperti penjualan sepeda motor yang tumbuh dua digit. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 mengalami surplus karena penurunan impor lebih tinggi dari penurunan ekspor. Ini justru menimbulkan kerugian dua kali. Potensi defisit neraca perdagangan ini sudah dilontarkan pada 2017 dalam rembuk nasional, tetapi tidak ada yang menanggapi.

Saat itu potensi ancaman defisit sudah jelas. Gejalanya dapat dilihat dari pertumbuhan industri yang  terus merosot, pertumbuhan impor meningkat terutama pada barang konsumsi, sementara pada bahan baku tetap porsinya.

Pada data impor terjadi pergeseran dominasi negara asal. Perpindahan dominasi dan peningkatan impor secara masif dan konsisten terjadi pada negara asal China. Impor dari negara tersebut bukan berupa bahan baku tetapi barang konsumtif.

Porsi impor negara asal China semula kurang dari 12 persen, namun secara kontinyu dan konsisten naik menjadi sekitar 30 persen. Peningkatan porsi impor dari China konsisten melonjak dalam 5 tahun terakhir. Barang yang masuk dari China kemungkinan besar bukan bahan baku.

Selain itu, ada pergeseran izin impor dari semula importir produsen ke importir umum yang kemudian perannya menjadi dominan. Mereka mengimpor barang yang laku dijual di pasar. Berbeda dengan importir produsen yang hanya mendatangkan barang yang dipakai sesuai kebutuhan dalam industri. Mereka tidak akan mengimpor melebihi kebutuhan karena akan menjadi biaya.

Pembenahan ekspor–impor harus dimulai dari validasi data untuk memetakan masalah yang sebenarnya sehingga respon kebijakannya menjadi jelas. Impor yang dilakukan harus memiliki rantai nilai (value chain) untuk proses berikutnya. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020