Impor Melonjak, Angin Segar bagi Industri?
berita
Ekonomika

Sumber Foto: infonawacita.com

21 February 2018 10:00
Penulis
Katanya, angin segar bagi industri dalam negeri sudah tiba. Penjelasannya begini. Pada Januari 2018 lalu, data impor bahan baku dan bahan penolong tercatat melonjak. Infonya, nilai impor mencapai 15,13 miliar dolar AS, naik 26,44 persen dari periode yang sama pada 2017 sebesar 11,97 miliar dolar AS. Rinciannya, 74,58 persen  (11,29 miliar dolar AS) adalah impor bahan baku atau bahan penolong, 16,48 persen (2,49 miliar dolar AS) untuk impor barang modal. Sisanya, 8,94 persen (1,35 miliar dolar AS) adalah impor barang konsumsi. Pemerintah, melalui Menkeu Sri Mulyani, mensinyalir hal itu merupakan indikator dari penguatan aktifitas produksi pada industri dan sinyal bagi investasi dalam negeri yang diharapkan sehat. Apa iya?

lnformasi dari Kementerian Perdagangan menyebutkan, meningkatnya angka impor juga disebabkan meningkatnya harga komoditas migas akibat kenaikan harga minyak dunia. Impor migas tercatat 2,14 triliun dolar AS dengan nilai ekspor 1,28 triliun dolar AS, sehingga terjadi defisit sebesar 859,5 juta dolar AS.

Ditjen Perdagangan Luar Negeri menyebut, tingginya impor bahan baku dan penolong terjadi karena pembelian sparepart untuk pemeliharaan barang modal. Industri membutuhkan perawatan alat dan mesin (overhaul) untuk kegiatan produksi.

Jadi, apa iya melonjaknya impor adalah indikasi dari membaiknya industri manufaktur kita? Seberapa besar pengaruh naiknya impor bahan baku-bahan penolong dan barang modal bagi membaiknya dunia industri manufaktur Indonesia? Lalu, apa benar impor bahan baku-penolong adalah dalam rangka preparing terhadap naiknya aktivitas industri, dan bukan sekadar perawatan rutin mesin-mesin industri? Bagaimana sebenarnya?

(lihat : Deindustrialisasi tak cukup dijawab dengan angka).

Dalam 10 tahun terakhir Industri manufaktur kita memang terus menurun. Terakhir sampai Desember 2017 lalu, industri manufaktur hanya tumbuh 4,27 persen. Lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi (5,07 persen).
Selama 2017, porsi industri manufaktur terhadap PDB semakin kecil. Industri pengolahan non migas turun dari 18,2 persen menjadi 17,88 persen. Industri manufaktur secara keseluruhan (migas dan non migas) turun dari 20,51 persen (2016) menjadi 20,16 persen (2017).

Data BPS 2018 juga merilis, terjadi penurunan kinerja empat subsektor industri yang biasanya memberikan kontribusi besar pada PDB Industri, yakni indusri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik dari 1,95 persen (2016) turun menjadi 1,86 persen (2017), industri alat angkutan dari 1,91 persen (2016) turun menjadi 1,82 persen (2017), industri kimia, farmasi, dan obat tradisional dari 1,79 persen turun menjadi 1,74 persen (2017), industri tekstil dan pakaian jadi dari 1,16 persen (2016) turun menjadi 1,11 persen (2017).

Padahal serapan tenaga kerja pada industri manufaktur adalah yang terbesar. Sampai 2015 saja, industri makanan adalah sektor terbesar menyerap tenaga kerja, yakni 858,170 orang, disusul 684.000 orang di industri pakaian jadi, industri tekstil 513,743 orang, dan Industri pengolahan tembakau 346.082 orang tenaga kerja.

Apa yang menjadi masalah dari dunia industri kita hingga menjadi stuck atau tak maju-maju? Apakah akibat tidak adanya strategi/kebijakan yang tepat? Atau karena ‘mati kutu’ akibat membanjirnya produk-produk impor? Atau memang telah terjadi deindustrialisasi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(pso)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI

Peningkatan nilai impor bahan baku dan bahan penolong belum tentu menjadi indikasi perbaikan sektor industri. Karena peningkatan nilai bisa disebabkan oleh meningkatnya harga. Perlu dilihat lebih rinci mengenai kuantitas (banyaknya barang yang diimpor). Mungkin jumlah barang yang diimpor tetap namun harganya naik, maka bisa meningkatkan nilai impor.

Setelah itu, kita harus meneliti jenis bahan baku yang diimpor tersebut, apakah berhubungan dengan penambahan investasi di sektor industri manufaktur atau tidak. Mungkin jumlah bahan baku naik namun hal itu hanya terkait dengan perawatan mesin saja tanpa ada implikasi ke penambahan kapasitas produksi.

Penurunan pertumbuhan industri manufaktur yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi secara umum, sangat disayangkan. Hal ini akan mendorong impor. Peningkatan konsumsi di masyarakat seharusnya meningkatkan pertumbuhan industri manufaktur agar terjadi efek pengganda dalam perekonomian. Pemerintah seharusnya berfokus pada hal ini. Berbagai reformasi perlu dilakukan agar sektor industri manufaktur bergairah kembali.

Di samping itu, perubahan perilaku produsen dimana proses produksi lebih padat modal akan mengurangi permintaan tenaga kerja. Mungkin sektor industri manufaktur bertumbuh namun serapan tenaga kerjanya melambat. Hal ini perlu dicarikan solusinya dengan mendorong industri padat karya. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Indonesia salah kaprah dalam berdemokrasi. Maka meski kita sok takabur bahwa RI itu tidak kenal oposisi karena gotong royong, ternyata malah liberal. Lu..lu, gue..gue. Tidak ada semangat Indonesia Inc. antara birokrat bisnis dan NGO. Antara incumbent dan lawan politik. Antara eksekutif vs legistatif vs yudikatif. Trias politica yang saling jegal. Industri tidak sepenuhnya di proteksi dan malah over proteksi, manja tidak bisa naik kelas meski RI 20 tahun lebih dulu membangun industri pada 1967. Maka China menyalip RI dalam satu dasawarsa dan melejit dalam satu generasi. Kita terus berdebat retorika normatif munafik secara asyik seperti menikmati zanac, obat anti rasa sakit.

Masalah utama adalah turunkan ICOR 6,4 ke 2,3 agar daya saing Indonesia Iebih meningkat setara negara pesaing. Obstruksi lawan politik lebih destruktif dari oposisi terang-terangan di Barat yang ksatria. Demi Europe Inc., Germany Inc., Japan Inc., Korea Inc.

Kita masih sibuk KMP vs yang lain padahal semua cuma ingin menikmati enjoy elite position mengatasnamakan rakyat yang di-bully dengan isu agama dan emosional primordial. 

Akhirnya kinerja kita merosot secara all in, semua terpuruk termasuk dalam olahraga dan HDI serta dalam ekspor dan GDP per kapita. Asyik slogan normatif yang kerja cuma satu presiden dikitari oportunis dan oposisi yang berlagak koalisi kabinet. Capek memikirkan slogan munafik yang merajalela tanpa real delivery dari elite RI sekarang ini terutama "oposisi" tersembunyi. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN)

Data BPS yang baru dirilis menunjukkan meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong. Masih terlalu dini untuk dikatakan angin segar untuk industri pengolahan. Apalagi kalau hal ini dijadikan barometer untuk penguatan industri dalam negeri di era global dan digital. 

Untuk menjadikan platform yang kuat bagi penguatan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan, masih diperlukan pendekatan di luar rutinitas (out of the box). Meskipun bagai angin segar bagi industri dalam negeri, namun masih menyisakan “PR” untuk menjamin pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal ini mengingat lebih dari 60 persen industri kita masih tergantung dari bahan baku dan bahan penolong dari luar. Bahkan untuk industri farmasi, ketergantungan bahan baku dan bahan penolong bisa mencapai 90 persen.

Beberapa komponen suku cadang dan bahan aktif obat industri dalam negeri masih sangat tergantung dari luar, meskipun beberapa industri telah mampu memproduksi bahan baku, namun belum ada link and macth antara produsen dan industri. Untuk produksi bahan aktif, banyak hasil riset berbagai institusi telah siap melakukan hilirisasi dengan sedikit pemolesan untuk mengisi bahan substitusi.

Untuk mempercepat suplai bahan baku dan bahan penolong, perlu upaya sistematik dan dukungan IPTEK dalam negeri melalui hilirisasi hasil riset. Untuk itu diperlukan revisit dan detailed assessment terhadap rencana strategis di berbagai kementerian sektoral. Pemetaan lebih detail diperlukan dengan memperhatikan potensi lintas sektoral yang selama ini masih belum terkoneksi dengan baik sehingga datanya tidak ter-update. Di luar itu, maraknya perdagangan daring perlu mendapat perhatian khusus, karena banyak produsen skala UKM yang lebih memilih menggunakan jalur ini.

Permasalahan tidak terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri tidak semata-mata karena tidak tersedia di dalam negeri. Indonesia adalah negara kaya sumber daya alam baik biologi (nabati dan hewani) maupun mineral. Khusus nabati, sebagai negara mega biodiversity mestinya mampu menyediakan bahan baku industri farmasi. Namun permasalahannya bukan terletak pada ketersedian, tetapi menyangkut kuantitas, mutu, dan kontinuitas. Oleh karena itu kemandirian bahan baku memerlukan pendekatan multisektoral. Kapan dan dimana memproduksi, berapa banyak, dan standar mutu yang diinginkan industri harus terkoneksi dengan baik.

Untuk itu diperlukan strategi multi sektoral dan direncanakan dengan baik dari hulu ke hilir. Di samping itu produksi bahan baku yang ada dimana-mana memerlukan penanganan logistik yang baik.

Beberapa tahun lalu petani tomat di Garut tidak bisa menjual hasil panen. Mereka marah dan membuang hasil panen tomat mereka ke parit. Sementara itu, ada pabrik pengalengan ikan di Jatim yang memiliki gudang berukuran 1000 m3 melakukan impor tomat tahunan dari Tiongkok.

Interkenoneksi antar produsen bahan baku/penolong dengan industri memerlukan pendekatan yang sistemik. Ironisnya, sebagai reaksi spontan untuk membangun rasa simpati, berbagai kantor kementerian mengadakan bazaar pasar produk segar di antaranya untuk membantu pemasaran produk sebagai solusi empatif. Tindakan ini tentu sifatnya reaktif, namun by system pastinya harus dikaji lebih komprehensif lagi.

Contoh lain, di industri rekayasa mesin skala kecil menengah punya kemampunan desain engineering dan produksi yang sudah sangat bagus, bahkan mampu mengkopi mesin yang dimpor dari luar negeri. Namun mereka mengeluhkan ketersediaan produk komponen seperti sistem kontrol yang harus harus diimpor dari Taiwan, Tiongkok, dan lain-lain. Selain itu, mereka bukan tidak mampu membuat, tetapi belum ada kepastian pembelinya meskipun yang memerlukan banyak. Interkoneksi industri pembuat dan pemakai belum terbangun. .

Ini memerlukan intervensi pemerintah, misalnya melalui pendirian konsorsium industri pembuat komponen dan industri pemakai. Konsorsium menetapkan spesifikasi bersama dan memberikan feedback terhadap mutu produk. Pemerintah dapat memberikan insentif di awal sampai mekanisme pasar berjalan secara normal. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan eksositem yang baik pada industri komponen alat kontrol. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Pengamat Kebijakan Publik/ Anggaran

Sektor manufaktur merupakan salah satu investasi andalan untuk menopang pertumbuhan ekonomi karena memiliki multiplier efek cukup tinggi. 

Selama ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bergantung pada sektor konsumsi. Strategi peningkatan sektor manufaktur akan berdampak pada pajak yang juga ikut naik. Saat ini pemerintah mengambil strategi untuk melonjakkan impor dalam rangka memperbaiki industri manufaktur ke depannya, namun yang perlu dilihat adalah kemanfaatan dari impor tersebut diarahkan ke industri kecil atau industri besar. 

Harapan kami, adanya lonjakan impor manufakturing dapat memperluas lapangan kerja/tenaga kerja terutama di sektor informal sehingga dapat memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Yang menjadi masalah, selama ini ada aturan penertiban yang mempersulit akses para pengusaha kecil/industri kecil dan adanya tumpang tindih program pemerintah yang kemudian menegasikan sumber daya nasional. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Ekonomi Center for Information and Development Studies (CIDES)

Meningkatnya impor bahan baku dan bahan penolong merupakan indikasi prospek pertumbuhan industri manufaktur yang lebih baik. Walaupun jika dilihat dari neraca perdagangan menurunkan surplus perdagangan.

Peningkatan pertumbuhan sektor manufaktur sangat penting bagi ekonomi Indonesia karena sektor ini adalah yang terbesar sumbangannya dalam ekonomi (sekitar 20 persen).

Pertumbuhan sektor manufaktur masih di sekitar pertumbuhan ekonomi, sekitar lima persen. Semestinya pertumbuhan Industri manufaktur lebih tinggi sehingga pertumbuhan ekonomi juga dapat lebih tinggi.

Subsektor yang tumbuh tinggi mendekati dua digit adalah makanan. Kimia juga pertumbuhannya cukup tinggi. 

Untuk ekspor, industri alas kaki, garmen, dan elektronika merupakan penyumbang utama. Harapannya adalah industri lain juga dapat lebih kompetitif di pasar ekspor untuk menyeimbangkan neraca perdagangan.

Impor bahan baku dan antara sebaiknya adalah mendukung langsung peningkatan kekompetitifan industri nasional, yang terkait juga dengan kandungan dan penguasaan teknologi yang lebih tinggi.

Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terlihat semakin jelas untuk memfasilitasi transformasi industri menjadi lebih kompetitif. Tidak saja perbaikan akses pada bahan baku dan penolong, tetapi juga dalam peningkatan kemampuan SDM, melalui pelatihan dan pemagangan, dan teknologi sehingga produktivitas dapat meningkat. 

Disadari bahwa global value chain menjadi pola dominan dalam perkembangan industri sekarang dan ke depan. Indonesia harus terintegrasi dan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari global value chain ini. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Membaca data memang tidak mudah. Terlebih jika definisi data tersebut tidak dipahami benar sehingga menimbulkan interpretasi beragam sesuai kehendak pembaca data. Data kenaikan nilai impor bahan baku dan bahan penolong dibaca sebagai indikator kebangkitan industri, bisa menjadi salah satu contoh tersebut di atas.

Bukan rahasia lagi bahwa di negeri ini, akurasi dan validasi data menjadi masalah. Satu instansi dapat mengeluarkan data yang berbeda dengan instansi lainnya untuk sesuatu hal yang sama. Data kenaikan impor bahan baku dan penolong di Januari 2018 ditepis oleh pejabat eselon satu Kementerian Perdagangan bukan indikator penguatan produksi tetapi hanya untuk pemeliharaan barang modal. Jadi bagaimana sebenarnya kita membaca data kenaikan nilai impor bahan baku dan penolong tersebut?

Dari data yang dipublikasikan beberapa lembaga riset telah terjadi penurunan porsi sektor industri dalam PDB Indonesia sejak pencapaian titik tertingginya di tahun 2009 yaitu sebesar 28,43 persen, lalu turun menjadi 22,03 persen (2010), 21,76 persen (2011), 21,45 persen (2012), 20,98 persen (2013), 21,02 persen (2014), 20,85 persen (2015) dan 20,51 persen (2016).

Meski demikian, berdasarkan data dari Bank Dunia, tren penurunan kontribusi sektor industri khususnya manufaktur terhadap PDB ini tidak hanya dialami Indonesia. Sejak krisis keuangan global 2008, di kawasan Asia Tenggara hal ini juga dialami oleh Thailand - 37.71 persen (2008) menjadi 27.41 persen (2016), Singapura - 21,12 persen (2008) menjadi 19,62 persen (2016), Malaysia - 24.56 persen (2008) menjadi 22.27 persen (2016) dan Filipina - 22.81 persen (2008) menjadi 19.65 persen (2016). Hanya Vietnam yang mengalami tren kenaikan kontribusi sektor industri terhadap PDBnya dalam periode tersebut, dari 14.80 persen (2010) menjadi 15.86 persen (2016).

Dari sisi pertumbuhan industri manufaktur kurun waktu 2011-2016, posisi Indonesia berada di papan tengah dengan mencatat rata-rata pertumbuhan 4.92 persen dibanding negara-negara satu kawasan seperti Vietnam (10.04 persen), Filipina (6,89 persen), Malaysia (4,78 persen), Singapura (1,83 persen) dan Thailand (1.18 persen).

Berbicara angka seakan tidaklah cukup untuk menjawab permasalahan industri di Indonesia. Namun setidaknya data tersebut di atas memberi informasi kondisi industri Indonesia untuk dikembangkan lebih baik lagi.

Secara ringkas, industri manufaktur Indonesia masih bertumbuh dan kontribusinya terhadap PDB menurun walaupun dari sisi nilai ada peningkatan walau tipis-tipis saja. Permasalahan klasik kebijakan industri Indonesia adalah konsistensi implementasi kebijakan tersebut.

Salah satu contohnya adalah implementasi UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang perindustrian yang seakan tidak terdengar gaungnya lagi ditimpa berbagai isu baru seperti revolusi industri 4.0 dengan program andalan yang diusung Kemenperin saat ini, Link and Match antara pendidikan vokasi dan industri. Apakah hal ini seakan re-inventing the wheel? Sebab sejak Wardiman Djojonegoro menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1993, isu link and match sudah bergema.

Industri di Indonesia seperti di sektor lain memerlukan konsistensi implementasi sehingga mencapai  tujuan akhir melalui milestone yang diraih tahap demi tahap. Kandungan isi lokal pada industri telepon genggam dengan Permenperin Nomor 65 Tahun 2016, misalnya, harus terus dikerjakan hingga mencapai tingkat maksimum mengingat nilai pasar industri telepon genggam di Indonesia yang sedikitnya mencapai Rp20 triliun, dengan estimasi jumlah penjualan telpon genggam berkisar 24-28 juta unit per tahun.

Kenaikan impor bahan baku dan penolong kiranya menjadi momentum pengingat bagi semua pemangku kepentingan industri Indonesia bahwa masih banyak PR yang harus diselesaikan jika ingin mewujudkan industri Indonesia yang tangguh dan berdaya saing, bukan sekadar jargon. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020