Membangun Fondasi Penguatan Rupiah
berita
Ekonomika
Sumber Foto : sinarharapan.co 04 December 2018 17:30
Penulis
Menjelang akhir tahun rupiah menunjukkan keperkasaannya. Kurs tengah rupiah di Bank Indonesia  pada 4 Desember 2019 sebesar Rp14.293 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda itu mulai terlihat pada September 2018 yang berada di level Rp14.767 per dolar AS.

Rupiah sempat terpuruk kembali ke level terlemah di Rp15.253 per dolar AS pada Oktober 2018. Sepanjang bulan itu, rupiah rata-rata berada di level  Rp15.200-an per dolar AS. Memasuki November 2018, rupiah berbalik arah menguat ke level Rp14.972 hingga akhirnya berada di level Rp14.293.

Bank Indonesia memperkirakan penguatan rupiah tersebut karena faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berasal dari kesepakatan antara China dan AS untuk  melakukan gencatan dalam perang dagang pada pertemuan G-20. Pasar mengapresiasi pertemuan yang menghasilkan solusi yang positif untuk negara emerging currency seperti Indonesia sehingga rupiah mengalami apresiasi.

Faktor internal yang mempengaruhi penguatan rupiah adalah data mengenai pertumbuhan kredit yang mencapai  12,6 persen.  Hal ini mengkonfirmasi  bahwa ekonomi berjalan dan konsumsi masyarakat masih cukup tinggi. Sentimen produsen dan konsumen positif terhadap perekonomian pada kuartal III dan IV.

Penguatan rupiah ini juga disebabkan oleh kembalinya kepercayaan investor, menyusul kebijakan BI mempercepat persiapan teknis Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF) . Hal ini terbukti dari aliran modal asing masuk yang terus meningkat, sehingga menambah pasokan dolar AS yang memperkuat nilai tukar rupiah.

Ketentuan mengenai DNDF sudah mulai berlaku, hanya secara teknis masih memerlukan persiapan-persiapan, seperti distribusi konvensi transaksi, manajemen risiko, dan masalah dukungan teknologi informasi.

Meski rupiah menguat, bank sentral tetap mempersiapkan langkah antisipatif sewaktu-waktu bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun sebesar 25 basis points dan kemungkinan penaikan kembali pada tahun depan.

Pemerintah melalui Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan rupiah sudah mencapai batas bawah sehingga waktunya mata uang tersebut kembali menguat, seperti prediksi sejumlah lembaga keuangan asing. Investor diperkirakan kembali memburu rupiah pada saat berada di batas bawahnya untuk mendapatkan margin.

Apakah penguatan rupiah ini bersifat fundamental? Apakah penguatan kurs ini karena meredanya perang dagang antara AS dan China?  Seberapa kuat faktor yang mendukung penguatan rupiah ini? apakah penguatan ini akan berlanjut hingga tahun depan?

Apakah ada jaminan rupiah akan terus menguat? Faktor apa saja yang bisa memperlemah kembali nilai tukar rupiah? Perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk memperkuat nilai tukar rupiah? Berapa nilai yang pantas untuk nilai tukar rupiah?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Nilai tukar rupiah pada tahun 2019 diperkirakan akan berada rata-rata di bawah Rp15.000 per dolar AS, tepatnya Rp15.250 per dolar AS. Dicoba dengan berbagai model perhitungan rupiah akan berada di level sekitar itu.

Penyebab utama melemahnya rupiah adalah karena makin melebarnya defisit transaksi berjalan.  Walaupun rupiah sempat menguat ke level  Rp14.293 per 4 Desember 2018, bisa saja sifatnya temporer, merupakan bentuk window dressing rupiah pada akhir tahun.

Faktor fundamental yang bisa membuat rupiah menguat belum pulih, bahkan defisit transaksi berjalannya tambah besar. Jika tidak ada gejolak ekonomi dunia, pelemahan rupiah karena defisit transaksi berjalan agak tenang.

Dengan adanya ketidakpastian yang tinggi di tingkat global, berpadu dengan melebarnya defisit transaksi berjalan membuat perkiraan rupiah di level Rp15.250 per dolar AS cukup realistis. Dalam perjalanan setahun ke depan kemungkinan rupiah sekali-kali terapresiasi bisa saja terjadi.

Rupiah dapat menguat jika defisit transaksi berjalan bisa ditekan ke tingkat di bawah 2,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), tetapi tampaknya sulit dicapai. Atau agresivitas bank sentral AS, The Fed, dalam menaikkan suku bunga acuan berkurang.

Sebenarnya normalisasi suku bunga acuan AS sudah makin terprediksi (price in). Namun masalahnya, setiap kali akan menaikkan suku bunga acuan tersebut –diperkirakan sebesar 25 basis point pada Desember 20018--tersebar isu The Fed tidak jadi menaikkan suku bunga sehingga muncul spekulasi.

Namun indikasi adanya kenaikan suku bunga The Fed sulit dielakkan jika melihat data inflasi dan tingkat pengangguran di AS. Sepanjang data tersebut sesuai yang ditargetkan The Fed, mereka akan tetap menaikkan suku bunga meskipun ada imbauan dari Presiden AS Donald Trump untuk tidak menaikan suku bunga acuan.

Kurs rupiah juga akan diwarnai oleh hiruk pikuk Pilpres 2019. Tetapi ini sifatnya temporer. Jika situasi politik baik maka rupiah akan menguat. Saat capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersalaman, rupiah menguat. Tetapi untuk penguatan rupiah yang fundamental harus diperbaiki defisit transaksi berjalan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Rupiah belum mencapai titik terendah. Pemerintah sudah sepakat dengan DPR untuk APBN tahun depan (2019), kurs rupiah dipatok di Rp15.000 per dolar AS. Mengapa rupiah belum mencapai titik terendahnya, kita  coba lihat fenomena current account dan rupiah secara lebih jelas.

Defisit transaksi berjalan adalah fenomena sektor riil. Current account mencerminkan daya saing satu negara, berapa banyak porsi barang dan jasa yang  dihasilkan satu negara yang mampu dijual ke luar.  Ini benar-benar hasil darah dan keringat, menunjukkan produktivitas satu negara, daya saing satu bangsa. Sifatnya jangka panjang. Masalah transaksi berjalan tidak bisa diselesaikan dalam 1-2 tahun.

Sementara  itu, pergerakan rupiah bersifat harian dan merupakan fenomena moneter. Berbeda dengan current account yang merupakan fenomena sektor riil. Dalam jangka pendek hubungan antara rupiah dan current account bisa sangat lemah sekali. Current account memburuk, rupiah bisa membaik, karena pemerintah berutang banyak sehingga arus masuk dana (capital inflow) terjadi. Atau pemerintah mengobral suku bunga tinggi maka uang akan datang.

Menguatnya rupiah saat ini karena uang datang, bukan karena kepercayaan kepada pemerintah. Dari dulu investor asing sudah percaya kepada Indonesia, buktinya sovereign rating sudah investment grade. Tidak ada keraguan mengenai ini. asing datang atau tidak lebih dipengaruhi oleh berapa margin yang mereka dapatkan di satu negara.

Dalam jangka pendek rupiah menguat, tetapi tahun depan termasuk jangka menengah, rupiah akan melemah, mungkin sampai 90 persen dari nilai sekarang (Rp14.450 per dolar AS), karena dalam jangka panjang hubungan antara rupiah dan current account erat sekali.

Hubungan antara rupiah dan current account dapat dilihat pada data 2017. Rerata tahunan antara kurs rupiah dan current account, dimana defisit transaksi berjalan mencapai 17 miliar dolar AS, capital inflow sebesar 22 miliar dolar AS, tetapi rupiah tetap melemah. Tetapi melemahnya sangat sopan, sedikit.

Sepanjang transaksi berjalan mengalami defisit maka rupiah akan melemah. Tinggal masalahnya akan berapa banyak pelemahannya.

Pada periode 1998-2011 transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus, rupiah berfluktuasi menguat, kadang melemah. Namun sejak 2012 Indonesia terus mengalami defisit transaksi berjalan, sehingga  rupiah tidak pernah menguat.

Defisit transaksi berjalan Indonesia pada periode Januari-September 2018 sudah mencapai 22 miliar dolar AS, modal yang masuk hanya 11 miliar dolar AS sehingga membuat rupiah kelimpungan. Defisit tahun ini melebihi defisit tahun lalu yang hanya 17 miliar dolar AS, tetapi ditutupi oleh modal yang masuk sebanyak 29 miliar dolar AS sehingga mengalami surplus.

Uang masuk terbagi dalam tiga jenis. Ada yang melalu investasi langsung (foreign direct investgmen/FDI), portofolio, dan investasi lain (other investment) seperti penarikan utang baru. Sejak 2014 portfolio lebih besar dari FDI. Tetapi portofolio seperti memelihara anak macan.  Pada 2018 anak macan menerkam Indonesia, dengan lari ke luar negeri sehingga pada periode Januari-September minus 1 miliar dolar AS, dari surplus 20 miliar dolar AS pada tahun lalu. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Enny Sri Hartati, Dr.

Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting             Sektor Pertanian Masih Gunakan Paradigma Lama             Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat             Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei             Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian             Dibutuhkan Political Will, Bukan Regulasi             Kasus Makar Bernuansa Politis             Pasal Makar Ancam Demokrasi