Menebak Arah Aliran Modal Pasca-Pemilu
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 26 April 2019 09:30
Penulis
Watyutink.com - Bank Indonesia mengharapkan aliran modal (capital inflow) lebih banyak lagi usai pencoblosan Pemilu 2019 pada 17 April, menyusul menurunnya ketidakpastian politik terkait siapa yang akan menjadi presiden pada periode 2019-2024, yang memberikan sinyalemen kuat mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.

Belum ada laporan resmi BI terkait aliran dana masuk ke pasar keuangan Indonesia usai pencoblosan. Pelaku pasar tampaknya masih menunggu penghitungan final pada 22 Mei oleh Komisi Pemilihan Umum, menyusul sikap paslon 02 Prabowo-Sandi yang tidak menerima hasil quick count versi lembaga survei yang memenangkan paslon 01 Jokowi – KH Ma’ruf Amin.

Sebagai perbandingan, pada Pilpres 2014 kondisi Indonesia cukup beruntung karena saat Pilpres digelar, kondisi perekonomian global sedang bagus. Saat itu modal asing masuk mencapai 26 miliar dolar AS atau sama dengan rata-rata capital inflow yang masuk ke investasi portofolio per tahun.

Bank sentral memperkirakan kondisi eksternal secara bertahap membaik dan membawa modal asing masuk ke Indonesia. Beberapa faktor yang mendorong masuknya modal adalah arah kebijakan moneter The Fed yang menahan kenaikan suku bunga dan harapan baru atas perundingan perang dagang AS dan China. Apakah peluang ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah?

Secara internal, membaiknya neraca transaksi berjalan pada triwulan I 2019 yang dikontribusi oleh surplus neraca perdagangan menjadi kabar gembira bagi investor dan percaya akan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Bukankah keputusan investasi dipengaruhi oleh faktor fundamental satu negara?

Aliran modal masuk diharapkan akan lebih deras lagi dan berlanjut hingga kuartal II 2019, karena sudah ada kepastian siapa yang menjadi presiden usai Pemilu 2019. Kondisi ini diharapkan bisa membalikkan keadaan di mana pada 2018 modal asing yang masuk seret sampai kuartal III. Pertumbuhannya pun minus. Baru pada kuartal IV modal asing masuk sebesar 10 miliar dolar AS yang sebagian besar dalam bentuk portofolio

Apakah dengan usainya Pemilu 2019 Indonesia akan mampu menarik investasi asing langsung lebih banyak lagi? Bagaimana jika yang masuk lebih banyak ke dalam investasi portofolio? Daya tarik apa yang dimiliki Indonesia yang bisa menarik investor untuk menanamkan dananya secara langsung?

Indonesia membutuhkan aliran modal asing masuk yang relatif banyak untuk menutup defisit neraca transaksi berjalan. Di tengah melemahnya ekspor dan meningkatnya impor,  diperlukan aliran masuk modal asing untuk menjaga stabilitas ekonomi. Apakah aliran masuk dana asing akan memberikan kestabilan bagi ekonomi nasional?

Lembaga keuangan internasional seperti  Fitch Ratings menilai hasil hitung cepat menggambarkan  keberlanjutan kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Fokus kebijakan akan ditekankan pada stabilitas ekonomi makro, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan rasio pajak. Apakah penilaian ini membantu meningkatkan arus modal masuk, khususnya FDI?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Saat ini arus masuk modal (capital inflow) ke Indonesia dan emerging market cenderung tinggi. Faktor-faktor yang berkaitan dengan fenomena ini, pertama, suku bunga di AS yang tidak jadi naik, di luar prediksi investor global. Setelah gencar melakukan perang dagang dengan China, ekonomi AS tidak seoptimis tahun lalu, sehingga bank sentral The Fed tidak memaksakan diri untuk terus menormalisasi suku bunga.

Dengan mempertimbangkan sikap The Fed yang tidak menaikkan suku bunga atau kemungkinan hanya sekali menaikkan suku bunga selama 2019, investor tidak membiarkan dananya tetap bercokol di AS.  Dana tersebut akan kembali lagi ke negara berkembang.

Arus modal masuk terlihat mulai meningkat cukup signifikan pada Desember 2018 di neraca pembayaran (financial account) yang sebagian besar didorong oleh investasi portofolio. Pada saat itu investor global berharap The Feb menaikkan suku bunga, tetapi ternyata tidak dilakukan sehingga dana tersebut kembali lagi ke negara berkembang.

Capital inflow yang terjadi saat ini benar-benar ditentukan oleh kebijakan The Fed yang tidak jadi menaikkan suku bunga. The Fed menahan kenaikan suku bunga. Jika bank sentral AS menaikkan suku bunga maka akan terjadi lagi modal keluar (capital outflow) dari Indonesia.

Arus masuk modal saat ini ditentukan oleh selisih suku bunga. Suku bunga Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di Asean, sekitar 8 persen, cukup menarik dibandingkan dengan AS sebesar 2 persen dan T Bond sekitar 3 persen, sehingga ada spread yang masih tinggi.

Kedua, kenaikan arus masuk modal baik bagi perekonomian, namun harus lebih banyak porsinya untuk investasi langsung (FDI). Jika seperti sekarang dimana sebagian besar dalam porsi investasi portofolio maka akan menimbulkan beban tinggi, karena setiap saat bisa keluar lagi.

Berbeda dengan investasi portofolio, FDI menggambarkan persepsi yang sebenarnya dari investor global mengenai prospek ekonomi Indonesia. Mereka datang membawa modal, membangun pabrik, berproduksi  dengan perhitungan jangka panjang.

Sayangnya hingga triwulan IV tahun lalu jumlah FDI malah turun. Jika sekarang ada capital inflow, Indonesia harus hati-hati. BI tidak terlalu suka juga jika mata uang rupiah menguat lantaran derasnya dana asing masuk ke investasi portofolio. BI mengharapkan lebih banyak masuk FDI.

Diharapkan setelah Pemilu 2019 selesai, ketidakpastian berkurang, FDI akan naik. Jika FDI tidak naik dan capital inflow masih lebih banyak dalam bentuk investasi portofolio maka Indonesia harus semakin menyiapkan cadangan yang suatu saat dipakai untuk mengantisipasi keluarnya modal tersebut. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Nanang Djamaludin

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

FOLLOW US

Fungsi Hutan Tidak Hanya dari Aspek Ekonomi              Kodim Lakukan Pendekatan Pembinaan Teriorial Bukan Pendekatan Operasi Tempur             Lingkungan Baik Ciptakan Anak Sehat             Anak Memiliki Bakat dan Kecerdasan yang Berbeda             Indonesia Bakal Menuai Musibah Electronic Sports             Pemekaran Kodim vis a vis Visi Pertahanan Negara Poros Maritim Dunia             Menggugat Peran Keluarga  Dalam Perlindungan Anak             Anak, Tanggung Jawab Bersama             Rekonsiliasi ala Amien Rais Tidak Beretik Demokrasi             Indonesia Butuh Rupiah Kuat