Mengejar Pertumbuhan Ekonomi, Mengabaikan Mesin Penggerak
berita
Ekonomika
Sumber Foto : ekbis.sindonews.com (gie/watyutink.com) 12 August 2018 12:00
Penulis
Pemerintah belum merevisi target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang dipatok sebesar 5,4 persen meski faktor eksternal kurang kondusif. Bahkan Badan Pusat Statistik mengungkapkan  ekonomi pada semester I 2018  hanya tumbuh 5,17 persen. Jika dirinci, pencapaian itu berasal dari pertumbuhan pada triwulan I dan II masing-masiang 5,06 persen dan 5,27 persen. Apakah dengan pencapaian itu ekonomi masih bisa tumbuh sesuai target?

Ada beberapa prasyarat jika ekonomi diharapkan dapat tumbuh sesuai target. Pertama, pemerintah harus dapat menjaga inflasi di kisaran 3,5 persen sesuai dengan asumsi yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2018.

Kedua, belanja pemerintah perlu didorong secepatnya, jangan sampai menumpuk di akhir tahun sehingga pertumbuhan tidak merata dan sulit mencapai target, disamping harus diwaspadai juga peningkatan impor yang bisa mengurangi target pertumbuhan.

Selain itu, pemerintah perlu mendorong investasi yang mempunyai peran besar dalam pertumbuhan ekonomi dan menjadi sektor paling produktif. Dengan telah diumumkannya calon presiden dan wakil presiden diharapkan memberikan kepastian iklim politik bagi investor sehingga mau menanamkan modalnya di Tanah Air.

Yang juga jangan sampai kendor adalah pemberian bantuan sosial untuk rakyat miskin sehingga mereka tidak terpuruk ke jurang kemiskinan yang lebih dalam. Bantuan tersebut akan menjaga tingkat konsumsi mereka tetap berada di atas garis kemiskinan.

Namun apakah dengan memenuhi semua prasyarat itu pertumbuhan ekonomi bisa mencapai target sebesar 5,4 persen pada tahun ini?  Bagaimana jika pertumbuhan tinggi pada triwulan II 2018 hanya bersifat sementara?

Ekonom menilai pertumbuhan ekonomi tinggi pada triwulan II 2018 sebesar 5,27 persen bersifat sementara. Masalahnya, peran belanja pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, bantuan sosial, dan pemberian subsidi tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan sektor produktif.

Malah pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2018 diperkirakan tidak akan melanjutkan pertumbuhan tinggi pada triwulan II 2018. Masalahnya, sektor pertanian memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 0,64 persen, tanaman pangan,sebesar 3,42 persen,  dan tanaman hortikultura 8,5 persen, namun di sisi lain harga bahan pokok naik, seperti cabai merah dan sayur-mayur yang masih banyak diimpor.

Selain itu, depresiasi rupiah mendorong meningkatnya harga barang, sehingga menekan daya beli masyarakat. Sejumlah barang yang mengandung komponen impor akan naik secara perlahan, mengakibatkan daya beli merosot. Secara psikologis ketika orang merasa ekonomi akan melemah dia akan mengerem konsumsi. Dia memiliki uang tetapi tidak dibelanjakan sehingga ekonomi tidak berputar.

Dengan basis mesin pertumbuhan yang masih lemah, akankah Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonomi secara ajek hingga beberapa tahun mendatang? apakah pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dinikmati oleh rakyat miskin? Bagaimana dengan posisi ekonomi Indonesia dalam kancah global dengan pertumbuhan ekonomi seperti saat ini?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia

Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh globalisasi sejak runtuhnya Uni Soviet dan terbukanya China terhadap ekonomi pasar. Kini yang jadi tantangan adalah bagian kelanjutan dari globalisasi yakni lahirnya revolusi industi 4.0 atau perubahan dari ekonomi konvensional ke ekonomi modern.

Di sisi lain Indonesia sudah jadi negara besar. Tahun 2017 Indonesia masuk ke dalam kategori The 1 Trillion Dollar Economy. Tahun ini PDB Indonesia mencapai Rp15.000 triliun, dan tahun depan diperkirakan di atas Rp16.000 triliun.

Dengan masuknya Indonesia ke dalam  The 1 Trillion Dollar Economy maka posisinya menjadi strategis di dunia, terutama di Asia. GDP Indonesia sudah berada di peringkat 14 dunia, melewati Meksiko. Pada posisi seperti ini kondisi ketenagakerjaan semakin krusial.

Semakin besar angkatan kerja maka semakin berat tugas menciptakan lapangan kerja karena kita harus mengurangi pengangguran sekecil mungkin. Untuk menciptakan lapangan kerja kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi  sebagian didorong oleh investasi. Pada triwulan II 2018 pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen dimana peran konsumsi masih besar. Sebanyak 56-57 persen ekonomi Indonesia dari konsumsi. Pada saatnya kita harus mengubah paradigma ekonomi Indonesia dari berbasis konsumsi menjadi lebih produktif, menjadi lebih berbasis investasi.

Kalau kita sudah dapat mendorong ekonomi berbasis investasi berarti kita juga menciptakan peluang kerja yang lebih besar, kemampuan mengurangi pengangguran yang lebih besar. Ini yang menjadi prioritas pemerintah ketika ingin mendorong  pertumbuhan ekonomi, .bukan besarnya pertumbuhan ekonomi tetapi bisa menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan ujungnya mengurangi kemiskinan.

Mengapa pertumbuhan ekonomi penting? Karena masih banyak orang yang berusaha mendikotomikan seolah-olah hanya berpikir soal pertumbuhan ekonomi, tidak berpikir mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi, tidak berpikir mengenai pengangguran, tidak berpikir mengenai kemiskinan.

Dalam teori manapun mengurangi pengangguran itu akan mengurangi kemiskinan sebagai tujuan utama. Tetapi semua itu membutuhkan prasyarat yakni pertumbuhan ekonomi. Bagaimana kita bisa mengurangi kemiskinan atau menciptakan lapangan kerja kalau ekonomi tidak tumbuh.

Oleh karena itu ekonomi harus didorong untuk tumbuh setinggi mungkin, tetapi tetap menjaga agar penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran sama besarnya sehingga kita mempunyai pertumbuhan yang berkualitas.

Apalagi jika melihat tren pertumbuhan ekonomi ke depan sebesar 5-5,1 persen per tahun maka diperkirakan pada tahun 2040 Indonesia akan mempunyai GDP per kapita yang tinggi, bisa disetarakan dengan negara maju.

Menurut  PricewaterhouseCoopers, Indonesia pada tahun 2050 berpotensi menjadi negara keempat terbesar dunia dilihat dari ukuran ekonomi (economic size) GDP, hanya dibawah tiga negara raksasa. Ke depan dunia akan terkonsentrasi kepada The Three Giant, yakni dua di Asia, China dan India, dan AS, dan keempatnya adalah Indonesia, meskipun jarak antara Indonesia dan India cukup jauh berdasarkan ukuran GDP karena GDP Indonesia hanya sepertiga GDP India. Ini menunjukkan top three hanya di 3 negara tersebut. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Pertumbuhan ekonomi itu indikator utama yang paling dilihat adalah pertumbuhan produksi. Karena walaupun pendekatannya konsumsi, harus dilihat produksinya naik tidak. Orang bisa berkelanjutan berkonsumsi itu kalau produksinya jalan.

Dengan jalannya produksi, orang mempunyai pendapatan, bisa bekerja. Jika hanya di-drive oleh konsumsi tanpa ada peningkatan produksi pasti pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 sebesar 5,27 persen tidak akan  berkelanjutan di semester II 2018.

Pertumbuhan juga bisa karena bansos, restra dan sebagainya tetapi itu tidak bisa terus menerus. Mungkin ada peran pilkada atau lebaran. Tetapi persoalannya kenapa konsumsi rumah tangga cuma 5,1 persen. Berbeda jika pertumbuhan konsumsi rumah tangga 5,2 persen. Masalahnya, antardata tidak nyambung.  

Kalau melihat kaitan konsumsi dengan industri, karena penggerak utama sektor produksi itu adalah industri, yang terjadi industri hanya tumbuh 3,9 persen. Jika pertumbuhan sektor produksi turun, padahal mempunyai multiflier efek besar, kita perlu khawatir apakah ini akan terus berlanjut.

Pada saat lebaran pemerintah mengimbau semua daerah untuk memberikan THR dan gaji ke-13 sekaligus, dan libur hingga 2 pekan disamping ada Pilkada serentak tetap efeknya tidak terasa signifikan karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya 5,1 persen.

Pada semester II investasi akan lebih tertahan, apalagi industri besar, kecuali pemerintah bisa mendorong UMKM. Investasi tambahan atau pertumbuhan investasi di sektor industri besar akan wait and see, menunggu kepastian di tahun politik.

Sementara itu, konsumsi momentumnya sudah tidak ada lagi. Apalagi ada semacam tantangan untuk bisa mempertahankan konsumsi rumah tangga karena beberapa hal seperti depresiasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak dunia. Jadi selain tidak mempunyai momentum, tekanan dari fluktuasi nilai tukar rupiah meningkat lagi. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar