Menggenjot Ekspor, Padamkan Defisit CAD
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (kan/watyutink.com) 06 July 2019 16:00
Penulis
Watyutink.com - Rendahnya kinerja ekspor Indonesia saat ini, sedang dicoba diterobos dengan berbagai inovasi pembukaan area baru kerjasama perdagangan. Perluasan perjanjian dagang dengan berbagai negara “non tradisional“ dalam kerjasama “trading” dilakukan antara lain dengan membuka kontak kerjasama ke negara-negara Afrika Utara, Afrika Selatan, Afrika Barat, negara-negara Eurasia serta Amerika Latin.

Saat ini saja Kementerian Perdagangan (Kemendag) disebutkan sedang fokus menyelesaikan 11 perjanjian perdagangan dengan negara-negara mitra dagang bilateral ataupun multilateral. Diharapkan dengan selesainya perjanjian-perjanjian tersebut akan dapat meningkatkan nilai ekspor produk dalam negeri ke manca negara.

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag juga menyebutkan telah melakukan kerjasama perdagangan dengan Canada untuk meningkatkan kinerja ekspor khususnya produk UKM nasional ke Canada. Kerjasama yang dirintis melalui program Trade and Private Sector Assistance (TPSA) bersama Global Affairs Canada (GAC) selama 4 tahun terakhir (2014-2019) telah melaksanakan 80 aneka aktivitas yang berdampak peningkatan ekspor sebesar 4,8 juta dolar AS dan melakukan pembinaan terhadap 15 UKM dari tiga jenis komoditas pakaian jadi, alas kaki dan kopi.

Daftar perjanjian kerjasama dagang dan rintisan negara tujuan ekspor baru tersebut diperkuat oleh keikutsertaan Indonesia dalam berbagai forum internasional seperti ASEAN, G20, G33, WTO dan APEC. Serta beberapa perjajian dagang regional lainnya.

Dari gambaran di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa Indonesia terlihat masih cukup aktif untuk meningkatkan kinerja perdagangan khususnya ekspor nasional ke berbagai kawasan. Upaya terakhir dengan membuka negara tujuan ekspor baru di Afrika, Eurasia dan Amerika latin sepertinya jika digarap dengan serius akan dapat membantu pencapaian target ekspor yang melemah beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, upaya giat tersebut belum cukup tercermin dari angka-angka kinerja neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang masih defisit lumayan besar.

Performa ekspor tertinggi yang pernah dicapai pada 2011 dengan nilai ekspor 203,5 dolar AS, pada 2018 lalu anjlok menjadi 180,06 miliar dolar AS. Ironisnya, impor malah meningkat. Pada 2011 impor tercatat 177,44 miliar dolar AS, dan pada 2018 impor malah naik menjadi 188,63 miliar dolar AS.

Itulah yang menyebabkan neraca perdagangan anjlok dari semula surplus 26,06 miliar dolar AS pada 2011, menjadi defisit 8,57 miliar dolar AS pada 2018. Hal mana merupakan performa neraca perdagangan terburuk sepanjang sejarah Indonesia.

Neraca transaksi berjalan juga defisit pada 2018 mencapai 31,06 miliar dolar AS atau setara 2,98 persen dari PDB. Defisit transaksi berjalan (Q1-2019) memburuk, mencapai 6,97 miliar dolar AS, dan jauh lebih buruk dari defisit (Q1-2018) yang hanya 5,2 miliar dolar AS (Anthony Budiawan, 06/7/2019).

Menilik data-data di atas, apanya yang masih belum tersentuh dari upaya meningkatkan produksi dan menggapai kinerja apik ekspor produk Indonesia? Apakah upaya peningkatan kinerja ekspor dari Kemendag hanya pepesan kosong belaka? Padahal, semua peluang telah dibuka mulai dari iklim investasi dipermudah dengan deregulasi ekonomi, insentif pajak, dan berbagai hal lain yang mencoba menghidupkan kembali gairah industri.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Menggenjot ekspor dengan membuka kerjasama perdagangan harus disiapkan secara matang dan menyeluruh. Mulai dari sosialisasi kepada dunia usaha, meningkatkan daya saing sektor produksi dan upaya menetapkan Non Tariff Measures

Di satu sisi, kerjasama perdagangan bisa membuka peluang pasar agar lebih luas, tapi di sisi lain kita juga harus mengurangi berbagai hambatan (tarif) impor dari negara lain tersebut, yang berpotensi meningkatkan impor dan berimplikasi terhadap neraca perdagangan.

Oleh sebab itu, perlu strategi jitu dalam menerapkan berbagai kerjasama internasional.

Mulai dari strategi melakukan negosiasi yang menguntungkan dalam jangka panjang, strategi penurunan tarif secara bertahap hingga memperkuat sektor produksi di dalam negeri agar mampu bersaing dengan produk-produk impor. Memperkuat sektor produksi perlu kerjasama berbagai lintas sektor, mulai dari hulu hingga hilir.

Sayangnya, sampai saat ini belum sejauh ini belum terlihat dampak secara signifikan dari upaya pembukaan pasar baru non tradisional di sejumlah kawasan.

Periode pemerintahan mendatang, saran bagi para pembuat kebijakan untuk meningkatkan ekspor dan perdagangan nasional, harus memahami betul kondisi sektor produksi (tradable), gencar melakukan upaya promosi ekspor dan menugaskan/ berkoordinasi dengan atase perdagangan dan ITPC di setiap negara untuk meningkatkan ekspor ke negara yang bersangkutan, dan mengoptimalkan fungsi market intelijen. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Pengamat Kebijakan Publik/ Anggaran

Penyebab turunnya ekspor indonesia menurun dikarenakan pertama, Tingginya impor bahan bakar, bahkan per Januari kemarin ekspor turun hingga 4,7 persen, kedua, Adanya perang dagang antara Amerika - China, Ketiga, Adanya persaingan dagang antar negara-negara pesaing Indonesia yang lebih masif dibandingkan sebelumnya, seperti halnya Chna, Vietnam maupun Kamboja. 

Per Februari 2019 Menteri Perindustrian, telah menyampaikan bahwa strategi utama pemerintah adalah dengan berupaya menarik investasi industri untuk menjalankan hilirisasi sehingga dapat mensubstitusi produk impor. 

Kebijakan lainnya, perbaikan iklim usaha melalui penerapan online single submission (OSS), fasilitas insentif perpajakan, program vokasi, penyederhanaan prosedur untuk mengurangi biaya ekspor, dan pemilihan komoditas unggulan.

Dalam hal ini tidak hanya sekadar konsep program namun bagaimana secara operasionalisasi sistem ini dibangun.  Karena salah satu aspek terpenting yang mampu meningkatkan angka ekspor indonesia adalah pengembangan industri manufaktur. Disini perlu adanya salah satu evaluasi terhadap dinamika kompetisi di sektor industri khusunya pada sektor energi dan produktivitas tenaga kerja yang telah berjalan dalam 2 tahun ke belakang. 

Selain itu pemerintah harus mulai mendesain strategi negosiasi antar negara baik kerjasama bilateral maupun multilateral mengenai persoalan privillage, seperti contohnya Indonesia kalah dibandingankan Malaysia soal ekspor sawit. Dalam hal ini pemerintah harus lebih masif jika tdk ingin tertinggal dari negara lain. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Ya, kita boleh melakukan macam-macam upaya, tapi hasil akhir kinerja berupa angka ekspor yang masih lemah kalah oleh tetangga seperti Viernam membuktikan bahwa kita ini cuma jago rumahan kalau bersaing dengan tetangga. Kalah keok terseok-seok.

Suatu nation state negara bangsa bersaing melalui totalitas Japan Inc., Korea Inc., Taiwan Inc., Singapore Inc., China Inc., Hongkong Inc., bahkan US Inc., Nah kita ini gagal menciptakan suatu Indonesia Inc., karena sistem logistik Nusantara pada tahun 1957 lenyap pasca mengambil alih nasionalisasi KPM (perusahaan pelayaran Belanda), berakibat tarif interinsuler Nusantara menjadi termahal seantero bumi.

Ongkos angkut jeruk Pontianak ke Jakarta kalah murah ketimbang ongkos jeruk Mandarin dari Shanghai ke Jakarta. “Hopo Tumon?”. Ini telah berlangsung sebagai fakta selama 62 tahun sejak “hantam kromo” nasionalisasi KPM karena Pelni tak sanggup mewarisi dan melanjutkan efisiensi jaringan Regular Liner Service.

Baca buku “The Indonesian Inter Island Service Industry”, akan tampak betapa “hantam kromo”nya pengambil alihan KPM malah menjadi semacam “bunuh diri” oleh nation state Indonesia.

Masalah korupsi dan pajak serta fakta kesenjangan antara ekonomi legal faktual dan ekonomi "black"juga sulit terbuktikan, Misalnya isu pajak yang heboh gaduh, biasanya cuma “hangat-hangat tahi ayam” seperti kasus Gayus. Maka ekonomi Indonesia sebetulnya punya "pembukuan" yang ganjil dan ajaib karena memang yang legal tercatat dalam APBN tapi yang koruptif tentu tak tercatat. Tapi pengusaha dan masyarakat tetap harus mengeluarkan uang tambahan diluar yang tercatat dalam pembukuan formaI. Itu bisa miliaran atau triliunan, bisa dihitung "jutaan transaksi pungli " dan korupsi.

Maka kita punya ICOR 6,4 tertinggi di dunia. Untuk tumbuh 1 persen perlu investasi 6 koma 4. Maka itulah yang perlu dinihilisasi/dilenyapkan. 

In a nation pledged to Unity in Diversity, few industries could be more important than interisland shipping. Yet, since independence, problems plaguing interisland shipping have continued, despite the rehabilitation and modernization under the New Order Government. This book tries to understand the problems in terms of the conflict between market forces and government regulation. In the process it sheds light not only upon the industry but also upon an important aspect of modern Indonesian history, upon the nature of the business firm in Indonesia, and upon the formulation and implementation of government policy. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua