Menjaga Marwah Rupiah di Mata Asing
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 31 May 2019 11:30
Penulis
Watyutink.com - Seperti menjawab kekhawatiran beberapa pihak akan terjadi pelemahan rupiah akibat merebaknya isu rush money di media sosial Twitter berbarengan dengan kondisi Jakarta yang memanas pasca aksi massa di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI pada 21-22 Mei, mata uang tersebut justru menguat.

Otoritas Jasa Keuangan memastikan tidak ada aksi rush money alias penarikan uang secara besar-besaran. Yang ada justru dana asing masuk kembali ke Tanah Air (capital inflow). Otoritas menganggap isu penarikan uang hanya hoaks dan meminta semua pihak untuk tidak membesar-besarkan isu tersebut.

Bisa jadi isu tersebut lebih bermuatan politis daripada kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya dan dimaksudkan untuk menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sehingga tercipta ketidakpercayaan (distrust) kepada pemerintah dan perbankan.

Tindakan menarik uang secara besar-besaran pada jangka waktu pendek seperti yang pernah terjadi pada 1998 memang dapat mengguncang industri perbankan. Banyak bank kolaps karena likuiditasnya kering ditarik oleh nasabah. Bank umumnya hanya memiliki cadangan uang dalam jumlah terbatas sehingga tidak mampu menghadapi penarikan dana besar-besaran.

Isu penarikan uang besar-besaran ternyata tidak berhasil memperlemah rupiah. Lalu mengapa rupiah bisa bertahan saat ini di posisi Rp14.400-an? Apakah ada faktor lain yang membuat rupiah stabil? Apakah nilai tukar saat ini sudah mencerminkan kondisi rupiah yang aman?

Sejumlah pihak mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi stabil sekalipun pertumbuhannya melambat.  Hal ini berbeda dengan kondisi pada 1998 dimana saat itu kondisi ekonomi mengalami krisis.

Di sisi lain, sudah ada penjaminan simpanan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang lahir dari keprihatinan krisis moneter 1998. Dengan demikian guncangan yang mungkin akan dialami bank jika terjadi krisis keuangan tidak sehebat pada 1998. Masyarakat memiliki kepercayaan dananya dilindungi  dan dijamin.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa rupiah kerap berulah naik turun meskipun kondisi fundamental ekonomi dalam negeri baik. Apa yang menjadi penyebab utama fluktuasi nilai tukar mata uang Garuda tersebut? Apakah aliran dana asing masih dominan mempengaruhi nilai tukar rupiah?

Jika asing ditengarai masih dominan mempengaruhi kurs rupiah, bagaimana sebaiknya sikap pemerintah terhadap kehadiran mereka? Apakah dibutuhkan kebijakan khusus agar keberadaan investor asing di Indonesia membawa untung, bukan malah bikin buntung? Harapan apa saja yang bisa diberikan kepada mereka? Dan bagaimana jalan keluar jangka panjang yang baik bagi Indonesia dalam memperkuat nilai tukar rupiah?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Rupiah akan mengalami fluktuasi naik dan turun karena pengaruh global dan domestik. Pada saat perundingan antara AS dan China tidak mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan perang dagang, investor asing lari dari Indonesia, tetapi beberapa waktu kemudian datang kembali.

Dalam situasi global seperti itu rupiah masih berpotensi untuk naik dan turun ke depan. Oleh karena itu Indonesia harus bisa menjaga kondisi di dalam negeri agar tidak muncul isu-isu negatif. Pemerintah juga perlu memberikan peluang ke depan  sehingga investor yang akan menempatkan dananya di Tanah Air mendapatkan kejelasan mengenai investasi mereka.

Indonesia masih tergantung kepada investor asing. Jika mereka pergi dengan membawa uangnya, rupiah langsung terpuruk. Sebaliknya, saat investor luar negeri masuk, rupiah kembali membaik.  Kondisinya selalu seperti itu.

Investor asing mengetahui Indonesia mengalami defisit dalam neraca perdagangan dan adanya kerusuhan pada 21-22 Mei 2019, namun mereka berpendapat demonstrasi  di Indonesia tidak seperti di negeri lain yang bisa meluas ke seluruh negara karena perbedaan karakter orangnya.

Investor asing melihat masih banyak peluang berusaha seperti pembangunan infrastruktur yang masih akan dikembangkan, pasarnya juga besar, sehingga investasi di saham dan obligasi masih memberikan ruang keuntungan.

Investor asing masih berorientasi jangka pendek dengan membeli saham dan obligasi, belum beralih ke investasi jangka panjang. Kondisi ekonomi akan baik jika investor sudah menunjukkan indikasi berorientasi jangka panjang.

Investor belum berbicara mengenai ekonomi jangka panjang. Mereka masih berorientasi pada aksi ambil untung yang bersifat jangka pendek. Pada saat harga saham turun mereka membeli  dan menjualnya kembali saat harga tinggi. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Universitas Diponegoro

Fundamental ekonomi yang bagus akan menopang kestabilan nilai tukar rupiah. Pengaruh isu-isu politik hanya bersifat insidental dan temporer sehingga masyarakat akan kembali percaya. Fluktuasi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek lebih kepada masalah kepercayaan.

Pada saat masyarakat percaya terhadap pengelolaan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah, melakukan tindakan tegas terhadap pengganggu keamanan, sehingga tidak mendorong orang untuk berspekulasi dan melarikan diri ke luar negeri seperti rumor yang beredar banyak penduduk RI yang membeli tiket pesawat untuk tujuan ke luar negeri.

Sikap pemerintah dalam menghadapi kondisi yang memanas cukup bagus walaupun isu negatif tidak akan berhenti. Sempat juga ada isu perlawanan dari angkatan darat dengan pernyataan yang menyayangkan kondisi yang terjadi yang kemudian menimbulkan interpretasi mengenai kemungkinan dicopotnya Kapolri.

Namun jika presiden berpegang teguh kepada keyakinan bahwa Kapolri menjalankan tugasnya berdasarkan ketentuan hukum, pembelaan dari masyarakat sipil akan kuat dan situasinya akan reda. Yang perlu diwaspadai menyangkut isu isu ekonomi jangka pendek adalah saat Mahkamah Konstitusi  membuat keputusan pengadilan terhadap kasus laporan kecurangan Pilpres 2019.

Fundamental ekonomi Indonesia dilihat dari neraca pembayaran tidak terlalu mengkhawatirkan. Posisi cadangan devisa dan transaksi berjalan cukup aman. Presiden tentu akan memperhatikan perspektif  hukum yang lebih kuat dan fundamental, berbeda dengan kepentingan politik yang bersifat jangka pendek. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar