Naik Turun Rezeki di Era Pandemi
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 16 September 2021 16:00
Watyutink.com - Pandemi Covid-19 yang sudah berjalan satu setengah tahun lebih ini telah nenciptakan kemiskinan bagi sebagian rakyat Indonesia. Menurut laporan BPS jumlah orang miskin Indonesia meningkat 2,7 juta akibat pandemi Covid-19. Pada Maret 2021 jumlah total orang miskin Indonesia ada 27,54 juta orang. Kemiskinan ini terjadi kerena kehilangan lapangan pekerjaan (di-PHK), atau mata pencaharian terutama yang ada di sektor informal (buruh lepas, pedagang kaki lima dan sejenisnya).

Sektor lain yang menyumbangkan angka kemiskinan akibat covid adalah pertanian. Sektor ini meski mengalami pertumbuhan 0,39 persen pada semester pertama 2021, namun pada subsektor peternakan dan jasa mengalami penurunan -1,28 persen dibanding tahun lalu. Padahal sektor pertanian merupakan penyumbang 29,59 persen (38,78 juta orang), dari total pekerja Indonesia. Ini artinya terpuruknya sektor sektor pertanian memilki dampak signifikan terhadap angka kemiskinan Indonesia.

Data-data ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 memiliki dampak yang cukup berarti dalam meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia, jumlah korban jiwa akibat pandemi Covid-19 tidak sebesar angka kematian akibat kecelakaan. Ini terjadi karena pandemi Covid-19 telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi masyarakat, terutama masyarakat kecil yang berpenghasilan rendah.

Meski angka kemiskinan meningkat, namun ternyata angka orang-orang yang kaya tidak menurun bahkan ada kecenderungan naik. Selain itu, ada beberapa sektor usaha yang yang mengalami kenaikan di era pandemi Covid-19, terutama di sektor usaha kesehatan. Berdasarkan peneluruan tim Tirto terhadap rumah sakit yang terdaftar sebagai emiten di Bursa Efek Jakarta (BEI), ada beberapa rumah sakit yang mengalami kenaikan laba secara drastis selama masa Pandemi.

Hasil penelusuran Tirto menemukan ada rumah sakit yang mencatat pendapatan sebesar Rp1,91 triliiun pada kuartal pertama 2021. Naik 32,6 persen dari periode yang sama tahun 2020. Dari pendapat sebesar itu, rumah sakit tersebut mendapatkan laba bersih sebesar Rp143.99 miliar. Ini artinya pendapatan rumah sakit tersebut naik 789 persen atau hampir 8 kali lipat dari laba bersih pada kuartal yang tahun 2020 yang hanya sebesar Rp16,19 miliar.

Ada juga rumah sakit yang memperoleh pendapatan sebesar Rp1,2 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya (2020) sebesar Rp874,72 miliar. Berarti pendapatan  rumah sakit tersebut naik 37,3 persen. Dengan kenaikan pendapatan ini, laba bersih yang diperoleh oleh perusahaan mengalami kenaikan sebesar 59,15 persen dari tahun sebelumnya pada periode yang sama, yaitu dari Rp198,77 pada tahun 2020 menjadi Rp316,34 miliar pada tahun 2021. Demikian rumah sakit yang lainnya, yang mendapat laba bersih sebesar Rp285,25 miliar pada semester pertama tahun 2021. Keuntungan rumah sakit ini naik tiga kali lipat dibanding dengan periode yang sama tahun 2020, sebesar Rp71,84 miliar.

Ini adalah sebagian contoh perusahaan yang mengalami kenaikan keuntungan selama era pandemi Covid-19. Selain perusahaan kesehatan, sektor usaha lain yang meningkat keuntungannya selama era Pandemi adalah sektor IT dan industri makanan. Pengusaha di sektor ini, seperti OVO, Bukalapak, shopee mengalami kenaikan hingga 300 persen (tiga kali lipat). Bahkan ada perusahaan industri makanan yang mengalami kenaikan pendapatan sampai 700 persen lebih. 

Pandemi Covid-19 tidak hanya menaikkan keuntungan korporasi, tetapi juga pendapat individu. Data dan analisa KPK menunjukkan ada 22 menteri dari 38 menteri (56 persen) yang kekayaannya meningkat lebih Rp1 milyar, 11 menteri kekayaannya kurang dari Rp1 miliar dan hanya ada 1 menteri yang kekayaannya turun selama pandemi Covid-19.

Sedangkan dari dari para anggota legislatif, tercatat ada 259 orang atau 45 persen dari total anggota DPR yang kekayaannya meningkat lebih dari Rp1 miliar. Sedangkan yang mengalami kenaikan kekayaan kurang dari Rp1 miliar ada 218 orang dan yang mengalami penurunan kekayaan ada 63 orang. Kenaikan kekayaan para pejabat daerah baik di kalangan eksekutif (Gubernur, Bupati, Wali Kota) dan DPRD sama dengan pejabat di tingkat pusat.

Data-data ini menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 tidak semata-mata bencana yang merugikan semua orang. Ada banyak orang yang semakin naik pendapatan dan rezekinya justru di era pandemi. Mereka yang mengalami kenaikan pendapatan adalah perusahaan besar dan para pejabat yang memiliki posisi strategis. Kedua adalah kelompok kelas ongkang-ongkang, yaitu para individu yang telah memiliki modal besar yang diputar diperusahaan besar. Manusia jenis ini tidak perlu bekerja, kekayaan dan modal merekalah yang bekerja untuk menambah kekayaan. Penulis menyebut kelompok ini sebagai “Kelas Ongkang-ongkang” yang disebut oleh Vablen dengan istilah “Laisure class”. Kelompok ini tidak tergoyahkan oleh pandemi Covid-19 justru dapat meningkatkan keuntungan di era Pandemi.

Melalui pandemi Covid-19 kita dapat belajar tentang naik turunnya rezeki. Pandemi Covid-19 bukan berarti era menurunnya rezeki untuk semua orang sehingga menempatkan mereka dalam jurang kemiskinan. Pandemi ternyata juga dapat menjadi sarana meningkatkan rejeki bagi sebagian orang sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan. Mereka yang kreatif dan menguasai berbagai sarana untuk mendapatkan rezeki akan memiliki kemungkinan mendapatkan keuntungan dalam kondisi apapun termasuk dalam era pandemi. Sebaliknya mereka yang tidak kreatif dan tidak memiliki sarana akan lebih mudah kehilangan pendapatan yang membuat rezeki mereka menjadi menurun. Kelompok inilah yang menjadi korban pertama dalam setiap musibah termasuk di era pandemi Covid-19. Naik turun rezeki dalam kehidupan adalah sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi termasuk di era pandemi Covid-19

Yang tidak wajar dan tidak lumrah adalah ketika ada orang yang mengambil rezeki dan merampas hak orang lain dengan memanfaatkan jabatan, wewenang dan berbagai sarana yang dimilikinya. Yaitu orang-orang yang memanfaatkan kondisi pandemi untuk mengambil keuntungan dan mengeruk kekayaan demi kepentingan pribadi. Orang seperti ini lebih jahat dari binatang buas. Semoga mereka yang meningkat pendapatannya di era pandemi ini dapat terus berbagi agar keseimbangan hidup dapat terjaga. Karena menumpuk harta di tengah kemiskinan tanpa peduli pada mereka yang kesusahan sama dengan mengikatkan tali di leher sendiri.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF