Naikkan Suku Bunga atau Rupiah Terus Terpuruk
berita
Ekonomika
Sumber Foto : Ekonomi,Bisnis.SINDOnews.com (gie/watyutink.com) 14 May 2018 15:00
Penulis
Menjelang bulan Ramadan harga kebutuhan bahan pokok terus melambung. Seperti sudah menjadi ritual tahunan, tanpa dasar yang kuat, pedagang menaikkan harga secara berjamaah. Alasan klise yang sering diungkapkan adalah langkanya komoditas, tingginya permintaan, gagal panen, hingga kendala transportasi. Semua kesusahan itu ditimpahkan kepada umat yang sedang berpuasa tanpa merasa berdosa,  memanfaatkan kondisi psikologis kesabaran orang berpuasa.

Indonesia seperti tidak memiliki gravitasi di saat-saat tertentu seperti halnya menjelang bulan puasa. Harga dengan mudahnya melambung bak astronot yang mudah melayang-layang di bulan.  Apalagi dengan kondisi rupiah yang terus terpuruk menembus level psikologis Rp14.000 per US$1, membuat kenaikan harga-harga barang tidak mampu lagi dibendung.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI)  sudah memberikan sinyal tidak dapat menahan kenaikan harga jika rupiah bertahan di atas Rp14.000. Akibatnya harga-harga barang akan lebih tinggi lagi dari saat ini. Daya beli masyarakat akan turun, konsumsi anjlok,  pendapatan produsen barang-barang melorot, kemampuan membayar cicilan bank berkurang, bank  pemberi kredit berisiko masuk dalam kondisi sistemik yang rawan akan krisis, dan jika tidak mampu dikelola dengan baik  maka pelemahan rupiah ini akan melemahkan ekonomi nasional.

Banyak perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri yang harus dibeli dengan dolar Amerika Serikat, sementara penjualan mereka di dalam negeri yang berbasis rupiah. Para pengusaha itu berharap nilai tukar tidak melebihi Rp14.000 agar ada margin untuk mempertahankan kelangsungan usaha mereka. Sukur-sukur rupiah bisa diapresiasi ke level Rp12.000 per dolar AS.

Rupiah menjadi tidak menarik di mata investor menyusul meningkatnya yield US treasury bills mendekati level psikologis 3,0 persen dan munculnya ekspektasi Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari 3 kali selama 2018. Saat ini suku bunga acuan the Federal Reserve 1,75 persen, sementara Bank Indonesia masih bertahan dengan suku bunga BI 7-day repo rate 4,25 persen. Karena itu investor ramai-ramai melepas rupiah karena selisih imbal hasil yang semakin menipis.

Hanya ada dua pilihan bagi Bank Indonesia yakni tetap membiarkan rupiah terpuruk atau menaikkan suku bunga acuan yang saat ini bertengger di level 4,25 persen. Masing-masing memiliki konsekuensi sendiri. Memang seperti  memakan buah simalakama, namun bisa ditempuh kebijakan yang memiliki risiko paling sedikit. Jika terlambat pengobatannya dikhawatirkan efek yang ditimbulkan lebih besar lagi, apalagi pada tahun politik seperti saat ini.  

Menaikkan suku bunga acuan juga tidak mudah karena akan ada biaya yang harus ditanggung untuk menenangkan rupiah.  Kebijakan ini juga harus mendapatkan dukungan dari  industri keuangan, terutama perbankan agar efektif meredam gejolak mata uang.

Kalau Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga acuan, pada tingkat berapa akan ditetapkan? Apakah industri perbankan akan mendukung kebijakan Bank Indonesia karena kebijakan mikro di tingkat bank sudah menjadi kewenangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengaturnya, bukan lagi Bank Indonesia.  Lalu seberapa efektif kebijakan menaikkan suku bunga dalam meredam fluktuasi rupiah karena faktor sentimen juga  sangat mempengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah.

Apa pendapat Anda?  Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Diponegoro

Melihat perkembangan dari hari ke hari dan indikator lain seperti cadangan devisa dan posisi utang luar negeri dirasa perlu dalam jangka pendek menaikkan suku bunga acuan sambil melihat rupiah stabil lagi. Memang indikator makro ekonomi seperti utang luar negeri belum menunjukkan hal-hal yang mengkhawatirkan. Namun environment ini jika tidak diatasi akan menimbulkan spekulasi.

Secara eksternal ada kebijakan Amerika Serikat yang mempengaruhi fluktuasi rupiah, demikian juga dari aspek internal dalam negeri . Ada tren orang mulai berspekulasi walaupun ekspor, utang luar negeri, cadangan devisa secara agregat aman. Fluktuasi nilai tukar rupiah harus dijaga sehingga jangan sampai keluar dari aspek ekonomi .

Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan 25 basis point. Tetapi ini perlu mendapatkan dukungan dari industri perbankan untuk melakukan hal yang sama menaikkan suku bunga pinjaman dan suku bunga tabungan. Harus ada cara dalam jangka pendek untuk mengatasi fluktuasi rupiah. Industri perbankan harus ikut dengan menaikkan suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan. Ini cost yang harus dibayar, kebijakan yang harus diambil sebagai prioritas dari banyak risiko yang ada. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF

Nilai tukar rupiah mencapai titik terendahnya setelah tahun 2015. Pada awal bulan ini saja rupiah mencapai Rp14.100 per dolar AS. Penurunan ini melanjutkan tren negatif dari awal tahun ini. Pada awal tahun, nilai tukar rupiah pada bulan Januari berada di titik Rp13.386 per dolar AS, naik pada bulan Maret Rp13.728 per dolar AS. Angka nilai tukar rupiah pada awal bulan ini naik sekitar 5 persen jika dibandingkan dengan awal tahun ini. Kenaikan yang termasuk besar.

Kenaikan ini tidak lepas dari adanya faktor eksternal yaitu ekspektasi investor terhadap rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada tengah tahun ini. The Fed juga tengah mengaji kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed menyusul data pengangguran sebesar 3,9 persen (terendah bahkan sebelum krisis 2008). Jadi kemungkinan untuk menaikan suku bunga the Fed sangat terbuka. Dampak yang mungkin terjadi adalah keluarnya uang dari pasar modal domestik. Saat ini saja di pasar modal terjadi capital outflow yang mencapai Rp11,3 triliun akibat kenaikan yield US treasury bills mendekati angka psikologis 3 persen.

Bank Indonesia pun sudah menggelontorkan banyak cadangan devisa untuk menstabilkan nilai rupiah. Posisi cadangan devisa pada Januari 2018 mencapai 132 miliar dolar AS. Pada April 2018, posisi cadangan devisa Indonesia turun di angka 124,9 miliar dolar AS. Jadi Bank Indonesia sudah menggelontorkan 7,1 miliar dolar AS selama 3 bulan terakhir untuk menghentikan laju penurunan nilai tukar rupiah.

Meskipun sudah menggelontorkan cadangan devisa yang segitu banyak, kebijakan ini dianggap kurang efisien jika melihat angka nilai tukar rupiah saat ini yang mencapai level Rp14.100 per dolar AS. Faktor perbaikan ekonomi domestik menjadi sorotan utama kinerja pemerintah. Kondisi neraca pembayaran yang defisit menjadi salah satu alasan domestik kenapa rupiah tidak kuat menghadapi tekanan dolar. Defisit neraca pembayaran pada Kuartal-I 2018 sudah lebih dari dua kali lipat dari defisit neraca pembayaran pada Kuartal-I 2017.

Dampak dari nilai tukar rupiah yang terus merosot adalah meningkatnya harga bahan baku industri ataupun bahan makanan yang didatangkan melalui impor. Yang paling krusial adalah bahan makanan utama yang sebagian masih impor. Harga-harga kebutuhan pokok yang melambung ini akan semakin menekan daya beli masyarakat yang sudah berangsur membaik. Tekanan harga ini akan semakin bertambah mengingat mulai masuk bulan ramadan dimana harga-harga kebutuhan pokok akan meningkat.

Tidak efektifnya gelontoran cadangan devisa untuk meredam nilai tukar rupiah, membuat Bank Indonesia mengeluarkan rencana kenaikan suku bunga acuan 7-Day Repo Rate dari posisi saat ini 4,25 persen. Rapat pada tengah bulan ini akan menjadi keputusan penting untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan ini harus hati-hati mengingat pertumbuhan kredit masih sangat prematur sehingga kenaikan suku bunga acuan sangat sensitif terhadap penyaluran kredit.

Penyaluran kredit yang tidak pas cuma akan menekan pertumbuhan kredit dan nantinya akan merembet kepada sektor riil. Konsumsi masyarakat juga bisa tertekan. Namun, setiap kebijakan tentu mempunyai konsekuensi yang harus dijalani. Pilihan untuk menaikkan suku bunga acuan sangat relatif jika mengingat saat ini kebijakan menggelontorkan cadangan devisa tidak efektif, kebijakan kenaikan suku bunga acuan patut dicoba.

Kenaikan suku bunga acuan diharapkan dapat meningkat secara bertahap sampai akhir tahun. Untuk tahap awal bisa disesuaikan ke angka 4,50 persen atau meningkat 25 basis poin. Kenaikan ini untuk menambah ketertarikan investor untuk berinvestasi di pasar modal dalam negeri, dimana keuntungan merupakan faktor utama ketertarikan investor pasar modal.

Selain kenaikan suku bunga acuan, rencana pemerintah untuk kerjasama dengan Malaysia dan Thailand untuk menggunakan mata uang lokal masing-masing dalam perdagangan dengan kedua negara tersebut. Kebijakan ini dinamakan local currency settlement (LCS). Tujuan dilakukan LCS ini adalah mengurangi ketergantungan penggunaan dolar AS sebagai alat transaksi perdagangan dan investasi. Kebijakan ini akan sangat ditunggu untuk dapat meredam kenaikan nilai tukar rupiah di masa yang akan datang. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru Besar Ekonomi Universitas Nasional

Karena kondisi makro ekonomi relatif stabil, penyebab lemahnya rupiah sering dibebankan pada kondisi eksternal, persisnya menguatnya perekonomian AS dan kepercayaan bahwa the FED, bank sentral AS, masih akan menaikkan suku bunga acuan. Kaidah ekonomi internasional menyatakan bahwa modal akan mengalir dari negara dengan tingkat bunga rendah ke negara dengan tingkat bunga tinggi. Tingkat suku bunga acuan the Fed baru dinaikkan dari 1,5 persen menjadi 1,75 persen dan langsung diikuti tindakan serupa oleh bank-bank sentral utama dunia seperti Bank Sentral Eropa (ECB) dan China (PBC). Banyak pengamat percaya bahwa dengan target inflasi 2 persen, the Fed masih bisa menaikan suku bunga acuan hingga jauh di atas 2 persen.

Pada kondisi suku bunga acuan the The Fed sekarangpun, ditambah dengan  menguatnya perekonomian AS, aliran dolar kembali ke kandangnya sudah menyebabkan menguatnya dolar AS yang pada gilirannya telah melemahkan mata uang dunia, utamanya mitra dagang AS. Dalam hampir sebulan ini dolar AS sudah menguat hampir 3,5 persen tetapi rupiah “baru” melemah sekitar 2 persen. Tentu itu menunjukkan bahwa masih ada faktor daya tahan rupiah terhadap menguatnya dolar AS. Faktor itu adalah kondisi makroekonomi yang relatif stabil.

Tentu menjadi tugas Pemerintah untuk terus  mengelola fiskal dengan hati-hati. Karena defisit APBN yang membengkak akan mengharuskan dilakukannya utang baru dan tambahan utang luar negeri yang pada gilirannya akan memperbesar defisit neraca pembayaran dan melemahnya rupiah. Pemerintah juga bisa memanfaatkan  melemahnya rupiah untuk mendorong ekspor dengan berbagai insentif  dan mengendalikan  impor secara selektif.

Adapun di sisi kebijakan moneter memang tidak ada pilihan lain buat BI selain segera menaikkan suku bunga acuannya. Mengatasi melemahnya rupiah dengan intervensi pasar seperti sekarang ini hanya akan menguras cadangan devisa. Memang menaikkan suku bunga bukan tanpa risiko. Suku bunga tinggi akan mengurangi gairah investasi yang pada gilirannya akan mengurangi pertumbuhan ekonomi. Tapi investasi tidak hanya tergantung pada tingkat bunga, iklim investasi yang kondusif akan meredam turunnya gairah investasi akibat kenaikan tingkat bunga tersebut. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar