Pekerja Migran Tak Henti Bertaruh Nasib
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 24 April 2019 19:35
Penulis
Predikat sebagai pahlawan devisa tidak membuat pekerja migran Indonesia (PMI) purna bernasib baik sepulangnya mereka ke Tanah Air. Tidak sedikit yang menganggur dan akhirnya kembali bekerja di luar negeri walaupun hati kecilnya ingin tetap tinggal di daerah kelahirannya.

Potensi kembalinya pekerja migran ke luar negeri karena kesulitan ekonomi yang dihadapinya di Tanah Air.  Melihat kecenderungan tersebut, pemerintah mengupayakan pelatihan usaha produktif yang dibarengi dengan training pengelolaan keuangan agar tetap mau tinggal di daerahnya.

Pelatihan yang digelar untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya hadir pada saat keberangkatan pekerja migran tetapi juga peduli terhadap nasib mereka sepulangnya dari luar negeri melalui program pemberdayaan PMI purna.

Pemerintah menilai PMI yang pulang memiliki etos kerja tinggi, inovatif,  dan modal untuk berusaha sehingga diharapkan bisa menghidupi ekonomi keluarga dan menggerakkan usaha masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dengan begitu mereka  tidak perlu lagi keluar negeri mencari pekerjaan, tetapi membangun desanya.

Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI)  menggelar program pemberdayaan terintegrasi bagi PMI purna beserta keluarganya, meliputi pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan keuangan.

BNP2TKI menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah untuk memberikan pelatihan terintegrasi tersebut sesuai dengan keahlian lembaga dan kementerian yang bersangkutan.  Cukupkah bekal yang diberikan kepada PMI purna tersebut?

Selama periode 2015-2018 telah dilatih sedikitnya 25.000 PMI purna beserta keluarganya yang menjadi peserta pelatihan kewirausahaan. Sekitar 38 persen diantaranya memperoleh pendapatan dari usahanya sebagai wirausahawan. Mengapa harus ada pelatihan lagi setelah mereka lama bekerja di  luar negeri? Bukankah mereka menjadi mahir dan memiliki keterampilan khusus selama bekerja di negeri orang?

Sayangnya program pelatihan tersebut belum secara optimal dijalankan pemerintah. Program pemberdayaan yang diberikan kepada PMI purna dari Malaysia, misalnya, belum menjangkau semua pekerja yang pernah berkiprah di negeri jiran tersebut.  Apakah ada perbedaan kebijakan terhadap pekerja migran disesuaikan dengan asal negara penempatan?

Sebelum para pekerja migran berangkat ke luar negeri, mereka mendapatkan perlindungan sekaligus  pelatihan. Pemerintah menyampaikan soal perlindungan pada para pekerja migran. Pemerintah juga  berjanji meningkatkan kualitas para pekerja migran agar lebih siap dan lebih kompetitif bekerja di luar negeri. Lalu kemana keahlian yang pernah diberikan itu digunakan jika ketika pulang harus mendapatkan pelatihan lagi?

Bukankah para pekerja migran ini sudah terbentuk etos kerjanya dan memiliki keterampilan khusus selama di luar negeri? Apakah keahlian tersebut dapat digunakan di dalam negeri dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja sesuai keahliannya? Bukankah dengan begitu pemerintah bisa berhemat dalam penggunaan anggaran negara?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Buruh migran purna dari luar negeri justru mempunyai keterampilan yang harus dimanfaatkan, dicarikan penyalurannya sehingga bisa masuk ke sektor-sektor yang cocok dengan keterampilan yang dimiliki. Tidak semua orang mempunyai keterampilan tersebut.

Pemerintah harus membalik paradigma bukan dengan memberikan pelatihan kepada pekerja migran purna, tetapi memanfaatkan keahlian yang mereka dapatkan selama bekerja di luar negeri. Mereka dijembatani untuk masuk ke sektor yang cocok dengan keterampilannya.

Pemerintah berpikir pekerja migran purna yang balik ke Indonesia dinilai tidak mendapatkan pekerjaan sehingga harus dilatih untuk dapat pekerjaan. Sebenarnya tidah harus begitu, karena mereka sudah memiliki keterampilan yang didapat di luar negeri, tinggal mencarikan sektor yang cocok atau yang paling mendekati.

Potensi pekerja migran purna sangat banyak walaupun tidak sebanyak Filipina, tetapi masih masuk kategori salah satu yang terbesar.  Pekerja migran purna Indonesia didominasi kelompok dengan keterampilan menengah bawah yang mencapai 90 persen, seperti asisten rumah tangga, buruh perkebunan, dan supir. Tidak seperti pekerja migran Filipina yang memiliki keterampilan lebih tinggi, bekerja di hotel, toko.

Pekerja migran Indonesia, sekalipun bekerja sebagai asisten rumah tangga, lebih mengerti cara berinteraksi dengan orang asing, berpengalaman menggunakan peralatan rumah tangga yang canggih, tanpa perlu dilatih lagi.

Pelatihan yang tidak sesuai dengan keterampilan yang sudah mereka miliki sebelumnya justru akan kontraproduktif. Mereka dilatih untuk sesuatu dimana mereka tidak mempunyai pengalaman di bidang itu sehingga harus memulainya dari nol. Sementara itu, keterampilan yang mereka miliki dihilangkan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Masalah pekerja migran ada pada kualitas input. Pada saat dikirim ke luar negeri sebagian besar tenaga kerja tersebut akan bekerja di posisi blue color, pekerja tingkat rendah di mana penghargaan terhadap pekerjaan tersebut rendah yang dinyatakan dalam jumah gaji yang diterima, seperti asisten rumah tangga, buruh, dan lain-lain.

Sebelum berangkat mereka diberikan pelatihan dan pada saat pulang sebagai pekerja migran purna diberikan lagi pelatihan, sehingga kesannya mubazir. Training sebelum berangkat ke luar negeri diberikan agar dapat beradaptasi dengan kondisi di luar negeri. Pada saat kembali dengan penghasilan yang telah didapat, pemerintah dengan itikad baik memberikan bekal menjadikan mereka wirausahawan, sukses, lepas dari kemiskinan.

Pelatihan saat pergi dan pulang memang beda konsep. Sebelum pergi, pelatihan yang diberikan lebih kepada adaptasi dengan budaya negara penempatan. Pada saat kembali ke Tanah Air seharusnya terjadi transfer pengetahuan, sekecil apapun, akan bertambah pengalamannya. Ini harus menjadi poin penting saat mereka balik ke Indonesia.

Keahliannya memang sebagai asisten rumah tangga dan tidak mudah untuk dilatih menjadi wirausahawan, akan banyak tantangan.

Kekuatan yang dimiliki pekerja migran yang sudah bekerja, misalnya 2 tahun, adalah jaringan sesama pekerja migran.  Peluangnya adalah menjadi wirausahawan dengan modal yang diperoleh selama bekeja di luar negeri dan dibantu pelatihannya oleh pemerintah, atau bekerja lagi di luar negeri, memenuhi ajakan teman yang masih bekerja di luar negeri.

Mereka yang telah pulang bisa kembali lagi bekerja di luar negeri. Keberadaan mereka di Tanah Air hanya beberapa waktu saja untuk keperluan membangun rumah di Indonesia, misalnya. Menghadapi kondisi seperti ini diperlukan kebijakan berbeda terhadap pekerja migran.

Bagi yang terbiasa bekerja di luar negeri dibutuhkan pendekatan yang berbeda. Pelatihan yang diberikan harus berbeda, tidak lagi kewirausahaan, tetapi meningkatkan keterampilan yang lebih bagus agar bisa naik tingkat ke pekerjaan di level yang lebih tinggi seperti petugas bandara, seperti dilakukan oleh Filipina.

Tidak harus melatih mereka menjadi pengusaha, karena tidak semuanya ingin jadi pengusaha. Apalagi para pekerja migran adalah orang miskin yang karena tidak mendapatkan pekerjaan, mereka mencari nafkah di luar negeri, walaupun jadi asisten rumah tangga, mereka lakukan. Mereka mempunyai semangat juang yang tinggi.

Pekerja migran tetap memiliki semangat juang tinggi saat kembali, tetapi tetap ingin jadi pekerja, tidak ingin jadi pengusaha. Kepada mereka diberikan pelatihan peningkatan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di luar negeri. Pelatihan up skilling jarang dilakukan pemerintah. Selama ini pelatihan yang digelar lebih banyak mengenai kewirausahaan dan pengelolaan keuangan.

Transfer pengetahuan yang didapat pekerja migran di luar negeri lebih cocok untuk mengup-grade kemampuan mereka, sambil menunggu penempatan kembali. Dengan pelatihan tersebut diharapkan keterampilan pekerja migran bertambah, mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan gaji lebih tinggi. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Enny Sri Hartati, Dr.

Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting             Sektor Pertanian Masih Gunakan Paradigma Lama             Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat             Rekonsiliasi Sulit Terjadi Sebelum 22 Mei             Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian             Dibutuhkan Political Will, Bukan Regulasi             Kasus Makar Bernuansa Politis             Pasal Makar Ancam Demokrasi