Pelantikan Anies-Sandi dan Pergerakan Pasar Modal
berita
Ekonomika

Ilustrasi: Muid/Watyutink.com

19 October 2017 14:03
Penulis
Bersamaan dengan pelantikan Anies Baswedan–Sandiaga Uno menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan 25,28 poin pada level 6.000. Hampir semua sektor menguat, termasuk properti dan industri dasar yang menjadi penguat tertinggi. Benarkah kenaikan IHSG tersebut karena terpengaruh oleh pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru? Atau memang sengaja didesain oleh para Day Trader agar IHSG naik, sehingga nampak bahwa pemimpin baru DKI disambut positif oleh banyak kalangan termasuk pasar, mengingat Wakil Gubernur dari kalangan pengusaha?  

Nilai transaksi pada bursa Indonesia sore kemarin tercatat sebesar Rp12,98 triliun dengan 13,86 miliar saham diperdagangkan. Transaksi bersih asing minus Rp485,86 miliar dengan aksi jual asing sebesar Rp3,93 triliun dan aksi beli asing mencapai Rp3,45 triliun. Tercatat sebesar 189 saham menguat, 154 saham melemah dan 138 saham stagnan. Menguatnya sentimen pasar menunjukkan kepercayaan dan harapan bagi pemimpin baru di DKI kah? Jika sentimen pasar selalu menjadi indikator, apa berarti penentuan pemimpin dan berhasil-gagalnya pemimpin itu ditentukan oleh pasar, bukan oleh program dan kinerjanya? Apakah hal ini juga akan berlaku untuk 2019 nanti?

Secara emprik, sentimen positif pasar ini terlihat sejak putaran kedua Pilkada DKI usai. Sehari pasca libur hari pencoblosan, IHSG dibuka menguat di level 5.610,40. Naik 3,88 poin atau 0,07 persen. Aksi beli bersih investor asing di semua papan perdagangan mencapai Rp25,31 miliar. Aksi beli bersih investor asing di pasar reguler mencapai Rp26,66 miliar. Banyak pengamat melihat bahwa sentimen positif itu karena kesuksesan pilkada yang berjalan kondusif dan aman, sehingga memberikan dampak positif terhadap ekonomi bisnis di semester awal 2017. Jakarta adalah penyumbang 20 persen total pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Apakah berarti apa yang terjadi di Jakarta, dipastikan akan membawa pengaruh terhadap kondisi ekonomi di seluruh negeri? Bukankah ini menegaskan bahwa belum terjadi pemerataan ekonomi di Indonesia? Jika bergantung kepada Jakarta, berarti sangat layak bila ada yang menyebut: jika ingin menguasai (baca: menjajah) Indonesia, maka kuasailah Jakarta.

Jika penentuan pemimpin dan berhasil-gagalnya pemimpin itu ditentukan oleh sentimen pasar, maka memungkinkan juga para ‘pemain’ di pasar modal (baca: pengusaha dan taipan) ikut menentukan pemimpin maupun calon pemimpin, termasuk menjadi sponsor dengan memberikan dana kampanye. Mengingat, begitu mahalnya biaya demokrasi di Indonesia saat ini. Jika sudah begini, maka wajar jika kemudian seorang pemimpin akan disetir oleh pengusaha. Lantas, pemimpin tersebut hanya akan memikirkan (mengeluarkan kebijakan) untuk kepentingan para pengusaha/taipan. Lalu, kapan Indonesia memiliki pemimpin yang benar-benar memikirkan rakyat?

Namun begitu, tak elok rasanya jika su’udzon dengan pemimpin yang baru sehari menjabat. Layak rasanya kita mengucapkan selamat bertugas kepada Mas Anies dan Bang Sandi. .

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(afd)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Guru besar ekonomi UII Yogyakarta, Wakil Ketua PP ISEI

Saya kira berlebihan kalau kita menganggap bahwa pasar langsung bereaksi positif karena figur Anies-Sandi. Itu bisa jadi lebih karena proses suksesi berjalan damai, tidak sehiruk-pikuk saat kampanye atau jelang pencoblosan dulu.

Pasar kita, apakah pasar uang, pasar modal, ataupun pasar barang, sudah relatif stabil dan tak banyak mengalami  kegoncangan hanya karena suksesi Gubernur, atau bahkan Presiden sekalipun. Kalaupun ada reaksi, itu hanya sesaat yang bisa jadi dilakukan para spekulan untuk mengambil aksi ambil untung sesaat.

Ini sangat berbeda dengan masa akhir tahun 1990an saat krisis politik ekonomi terjadi dan masa awal tahun 2000 an dahulu. Setiap hari pasar bisa tergoncang oleh situasi politik. Kalau ada ledakan bom kecil sekalipun bisa menyebabkan pasar modal dan pasar valuta asing bergolak.

Mengapa sekarang pasar kita relatif tegar dan hold up terhadap perubahan politik? Ini karena pasar kita sudah semakin terbiasa dengan situasi tersebut dan tak lagi menganggap perubahan di luar ekonomi akan mengguncang pasar, kecuali kalau aspek ekonominya sendiri yang mengalami goncangan. Tentu hal itu akan berpengaruh terhadap pasar.

Berbagai pernyataan dan konflik politik yang panas sudah dianggap rutinitas oleh pasar sehingga tak banyak pengaruhnya. Demikian juga peristiwa pergantian Gubernur DKI ini.

Pasar memang akan melihat kinerja real dari Gubernur untuk bersikap. Namun tidak dengan reaksi spontan atau sesaat setelah pelantikan. Karena, Gubernur dan Wakil Gubernur juga belum mulai bekerja, baru pelantikan, lalu mengenali seluk-beluk medan kerja mereka. Pasar tentu memahami bahwa saat ini pasar belum tahu apa yang akan dilakukannya, dan bagaimana kebijakan ekonominya. Pasar sebetulnya masih wait and see.

Kenaikan pada Senin kemarin itu tidak terlalu signifikan. Kenapa? Bagaimanapun juga posisi Gubernur itu tidaklah terlalu besar pengaruhnya, mengingat kebijakan yang ada dalam genggamannya (kekuasaan) sifatnya terbatas. Cuma mungkin, hanya karena pelantikan Gubernur tersebut adanya di Ibu Kota Jakarta, serta saat pemilihannya berlangsung ‘panas’ dan menjadi isu nasional, dampaknya jadi sedikit berbeda dibanding pelantikan gubernur di daerah lain.

Meski begitu, kenaikan IHSG karena faktor suksesi dan ekspektasi tentu ada pengaruhnya. Namun itu semata reaksi sesaat yang sifatnya spekulatif, dan kenaikan muncul karena faktor pasar itu sendiri. Untuk jangka panjang, akan lebih diwarnai oleh fundamental ekonomi yang ada. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Seniman - Penulis - Aktivis

Kalau dilihat secara eksplisit, berarti ada dukungan pasar terhadap Anies-Sandi, meskipun secara pasti kita tidak bisa menyebutkan hal itu. Karena pasar sifatnya prudence, sehingga fluktuasinya tidak serta-merta. Ada proses membaca momentum oleh pasar yang kemudian membuatnya turun ataupun naik. Meski begitu, kita melihat optimisme akan ada kemajuan di bidang ekonomi terutama dengan pemimpin baru Jakarta.

Kenapa saya bilang tidak pasti sambutan pasar tersebut? Karena pada saat kenaikan tersebut, transaksi asing masih minus. Saya rasa banyak faktor yang membentuk kondisi ini. Seperti perekonomian Indonesia secara keseluruhan dan situasi dunia, seperti ketegangan Trump vs Korea Utara.

Namun begitu, kita tidak bisa memungkiri bahwa politik dan ekonomi selalu memiliki keterkaitan, dan punya tarik-menarik yang sangat kuat.

Dalam kaitannya dengan politik, sejak pilkada DKI dimulai, masyarakat DKI ini sudah terbagi dalam dua kubu; kelompok yang mendukung petahana dan kelompok yang mendukung Gubernur yang terpilih saat ini. Masing-masing membawa isu dan pernyataan yang keras dan diwarnai amarah atau kebencian. Bahkan isu-isu tersebut menasional. Lihat saja, aksi 411, 212, dan aksi-aksi umat Islam di ibu kota yang dihadiri oleh masyarakat di luar Jakarta. Bahkan masyarakat bersama para santri dari Ciamis rela jalan kaki ke Jakarta. Artinya Pilkada DKI kemarin memiliki pengaruh secara nasional. Pilkada rasa Pilpres. Makanya, butuh waktu untuk memulihkan itu.

Selama mengamati perjalanan politik semenjak Pilkada DKI dimulai, saya melihat sebenarnya  sikap dan visi Anies-Sandi adalah sejatinya Nawacita. Karena Anie-Sandi saat Pilkada kemarin melawan petahana yang sebelumnya merupakan wakil dari Jokowi yang saat menjadi Presiden mengusung Nawacita, dan Wakil Gubernur petahana yang merupakan kader dari partai pendukung utama Jokowi, maka saat Pilkada dia berhadap-hadapan dengan “nawacita palsu”, yang didengung-dengungkan sejak Pilpres lalu.

Namun, apapun itu, perselisihan dalam kubu-kubuan yang kemarin terjadi harus segera dihentikan. Pemimpin baru Jakarta telah terpilih secara sah dan konstitusional. Suka atau tidak, demi kebaikan dan kemajuan Jakarta ke depan, mari kita mendukung Gubernur baru dengan tidak terus menerus memelihara perpecahan yang ada. Karena tidak ada yang bisa menghentikan perpecahan itu kecuali dengan gerakan kebudayaan yang kita gerakkan sendiri, terutama oleh warga pendukung Anies Sandi. Bahwa warga pendukung Ahok masih sakit hati, masih kecewa dan masih sering marah-marah, biarkan. Lakukan gerakan-gerakan kebudayaan yang mengedukasi kita bagaimana menjadi warga yang dewasa dalam berdemokrasi.

Kawal Anies-Sandi agar mereka tidak melenceng dari janji-janjinya. Semangati mereka agar menjadi pemimpin yang adil, tegas dalam peraturan dan kebijakan namun lembut dalam ucapan, serta mendengarkan dan mengayomi rakyatnya. Ke depan, sebagai sesama anak bangsa, kita harus kembali saling berangkulan. Kembali bersatu menjadi bangsa Indonesia.

Dengan merajut kembali persatuan, saya yakin ekonomi kita akan semakin maju dan berkembang pesat. Mendapat nilai trust dari pasar, lalu menjadi negara maju secara ekonomi. Cita-cita founding father kita. (afd)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF