Peradaban Miskin Nilai, Tetap Dipertahankan?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
03 May 2019 12:00
Watyutink.com - Di tahun 50-60an, pada era sebelum Orde Baru, menjadi pejabat negara sangat dihormati, disegani, dan dibanggakan. Baik yang duduk di lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Para pemimpin, pejabat tinggi negara di masa itu, cukup beralasan untuk dihormati dan disegani. Karena di samping otaknya berisi, kepribadian dan perilakunya mencerminkan dirinya memang berkelas.

Tidak harus banyak uang dan harta melimpah. Atau keturunan dari tokoh A, B, dan C, keturunan garis darah biru, dan sejenisnya. Mereka dihormati karena kata dan perbuatannya menyatu. Janji dan realisasinya nyata jelas terbukti. Mereka malu bila ingkar janji. Apalagi melakukan salah urus dan salah tindakan yang berdampak merugikan rakyat banyak. 

Melakukan korupsi merupakan aib besar yang dipercaya dan diyakini sebagai perilaku sangat memalukan! Rasa malu pun menjadi hantu yang paling menakutkan. Sehingga perbuatan tercela, seperti korupsi, merampas hak orang lain, dan berbuat curang yang memalukan, jauh-jauh mereka buang.

Pada masa itu, pengelolaan membangun bangsa dan negara dipahami sebagai membangun peradaban. Sehingga pembangunan negara bukan hanya tertumpu pada program pembangunan fisik semata. Titik beratnya lebih pada upaya dan tujuan membangun kehidupan sebuah bangsa yang beradab. Artinya, bangsa yang berkeadilan dalam kemakmuran dan berkemakmuran dalam keadilan. Yang berkeTuhanan dan menjunjung tinggi perikemanusiaan. Rakyatnya hidup dalam persatuan dengan semangat kekeluargaan, dimana Gotong royong menjadi pondasi tata nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nation and character building pun menjadi program wajib yang sangat penting untuk dikedepankan. Sesuai dengan amanat lagu Indonesia Raya… "Bangunlah jiwanya. Bangunlah badannya..!’’ Jiwanya dahulu yang dibangun, baru raganya. Dikhawatirkan ketika raganya dahulu yang diutamakan untuk dibangun, roh-roh jahat yang tak terdeteksi akan dengan sangat mudah mengisi dan memenuhi setiap ruang jiwa. Dikarenakan raga yang terlanjur dibangun tanpa blue print yang sudah tersedia. Yah, tersedia dan yang telah dirancang dengan baik tahapan pembangunannya oleh para bapak pendiri bangsa.

Kesalahkaprahan membangun Indonesia sejak awal tahun 70-an yang tak sesuai dengan blue print aslinya dapat kita rasakan dampaknya hingga sekarang. Tubuh dan sukma Indonesia hari ini menjadi sulit untuk dikenali; nilai dan budaya apa yang melekat dalam dirinya??! Sulit untuk mengatakan; inilah Indonesia yang kita cita-citakan! Karena gerak pembangunan mengarahkan manusia menjadi kumpulan masyarakat bangsa yang  jauh melenceng dan meninggalkan pandangan hidup (Weltanschaung) bangsanya sendiri.
Seperti tak ubahnya menggarap gadis yang dipoles sisi sana sininya agar tampak cantik dan sexy, tapi minim pikiran, tak kenal tata krama kesantunan, vulgar, hedonis, dan selfish

Singkatnya menjadi kurang beradab dan minus toleransi. Rasa malu telah lama hilang musnah tanpa bekas. Ditangkap KPK dan jadi gunjingan masyarakat, para koruptor tampak biasa-biasa saja. Bahkan sempat melempar senyum saat tertangkap kamera para wartawan, tanpa ada rasa malu. Hebatnya lagi, keluar dari tahanan, ada yang kembali menjadi tokoh di berbagai organisasi kemasyarakatan maupun politik. Bahkan ada yang kembali jadi pujaan dan idola masyarakat. Rakyat berebut ingin selfie bersama dan bahkan cium tangan. Karena sang tokoh (koruptor) masih berduit dan telah berubah menjadi dermawan. Sering tampil bagi-bagi uang hasil korupsi yang berhasil disembunyikan dan luput dari penyitaan oleh negara.

Dengan memiliki uang banyak, Anda bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi orang terhormat dan diperlukan oleh penguasa-negara untuk diajak bersama membangun negeri. Mau jadi anggota DPR…bisa! Mau jadi orang di lingkaran satu penguasa…bisa! Mau jadi selebritis…bisa! Mau menjadi figur penebar kebenaran…bisa! Tak perduli dari mana dan dengan cara apa uang didapat, yang penting rela lempar uang kepada yang membutuhkan.

Itulah sebabnya belakangan ini, banyak orang berduit atau berpredikat ‘cukong’ berada di belakang para calon Bupati, Wali Kota, Gubernur, dan bahkan bisa jadi calon Presiden. Bahkan atau bahkan ada yang maju sendiri sebagai calon petinggi di sejumlah institusi politik. Termasuk pada institusi lembaga kepresidenan, seperti lembaga penasehat, lembaga khusus, tugas khusus, dan sejenisnya. Dan para tokoh yang berduit ini, bertaburan di lingkaran kehidupan dunia politik kita hari ini. Bahkan mereka lah yang sesungguhnya menjadi key player pada setiap peristiwa politik kedaerahan maupun pada skala nasional. Pendeknya mereka bisa menjadi apa saja!
 
Yang tidak bisa dilakukan mereka untuk"menjadi" adalah menjadi Indonesia seperti yang dicita-citakan sebagaimana keinginan dan mimpi para Founding fathers bangsa! Dampaknya terhimbas pada gaya dan budaya kehidupan mayoritas elit bangsa ini. Karena mereka terlanjur terkurung dan menikmati peradaban yang miskin nilai, dan yang hanya mengasyikan para elite negeri ini. Mereka lah para warga bangsa yang berada di zona nyaman Indonesia hari ini. 

Pertanyaan aktualnya berkaitan dengan Pemilu-Pilpres 2019; mampukah presiden terpilih nanti, melakukan revolusi nilai yang nyata, terencana, terarah dan terukur? Bukan hanya sebatas jargon Revolusi Mental yang tak lebih hanya sebuah jargon kosong tanpa muatan nilai dan langkah nyata. Tak ada yang dijebol dari mental korup untuk digantikan dengan nilai yang menjunjung tinggi kemanusian, keadilan, dan perdaban visioner membangun negara dan bangsa yang bermartabat, sejahtera dan berkeadilan. Yang pasti menjebol mental korup dan jiwa yang culas dan curang!    

Harus kita mintakan dan tuntut hari ini juga, agar apa yang ingin kita wujudkan sebagai bangsa, menjadi keharusan dan kewajiban untuk direalisasikan oleh Pak Presiden terpilih 2019-2024.

Harus dan wajib kita sudahi kehidupan yang miskin nilai  dengan kembali pada jati diri dan cita-cita Indonesia merdeka! Tanpa kejelasan komitmen ini, buat apa ribut-ribut dukung mendukung calon A, B, C. Apa lagi dengan membayar sangat mahal perjalanan menuju masyarakat bangsa yang kehilangan adab dan peradaban sebuah bangsa yang bermartabat! Seperti suasana kisruh, usreg tanpa henti, heboh tanpa kepastian tujuan, seperti yang kita alami selama masa Pemilu-Pilpres 2019 yang sangat miskin nilai ini. 

Mau sampai kapan kita begini? Untuk itu diperlukan gelaran program berikut rancangan langkah nyata agar bangsa ini keluar dari situasi miskin nilai seperti sekarang ini. Jawaban akan hal ini dinanti rakyat! Siapa pun yang bakal terpilih sebagai Presiden hasil Pemilu-Pilpres 2019, tolong beri kami jawaban. Bukan sekadar janji, yang kami perlukan adalah bukti!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Stabilitas Sangat Berdampak Pada Ekonomi             Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan             People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan