Pertumbuhan Stagnan, Ekonomi Sulit Mapan
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 11 July 2019 17:00
Penulis
Watyutink.com - Mentok, kata yang pas untuk menjelaskan  pertumbuhan ekonomi tahun ini. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional  (Bappenas)  memprediksi  ekonomi akan tumbuh paling banter 5,3 persen, tidak bisa lebih.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro sepertinya pasrah dengan pertumbuhan ekonomi. “Sulit sekali untuk bisa di atas itu.”

Pertumbuhan yang relatif minim itupun baru bisa dicapai jika pemerintah melakukan berbagai upaya perbaikan.  Kendala terbesar ada pada regulasi dan kelembagaan. Dua hal itu yang penting untuk segera dibenahi. Separah apa keduanya sehingga mendesak untuk dibereskan? Bukankah dua hal itu menyangkut masalah struktural yang butuh waktu lama, sementara kondisi ekonomi saat ini butuh jalan keluar yang cepat?

Aturan yang bejibun dan pelaksanaan regulasi dituding sebagai biang kerok keterlambatan pelayanan. Sebagai contoh, proses administrasi dan kepabeanan untuk kegiatan ekspor menghabiskan waktu rata-rata 4,5 hari.

Durasi pelayanan itu jauh lebih lama dari negara tetangga Singapura yang bisa menyelesaikannya dalam setengah hari saja. Vietnam dan Malaysia lebih lama dari Singapura, yakni 2 hari, tapi masih lebih cepat dibandingkan Indonesia.  Apakah ini membenarkan sindiran masyarakat selama ini: Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?

Birokrasi Indonesia dianggap belum andal untuk memudahkan investasi dan memperlancar arus perdagangan. Untuk memulai investasi di Indonesia dibutuhkan waktu rata-rata sekitar 19 hari. Di tambah  lagi biaya untuk memulai investasi pun lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Lagu lama yang tak selesai-selesai dibenahi. Apakah hal ini terkait dengan mental birokrat atau tidak ada kemauan politik yang kuat dari pemerintah?

Pemerintah berharap pertumbuhan 5,3 persen masih bisa dicapai, sesuai dengan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Namun target tersebut terancam tidak tercapai, menyusul tren pertumbuhan di paruh pertama tahun ini yang menunjukkan angka yang kurang menggembirakan. Akankah pertumbuhan justru lebih kecil dari target? Jika ya, berapa kisaran pertumbuhan yang riil nanti?

Pada triwulan I 2019 ekonomi hanya tumbuh 5,07 persen.  Bahkan Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan triwulan II 2019 hanya sebesar 5,07-5,1 persen. Masih adakah ruang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih tinggi dari target APBN? Apa saja yang harus dilakukan? Kebijakan  apa yang harus disusun?

Apakah pelemahan perekonomian global yang menyebabkan kinerja ekonomi nasional tidak cukup baik, seperti dijelaskan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati? Apakah ada faktor lain yang dominan mempengaruhi ekonomi Indonesia? Bagaimana solusinya dalam jangka pendek, menengah, dan panjang?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Terkendalanya pertumbuhan ekonomi  Indonesia, pertama, karena perlambatan ekonomi dunia. Hampir semua negara di dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat yang pada akhirnya negara  tujuan ekspor Indonesia seperti China, AS, Jepang, dan intra Asean juga mengalami perlambatan, sehingga ekspor turun.

Kedua, dunia dilanda ketidakpastian akibat perang dagang. Kondisi ini membuat dunia usaha ragu dan tidak akan terlalu ekspansif di dalam melakukan produksi yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketiga, Indonesia mengandalkan ekspor komoditas, sementara harganya di tingkat internasional belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Mau tidak mau kondisi ini mengganggu kinerja perekonomian.

Namun nilai tukar rupiah dan inflasi masih terjaga. Kalaupun terjadi fluktuasi nilai tukar biasanya bersifat jangka pendek dan bukan sesuatu yang struktural. Masalah struktural yang sangat menghambat kestabilan nilai tukar seperti dikeluhkan pemerintah adalah neraca pembayaran, khususnya neraca transaksi perdagangan.

Dalam kondisi seperti saat ini, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1-5,3 persen adalah sesuatu yang cukup menggembirakan, tidak perlu dirisaukan, walaupun tidak bisa mengharapkan penurunan yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Terobosan untuk menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi,  dengan melihat struktur PDB, yang paling mungkin adalah, pertama, mengurangi impor.  Impor dalam PDB adalah komponen pengurang.  Jika impor dikurangi maka Y akan bertambah. Di dalam impor terdapat beberapa jenis seperti bahan baku dan barang konsumsi.

Pengurangan impor bahan baku akan dirasakan oleh industri dan berdampak pada penurunan produksi.  OIeh karena itu pengurangan impor harus dilakukan terhadap barang konsumsi.  Ketika impor barang konsumsi turun, kontribusinya terhadap pertumbuhan tidak begitu besar, hanya sekitar 5,5-5,6 persen.

Kedua, menurunkan tingkat suku bunga acuan.  Saat ini tingkat suku bunga acuan tinggi sekali, 6 persen. Indonesia perlu memanfaatkan momentum tidak dinaikkannya lagi suku bunga The Fed di AS, dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia.

Jika tingkat suku bunga acuan diturunkan maka suku bunga kredit untuk investasi juga akan turun. Namun persoalannya apakah ketersediaan likuiditas perbankan untuk membiayai investasi cukup banyak.  Selain itu, apakah dengan penurunan suku bunga pengusaha akan meningkatkan permintaannya terhadap kredit untuk investasi.

Dengan adanya terobosan ini maka pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diharapkan bisa mencapai angka paling besar dan sangat baik 5,5 persen.  

Untuk mendorong pertumbuhan dalam jangka menengah dan panjang maka mau tidak mau Indonesia harus meningkatkan ekspor dengan menambah tujuan ekspor.  Ekspor Indonesia terkonsentrasi hanya pada intra Asean, Jepang, AS, Uni Eropa, dan China. Eksportir belum merambah ke pasar Afrika, Timur Tengah, Rusia, EropaTimur, dan negara lain.

Selain itu, Indonesia harus mulai menggarap  ekspor yang memiliki nilai tambah, tidak hanya menjual komoditas seperti selama ini. Dengan ekspor yang berorientasi jangka menengah panjang bernilai tambah,  walaupun masih berbasis komoditas, maka dapat dicapai pertumbuhan di atas 6 persen dalam 4-5 tahun ke depan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa lebih rendah dari 5,3 persen, hanya bisa mencapai 5,1 persen. Dengan adanya kegiatan Pemilu dan Lebaran yang baru lalu, pertumbuhan ekonomi hanya terdongkrak ke level 5,07 persen saja. Ini pertumbuhan paling tinggi yang bisa dicapai.

Pada semester kedua tahun ini tidak ada acara atau kegiatan yang mampu meningkatkan level konsumsi setinggi Pemilu dan Lebaran. Ini menunjukkan dari sisi konsumsi tidak akan ada kenaikan yang cukup signifikan.  Kenaikan konsumsi yang tidak signifikan berdampak pada investasi yang naik tidak signifikan juga.

Di sisi lain, BUMN yang membangun infrastruktur  memiliki utang yang sudah sampai pada titik tertinggi sehingga tidak mempunyai ruang untuk ekspansi begitu saja, membuat pertumbuhan tidak sampai  ke tingkat 5,3 persen.

Pihak swasta juga belum melakukan ekspansi sampai-sampai Presiden Joko Widodo memberikan diskon  pajak besar-besaran, namun kebijakan ini baru memberikan efek dalam jangka menengah panjang, tidak bisa dirasakan dalam jangka pendek.

Pertumbuhan 5,1 persen sudah bagus, tidak bisa tinggi lagi, karena kondisi global juga belum mendukung. Harga komoditas juga belum membaik pada 2019, padahal  komoditas mempunyai pengaruh besar terhadap ekonomi. Indonesia belum mempunyai industri berbasis nilai tambah, baru sebatas industri berbasis komoditas.

Indonesia belum mempunyai sektor manufaktur yang kuat.  Untuk membangun manufaktur yang kuat butuh persiapan. Saat ini kondisinya sudah over produksi.  Ekspansi belum akan dilakukan pada tahun ini.

Kepastian presiden terpilih pada Pilpres 2019 baru berpengaruh pada investasi jangka pendek dengan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, bukan investasi jangka panjang  dan tidak menunjukkan adanya penyerapan tenaga kerja.

Terobosan jangka pendek untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah dengan memanfaatkan dana desa agar konsumsi masyarakat tidak turun. Mengharapkan konsumsi masayarakt naik sulit sehingga perlu stimulus dana desa. Dana desa dan dana lain yang disalurkan ke daerah dipastikan bisa memberdayakan masyarakat  dan meningkatkan pendapatan.

Pemanfaatan dana desa dan dana lain yang disalurkan ke daerah  merupakan jalan keluar jangka pendek dan cepat dalam mendorong pertumbuhan. Menunggu industri dan swasta siap perlu waktu lama.

Dengan pertumbuhan 5,1 persen tidak ada penyerapan tenaga kerja baru, hanya mempertahankan yang ada. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

FOLLOW US

Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-2)             Perlu Revisi Undang-Undang dan Peningkatan SDM Perikanan di Daerah             Antisipasi Lewat Bauran Kebijakan Fiskal – Moneter