Petroyuan, atau Tetap Petrodolar?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 27 February 2019 17:00
Penulis
Watyutink.com - Menarik mencermati tulisan Tri Winarno  dalam kolom harian Tempo (26/02/2019) yang berjudul “Petroyuan dan Senja Kala Dolar”. Tri Winarno menulis tentang Kontrak perdagangan berjangka minyak dalam mata uang Yuan China (Renminbi) di Shanghai International Energy Exchange (SINE) yang belum genap satu tahun diluncurkan. SINE memunculkan istilah Petroyuan sebagai icon baru, menyaingi istilah Petrodolar untuk penyebutan transaksi perdagangan minyak dunia oleh Arab Saudi yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Kontrak berjangka minyak China dalam SINE dianggap fenomena mengejutkan, karena volume transaksinya mampu menyalip kontrak perdagangan berjangka minyak dalam dolar AS di Singapura dan Dubai. Diperkirakan, tidak lama lagi kontrak SINE akan melampaui volume penjualan Brent dan WTI.

Berlebihankah analisa dari penetrasi pasar kontrak dagang minyak China tersebut? Sebegitu mudahkah Petroyuan akan menggeser dominasi Petrodolar di lingkungan  bisnis dunia? Apalagi menggeser volume penjualan minyak jenis Brent dan WTI?

China, memang tengah berjuang memperkenalkan Yuan/Renminbi sebagai alat tukar transaksi perdagangan baru dunia, mengimbangi peran mata uang lainnya terutama dolar AS. Sejak era pembaharuan ekonomi, China dengan langkah agresifnya telah melakukan penetrasi ekonomi ke berbagai belahan dunia.

Penawaran investasi dan kredit melalui sindikasi bank China kepada negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, serta pemberian bantuan proyek ke sejumlah negara termasuk Indonesia, masif dilakukan. Agresivitas China berbuah Zimbabwe di Afrika yang setuju menggunakan Yuan China sebagai alat tukar pembayaran. Sayangnya, hal itu dilakukan sebagai langkah melunasi utangnya kepada China. Selain itu, Mei 2018 lalu, 17 bank sentral dan 14 bankir Afrika Timur dan Afrika Selatan mempertimbangkan Yuan China sebagai cadangan devisa. Tak lain karena sebagian besar negara anggota Macroeconomic and Financial Management Institute of Eastern and Southern Africa (MEFMI) mengalami kesulitan eksternal karena perlambatan ekonomi. Sebagian besar negara tersebut memiliki pinjaman atau hibah dari China.

Dengan agresivitas ekonomi China tersebut di atas, cukup kuatkah landasan menjadikan Yuan China sebagai mata uang utama internasional? Sebab, setelah berhasil menjadi bintang dalam SINE yang mengancam Brent dan WTI, diperkirakan kontrak perdagangan internasional untuk komoditas ke China juga akan menggunakan Yuan. Ditambah, China kini telah menjadi pengimpor utama minyak dunia yang dalam transaksinya juga menggunakan Yuan.

Salah satu alasan China lainnya dalam upaya internasionalisasi Yuan adalah, sistem keuangan internasional yang terlalu berpusat pada dolar AS dinilai sudah tidak memadai lagi, terutama setelah defisit perdagangan melanda AS. Untuk itu diperlukan sistem keseimbangan baru dalam currency dunia yang memasukkan peran Yuan China sebagai alat tukar pembayaran. Apalagi China juga telah berhasil memasukkan Yuan ke dalam Special Drawing Right (SDR) IMF sebagai alternatif cadangan devisa internasional.  

Bagi Indonesia, tentu saja membutuhkan antisipasi dari dampak menguatnya pengaruh mata uang China di dunia. Upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dolar AS seharusnya bisa dilakukan dengan skema kerjasama local currency SWAP dengan China dan beberapa negara di kawasan Asia. Apakah upaya penguatan penggunaan mata uang lokal di kawasan berhasil melepaskan ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR

Kalau dilihat dari riwayat Petrodolar, memang pada awalnya selepas Bretton Woods muncul kekhawatiran dari Amerika Serikat (AS) ihwal harga minyak yang volatile. AS kemudian membuat kontrak dengan Arab Saudi untuk membeli minyaknya dalam nominasi US Dollar sehingga mereka masih mendapat keuntungan dan terjamin reserve-nya. Sementara bagi Arab Saudi, mereka dapat menumpuk cadangan Dolar AS dalam jumlah yang cukup signifikan dan sebagian dari jumlah itu kemudian diinvestasikan lagi ke AS. Itulah yang menjadi basis awal kenapa kemudian Petrodolar menjadi dikenal.

Untuk Petroyuan sendiri sepertinya masih belum dapat terlihat bahwa Yuan akan menjadi saingan dari Dolar AS, meskipun dari sisi China sendiri memang adalah salah satu importir terbesar minyak dunia. Bisa jadi China menyimpan potensi dari sisi Petroyuan.

Di sisi lainnya, kalau kita melihat perjalanan Euro, itupun belum mampu menggeser hegemoni dari Dolar AS atau Petrodolar nya sendiri. Selepas Bretton Woods Amerika, meskipun itu tidak dijadikan pedoman bagi negara-negara anggota Bretton Woods yang sudah bubar (1976), tapi tetap saja Dolar AS masih sangat liquid dan diperdagangkan di mana-mana.

Jadi, untuk China sendiri mungkin bisa memaksakan Petroyuan, terutama bagi negara-negara sekutu China di Eropa Timur termasuk Rusia, juga Iran dan beberapa negara blok anti Amerika, yang sepertinya akan menangkap peluang itu. Tetapi di lain pihak, negara-negara lainnya di dunia sampai saat ini masih jauh lebih pragmatis. Mungkin jika dengan China mereka akan bisa menggunakan Petroyuan, tetapi secara umum mereka masih akan menggunakan Dolar AS. Sebab, dari sisi comfortability, juga dari sisi nilai, tentunya Dolar AS masih amat powerfull. Hal itu mengindikasikan bahwa Dolar AS masih belum bisa tergantikan.

Usaha yang baik memang, jika China berusaha masuk ke SDR IMF, tetapi dalam waktu dekat tidak akan mampu merubah hal tersebut. Karena selama ini kalau bicara safe heaven, currency in safe heaven masih dipegang oleh Dolar AS atau Japanese Yen. Sementara Yuan sendiri belum ke arah sana.  

Masalah local currency SWAP agreement dengan China dan beberapa negara lain di kawasan Asean, jika melihat proporsi perdagangan internasional yang masih menggunakan Dolar AS, sepertinya SWAP agreement masih belum cukup signifikan pengaruhnya. Apalapi pengusaha sendiri masih lebih suka menggunakan Dolar AS karena lebih liquid, gampang didapat dan beberapa faktor lainnya, karena memang kategori safe heaven currency. (pso)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Ekonomi

Keberhasilan Tiongkok untuk menjadikan Yuan/Renminbi sebagai mata uang transaksi SINE adalah sebuah usaha untuk menyaingi hegemoni Dolar AS dalam transaksi perdagangan international. Tidak dapat dipungkiri, perang dagang AS-China dan kebijakan proteksionisme AS membuat beberapa pihak cukup mempertanyakan kredibilitas Dolar AS sebagai mata uang perdagangan international, meskipun demikian masih belum ada mata uang yang mampu mengimbangi kekuatan Dolar AS hingga saat ini. 

Dengan pencapaian Tiongkok tersebut (SINE dan cadangan devisa dengan Yuan/Renminbi di Afrika) cukup menarik dicermati. Apabila semakin banyak negara Asean melakukan transaksi ekonomi baik dagang ataupun hutang dengan Tiongkok, pencadangan devisa dengan Yuan/Renminbi dapat dipertimbangkan tentunya dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti neraca transaksi Indonesia-Tiongkok atau Asean-Tiongkok dengan Yuan dan juga kekuatan Dolar AS dalam perdagangan internasional beberapa waktu belakangan ini. (Pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar