Target Jadi Negara Maju, Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5 Persen
berita
Ekonomika
Sumber Foto : ekonomi.bisnis.com 05 December 2019 16:30
Penulis
Watyutink.com –  Kabar tak sedap datang dari Moody's Investor Service (Moody's).  Lembaga keuangan internasional tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 3 tahun akan terjerembab di bawah 5 persen.

Moody's memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya tumbuh 4,9 persen pada tahun ini, lebih rendah dari asumsi makro APBN 2019 sebesar 5,3 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih rendah lagi di 4,7 persen, lalu naik tipis ke 4,8 persen pada 2021.

Managing Director and Chief Credit Officer Michael Taylor mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung lebih lambat pada tahun depan, namun akan mulai bangkit pada 2021. Penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh perang dagang antara AS-China, serta AS dan mitra dagang lain.  Bagaimana Indonesia bisa lolos dari pengaruh ini?

Selain dengan China, Presiden AS Donald Trump juga menebar badai perang dengan Uni Eropa. Perang dagang tersebut menimbulkan sentimen negatif berupa ketidakpastian ekonomi global. Investasi pun ikut terpengaruh oleh kebijakan AS tersebut. Apakah kondisi ini yang menyebabkan Indonesia paceklik investasi asing?

Perang dagang menimbulkan ketidakpastian kebijakan perdagangan di masa depan. Dampak tersebut mulai terlihat sekarang, mempengaruhi keputusan dalam berinvestasi dan kepercayaan perusahaan terhadap kondisi ekonomi satu negara.

Dengan adanya perang dagang tersebut Moody's memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota G20 akan bertengger di angka 2,6 persen pada 2019 dan 2020. Ekonomi negara maju itu baru membaik pada 2021 menjadi 2,8 persen. Padahal G20 menguasai 85 persen ekonomi global.

China sendiri akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal II 2019 hanya tumbuh 6,2 persen atau terendah sejak 27 tahun terakhir. China adalah tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia setelah intraAsean. Apakah kondisi ini akan memukul Indonesia secara siginifikan?  Bagaimana dengan peluang pasar di luar China?

China diperkirakan hanya dapat mempertahankan  pertumbuhan ekonomi di angka 6,2 persen hingga akhir tahun. Pada tahun depan ekonomi China justru akan mengalami perlambatan pertumbuhan ke level 5,8 persen.

Kondisi tersebut merupakan buah dari  kebijakan rebalancing China dan penurunan permintaan global. Karena Negeri Tirai Bambu itu merupakan negara dengan ekonomi besar, maka berdampak kepada negara lain di kawasan.

China menyiasati kondisi ketidakpastian global dengan melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonominya. Langkah yang diambil antara lain mengurangi impor batu bara. Keputusan ini yang diperkirakan akan memukul Indonesia yang menjadikan negara tersebut sebagai pasar utama penjualan komoditas itu. Penurunan permintaan batu bara China akan menekan harga.

Lembaga lain seperti The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) mempunyai perkiraan yang sama dengan Moody’s bahwa  laju ekonomi Indonesia akan melambat pada tahun depan menjadi 4,9 persen.

Namun ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh karena ditopang oleh kebijakan moneter akomodatif Bank Indonesia dan kebijakan fiskal ekspansif oleh pemerintah. Kekuatan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan permintaan domestik yang stabil. Apakah kekuatan ini bisa menjadi penyelamat atau bahkan menjadi mesin pertumbuhan bagi ekonomi Indonesia?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Masing-masing lembaga mempunyai kriteria dalam menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami tidak mengetahui apa saja kriteria yang digunakan oleh Moody's Investor Service (Moody's). Apa yang  membuat asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5 persen.

Beberapa lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia masih konsisten dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen pada tahun ini, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi Indonesia masih akan tumbuh 5,2 persen, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan sebesar 5,3 persen. Riset Samuel Aset Manajemen  memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5,09 persen.

Moodys terlalu pesimistis dalam melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi juga mungkin mempunyai indikator yang berbeda dalam penilaian, lebih banyak menggunakan indikator defisit transaksi berjalan yang besar sehingga impor harus ditekan sedemikian rupa sehingga perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi sangat tajam. Yang disebutkan hanya angka.

Mengenai pengaruh perang dagang antara AS dan China yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai indikator dalam memperkirakan pertumbuhan, semua lembaga keuangan seperti Bank Dunia, IMF dan ADB  juga memasukkan hal itu.

Memasukkan faktor perang dagang AS dan China dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi sudah lazim dilakukan semua lembaga, tidak ada yang baru, kecuali Moodys memasukkan hal baru di dalam perhitungkan tingkat pertumbuhan.

Seandainya tidak memperhitungkan ekspor dan memasukkan faktor impor seperti saat ini, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 5 persen dengan  hanya konsumsi rumah tangga. Apalagi ke depan, seperti disampaikan Presiden Joko Widodo, pemerintah akan merealisasikan omnibus law.

Jika omnibus law bisa direalisasi maka investasi bisa membantu konsumsi rumah tangga. Investasi dan konsumsi rumah tangga jika digabungkan maka nilainya mencapai 89 persen sendiri. Memang ada perlambatan investasi karena adanya isu politik, sehingga investor bersikap wait and see. Semoga tahun depan tidak ada lagi isu politik.

Tanpa isu politik, investasi masih bisa membantu pertumbuhan ekonomi seperti pada tahun 2018. Hanya pada 2019 yang mengalami penurunan. Jika konsumsi rumah tangga dan investasi berjalan baik maka pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa menembus 5,1 persen, walaupun belum akan mencapai 5,2 persen.

Perkiraan Moodys mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 3 tahun ke depan tidak akan mempengaruhi penilaian investor terhadap Indonesia karena prediksi tersebut sudah keluar beberapa waktu sebelumnya. Tidak ada respon negatif. (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Prediksi Moodys mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu pesimistis dan tidak mengetahui seberapa besar potensi Indonesia dalam konteks pengembangan infrastruktur, memberikan kemudahan dalam masalah perpajakan untuk mendorong investasi, dan kebijakan meningkatkan ekspor.  Lembaga tersebut tidak begitu mengetahui potensi dari strategis pemerintah tersebut.

Berbagai langkah yang dipersiapkan pemerintah—kalau berhasil—seperti reformasi atau kemudahan pajak untuk para investor, kemudahan dan dukungan dalam melakukan ekspor maka pada 2020 Indonesia dapat menggenjot ekspor sehingga Indonesia bisa tumbuh di atas 5,05 persen.

Mengenai pengaruh China yang melambat akibat perang dagang dengan AS terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, secara tradisional negara tersebut memang menjadi tujuan ekspor terbesar kedua setelah intraAsean.

Namun sejak 2016 Indonesia sudah mencari negara tujuan ekspor nontradisional. Salah satu caranya adalah dengan menggalakkan imbal beli walaupun belum sesukses seperti perkiraan membuka pasar nontradisional seperti ke Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin.

Pertumbuhan ekonomi masih akan berkisar pada 5-an persen pada 2020. Namun jika semua kebijakan tersebut berhasil –di sisi investasi dan peningkatan ekspor--maka akan ada peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun selanjutnya  di 2021 hingga 6 persen.

Beberapa lembaga pemeringkat mengetahui faktor eksternal satu negara, namun jarang mengetahui kondisi internal sehingga melupakan faktor dan memberikan bobot yang sangat kecil. Padahal porsi ekspor Indonesia tidak terlalu besar disamping efek berganda yang ditimbulkannya belum terlalu besar juga.

Di sisi lain, pengeluaran pemerintah dan investasi memiliki efek berganda yang lebih besar dibandingkan ekspor. Walaupun terjadi perlambatan pertumbuhan ekspor, Indonesia tidak banyak bergantung pada hal itu.  (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila