Terbuai Pinjol, Berakhir Konyol
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 15 October 2021 20:40
Watyutink.com – Sejumlah nasabah pinjaman online (Pinjol) ilegal meregang nyawa. Mereka stres ditagih terus oleh debt collector atas utang mereka yang membengkak karena dikenakan bunga tinggi. Di tengah kekalutan, tak tahu bagaimana melunasi utang, mereka mengambil jalan pintas mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sungguh tragis, harga manusia hanya sebesar utang.

Setelah korban Pinjol ilegal berjatuhan, polisi sigap menggerebek sejumlah tempat yang dijadikan markas mereka. Tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menggerebek tujuh lokasi yang diduga dijadikan tempat operasional sindikat pinjol ilegal di Jakarta. Penggerebekan juga dilakukan di sejumlah daerah seperti di Jogjakarta dengan menangkap puluhan orang.

Korban penagihan utang sebenarnya tidak monopoli pinjol ilegal. Bahkan bank besar sekelas Citibank lebih dulu melakukan praktek yang tidak manusiawi tersebut. Irzen Okta, 50 tahun, meninggal dunia di kantor Citibank Cabang Menara Jamsostek, Jakarta. Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa itu diduga dibunuh lantaran mempertanyakan tagihan kartu kreditnya yang membengkak dari Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta. Dia dikeroyok oleh debt collector yang bekerja atas nama Citibank.

Kisah pilu para peminjam yang terlilit utang sehingga tidak mampu lagi membayar cicilannya terdengar tidak sekarang saja. Jumlahnya pun cukup banyak. Namun tetap saja ada korban-korban baru yang berjatuhan. Bahkan semakin meningkat sejalan dengan makin merebaknya pinjol ilegal.

Pinjol ilegal memanfaatkan kondisi permintaan utang yang meningkat. Para nasabah terdesak oleh kebutuhan. Pandemi telah menyebabkan banyak orang kehilangan penghasilan. Untuk bertahan hidup dan membuka usaha, mereka membutuhkan dana yang bisa didapat dengan cara mudah. Bank dan lembaga keuangan resmi tidak menjadi pilihan karena dianggap berbelit-belit.

Tawaran pinjol ilegal bak oase di tengah gurun pasir yang gersang. Tanpa memperhatikan kebersihan, air yang tersedia ditenggak begitu saja untuk menghilangkan dahaga finansial yang sudah kering kerontang sejak pembatasan mobilitas-- PSBB dan PPKM—diberlakukan dua tahun lalu.

Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, literasi keuangan yang rendah, dan kedalaman finasial yang kurang menjadikan pinjol ilegal malapetaka bagi para nasabahnya belakangan ini.

Selama permintaan akan pinjaman tetap tinggi, penagihan oleh debt collector sebagai efek dari cicilan pinjaman yang macet akan tetap bermunculan. Untuk menghindari kejadian seperti ini perlu dilakukan suatu usaha di sisi permintaan (demand), yakni konsumen sebagai peminjam dengan meningkatkan kesadaran (awareness) mereka engenai manfaat maupun mudharatnya berutang. Usaha ini bisa dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan, BI, pemerintah, atau pihak terkait.

Utang merupakan sesuatu yang lumrah. Negara pun berutang. Utang bisa menjadi leverage atau pengungkit untuk mendorong pembangunan, memajukan bisnis, memperbesar aset, meningkatkan kapasitas usaha. Namun jika salah mengelola, bisa merepotkan.

Berutang dibolehkan sepanjang dibutuhkan. Calon nasabah yang menentukan skala prioritas dan memilah mana yang memang benar-benar kebutuhan atau sekadar keinginan. Jika ada kebutuhan yang tidak mendesak maka pertimbangkan untuk menabung lebih dulu sehingga hidup lebih nyaman tanpa utang.

Memang ada orang yang punya kebiasaan berutang. Ini menjadi masalah klasik yang menghalangi seseorang mendapatkan kebebasan finansial, yakni satu kondisi dimana tidak ada utang. Penghasilan yang ada cukup memenuhi kebutuhan, tidak terkuras untuk membayar cicilan pinjaman.

Orang yang berutang pada awalnya merasa bahwa jumlah uang yang dipinjam tidak banyak, bahkan menganggapnya sepele. Jika kebiasaan ini tidak segera dihentikan, bisa mendatangkan masalah di kemudian hari. Kekhawatiran finansial akan menghantui, dinilai sebagai orang yang tidak bertanggung-jawab. Ujung-ujungnya dikejar-kejar debt collector.

Silakan berutang asalkan tahu risikonya. Sebelum mengajukan pinjaman sebaiknya menginventarisasi sumber pendapatan yang bisa dipakai untuk membayar atau mencicil utang tersebut.

Bila dari inventarisasi tersebut ternyata diketahui pendapatan yang ada cukup untuk membayar cicilan maka pengajuan utang tidak melebihi kemampuan penghasilan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Bagi anda yang benar-benar tidak mempunyai sumber penghasilan yang cukup dan rutin di setiap waktu tertentu sebaiknya tidak mengajukan utang, karena hanya akan menjadi masalah baru. Bahkan kepada teman dekat pun, utang Anda akan menjadi catatan terus-menerus padanya.

Daripada menanggung utang sebaiknya berhemat selama masa pandemi. Kurangi konsumsi yang tidak perlu, gunakan bahan pengganti barang kebutuhan pokok yang lebih murah, dan beralih ke moda transportasi yang lebih hemat. Jangan sampai berprinsip; biar tekor asal kesohor, biar berutang asal menjulang.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF