Tuding Eksternal Penyebab Investasi Asing Jeblok
berita
Ekonomika
Sumber Foto : dpmptsp.bantenprov.go.id (gie/watyutink.com) 01 November 2018 18:30
Penulis
Kondisi ekonomi dalam beberapa bulan terakhir memperihatinkan, setelah sebelumnya rupiah tidak berdaya untuk menguat ke level Rp10.000 seperti ditargetkan pemerintah, defisit transaksi berjalan yang terus melebar, kini investasi asing jeblok 20,2 persen.

Berdasarkan data BKPM, total investasi pada triwulan III 2018 mencapai Rp173,8 triliun, turun 1,6 persen dibandingkan dengan triwulan III 2017. Dari total investasi tersebut, sebanyak Rp89,1 triliiun merupakan penanaman modal asing langsung (foreign direct investment/FDI). Jumlah ini turun dibandingkan bulan yang sama 2017 yang mencapai Rp111,7 triliun.

Untungnya penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada triwulan III 2018 naik 30,5 persen dari Rp64,9 triliun pada triwulan III 2017 menjadi Rp84,7 persen. Namun kenaikan ini tidak mampu mengimbangi penurunan investasi PMA sehingga secara total investasi turun 1,6 persen.

Pemerintah menyebutkan faktor eksternal sebagai biang keladi penurunan investasi asing tersebut. Dikatakan menurunnya  penanaman modal tersebut karena dinamika ekonomi global. Kondisi perekonomian Amerika Serikat membaik sehingga menarik likuiditas dari negara-negara berkembang ke negara tersebut.

Kondisi ketidakpastian global juga turut mempengaruhi minat asing menginvestasikan dananya. Pada saat gonjang-ganjing tidak ada yang memikirkan untuk berinvestasi. Perang dagang antara AS dan China mengakibatkan ketidakpastian global.

Di sisi lain, kemudahan di suatu negara akan mengakibatkan capital outflow di negara lain. Jika Indonesia dinilai kurang menjanjikan sementara di negara lain memberikan penawaran yang lebih menarik, maka investasi akan mengalir ke sana.  Namun pemerintah optimistis investasi asing bisa kembali ke Indonesia dengan adanya perbaikan yang dilakukan.

Pemerintah mengklaim memberikan perhatian lebih pada investasi. Sejumlah kebijakan ditetapkan hingga 15 paket, ditambah lagi dengan reformasi pelayanan yang lebih singkat waktu dan prosedurnya melalui Online Single Submission (OSS).

Pemerintah juga meningkatkan keamanan untuk memberikan  rasa aman, menjaga stabilitas politik, meningkatkan efisiensi agar tidak terjadi biaya ekonomi tinggi, membenahi infrastruktur dan akses listrik agar dapat menarik investasi secara besar besaran.

Pemerintah boleh mengklaim sudah berbuat banyak untuk menarik investasi asing masuk ke Indonesia, tetapi mengapa masih terjadi penurunan investasi? Apakah faktor eksternal sangat dominan sehingga mempengaruhi keputusan asing untuk berinvestasi? Bagaimana dengan kondisi internal, apakah tidak diperlukan perbaikan?

Jika faktor eksternal seperti adanya perang dagang antara AS dan China dan naiknya suku bunga acuan di AS sebagai penyebab penurunan investasi asing, apakah hal yang sama terjadi di negara lain?  Apakah negara tetangga juga mengalami kelesuan penanaman modal?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Jebloknya investasi asing di Tanah Air mengkonfirmasi data sebelumnya. Pertama, leading indicator investasi  ada pada industri besar. Dalam beberapa waktu terakhir impor terus menurun. Kedua, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 mencapai 5,27 persen, tetapi pada saat bersamaan persediaan (inventory) sangat besar, belum terjual sehingga industri berhenti berproduksi.

Dari dua jenis investasi yakni Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA), yang masih menunjukkan tren positif adalah PMDN, sementara PMA mengalami penurunan.

Memang pada awal tahun indeks kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB)  membaik, dan ini yang dibangga-banggakan oleh pemerintah dari peringkat 100-an menjadi 72. Komponen dalam EoDB seperti perpajakan, penyambungan listrik mengalami perbaikan yang sangat signifikan, tetapi komponen memulai bisnis tidak pernah beranjak dari dulu, masih tetap jeblok.

Dari awal kami sudah mengingatkan walaupun indeks EoDB kita membaik, tetapi jika komponen memulai usaha masih di atas 100 maka tidak akan mampu merealisasikan investasi.  Persoalannya bukan seberapa besar persetujuan investasi atau minat investasi yang masuk  seperti tercermin dalam investment grade, tetapi lebih kepada realisasinya.

Peringkat investment grade, insentif, komitmen memberikan stimulus melalui 15 paket kebijakan, dan promosi investasi ke luar negeri perlu, tetapi pada saat investor sudah tertarik dan mau merealisasikan investasinya, tidak bisa jalan.

Investasi yang rendah ini bukan karena faktor eksternal atau kondisi mata uang tetapi karena faktor internal yang tidak mampu merealisasikan komitmen investasi asing di Tanah Air.

Penyebab turunnya investasi karena faktor internal juga dapat dilihat dari kondisi yang ada. Di tengah perang dagang antara AS dan China dan penurunan nilai tukar rupiah justru membuat daya tarik Indonesia meningkat.

Dalam kondisi perang dagang, risiko investasi di China maupun AS meningkat. Barang yang diproduksi di masing-masing negara dihambat penjualannya, sehigga menghambat juga produksi. Untuk menghindari risiko ini investor mencari tempat lain yang memiliki risiko lebih rendah. Ini peluang bagi Indonesia menggaet investor asing. Selain itu, depresiasi rupiah membuat investasi di Indonesia menjadi lebih murah. 

Faktor eksternal justru membuka peluang semakin meningkatnya investasi di Indonesia. Setelah terjadi perang dagang antara AS dan China, arus investasi ke Asia pada triwulan III 2018 naik tajam tetapi mengapa tidak ke Indonesia?

Thailand,Vietnam, bahkan Myanmar mengalami kenaikan investasi yang tinggi, disusul Malaysia dan Filipina. Satu-satunya yang mengalami penurunan adalah Indonesia. Apakah hal ini karena tahun politik? Mungkin ada, tetapi tidak menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan investasi asing di Indonesia, sekalipun ada stigma kalau terjadi perubahan rejim maka terjadi perubahan regulasi juga.

Penurunan investasi secara agregat tidak hanya pada triwulan III 2018, tetapi sudah mulai di triwulan II 2018 jika dibandingkan dengan triwulan yang sama 2017, dimana pertumbuhannya 7 persen berbanding dengan 5,9 persen.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 sebesar 5,27 persen hanya bersifat sementara karena penopangnya dari sektor produktif. Jika hanya doping yang hanya berdampak ke sektor konsumtif tidak akan berkelanjutan.

Indeks daya saing Indonesia juga menurun. Sempat naik ke peringkat 36 dengan tiga kali kenaikan berturut-turut, namun turun lagi dan saat ini berada di posisi 44. Hasil kunjungan Presiden Joko Widodo ke luar negeri berhasil jika dilihat dari persetujuan investasi yang meningkat, tetapi realisasi investasinya yang menurun.

Promosi investasi sudah dilakukan. Selanjutnya ada time schedule sebagai kelanjutan investasi tersebut  yang memuat tahapan pengerjaan seperti pembebasan lahan dan konstruksi yang bisa dimonitoring. Jika terjadi kemandekan maka bisa dikoordinasikan antarlembaga/kementerian. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Penurunan investasi asing ini memang ada sumbangan dari faktor eksternal tetapi kondisi domestik seperti defisit transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah yang belum menunjukkan ke arah yang lebih baik merupakan faktor yang cukup  dominan mempengaruhi. Investor melihat hal ini.

Selain itu, indeks dari kemudahan berusaha (Easy of Doing Business-EoDB)  yang baru dirilis mengungkapkan penurunan peringkat Indonesia, bahkan posisinya disalip oleh Rwanda. Hal ini menunjukkan masih banyak kendala dalam melakukan investasi di Indonesia, terutama dari sisi risiko ekonomi.

Meskipun kinerja ekonomi cukup baik tapi yang perlu menjadi perhatian adalah defisit transaksi berjalan yang semakin lama semakin melebar yang menjadi konsen investor juga. Defisit ini yang membuat rupiah semakin terdepresiasi yang membuat investor  wait and see.

Jika sebelumnya dikatakan bahwa pelemahan rupiah akan mengundang investor,  pendapat ini kurang tepat karena di balik melemahnya rupiah juga ada fakto risiko yang semakin besar ke depannya, apalagi potensi pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan akan menghadapi banyak kendala sehingga hanya akan mencapai 5 persen saja, menambah kekhawatiran investor.

Dari sisi regulasi, kemudahan berbisnis di Indonesia harus dibuktikan kembali. Di daerah banyak perda yang tumpang tindih. Disamping itu, perubahan kebijakan yang semula melalui pelayaran terpadu satu pintu (PTSP) berganti menjadi online single submission (OSS) yang menimbulkan kebingungan di kalangan investor. Hal ini menjadi konsen terbesar bagi investor di bidang energi.

Selain itu, kebijakan pemerintah menganulir kenaikan harga BBM membuat investor ragu untuk masuk ke Indonesia dalam jangka pendek. Investor masih akan menunggu, melihat perkembangan apakah ada itikad baik dari pemerintah untuk melakukan perbaikan. 

Berkaitan dengan  tahun politik, kemungkinan tidak akan terjadi apa-apa. Malah akan bagus pada tahun 2019 karena meningkatnya transaksi dalam perekonomian dan sumbangannya terhadap perekonomian cukup baik, walaupun di sisi lain menjadi sumber ketidakpastian juga siapa yang akan menjadi presiden.

Penurunan investasi asing sebesar 20,2 persen ini cukup signifikan karena pertumbuhan investasi, terutama asing selama ini tidak terlalu tinggi. Jatuh 20,2 persen ini cukup tinggi lantaran kenaikan investasi selama ini di bawah angka itu. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik