Undang Investor Asing untuk Kepentingan Nasional
berita
Ekonomika
Sumber Foto : loker2018.com (gie/watyutink.com) 30 July 2018 18:30
Penulis
Defisit transaksi berjalan yang dialami Indonesia menandakan tidak cukup industri dalam negeri untuk menghasilkan devisa dolar AS melalui ekspor yang berkesinambungan. Ekspor Indonesia masih bertumpu kepada komoditas yang bergantung pada harga internasional. Banyak sedikitnya dolar yang bisa didapat tergantung juga pada naik turunnya harga dan kondisi nilai tukar rupiah.

Untuk mengatasinya Indonesia memerlukan industri berorientasi ekspor lebih banyak lagi sehingga ada kesinambungan penerimaan ekspor untuk menghindari kemungkinan terjadinya defisit transaksi berjalan. Walaupun sekali-kali masih terjadi defisit, trennya harus semakin kecil dan bersifat tentatif.

Di samping itu, ketergantungan industri di dalam negeri terhadap bahan baku dari luar negeri  menjadikan nilai impor  melonjak saat rupiah melemah, membuka jurang defisit yang lebih besar lagi. Indonesia membutuhkan industri substitusi impor agar tidak tergantung kepada pasokan bahan baku dari luar negeri dan menjadikan industri dalam negeri semakin mandiri.

Tentu pembangunan industri tidak mudah, diperlukan modal, teknologi, dan kapasitas tinggi. Ketersediaan modal di dalam negeri terbatas, termasuk  penguasaan teknologi dan kapasitas kelembagan sehingga diperlukan investasi asing.

Menyadari keterbatasan yang ada, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengundang para investor asal Amerika Serikat untuk menanamkan investasinya pada tujuh sektor di Indonesia, yakni energi terbarukan, pertambangan mineral, infrastruktur, transportasi darat, transportasi laut dan udara, industri manufaktur dan pariwisata. Ketujuh sektor tersebut merupakan sektor yang tengah dipercepat pembangunannya oleh pemerintah guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Namun apakah kebijakan mengundang investor AS tidak membuat ekonomi Indonesia semakin bergantung kepada asing? Sektor apa saja yang sebaiknya diberikan kepada investor AS? Bagaimana juga dengan masalah keamanan nasional karena di dalamnya ada pembangunan infrastruktur yang sangat vital?

Investor AS diiming-imingi sejumlah peluang usaha di Tanah Air sesuai dengan potensi alam yang dimiliki. Di sektor energi terbarukan, misalnya, Indonesia memiliki energi panas bumi, tenaga surya, dan tenaga angin. Pemerintah menargetkan 23 persen energi nasional akan berasal dari sumber terbarukan pada 2025.

Selain itu, Indonesia terletak di antara dua lempeng tektonik yang menghasilkan 40 persen cadangan panas bumi dunia, menjadikan Indonesia  negara dengan potensi geothermal terbesar, memiliki garis pantai terpanjang cocok untuk pembangkit listrik tenaga surya dan angin.

Rini menyebutkan bahwa pemerintah akan melayani investor di masa akan datang dengan semua fasilitas yang dibutuhkan seperti listrik, konektivitas, dan efisiensi ekonomi. Dia mengajak investor AS untuk menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jika sudah menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Indonesia, bagaimana investor asing bisa berdampingan dengan pengusaha lokal membangun ekonomi Indonesia?  Kontribusi apa yang bisa diharapkan dari investasi asing? Bagaimana kesiapan Indonesia dalam menerima investasi asing? Problem apa saja yang masih menjadi kendala dalam menarik investor asing masuk ke Indonesia?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF

Beberapa izin pengoperasian blok migas oleh perusahaan AS seperti Chevron di Rokan dan blok Mahaka sudah habis. Pemerintah tampaknya masih mempertahankan peran investor AS di sektor migas. Pembangunan di sektor migas memiliki risiko yang besar dan perusahaan AS memiliki kapasitas untuk mengelola blok migas yang membutuhkan modal, teknologi, dan keahlian tinggi sehingga mereka masih dianggap penting untuk tetap berada di Indonesia. AS  termasuk kontributor terbesar dalam penanaman modal asing (PMA).

Mengenai pembangunan manufaktur yang relevan bagi investor migas dan minerba AS adalah yang terkait dengan hulu. Untuk migas maka pembangunan diarahkan pada pendirian kilang dan smelter untuk minerba. Jadi didorong ke arah sana agar terkait dengan investasi mereka.

Investor AS juga bisa didorong ke industri otomotif dan penerbangan. AS adalah produsen pesawat Boeing yang membutuhkan komponen sehingga pemerintah bisa mengaitkannya dengan PT Dirgantara. Mereka juga bisa dilibatkan dalam pembangunan infrastruktur bandar udara.

Namun yang harus diperhatikan apakah pembangunan infrastruktur bandara layak diberikan kepada swasta khususnya asing, karena hal ini menyangkut keamanan nasional. Pemerintah jangan gegabah menawarkan infrastruktur strategis seperti bandara dan pelabuhan karena ia menjadi titik masuk orang dan barang dari dan keluar negeri.

Terkait dengan ajakan pemerintah kepada investor asing untuk menanamkan modalnya di Tanah Air, pertama, orientasinya harus ditujukan kepada upaya meningkatkan kapasitas ekonomi nasional, meningkatkan kemandirian dalam jangka panjang, tidak terus-menerus bergantung kepada investasi asing, bahkan menggantikan peran investor domestik.

Caranya adalah dengan mengarahkan investasi asing itu pada peningkatan nilai tambah salah satunya pembangunan infrastruktur, transfer pengetahuan dan teknologi kepada industri domestik, harus ada kolaborasi dengan industri lokal maupun BUMN. Ini cara-cara untuk mengikat supaya dalam jangka panjang kita mempunyai kemampuan yang sama dengan mereka. Harus ada kerja sama dengan perusahaan domestik.

Investasi asing yang ditanamkan di Tanah Air juga harus yang berkualitas, yakni mampu menciptakan lapangan kerja untuk tenaga kerja lokal, menyerap bahan baku dan barang modal dari dalam negeri. Mereka tidak boleh seutuhnya, seluruhnya mendatangkan bahan baku dan barang modal dari luar negeri.  

Harus ada peta jalan bagaimana investasi asing itu juga menyerap hasil produksi dalam negeri, dan melakukan substitusi impor. Jadi harus ada multiplier effect terhadap ekonomi dalam negeri.  

Kebijakan mengundang investor asing harus berorientasi jangka panjang, jangan jangka pendek hanya sekadar menarik investasi yang banyak supaya aliran modal masuk banyak, pertumbuhan ekonomi  tinggi tetapi harus yang berkualitas dan bersifat jangka panjang. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI

Pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya datang dari investasi. Ada dua hal penting dari investasi. Pertama, investasi harus meningkatkan daya saing Indonesia di kancah ekonomi global. Kedua, investasi  harus dalan kerangka memupuk devisa sehingga current account kita yang sekarang defisit karena neraca perdagangan tidak imbang, bisa berubah menjadi positif.

Investasi di bidang yang bisa meningkatkan daya saing maka infrastruktur bisa masuk di dalamnya karena ia menjadi salah satu elemen yang memudahkan arus barang dengan lebih cepat, murah sehingga mampu mendongkrak daya saing.

Untuk dapat menarik investasi asing harus ada kepastian hukum dan keberlanjutan yang terkait dengan perizinan. Presiden melalui Kementerian Perekonomian sudah mencanangkan layanan perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik atau Online Single Submission (OSS). Memberikan kepastian kepada aktivitas berusaha. Jika ini dijalankan dengan baik hasilnya akan bagus.

Siap tidaknya bersaing dengan negara lain dalam merebut investor asing sifatnya relatif. Perubahan terus dilakukan dan diberikan contoh oleh presiden. Tinggal pada level implementasi yang memerlukan akselerasi. Institusi dan birokrasi harus siap karena kalau tidak kita akan ketinggalan. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti INDEF (Institute for Development of Economics and Finance)

Sebenarnya Indonesia sudah memiliki caranya  untuk bisa membenahi perekonomian nasional. Setiap tahun Indonesia mendapatkan laporan dari World Economic Forum mengenai indeks daya saing global. Setidaknya tiga masalah mendasar yang perlu dibenahi Indonesia adalah institusi, korupsi, dan birokrasi. Tetapi selalu ketika bicara banyak tentang perbaikan ekonomi tidak mengarah kepada tiga hal tersebut.

Dalam masalah perizinan, misalnya, memang ada perbaikan waktu perizinan dari beberapa minggu menjadi beberapa hari bahkan sekarang dalam hitungan jam, tetapi tiga masalah utama tersebut belum tersentuh, sampai investor Jepang harus lapor ke KPK mengeluh mengenai pungutan liar dan praktek korupsi. Ini memalukan sekali. Berarti institusinya tidak berubah walaupun perizinannnya menjadi lebih sederhana.

Sejauh masalah institusi, korupsi, dan birokrasi tidak dibenahi hanya akan menjadi janji-janji saja. Inilah pentingnya link match  antara yang dimaui oleh dunia internasional mengenai praktek bisnis yang fair dan transparan. Jika tiga masalah ini dibenahi dengan sungguh-sungguh maka akan ada impact-nya terhadap ekonomi.

Kondisi makro ekonomi kita memang bagus apalagi bila dibandingkan dengan Turki yang suku  bunga acuannya saja sudah  17 persen, dan beberapa negara lain. Kondisi saat ini juga masih lebih baik dari tahun 2013-2014 dimana rupiah bergejolak, tingkat suku bunga acuan hingga sekitar 7 persen,  dan defisit transaksi berjalan mencapai 4 persen, lebih tinggi dari saat ini sekitar 2 persen. Namun kondisi eksternalnya berbeda pada tahun 2013 dimana kebijakan ekonomi AS tidak seagresif saat ini.

Peningkatan indeks daya saing Indonesia tidak cukup karena yang membaik kondisi makro ekonomi saja seperti transaksi berjalan, kurs mata uang dan lain-lain tetapi tidak menyentuh masalah korupsi, birokrasi, dan institusi. Investor asing melihat belum ada daya pikat untuk berinvestasi di Indonesia jika masalah tersebut  belum dibenahi.

Ini juga membuat mengapa investor asing lebih suka berinvestasi di sektor keuangan yang memberikan imbal hasil tinggi sebagai portofolio daripada ke sektor riil karena pungutannya besar. Sementara itu negara lain  seperti Vietnam berevolusi dengan membenahi hal-hal mendasar sehingga menarik bagi investor asing. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Nanang Djamaludin

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

FOLLOW US

Fungsi Hutan Tidak Hanya dari Aspek Ekonomi              Kodim Lakukan Pendekatan Pembinaan Teriorial Bukan Pendekatan Operasi Tempur             Lingkungan Baik Ciptakan Anak Sehat             Anak Memiliki Bakat dan Kecerdasan yang Berbeda             Indonesia Bakal Menuai Musibah Electronic Sports             Pemekaran Kodim vis a vis Visi Pertahanan Negara Poros Maritim Dunia             Menggugat Peran Keluarga  Dalam Perlindungan Anak             Anak, Tanggung Jawab Bersama             Rekonsiliasi ala Amien Rais Tidak Beretik Demokrasi             Indonesia Butuh Rupiah Kuat