Ada Apa dengan Naura & Genk Juara?
berita
Humaniora

Sumber Foto: mulpix.com

24 November 2017 16:00
Naura dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan Trio Licik, kawanan penjahat sindikat perdagangan hewan liar yang mengincar hewan-hewan langka. Itu terjadi di film Naura dan Genk Juara. Di dunia nyata, Naura dan gang-nya punya lawan lain: sekolompok umat Islam. Waduh! Kok, bisa?

Begini ceritanya. Di media sosial viral ocehan penonton yang mengatakan film musikal arahan Eugene Panji ini menyiratkan kebencian sineasnya pada Islam. Dikatakan, "Para penjahat digambarkan orang yang berjenggot brewokan, selalu mengucapkan istigfar dan kalimat-kalimat (menyebut nama) Allah." Katanya lagi, ketika penjahat diserang anak-anak, si penjahat mengucap takbir. Ibu yang curhat di medsos itu juga mengaku dapat pertanyaan dari anaknya yang berumur 8 tahun soal orang Islam digambarkan jadi penjahat. Kontan saja ocehan itu jadi ramai. Yang tak nonton ikut-ikutan komentar. Tak sedikit juga yang menganjurkan memboikot filmnya.      

BACA JUGA: Komentar Hanung Bramantyo Dan `Reza-Lagi Effect`

Sebelum ikut-ikutan boikot, ada beberapa hal yang patut ditanyakan terlebih dahulu. Di negeri yang mayoritas muslim, bukankah jamak bila penjahat kebetulan beragama Islam? Di Hollywood, penjahat yang bule dan Kristen juga banyak. Walau sejak tragedi 11 September 2001 mereka kerap menggambarkan tokoh antagonis berasal dari Timur Tengah (baca: muslim), penjahat yang rasnya bule lebih mayoritas. Kemudian pula, apa menyebut nama Tuhan hanya berhak dimiliki orang baik? Rasanya soal terakhir ini layak didiskusikan lagi. 

Well, bukan sekali ini saja ada film nasional diprotes umat. Pertengahan 2000-an KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym memimpin protes pada film Buruan Cium Gue. Kemudian mundur ke tahun 1990-an, film Hollywood True Lies diprotes karena menggambarkan muslim sebagai teroris. Begitu juga film Critical Decision yang dibintangi Steven Seagal.  

BACA JUGA: Ketika Ustaz Keok Oleh Hantu Di Pengabdi Setan

Namun, banyak juga yang lolos dari pantauan umat. Kita mungkin ingat karakter kocak Wan Abud yang dipopulerkan aktor berdarah Arab Fuad Alkhar. Di situ, Wan Abud bukan tokoh baik-baik amat. Toh, dari dulu tak pernah ada yang protes. Belum lama ini juga ustaz digambarkan tewas oleh hantu di Pengabdi Setan. Namun, film tersebut lolos dari kontroversi, bahkan ditonton 4 juta orang lebih jadi film horor nasional terlaris sepanjang masa. Kita kemudian bertanya, apakah terjadi tebang pilih di sini? Atau persoalannya ada yang ngeh lalu protes, sedang ketika nggak ada yang ngeh lantas adem-ayem? 

Bila begitu adanya, betapa riskannya dunia kreatif kita bila kreator--entah sineas, pengarang lagu atau penulis buku--dibayangi ketakutan bakal diboikot golongan mayoritas. Tidakkah gerakan macam begini bakal mengkebiri kreativitas dan kebebasan berekspresi? Di lain pihak pula, adakah batasan berekspresi hingga tak melanggar hak orang lain?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Penulis skenario, sutradara

Saat menulis Get Married 4, saya buat karakter yang diperankan Ringgo mau cari uang dengan jadi ustad, padahal ayat dari kitab suci saja dia nggak ada yang hapal. Tapi itu saya tulis tahun 2013, aman-aman saja. Mungkin kalau filmnya tayang sekarang itu sudah dihujat habis. Situasi saat ini memang beda banget sejak pilpres 2014 dan penggunaan medsos kian ramai. 

Dulu kan medsos belum seperti sekarang dan nggak ada kepentingan politik apa-apa. Kalau dengan kondisi sekarang? Saya mungkin akan buat adegan seperti itu. Cuma pasti kemungkinan (adegannya) lolos kecil atau bahkan nggak dipakai. Memang harus diakui, sekarang situasi beda, padahal zaman dan teknologi makin maju. Cuma beda 2-3 tahun, lho. 

Menurut saya sekarang semua jadi isu besar karena ada medsos dan ada yang dompleng, sih. Sebetulnya orang biasa-biasa aja. Menurut saya juga, nggak suka satu film atau merasa tersinggung, mau ajak boikot juga hak konsumen sih. Mau tetap nonton hak juga. Nggak masalah (protes) asal jangan bioskop digrebek atau cuma nonton terus di-bully, jadi musuhan, dan lain sebagainya. Sekarang orang kita punya kebiasaan nimpalin, ikut-ikutan, padahal nggak tahu persoalan. Semangat mem-bully itu seharusnya yang dikurangi. Sebenarnya semua baik-baik aja kalau isunya nggak "digoreng". 

Kita kan punya LSF (lembaga Sensor Film). Ketika film lolos LSF berarti nggak masalah secara konten. Saya dulu bikin Kawin Laris (2009). Ada adegan penghulu nampar mempelai cowok. Itu padahal (adegan dengan niat) komedi, yang jadi penghulu Vincent Rompies, yang jadi mempelai Desta. Adegan itu disensor LSF.  Yang saya mau bilang, yah kalau mau diprotes, bisa protes LSF. Tapi ada dualisme juga di sini. Tengok film Hollywood. Sebelum meledakkan bom, biasanya terorisnya teriak takbir dulu, dan aman-aman saja di bioskop.

Tapi pernah juga, saya menulis film Aku, Kau dan KUA (2014, sutradara Monty Tiwa). Di situ tokoh utamanya perempuan berhijab, tapi ada dialog dia bilang sudah nggak perawan. Penulis bukunya dukung saya. Penggemar bukunya awalnya kaget, tapi lalu mendukung juga. Sekarang filmnya sudah tayang di TV, pindah-pindah stasiun TV juga. Bahkan ada mahasiswa sebuah universitas Islam minta izin untuk filmnya buat jadi bahan skripsi. 

Apa sebagai sineas/penulis kasus protes film ini cukup mengganggu kebebasan berekspresi? Pertama, takutnya kenapa, nih? Misalnya, dalam membuat film bikin adegan mempelesetkan ayat suci, itu tanpa ada kasus apa-apa, untuk agama apapun nggak menghormati namanya. Penulis kan buat cerita ada konteksnya. Kalau takut menyinggung, memangnya ada niat menyinggung? Kalau ada niat, nah itu lain lagi. 

Misalnya kita mau bikin cerita a la film Spotlight (2015, filmnya berkisah tentang pelecehan seksual oleh pastur katolik--red) berdasarkan true story, nggak usah takutlah (semoga ada yang mau danain). Menurut saya, ketika buat film ada banyak tahap yang musti dilewati. Ada produser, ada LSF, dan kita juga waktu buat musti sadar memang nggak ada niat menyinggung SARA. 

Intinya mau nggak suka silakan, suka lebih bagus lagi. Kalau yang mau berkreasi, ya berkreasi saja asal yakin di diri nggak (punya niat singgung) SARA. Tapi di seluruh dunia juga sekarang lagi sensitif semua, kok. Di luar negeri sama saja. Semua seperti masih baru membiasakan diri saja. Kita khususnya masih norak dengan dunia maya, semoga 3 tahun lagi sudah bosan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog Pemerhati Anak, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)

Saya melihat film Naura & Genk Juara ramah anak. Ini film musikal yang sangat kreatif, membuat anak-anak mencintai alam, penuh persahabatan, serta menanamkan etika positif untuk menanamkan etika kebenaran, meminta maaf jika salah, serta ada unsur ipteknya. Anak-anak di situ melakukan penemuan-penemuan yang cukup canggih, seperti membuat roket dan menerbangkan drone. Di film ini anak-anak sangat dididik untuk kreatif, dekat dengan alam, memupuk rasa persahabatan, serta berani bertindak melawan ketidakadilan dan sebagainya. 

Yang terjadi seharusnya bukan kontroversi, tapi berilah kesempatan pada anak-anak untuk menilai sendiri, lalu berdiskusi, hal-hal yang keliru diluruskan. Di sini, yang saya lihat, tidak ada tujuan filmnya yang mendiskreditkan agama tertentu. Sama sekali tidak ada. Soal ucapan "istigfar" tokohnya, kita bandingkan dengan Home Alone (1990), di situ kan penjahatnya ketika kaget bilang "Oh, my God!" Apakah itu juga mendiskreditkan agama? Nggak juga. Itu reaksi spontan, kan.        

Bila sekarang muncul reaksi pro-kontra pada filmnya, marilah kita berpikir lebih dewasa. Lihat saja, semua produsernya Muslim. Syuting filmnya diselenggarakan pada bulan Ramadan lalu. Anak-anak (yang main film) waktu itu berpuasa. Mereka sahur dan berbuka bersama. Sekarang ini kita butuh sekali film anak-anak yang penuh keceriaan dan nilai pendidikan karakter. Jangan sampai semangat dari para produser, sutradara, atau para kru luntur hanya karena dikritik yang sebetulnya saya sendiri tidak melihat (esensi) hal dari kritik itu. Kemarin juga ada seorang awak media yang sudah mengkritik filmnya duluan. Saya tanya, "Mas, sudah nonton?" Dia jawab belum, hanya dengar-dengar dari media sosial. Itu salah. Jadi harus ada gerakan nonton dulu, komentar kemudian.

Anak-anak Indonesia sangat butuh film-film yang edukatif. Biarkanlah mereka menikmati suguhan bagi sutradara yang sudah bekerja keras menuangkan segala ide kreatifnya tanpa harus mudah berprasangka. Kita sudah punya LSF yang sudah membuat panduan panduan, rambu-rambu agar suatu karya tidak melanggar norma yang berlaku. Untuk film ini saya dengar LSF menyatakan film ini tak bermasalah, sudah lolos sensor. Kritik boleh, tapi tetap dengan cara yang santun.

Saya sendiri memberi beberapa masukan atau kritik untuk film Naura & Genk Juara yang semoga jadi pembelajaran untuk produksi berikutnya. Bahkan kami di LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) siap melakukan pendampingan kepada para produser atau sutradara untuk membuat film anak supaya tidak ada menyentuh hal sensitif lagi. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Saya menonton Naura & Genk Juara hari Minggu (19/11/2017) lalu bersama anak saya. Dia yang minta nonton film itu. Waktu saya nonton belum ramai soal kabar protes. Itu terjadi besoknya, Senin (20/11/2017). Ucapan "istigfar" dan macam-macam itu memang ada, tapi diucapkan dalam kondisi kaget ketika penjahatnya diserang anak-anak. Itu ungkapan biasa, persis seperti saat kita diserang (dikagetkan) dari belakng, pasti juga bakal bilang, "Astagfirullah!" atau "Allahu Akbar!" Ucapan kalimat Allah itu tidak diucapkan dalam rangka semangat berjihad. Tidak ada konteks seperti itu di filmnya. 

Waktu nonton saya nggak terpikir filmnya bakal jadi kontroversi. Menurut saya protes ini mengada-ada. Sesuai nonton anak saya tak mempertanyakan juga tentang hal yang sekarang jadi kontroversi juga. Dia malah bilang suka filmnya. Protes ini lebay dan lahir dari rasa sentimen yang belum sembuh. Terbukti protesnya dihubungkan dengan Pilkada DKI Jakarta yang telah usai, kasus penistaan agama kemarin, sampai soal di film itu tak ada yang berhijab saja ikut dipermasalahkan. Kalau anak-anak di situ pakai baju yang tidak tertutup, kan setting-nya di alam. Lalu mereka belum akil balig juga, usia kelas 6 SD. Penampilan anak-anak di situ wajar-wajar saja. 

Saya sendiri heran film ini jadi kontroversi. Padahal di film Pengabdi Setan karya Joko Anwar lebih parah (kontennya): ustaz kalah oleh setan. Saya bertanya-tanya, apa nalar mereka nggak sampai? Atau, mereka nggak nonton Pengabdi Setan? Saya juga bingung. Mungkin Pengabdi Setan lolos karena mereka nggak nonton, entah karena alasan takut film horor atau buat mereka film horor bukan jenis tontonan yang mereka konsumsi. Lain dengan Naura & Genk Juara ini. Mereka mungkin punya ekspektasi filmnya bakal menghibur, memberi inspirasi, tapi yang mereka lihat ada orang berjenggot jadi rampok. Dari situ mereka berkesimpulan film ini punya statemen: muslim itu perampok. Dari situ orang-orang ini mengusut sutradaranya, Eugene Panji. Termasuk soal dia pendukung Ahok dan dicari-cari kesalahannya.  

Saya sendiri percaya pada LSF. Lembaga ini terdiri dari berbagai unsur masyarakat. LSF sendiri sudah meloloskan. Film ini mirip Home Alone. Di situ penjahatnya Kristen, dan waktu melakukan kejahatan, kalau pas kaget ya menyebut nama Tuhan. 

Anak saya sendiri nggak terpikir ke situ, padahal dia belajar di sekolah orang PKS. Tapi di grup percakapan sekolah anak saya soal ini ramai. Anak-anaknya pengin nonton filmnya, tapi orangtua mereka tak membolehkan karena termakan isu ini. Anak saya yang nonton kemarin cerita ke teman-temannya, bilang filmnya bagus. Ada orangtua yang bilang filmnya jelek. Tapi anak saya menimpali, "Belum nonton kok sudah bilang jelek?" Mereka kalah cerdas dengan anak-anak. Dan akhirnya ada temannya yang nonton juga. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF