Aksi Plagiat Devi Eka dan Generasi Instan
berita
Humaniora

Image credit: istock/Dane_Mark via insidehighered.com

04 April 2018 10:00
Nama penulis belia Devi Eka belum sepopuler Ayu Utami, Dee Lestari, Pidi Baiq, Eka Kurniawan, apalagi Raditya Dika atau Andrea Hirata. Namun, ia mungkin ingin jadi tenar seperti penulis-penulis favoritnya. Maka cara haram ia lakukan: men-copy mentah-mentah karya orang lain dan mengklaim sebagai karyanya.  

Aksi plagiat yang ia lakukan tak tanggung-tanggung. Aksinya disebut-sebut lebih besar daripada Afi Nihaya Faradisa yang mem-plagiat tulisan orang di Facebook-nya tahun silam. Untuk Devi, netizen mendakwanya melakukan aksi plagiasi atas 27 cerpen dan dua novel. Sementara klarifikasi di akun Facebook, Sabtu (31/3/2018), Devi mengaku memplagiasi 14 karya orang lain (13 cerpen, 1 novel). Kasus ini terkuak pekan lalu ketika novelnya berjudul Friendzonk yang sudah diterbitkan sebagai e-book oleh Penerbit Novela (Group Bentang Pestaka) ketahuan plagiat karya Viky Aulia Safitri.   

Apa alasan Devi Eka jadi plagiat? Yang terangkum di berbagai postingan di forum web dan blog, Devi beralasan, "Sebab kalau pakai kata-kata sendiri tidak terasa bagus!" Oalah... menulis itu memang tak gampang. Kecuali Anda adalah Arswendo Atmowiloto. Untuk bisa menulis dengan baik, pertama harus rakus membaca. Setelahnya punya gagasan cerita yang orisinil. Devi baru rakus membaca karya orang, tapi tak cukup punya kepandaian bertutur dalam tulisan. Alhasil, cara instan ia lakukan: copy-paste karya orang lain. 

Persoalannya kemudian, bagaimana bisa seseorang menjiplak karya orang lain hingga berjumlah hampir tiga puluhan buah dan baru ketahuan sekarang?    

Kuncinya ada di teknologi yang pada gilirannya melahirkan budaya baru. Di era HB Jassin masih menjadi paus sastra kita, setiap karya cerpen dan novel yang muncul, entah di koran atau dibukukan, terdokumentasi dengan baik. Siapa menulis apa, jelas. Tapi kini zamannya beda. Sebuah karya tak harus muncul lewat koran atau dibukukan penerbit. Dunia maya menyediakan blog, medsos macam Facebook ada fitur "Notes" untuk menulis apa saja, termasuk cerpen bahkan novel. Ada pula aplikasi menulis Wattpad dan Storial. 

Mem-posting cerpen dan novel kini bak mengunggah foto selfie dan makanan. Di belantara maya mudah sekali ditemukan cerpen dan novel. Di sini pula, karya sastra jadi mudah dijiplak orang tak bertanggung-jawab macam Devi. Tinggal comot dan klaim jadi karya sendiri. Budaya posting apapun di dunia maya sulit diubah. Kini bukan zamannya almarhum HB Jassin.

Yang menarik ditelisik sebetulnya, cara instan dan haram yang dipilih Devi Eka. Tidak dipungkiri, kini status penulis tak ubahnya selebritas macam bintang film dan musisi. Nama Dee Lestari atau Pidi Baiq sama populernya dengan Adipati Dolken atau Marshanda. Dengan dicetak puluhan kali, penulis juga bisa kaya raya. Devi lupa, baik Dee atau Pidi melalui proses panjang sebelum tenar. Kenapa Devi pilih cara instan? Apa ia begitu tergiur ingin cepat jadi pemulis-seleb? Apa perilaku ini khas generasinya yang ingin serba instan? 

Yang perlu dituding suka serba instan sebetulnya bukan hanya Devi Eka. Namun juga penerbit dan media yang meloloskan karyanya. Pihak editor dan redaktur media telah abai menjalankan fungsi sebagai gate-keeper, hingga Devi dan mungkin orang lain bisa melakukan aksi plagiat berkali-kali. Padahal kini di internet bertebaran berbagai aplikasi gratis pendeteksi plagiat. Tidak ada yang sulit sebab tinggal unduh saja. 

Sayangnya pula, ada tujuh UU seputar hak cipta tapi belum ada lembaga pengawas yang berfungsi sebagai sweeper plagiasi.

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
CEO Bentang Pustaka

Sehubungan dengan maraknya isu plagiarisme yang ditujukan kepada Devi Eka, penulis e-book Friendzonk yang diterbitkan oleh Penerbit Novela (Bentang Pustaka), berikut ini klarifikasi dari kami selaku penerbit. 

Penerbit Novela mengadakan kompetisi menulis Novela Single pada 31 Agustus-20 September 2016. Penerbit Novela menyeleksi lebih dari 500 naskah masuk yang melibatkan tim redaksi sebagai juri. Sejumlah 50 naskah terpilih diterbitkan sebagai e-book yang dipasarkan di Google Play Book, termasuk single berjudul Friendzonk karya Devi Eka.

Setelah naskah terseleksi, penulis menyepakati surat perjanjian dengan penerbit yang di dalamnya memuat poin-poin tentang orisinalitas karya, yaitu:

- Karya tidak boleh melanggar hak cipta orang lain. Langkah ini selalu dilakukan Penerbit Novela dan seluruh lini dari Penerbit Bentang Pustaka sebagai bentuk kepedulian dan keseriusan atas isu plagiarisme. 

- Penulis membebaskan penerbit dari segala tuntutan dari pihak ketiga jika pihak penulis melanggar poin hak cipta orang lain (yang berarti penulis juga melanggar perjanjian dengan penerbit), maka penulis akan menanggung semua konsekuensinya. 

Ada pun sebagai bentuk tanggung jawab Penerbit Novela (Bentang Pustaka) tentang isu plagiarisme Friendzonk karya Devi Eka, kami telah mencabut hak terbit tersebut dari Google Play Book dan tidak akan menerbitkan lagi karya-karya dari Devi Eka selama kurun waktu yang belum ditentukan. 

Penerbit Novela meminta maaf atas ketidaknyaman yang diakibatkan oleh isu plagiarisme kepada kami tentang isu ini. Kepedulian Anda terhadap isu plagiarisme dan dunia literasi Indonesia sangat kami hargai. Semoga isu plagiarisme ini menjadi pembelajaran bagi kita dan tidak terulang di kemudian hari.**

CATATAN: Disarikan dari "Klarifikasi Resmi PT Bentang Pustaka Terkait Isu Plagiarisme E-Book Novela berjudul Friendzonk", dimuat di web Bentangpustaka.com, 29 Maret 2018. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis, kritikus film

Penjiplakkan (plagiarism), apalagi sudah dilakukan secara sadar dan masif dalam jumlah fantastis serta diperdagangkan, sesungguhnya bisa dituntut pidana. 

Pasal-pasal tentang pencurian, penggelapan, penipuan, menguasai kepemilikan orang lain tanpa hak, dan perbuatan tidak menyenangkan, dengan ancaman penjara/ kurungan bisa diterapkan. 

Ditambah dengan pasal-pasal pidana UU tentang Haki. Plus tuntutan perdata ganti rugi dan lain-lain (demi memberi efek jera). (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati budaya pop, penulis skenario

Kenapa Devi Eka jadi plagiat? Jawaban instannya adalah bahwa ini budaya instan. Secara umum, kurasa yang jadi biangnya adalah belief yang meluas bahwa "attention = love," mendapat perhatian orang adalah sebentuk kecintaan pada sosok orang tersebut. 

Sama dengan pengin terlihat cantik di kamera saat selfie, yang ini ingin terlihat keren dengan jadi penulis. Saya rasa ini sudah jadi gejala sedunia saat ini. 

Digabung dengan ketidaksanggupan orang untuk kecewa. Kecewa secara sehat, buat saya adalah salah satu tanda penting kedewasaan. Digabung lagi dengan minus etika yang entah di mana kok nggak pernah diajarkan ke para pelakunya. Etika yang dimaksud adalah bahwa plagiat itu berarti merampas hak orang lain.

Buat saya, yang gawat kalau di (kasus) sini adalah ya minus etika itu. Ketidaksanggupan kita berpikir sejenak bahwa merampas/ mengganggu hak orang itu salah. Simple-nya, ya lihat saja lalu lintas kita. Semua kan dilakukan tanpa mau mikir sedetik pun bahwa yang saya lakukan ini merampas hak orang lain.

Budaya instan ini bisa juga merambah media dan penerbit yang kecolongan loloskan karya plagiat. Sebagai efek jera mungkin efektif dengan mem-blacklist dia. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!