Anak Melakukan Kekerasan terhadap Orangtua; Malin Kundang Zaman Now?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 05 July 2019 11:00
Watyutink.com – Sudah sepatutnya anak menghormati kedua orangtuanya sebab tanpa mereka anak tidak akan terlahir. Kalaupun tidak terdapat hubungan sedarah antara anak dengan orangtuanya, anak tetap harus menghormati orangtua tirinya yang telah menafkahinya.

Ini bukan sekadar tradisi yang diteruskan dari satu generasi ke generasi, melainkan etika yang memang harus dianut dan diterapkan oleh anak terhadap anggota keluarga yang lebih tua, terutama bapak dan ibu sendiri.

Namun, belakangan ini marak kasus penganiayaan bahkan pembunuhan oleh anak terhadap orangtua kandung maupun tiri. Penyebabnya pun umumnya sepele; karena anak kesal tidak diberi uang oleh orangtua, karena anak tidak terima ditegur oleh orangtuanya, maupun karena hal-hal remeh lainnya.

Pada Januari 2019, seorang pemuda (20) memukul kepala ibu kandungnya dengan sebuah benda tumpul sampai terluka akibat ibu tidak mau memberikan uang kepada pelaku untuk membeli sabu di Makassar, Sulawesi Selatan. Di bulan berikutnya, seorang pemuda (20) di Kabupaten Kampar, Riau, menikam ayah kandungnya hingga tewas sebab korban diduga kerap bersikap kasar terhadap istri dan anak-anaknya.

Pada Maret, seorang pria (27) memukul kepala ayah kandungnya dengan sebatang kayu jati besar sampai meninggal lantaran korban enggan mendanai pernikahan pelaku di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pada April, seorang pria (37) membacok leher ibu kandungnya dengan parang sampai korban meregang nyawa gara-gara pelaku kesal dicap malas oleh korban di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Pada Mei, seorang pemuda (19) melukai kepala ibu kandungnya sebab korban menolak memberikan uang jajan kepada pelaku di Jakarta Timur, DKI Jakarta. Pada Juni, seorang pemuda (20) menggebuk kedua orangtua kandungnya dengan batu dan kayu karena tidak diberikan uang untuk membeli minuman keras di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Selain penganiayaan, kasus pembunuhan oleh anak terhadap orangtua juga terjadi sepanjang Juni. Di awal bulan tersebut, seorang perawat wanita (30) menghabisi nyawa bapak kandungnya dengan sebilah pisau hanya karena kesal disuruh sholat di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pada akhir bulan, seorang pria (43) membakar ibu tirinya hidup-hidup lantaran pelaku sakit hati melihat korban sering membentak ayah kandung pelaku di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Korban meninggal tak lama kemudian akibat luka bakar yang dideritanya.

Uraian singkat kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa insiden penganiayaan maupun pembunuhan anak terhadap orangtua, kandung atau tiri, terjadi setiap bulan di Indonesia. Ironis memang, sebab anak seolah tak lagi hormat terhadap bapak dan ibunya sampai berani berbuat demikian. Mereka seakan tidak takut disebut durhaka, atau terpikir bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar yang dilarang agama.

Apa yang membuat anak semakin agresif bahkan terhadap orangtua? Apakah agresivitas anak terhadap orangtua mengindikasikan lunturnya rasa hormat terhadap bapak dan ibu sendiri?

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah tertanamnya benih kekerasan pada anak? Pendidikan agama, psikologis, dan sosial budaya seperti apa yang harus diajarkan untuk mencegah anak berbuat kriminal di masa depan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis

Perilaku adalah salah satu aspek fungsi manusia selain fungsi organ fisik, fungsi emosional, fungsi sosial dan fungsi spiritual. Proses pembentukan perilaku berlangsung sepanjang kehidupan dan melibatkan berbagai elemen penting seperti keluarga, masyarakat, dan lingkungan. 

Ketika seseorang mengalami gangguan dalam salah satu aspek atau elemen kehidupan, maka salah satu fungsi kehidupannya juga akan terganggu. Sampai suatu saat perilaku yang terbentuk dapat mengalami penyimpangan, mulai dari penyimpangan norma sosial, norma agama, bahkan norma hukum.

Pada banyak kasus kejahatan, motif kejahatan sangat erat kaitannya dengan psikodinamika pembentukan perilaku sebagai penyebab utama dan faktor-faktor lain sebagai pemicu, antara lain situasi ekonomi, tekanan, putus cinta, kecemburuan, pengaruh obat-obatan, dan lain-lain.

Oleh karena itu penting dalam memahami kasus kejahatan agar diuraikan unsur motif dan dilakukan rekonstruksi kejahatan demi memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang sebuah kasus.

Selain itu, guna mencegah anak melakukan tindakan kriminal, keluarga perlu menanamkan nilai-nilai moral agama dan hukum, menanamkan budi pekerti dan sikap sesuai dengan nilai-nilai tersebut, serta membentuk perilaku positif anak dengan mengajarkan kebiasaan-kebiasaan baik sedini mungkin. (sfc)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Anggota Komisi Kejaksaan (Komjak), Kriminolog Universitas Indonesia (UI)

Agresivitas pada anak dalam lingkup keluarga dapat dipicu oleh berbagai hal. Bisa karena anak merasa tertekan atau merasa terkekang, bisa juga karena anak merasa rencana atau keinginannya tidak tercapai. Dalam kasus ini, bagi anak, orangtua dipandang intimidatif dan dilihat sebagai faktor utama penekan, penghalang anak untuk mencapai tujuan maupun keinginannya.

Tindakan kriminal anak terhadap orang tua pun bisa terjadi karena berbagai faktor. Bisa disebabkan oleh makin lunturnya nilai-nilai kekeluargaan masyarakat yang digerus oleh individualisme, atau bisa juga disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan mental pada anak yang tidak atau terlambat dideteksi.

Sementara itu, penting diingat bahwa anak adalah produk budaya dan bukan sekadar produk biologis kedua orangtuanya. Semua pihak harus bertanggung jawab untuk menanamkan nilai yang baik pada anak dan mencegah nilai yang destruktif merasuk dirinya. Pemerintah, tokoh masyarakat, pendidik, dan orangtua perlu bersinergi.

Menurut saya, cara yang paling efektif untuk mencegah anak berbuat kriminal adalah dengan mengadakan contoh nyata. Semua pihak harus memberikan contoh nilai penghormatan anak kepada orangtua. (sfc)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan