Ancaman Kepunahan 1 Juta Spesies di Kala Antroposen
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 08 May 2019 16:00
Watyutink.com - Meski istilahnya masih diperdebatkan ilmuwan, kita hidup di kala geologi baru yang dinamakan Antroposen atau ketika kita, manusia alias "antropo", mengubah wajah eko sistem Bumi. Dampaknya tidak hanya manusia menjadi spesies paling berkuasa dengan jumlah 7,53 miliar saat ini. Tapi juga berefek pada kelestarian makhluk hidup lain. Laporan PBB paling anyar menyebut manusia telah mengubah wujud planet di Bumi begitu dramatis sampai 1 juta spesies tanaman dan hewan terancam punah. 

Para ilmuwan berkumpul di Paris, Prancis awal Mei ini dalam Konferensi Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) atau program ilmu pengetahuan dan kebijakan antarpemerintah mengenai keanekaragaman hayati dan ekosistem. Di konferensi itu, PBB merilis laporan setebal 1.800 halaman yang sepatutnya membuat semua orang terhenyak. Laporan itu dihasilkan dari 450 peneliti dari puluhan negara. Isinya memperingatkan bahwa satu juta spesies tanaman, serangga, dan hewan di dunia berisiko punah, banyak di antaranya dalam beberapa dekade mendatang. Pertanyaan pentingnya, bagaimana itu semua bisa terjadi? 

Laporan itu menyebut, kepunahan satu juta spesies dalam beberapa puluh tahun mendatang belum pernah terjadi sebelumnya. Alam secara global sedang menurun pada tingkat yang juga belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. 

Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman delapan juta spesies hewan dan tumbuhan di bumi. Tingkat kepunahan mereka saat ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata 10 juta tahun terakhir. Bayangkan bila dari delapan juta jenis hewan dan tumbuhan yang ada sekarang, dalam beberapa puluh tahun lagi berkurang sejuta jenis. 

Dikatakan, manusia telah mengubah 75 persen permukaan daratan, 40 persen lingkungan laut, serta 50 persen aliran sungai dan danau. Laporan itu mengidentifikasi lima hal utama manusia mengurangi keanekaragaman hayati planet ini, termasuk mengubah habitat menjadi pertanian dan kota, penangkapan ikan berlebihan, mendorong perubahan iklim melalui pembakaran bahan bakar fosil, mencemari air dan udara, dan memungkinkan spesies invasif mengalahkan flora dan fauna endemik.       

Sesungguhnya ulah perilaku manusia ini akan berdampak buruk pada manusia sendiri. Kepunahan 1 juta spesies otomatis akan mengacaukan rantai makanan dan eko sistem lingkungan. Bisa jadi, akan ada spesies yang jumlahnya bakal sedemikian banyak hingga mengganggu lingkungan karena predatornya punah. Untuk manusia kepunahan keanekaragaman hayati berarti juga penghancuran diri sendiri karena pasokam makanan, air, dan kesehatan manusia jadi terancam. Apakah ramalan kepunahan 1 juta spesies beberapa dekade nanti berarti juga ramalan kepunahan manusia di masa depan?

Di masa lalu, kepunahan massal makhluk hidup disebabkan benda langit yang menubruk Bumi seperti saat asteroid jatuh 65 juta tahun lalu yang mengakibatkan dinosaurus punah. Kali lain, kepunahan terjadi akibat bencana alam seperti aktivitas gunung berapi, pergeseran kondisi atmosfer dan samudra. Baru kali ini ada kepunahan massal makhluk hidup terjadi karena aktivitas makhluk hidup lain.     

Tentu ini bukan sebuah prestasi. Namun sebuah peringatan keras. Sejarawan Israel Yuval Noah Hariri menulis, di kala Antroposen sekarang manusia telah sampai pada tahap tak lagi terancam bencana kelaparan, wabah penyakit, dan perang. Kini agenda baru manusia adalah mengincar imortalitas (hidup abadi), kebahagiaan, dan keilahian. Kata Harari, dari Homo sapiens kita tengah berusaha meningkatkan manusia menjadi dewa-dewa alias Homo Deus. Namun, masalahnya, bisakah mimpi jadi manusia setengah dewa itu terwujud bila Bumi tak lagi layak ditinggali?     
  
Sampai beberapa dekade mendatang Bumi masih jadi tempat tinggal kita satu-satunya. Manusia masih jauh untuk membangun koloni baru di antariksa atau melakukan perjalanan antar-bintang mencari planet baru untuk ditinggali. Jalan satu-satunya merawat Bumi untuk tetap layak kita huni. Lalu, mampukah kita bertahan? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI)

Upaya manusia sebagai salah satu spesies di muka bumi untuk bertahan hidup, memang telah terbukti berkecenderungan untuk merugikan spesies lainya. Dampak pertumbuhan populasi manusia yang signifikan memang telah diprediksi oleh ekonom klasik bernama Thomas Robert Malthus, akan merusak keseimbangan ekosistem penyedia sumber pangan untuk spesies manusia itu sendiri. 

Kondisi ini dinamakan Malthusian Catasthrope atau bencana Malthusian, di mana jumlah manusia akan bertumbuh lebih cepat dibandingkan ketersediaan pangan organik. Namun masalah pangan ini masih bisa diatasi dengan teknologi, seperti misalnya GMO (Genetically Modified Organism). Meskipun masih bersifat kontroversial, sejumlah produk pangan yang diproduksi massal sudah ada yang menggunakan teknologi ini seperti misalnya pembiakan sapi di Brasilia dan juga beberapa varietas padi yang ditanam di Vietnam dan Thailand. 

Isu lain yang menjadi masalah selain spesies non-manusia sebagai supply pangan adalah meluasnya praktik built-up environment atau lingkungan buatan yang mengganggu habitat alamiah spesies non-manusia. Dalam perspektif ilmu lingkungan, built-up environment ini didukung oleh penganut aliran anthropocentrism.

Aliran ini meyakini bahwa tata kelola lingkungan yang baik adalah yang manusiawi, di mana spesies manusia adalah causa prima yang harus menjadi fokus utama. Aliran ini ditentang oleh kelompok "hijau tua" yang dikenal dengan aliran "ecocentrism". Aliran ini meyakini bahwa arogansi manusia untuk merubah bentang alam harus dibatasi, salah satunya dengan memberikan ruang konservasi yang lebih banyak. 

Terlepas dari perdebatan kedua aliran tersebut, hal yang perlu didorong untuk menjadi kesadaran bersama adalah bahwa keberadaan manusia sebagai salah satu spesies di muka Bumi, memang sudah berkontribusi pada potensi kerugian eksistensi spesies lainnya. 

Oleh karena itu, kesadaran dan upaya konkrit harus dilakukan untuk mengupayakan harmoni antara manusia dengan spesies lainnya. Upaya ini bukan hanya tugas otoritas negara, tetapi juga harus menjadi tanggung jawab tiap individu untuk dapat memastikan bumi yang layak untuk semua mahluk atau spesies di atasnya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Manager, Climate Reality Indonesia

Tingkat variasi berbagai makhluk hidup di bumi yang disebut keanekaragaman hayati, meliputi genetika, mikroorganisme, tumbuhan, hewan dan ekosistem seperti terumbu karang, hutan, dan gurun. Semuanya dibangun menjadi lingkungan hidup, mewakili kekayaan sumber daya hayati yang tersedia bagi manusia (Homo sapiens).
 
Sekecil atau sebesar apapun, setiap jenis makhluk hidup memiliki peran penting dalam ekosistem karena ragam tanaman dan hewan saling bergantung dalam menjamin kelestarian alam.
 
Saat ini diperkirakan ada 8 juta spesies hewan dan tumbuhan di Bumi (termasuk 5,5 juta spesies serangga). Sebanyak 75 persen makhluk hidup berada di daratan dan sisanya di lautan. 
 
Kepunahan 1 juta spesies di Bumi seperti dilaporkan Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) bukan hanya merupakan masalah lingkungan, tetapi juga merambah menjadi masalah pembangunan, ekonomi, keamanan, sosial dan moral.
 
Permasalahan keanekaragaman hayati adalah permasalahan global, yang solusinya juga disepakati secara global melalui Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Keanekaragaman Hayati 
 
Tujuan konvensi yang berlaku pada akhir 1993 tersebut adalah melestarikan keanekaragaman hayati, memanfaatkan komponen-komponennya secara berkelanjutan, dan memastikan pembagian keuntungan yang adil dari pemanfaatan sumber-sumber genetika.
 
Konvensi telah menghasilkan beberapa kesepakatan global, di antaranya Aichi Targets (target global untuk mengurangi laju kehilangan keanekaragaman hayati), Protokol Nagoya (kesepakatan untuk mengatur akses dan pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumber daya genetika) dan Resource Mobilization sebagai pendukung penting untuk penetapan target global. 
 
Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati melalui Undang Undang No. 5 Tahun 1994 mempunyai strategi yang terus diperbaharui sesuai perkembangan konvensi. Salah satunya adalah Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020 yang menjadi acuan nasional dalam pengelolaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. 
 
Kesepakatan global maupun kebijakan nasional yang ada mungkin tidak sepenuhnya dapat terlaksana. Namun peraturan perundang-undangan menuju perubahan transformatif tetaplah merupakan cara utama untuk menyikapi permasalahan global.  
 
Sebagaimana ditekankan oleh Ketua IPBES, Sir Robert Watson, “Melalui perubahan transformatif, alam masih dapat dilestarikan, dipulihkan, dan digunakan secara berkelanjutan. Perubahan transformatif yang dimaksud adalah reorganisasi menyeluruh pada aspek teknologi, ekonomi dan sosial, termasuk paradigma, tujuan, dan nilai-nilai.”
 
Kajian-kajian lingkungan hidup global umumnya mengandung tinjauan masa lalu dan modeling untuk masa depan yang mengupas interaksi manusia dengan alamnya.  
 
Interaksi demikian juga didalami oleh sejarawan, Prof. Yuval Noah Harari, Doktor lulusan Universitas Oxford yang kini mengajar di Universitas Hebrew. Ia menjadi perhatian dunia, termasuk Bill Gates, Barack Obama dan Mark Zuckerberg karena tiga bukunya yang menjadi bestseller.
 
Di buku Sapiens: A Brief History of Humankind (2011) Harari menulis tentang 2 juta tahun eksistensi manusia serta bagaimana arus sejarah telah membentuk masyarakat manusia, hewan dan tumbuhan, bahkan kepribadian manusia. 
 
Dalam Homo Deus: A Brief History of Tomorrow (2015) Harari memetakan masa depan, dari mengatasi kematian hingga menciptakan kehidupan buatan. Ia mempertanyakan bagaimana manusia akan melindungi dunia yang dirapuhkannya sendiri. 
 
Pada buku  21 Lessons for the 21st Century (2018), Harari menyoroti tantangan politik, budaya, dan ekonomi yang paling mendesak saat ini yang diciptakan oleh teknologi dan membahas bagaimana mempersiapkan masa depan yang tidak pasti.
 
Perkembangan pemikiran Prof. Harari melalui ketiga bukunya ditambah dengan imajinasi, kreativitas dan konvergensi pengetahuan global, paling tidak sudah memberikan harapan, bahwa Homo sapiens, yang belum tentu akan menjadi Homo deus,  masih akan mampu bertahan di bumi yang dalam beberapa dekade ke depan akan kehilangan 1 juta spesies. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus