`And No Social Media Too...`
berita
Humaniora
Sumber Foto : linkedin.com (gie/watyutink.com) 24 September 2018 18:30
Media sosial Path akan tinggal sejarah. Tanggal 17 September kemarin pengelolanya mengumumkan ke pengguna layanan medsos itu akan ditutup. Per 1 Oktober, Path tak bisa lagi diunduh dari Android maupun iOS. Mulai 18 Oktober, Path akan menghentikan akses ke platform mereka. Kemudian, di tanggal 11 November resmi tutup.

Banyak yang mengekspresikan kesedihan begitu mendengar kabar Path tutup. Path telah banyak menyimpan kenangan penggunanya. Namun, sesungguhnya, Path tutup juga karena penggunanya. Andai Path digunakan ratusan juta orang, ia takkan ditutup. Per Januari lalu, pengguna Path tinggal 23 juta. Dari jumlah itu hanya 5 juta yang aktif ber-Path ria. Dari yang aktif itu, 4 juta di antaranya berasal dari Indonesia. 

Angka itu tentu saja teramat kecil bila dibandingkan dengan Facebook, Instagram dan Twitter. Dua pertiga pasar medsos dikuasai Facebook dengan pengguna aktif 2,17 miliar. Di lain pihak, Instagram digunakan 1 miliar pengguna sedangkan Twitter memiliki sekitar 400 juta pengguna.

Sesungguhnya pula, bukan sekali ini kita menyaksikan ada medsos menutup layanan. Friendster, Multiply, dan Vine telah tutup usia. Begitu juga Koprol, media sosial bikinan anak negeri yang sempat dimiliki Yahoo, ditutup pada 2012. Sementara itu Myspace--pernah jadi medsos dengan pengguna terbanyak 2005-2009--masih ada namun dalam kondisi hidup segan mati tak mau. 

Di lain pihak, meski didominasi tiga besar--Facebook, Instagram, Twitter--dunia kita masih disesaki banyak medsos, mulai dari LinkedIn, Flickr, Pinterest, Tinder, Snapchat, Reddit, Plurk, Google+ (plus), hingga Tik Tok. Medsos-medsos yang ada namun mulai ditinggalkan penggunanya tinggal menunggu nasib seperti Path. Sampai di sini, yang jadi tanya, berapa sebetulnya jumlah medsos ideal yang akan hidup? 

Meski dirasa bermanfaat, sebagai sarana interaksi sosial, misalnya, medsos nyatanya juga punya dampak negatif. Secara psikologis, medsos cenderung membuat orang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Para peneliti psikologi sosial menemukan sejenis depresi baru yang lahir dari medsos, dinamakan facebook depression. Medsos juga telah jadi sarana efektif penyebar berita bohong dan menghasut. Kebencian jadi mudah tersebar berkat medsos. Jika begitu, apa sebetulnya medsos lebih banyak mendatangkan kerugian ketimbang manfaat? 

John Lennon, mantan pentolan Beatles, pernah berandai-andai sebuah dunia utopis tanpa sekat negara, bahkan tanpa agama. Ia membayangkan semua orang hidup damai berdampingan. Lennon alpa menyebut andai dunia tak pernah kenal medsos.  

Sebagaimana lazimnya inovasi teknologi, medsos sebetulnya lahir bebas nilai. Efek negatif dan positif lahir dari penggunanya. Ada yang memanfaatkannya jadi positif seperti berdagang online atau menambah jejaring pertemanan (networking). Namun, ada pula yang menjadikannya sarana menyebar hoax dan kebencian SARA.    

Path dan entah apa lagi akan menghilang dari jagat maya. Kita pernah hidup tanpa media sosial. Bukti bahwa sebetulnya kita bisa hidup tanpa notifikasi Facebook atau mengunggah foto ke Instagram. Jadi, untuk apa sedih bila Path tutup? Bukankah lebih layak sedih bila barang-barang tak terbeli karena rupiah semakin anjlok? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat media sosial

Kenapa orang berhenti pakai Path? Terus terang saja, sekarang sudah banyak pengganti Path yang lebih menarik. Terutama dengan makin hitnya Instagram. Path itu dulunya digunakan anak-anak muda yang sudah bosan di Facebook. Sekarang anak-anak muda banyak menghabiskan waktu di Instagram. Intinya sih, bila anak-anak muda sudah suka di satu platfom media sosial (medsos), mereka akan menghabiskan waktu di situ. Jadi fokus pada satu platform saja, meskipun punya banyak akun di tempat lain. 

Facebook sendiri pertumbuhannya sekarang tidak besar-besar betul. Tapi Facebook kini sudah telanjur besar. Karena sudah telanjur besar itu orang jadi nggak mau meninggalkan Facebook. Akunnya tetap ada, tapi aktivitasnya rendah. Anak muda sekarang tetap punya Facebook, tapi aktivitas mereka paling banyak di Instagram. Mungkin sesekali ia masih berkunjung ke sana. Aktivitas sehari-harinya ada di Instagram.

Facebook mereka tak dimatikan, tapi Path mereka matikan. Karena Path sudah tak menarik lagi. Yang tadinya Path membatasi pertemanan hanya 150, diperluas jadi 500. Itu kan bikin Path sama saja dengan Facebook. Buat mereka jadinya, untuk apa punya Path kalau sama saja dengan Facebook. 

Orang umumnya paling banyak sanggup mengelola tiga medsos. Itu pun aktivitas terbesarnya di satu platform saja. Apa sekarang medsos takkan berkembang? Inovasi takkan selesai. Cuma siapa yang akan bertahan lama? Itu yang jadi pertanyaan. 

Medsos-medsos yang sudah almarhum ditinggalkan orang karena datang medsos baru yang lebih hebat. Makanya kemampuan untuk memahami kebutuhan user maupun kativitas mereka sangat penting di medsos. Penting juga positioning. Ketika medsos sudah punya positioning itu yang akan membuatnya bertahan lama, sepanjang tidak ada medsos baru yang menawarkan hal lebih hebat. 

Path contoh jelas soal positioning ini. Path sudah bagus posisinya ketika menetapkan hanya bisa sampai 150 teman. Begitu ia memperluas pertemanan jadi 500, nggak menarik lagi. Karena jumlah 500 itu bukan lagi teman dekat. Mana ada teman dekat sampai 500? Jadi Path kemudian sama saja dengan Facebook, yang akhirnya membuat orang pikir buat apa punya Path kalau sama saja dengan yang  lain.

Menurut saya, orang takkan pernah meninggalkan medsos. Masih akan berkembang dan muncul inovasi-inovasi baru di medsos. Facebook, Twitter dan Instagram masih akan bertahan lama karena sudah punya positioning yang kuat sekali. Orang sudah paham betul apa itu Facebook, Twitter dan Instagram. Kalau Google+ masih bertahan karena disubsisdi oleh Google. Tapi lama-lama Google bakal capai juga karena orang tak banyak pakai. (ade)    

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu