Avengers: Endgame vs Kisruh Pemilu 2019
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 May 2019 12:00
Watyutink.com - Istilahnya movie event. Yakni ketika sebuah rilisan film baru dianggap sebuah peristiwa penting buat peminatnya. Film terbaru rilisan Marvel/Disney, Avengers: Endgame tergolong "movie event" tahun ini. Inilah film ke-22 dalam semesta superhero Marvel yang sudah dimulai 11 tahun lalu. Filmnya disebut sebagai pamungkas cerita yang menutup sebuah kisah besar. Setelahnya dimulai cerita baru. Di seluruh dunia, filmnya disambut gegap gempita. Tak terkecuali di Indonesia. Sedikit banyak, kehebohan film ini sedikit melupakan orang dari kekisruhan usai Pemilu 2019.

Hingga film ke-21, Disney telah mengumpulkan USD 18 miliar atau sekitar Rp 251,8 triliun. Hanya lima hari tayang, pundi-pundi mereka telah bertambah USD 1,2 miliar (Rp 16,7 triliun) hanya dari satu film Avengers: Endgame saja. rinciannya, USD 350 juta dari peredaran domestik Amerika Utara dan dari luar Amerika dapat USD 859 juta. Dari Indonesia sendiri, sejak tayang 25 April kemarin, Endgame sudah disumbang USD 14,1 juta atau 197,2 miliar. Menurut catatan, angka itu didapat dari sekitar 4,5 juta penonton dalam lima hari. 

Sebagai perbandingan, Dilan 1991 meraih 3,1 juta penonton setelah lima hari tayang. Tapi kemudian, jumlah penontonnya terus surut. Angka penontonnya berhenti di 5,2 juta. Hal macam itu tampaknya takkan terjadi pada Avengers: Endgame. Yang menarik kita cari tahu, bagaimana Disney bisa membangun sebuah movie event tingkat global sedangkan kita hanya satu-dua film yang bisa begitu untuk tingkat lokal sekalipun? 

Kehebohan menyambut Avengers: Endgame sedikit-banyak membuat sebagian dari kita terlepas dari kisruh Pemilu 2019. Kita tahu, Pemilu 2019 telah berlangsung aman dan damai. Rakyat telah menggunakan hak pilihnya dengan bijaksana. Partisipasi pemilih mencapai 80 persen, salah satu yang tertinggi dalam sejarah pemilu kita. Namun, selepas pemilu banyak kekisruhan terjadi. Saat warga sudah tenang dan hendak melanjutkan hidup, elite-nya malah bikin ribut. Hasil quick count yang merupakan metode ilmiah ditolak mentah-mentah karena tak sesuai harapan yang kalah quick count. Tidak cukup sampai di situ, salah satu paslon, Prabowo-Sandi mengklaim menang berdasar hasil hitungan sendiri. 

Di saat elite-nya kisruh mengklaim menang, dan pendukungnya berdebat di televisi sambil menuduh sang wasit, KPU, main curang, ketahuan kalau hajatan besar pesta demokrasi kemarin tak disiapkan dengan rinci. Lantaran tak memperhitungkan petugas KPPS bakal bekerja tanpa jeda, kita menyaksikan ratusan petugas pengawal pemilu berguguran jadi tumbal demokrasi. Bayangkan, elite di atas rebutan kursi kekuasaan sedang rakyat di bawah meninggal akibat kelelahan demi mengantarkan elite-nya berkuasa. 

Di tengah kisruh itu, sebuah tontonan yang menghibur datang dari Hollywood. Sebagai pabrik hiburan yang berusia nyaris seratus tahun, Hollywood sudah fasih membuai penonton sejagat. Film-film Hollywood selalu datang dengan formula sama: menghibur dengan cerita mudah dicerna, menampilkan bintang tampan dan cantik, dan berkat teknologi sinema tercanggih, menampilkan efek visual yang memanjakan mata. Kali ini, hiburan jagoan dari Hollywood itu berjudul Avengers: Endgame. 

Di Indonesia, Endgame tayang serentak menguasai bioskop, langsung diputar di 1500 layar. Kontan saja filmnya langsung menggeser film-film nasional. Padahal, bioskop kita sedang diisi film nasional yang dapat puja-puji di berbagai festival film seperti Ave Maryam yang dibintangi Maudy Kusnaedi, film Garin Nugroho yang mengundang kontroversi Kucumbu Tubuh Indahku serta 27 Steps of May karya Ravi Bharwani. Semua terpaksa minggir atas nama hukum pasar demi Avengers: Endgame.

Sambutan buat film itu memang luar biasa. Bioskop sini bahkan membuat jam tayang khusus mulai pukul 5 pagi pada 24 dan 25 April untuk memenuhi animo masyarakat yang ingin nonton. Program nonton sejak pukul lima pagi itu sukses. Di bioskop-bioskop yang menggelar acara nonton sehabis subuh diantre masyakarat. Dari sini timbul tanya, antusiasme orang Indonesia menonton Avengers: Endgame pertanda apa?    

Bisa macam-macam interpretasinya. Salah satunya, bisakah antusiasme itu kita artikan wujud apatisme masyarakat--terutama golongan milenial--melihat elite politik yang masih kisruh pasca-pemilu? Buat masyarakat, peran sebagai warga negara sudah mereka tunaikan 17 April kemarin. Sekarang tinggal elite mengemban amanah rakyat. 

Tapi masalahnya, elite-nya malah ribut. Sementara itu rakyat memilih mengalihkan perhatian ke hiburan eskapisme Hollywood. Baikkah sikap elite yang ribut berebut kursi dan rakyatnya yang tak peduli ini? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? 
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Staf pengajar jurusan Film Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Yogyakarta, pendiri komunitas film Montase

Avengers: End Game memang faktanya mewabah di dunia. Hingga artikel ini ditulis, tercatat film ini telah meraih USD 1,66 miliar secara global hanya kurang dari dua pekan rilisnya. Sebuah angka pencapaian amat sensasional yang mungkin sulit dicapai film-film lainnya dalam beberapa tahun mendatang. Di Indonesia sendiri, menurut data boxofficemojo.com, Endgame hingga kini telah meraih USD 23,3 juta. Jika anggap saja, rata-rata harga tiket bioskop di tanah air Rp 35.000,- (1 USD = Rp 14.260,-) maka angka ini sama dengan 9,6 juta penonton, dan ini hanya satu minggu penayangan! Bayangkan, film terlaris kita, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 hanya mencapai 6,8 juta penonton. Ini membuktikan antusiasme penonton di tanah air, khususnya kaum milineal, yang sangat luar biasa.

Avengers: Endgame tidak hanya semata memecahkan rekor box office, namun juga dianggap bakal merubah industri film setelah ini. Tidak ada preseden sebelumnya terhadap apa yang sudah dicapai film ini, baik secara komersial maupun sisi produksinya. Durasi waktu film ini tercatat hingga 3 jam (tak lazim untuk film Hollywood), bujet film sebesar USD 356 juta, hingga pemutaran filmnya 72 jam nonstop di negara asalnya! Di sini pun tak jauh berbeda. Dua minggu sebelum pemutaran filmnya, tiket film ini sudah diburu para pembeli.

Pengalaman kemarin, setidaknya di kota saya, Jogja, hanya dalam beberapa menit sejak dibuka reservasi jam 12 malam, posisi bangku strategis sudah habis ludes. Pagi harinya, nyaris tak ada bangku kosong lagi (kecuali dekat layar) hingga hari akhir pemesanannya. Semua jaringan bioskop full house selama sepekan. Satu stasiun TV bahkan menyangkan live jam 7 pagi, untuk mewawancara para penonton selepas usai menonton pemutaran jam 5 pagi pada hari rilisnya! Sungguh edan.

Movie event” seheboh ini, apakah bisa kita anggap sebagai rasa apatis masyarakat terhadap Pemilu 2019 yang berlangsung tidak lama sebelumnya, khususnya kaum milineal? Jika kita lihat pemberitaan Pemilu 2019 di stasiun televisi masih tetap dominan, bahkan hingga kini pun, perhitungan real count KPU masih belum selesai. Dinamika politik di tanah air masih terus berjalan, seiring dengan acara TV yang masih menayangkan debat kusir yang seolah tak ada hentinya.

Sementara di media sosial yang lebih diminati kaum milineal, trending topic soal pemilu 2019 memang teralihkan oleh Avengers: End Game dan juga seri Game of Thrones yang memulai seri terbarunya. Apakah ini menandakan kaum milineal capek dengan kisruh Pemilu 2019? Saya rasa tidak hanya kaum milineal, namun kita semua pun capek.

Apakah lantas menonton Avengers: Endgame dianggap sebagai satu sikap apatis terhadap situasi negeri kita? Rasanya tidak juga. Iya benar, bisa jadi kita semua lelah dan butuh sesuatu yang menghibur dan Endgame memang tontonan yang sangat menghibur untuk semua kalangan penonton. Namun, dibalik semua kemasan hiburannya, terdapat banyak nilai yang rasanya bisa kita teladani dan patut dicontoh para elit kita. Para jagoan tidak hanya semata memiliki kekuatan super (baca: kekuasaan) untuk membela umat manusia. Itu tidak akan pernah cukup. Mereka harus kompak dan bisa saling bekerja sama untuk menghadapi masalah. Rela berkorban, baik mental maupun fisik untuk banyak orang. Semangat pantang menyerah untuk membela kebaikan.

Satu hal lagi yang penting adalah berhati mulia serta jujur. Andai Palu Mjolnir milik Thor ada di sini, mungkin bakal mudah untuk mencari pemimpin yang sejati. Adakah dari para elit yang mampu mengangkatnya, ataukan kita membiarkan Thanos menjetikkan jarinya untuk melenyapkan separuh umat manusia di negeri ini? Kita semua hanya berharap semoga pahlawan sejati yang bakal memimpin negeri ini. (ade)        

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Mantan Aktivis Mahasiswa, Pelaku Bisnis sekaligus Pemerhati Sosial Budaya Nusantara

Tulisan di Watyutink.com yang menyoal kehebohan atas tingginya minat kaum Marvelian dalam menyambut kemunculan film besutan Marvel Comics yang berjudul “Avengers: Endgame” sungguh merupakan buah kecerdasan yang dengan kepekaan tinggi mampu menangkap fenomena sosial yang terjadi di tengah berlangsungnya fenomena politik Kisruh Pemilu 2019.

Watyutink.com dengan cerdas dan bernas mencoba memprovokasi sidang pembaca yang berakal dan mau berpikir untuk sejenak meluangkan waktu merenungkan hipotesa yang disuguhkannya dalam sebuah kalimat tanya bernada retorik, “Tapi masalahnya, elite-nya malah ribut. Sementara itu rakyat memilih mengalihkan perhatian ke hiburan eskapisme Hollywood. Baikkah sikap elite yang ribut berebut kursi dan rakyatnya yang tak peduli ini?”

Tentu jawabannya tidak sesederhana pertanyaannya. Mempertentangkan secara dialektis antara film Avengers: Endgame vs Kisruh Pemilu 2019 merupakan upaya untuk menguak pesan yang tersirat dibalik kandungan pesan sesungguhnya yang terdapat pada kedua peristiwa demi mendapatkan sintesanya.

Avengers: Endgame merupakan sekuel lanjutan dari film sebelumnya yang berjudul Avengers: Infinity War yang berakhir dengan kekalahan koalisi superhero dari tokoh antagonis bernama Thanos. Sementara Endgame merupakan upaya revans atas kekalahan mereka terhadap Thanos. 

Pastinya, kisah pertarungan kedua belah pihak tidak dimaksudkan oleh Mervel Comics sekadar untuk dimaknai dengan dangkal dan semena mena sebagai representasi kontestasi politik antar dua pasangan kandidat Presiden dan Wakil Presiden pada Pilpres 2019.

Antagonisme Thanos yang digambarkan berdarah dingin penuh kebrutalan dan kebiadaban terhadap bumi dan segala isinya dengan berperan playing God merupakan pembenaran atas segala tindakannya seolah sebagai manifestasi dari kehendak semesta. Thanos dengan segenap perbuatannya sama sekali bukan sekedar cuma gambaran dari karakter yang mewakili ketokohan personal, melainkan manifestasi dari betapa dunia saat ini menghadapi situasi yang penuh kekisruhan dan karut marut akibat kekacauan yang terjadi secara terstruktur, sistemik dan masif dalam segenap aspek perikehidupan.

Sementara koalisi superhero yang keok dan terseok-seok akibat gempuran Thanos akhirnya dipaksa hanya pada satu pilihan untuk bisa membalas kekalahannya, yaitu dengan menggunakan sihir fisika kuantum yang mampu memperjalankan mereka melintasi waktu kembali ke masa lalu untuk bisa mengubah sejarah agar berpihak untuk memenangkan mereka di masa depan. 

Dalam konteks kekinian dan kedisinian terkait kisruh Pemilu 2019, rasa-rasanya antagonisme Thanos paling representatif digunakan untuk menggambarkan terjadinya praktek demonkrasi yang berlangsung di Pemilu 2019. Demonkrasi sebagai sebuah sistem politik yang demonik penuh hawa gelap kejahatan dengan mengkolaborasikan praktek kleptokrasi, mobokrasi dan plutokrasi secara terstruktur, masif dan sistemik penuh simulacra yang serba ilusif dan berseolah-olah.

Film Avengers: Endgame nampaknya ingin berbagi kiat sukses dengan memberi tips n tricks bagaimana cara membalikkan keadaan hingga mereka mampu mengalahkan Thanos. Sihir fisika kuantum yang dilakukan guna mengubah masa lalu hanya untuk menyampaikan pesan betapa penting sesungguhnya apa yang terjadi di masa lalu untuk menjadi kunci jawaban bagi permasalahan kebangsaan yang muncul di masa kini. Begitu pula pentingnya apa yang terjadi di masa kini akan sangat menentukan apa yang hadir di masa depan dalam rangkaian proses yang berlangsung secara dialektis.

Artinya, jika memang semua pihak tidak ingin kisruh Pemilu 2019 kembali terulang di Pemilu 2024 dengan trend yang cenderung semakin memburuk dari waktu ke waktu, maka secara fisika kuantum satu-satunya jalan hanya dengan memulihkan sistem ketata-negaraan dan tata kelola pemerintahan kembali pada cita cita Proklamasi 17 Agustus 1945 yang kemudian dikuatkan lagi melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yaitu kembali pada UUD 1945 18 Agustus 1945 dengan menganulir semua proses amandemen yang telah terjadi.

Namun demikian jikapun langkah tersebut disepakati, muncul persoalan baru, "Siapakah superhero di negeri ini yang digadang-gadang mampu berperan sebagai pelakon dalam mengembalikan sistem ketatanegaraan dan tata kelola pemerintahan kembali pada UUD 1945 - 18 Agustus 1945?"

Berharap semoga saja di tengah membludaknya penonton Endgame, ada di antara mereka yang terinspirasi dan kemudian terpanggil untuk menjadi superhero yang mampu meluruskan kembali arah jalannya sejarah negeri pada cita-cita Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.

Jikapun ternyata para superhero di negeri ini telah tertumpas musnah hingga punah, mungkin memang sudah saatnya alam sendiri yang segera bertindak membereskan segala karut marut kekisruhan dan kemelut kekacauan yang terjadi di negeri ini. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Akibat Jalan Non Tol Tak Dipelihara             Catatan YLKI untuk Mudik Lebaran 2019             Tipis Prabowo-Sandi Menang di MK             Putusan MK Tidak Mengakhiri Polemik Pilpres 2019             LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi             Asumsi RAPBN 2020 Sulit Tercapai             Strategi Ekspansif Tak Tampak di RAPBN 2020             Transisi Darurat (Demisioner) Permanen????             Membangun Sambil Menindas             Mitigasi Pengaruh Kejadian Politik terhadap Kegiatan Ekonomi