Bahasa Indonesia Pudar di Generasi Millennial
berita
Humaniora
Sumber Foto : Google Plus (gie/watyutink.com) 26 July 2018 17:00
Bahasa menunjukkan bangsa. Itulah kata bijak yang sejak lama tertanam dalam benak kita. Bahasa kita adalah Bahasa Indonesia, bahasa yang bukan hanya menjadi kebanggaan dan identitas, tapi juga alat persatuan yang sangat berjasa dalam sejarah Indonesia. Namun bagaimana sekarang? Di era millennial seperti saat ini masihkah ada kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia? 

Salah satu kelemahan orang Indonesia untuk bersaing dengan orang luar negeri adalah bahasa. Kultur Indonesia yang tidak menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar membuat sebagian besar rakyat Indonesia hanya bisa berbahasa Indonesia. Kesadaran itulah yang kini mulai disadari. Keinginan belajar dan menggunakan bahasa asing mulai tumbuh.

Namun seiring waktu keinginan belajar bahasa asing justru membuat bahasa Indonesia terpinggirkan. Banyak anak usia sekolah, terutama kaum millennial yang tinggal di kota besar, yang terlihat gagap berbahasa Indonesia. Banyak diantara mereka yang bahkan lebih fasih berbahasa asing daripada bahasa sendiri. Mengapa ini bisa terjadi?

Keinginan mempersiapkan anak memasuki era globalisasi tentu boleh-boleh saja. Namun jika itu mengorbankan jati diri bangsa apalah gunannya. Saat ini semakin banyak ditemui orang tua yang tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia saat bertinteraksi dengan anaknya. Bukan menggunakan bahasa daerah, melainkan Inggris, Prancis, Mandarin, Korea dan sebagainya, yang pasti bukan bahasa Indonesia. Mereka berdalih, nantinya anak mereka pasti bisa berbahasa Indonesia dengan sendirinya.

Namun yang terjadi tidak seperti yang diperkirakan. Anak-anak justru semakin asing dengan bahasa lokal. Menjamurnya sekolah bilingual memperparah kondisi ini. Beberapa sekolah yang berlabel ‘Sekolah Internasional’ bahkan menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar kegiatan belajar mengajar. Bahasa Indonesia hanya menjadi salah satu mata pelajaran yang diajarkan hanya beberapa jam dalam seminggu.

Kehidupan dan interaksi anak muda millennial pun tak lepas dari ‘kontaminasi bahasa’. Penggunaan istilah-istilah yang entah dari mana asalnya semakin menghilangkan wujud asli bahasa Indonesia. ‘Bahasa gaul’ memang sudah dikenal sejak lama. Istilah bokap nyokap untuk menggantikan bapak ibu. Bro dan sis menggantikan panggilan kakak. Siaran televisi yang ‘Jakarta sentris’ membuat banyak anak di luar Jakarta makin akrab dengan loe gue sebagai pengganti aku kamu. 

Di era millennial saat ini, bahasa Indonesia banyak tercampur dengan bahasa asing. ‘Kids jaman now’ menggantikan istilah remaja masa kini. ‘Woles’ yang menggantikan santai, konon diambil dari kata slow yang diucapkan terbalik. Serta masih banyak istilah-istilah yang sebelumnya tidak dikenal .

Bahasa bukan hanya sekedar alat komunikasi, bahasa bukan sekedar tutur kata. Bahasa turut menggambarkan budaya dan jati diri sebuah bangsa. Itulah mengapa di bahasa Indonesia terdapat perbedaan kala berbicara dengan teman sebaya, orang yang lebih tua, bahkan orang tua, ayah dan ibu kita. Budaya Indonesia memang mengajarkan sopan santun, khususnya kepada orang tua. Panggilan romo, bopo, ayah, aji, ibu, biyung, inang, adalah wujud penghomatan kepada orang tua. Apa jadinya jika panggilan itu diganti bokap dan nyokap.

Nilai-nilai kesopanan yang lebih terlihat pada bahasa daerah yang jumlahnya sangat banyak. Pada bahasa jawa terdapat tingkatan kromo inggil, kromo madya, dan ngoko. Bahasa daerah lain pun lebih kurang sama. Ini bukti bahwa sopan santun dan tata karma adalah identitas bangsa Indonesia.

Apa jadinya jika tata karma itu perlahan menghilang. Mungkin nantinya akan makin lazim kita mendengar seorang anak berkata kepada ibunya, ‘woles keles nyokap, gue bentar lagi just wake up’.  

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan Budaya Kompas 

Menurut saya hal ini adalah fenomena penggunaan gadget atau gawai yang saat ini digunakan oleh hampir semua lapisan masyarakat. Dunia digital saat sini sudah ‘mengalter’ atau menyimpangkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini bukan permasalah kesalahan penggunaan bahasa melainkan masalah neurologi atau syaraf.

Media digital dan media cetak adalah dua hal yang berbeda. Dimasa lalu kita terbiasa dengan ketertiban berbahasa. Sebelum ada gadget, kita terbiasa menulis menggunakan tangan atau mesin ketik. Kebiasaan tersebut menyebabkan otak kita bekerja dengan sangat disipilin.

Tulisan lahir dari tangan yang memperoleh perintah dari otak. Jika kita menulisa secara perlahan-lahan maka tulisan tangan kita akan menjadi semakin rapi. Implikasinya adalah bahasa yang kita gunakan akan menjadi semakin rapi pula.

Saat ini kita sudah melewati masa-masa itu. Periode tulisan tangan dan mesin ketik sudah berganti dengan era digital yang membuat proses memproduksi kata bisa dilakukan sangat cepet menggunakan gadget. Dalam beberapa hal kondisi ini menyebabkan proses berbahasa yang semula merupakan mekasnisme otak berubah menjadi mekanisme jari.

Tidak heran kalau ada ungkapan, saat ini orang menulis tidak lagi perlu berpikir, sebab yang menulis bukan lagi pikiran tapi jari tangan. Akibatnya bukan hanya pemikirannya yang berantakan tetapi bahasanya pun tidak karuan.

Hal ini adalah sebuah fenomena yang sulit dielakkan. Pasalnya kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Maka perubahan ini harus kita sadari sehingga masing-masing kita bisa bersikap. Meskipun setiap kita berbeda sikapnya tapi itu lebih baik daripada tidak bersikap. Contohnya, kita bisa bersikap agar tidak memberikan gadget atau perangkat digital lainnya kepada anak-anak yang masih balita. Sehingga syaraf-syaraf motoriknya bisa berjalan maksimal.

Nah, sekarang pertanyaanya adalah bagaimana mengatasi hal ini? Jawabnya adalah disiplin tubuh. Maksudnya adalah mendisiplinkan tubuh kita, mengembalikan tubuh kita menggunakan kembali cara-cara lama.

Misalnya, kebiasaan anak muda sekarang saat berbicara dengan orang tua sambil main gadget. Harus ada upaya mendisiplinkan anak agar fokus saat berbicara dengan orang tua. Berawal dari kedisiplinan itulah muncul kebiasaan berbicara dan bertutur kata dengan baik dan sopan. Otomatis bahasa dan pemilihan kata yang digunakan pun akan lebih baik.

Jika pola disiplin tubuh ini diterapkan secara terus-menerus akan berdampak perubahan sikap. Jika tubuh sudah terbiasa maka otak pun akan terbiasa. Sebab antara otak dan tubuh terdapat ikatan yang saling kait mengait. (ysf)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Ketika kita membaca judul tulisan tersebut, maka pertanyaan pertama adalah apa benar bahwa bahasa Indonesia itu kini pudar di generasi milenial? Pertanyaan kedua, bila itu benar, apakah yang membuat bahasa Indonesia itu memudar pada generasi milenial? Lalu, bila benar, bagaimana sikap kita dan apa yang harus kita lalukan? Masih banyak pertanyaan yang bisa kita lemparkan ketika melihat ada pernyataan demikian?

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan penggunaan bahasa Indonesia di negeri ini, masih belum terasa begitu memudar, walaupun dikatakan memudar. Hal itu biasa, karena yang namanya bahasa masing-masing mengalami pasang surut yang disebabkan oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Nah,  bahasa Indonesia yang merupakan bahasa milik sebuah bangsa yang besar secara kuantitas penduduk, masih tetap menjadi bahasa yang kuat. Kuatnya, karena jumlah pengguna bahasa Indonesia masih sangat besar. Buktinya, walaupun di Indonesia memiliki ratusan Bahasa lokal atau bahasa daerah, namun sebagai lingua franca, tetap masih dalam bahasa Indonesia. Lalu, bagaimana dengan memudar? Ya, proses memudar itu ada, namun bahasa Indonesia tidak akan hilang. Selayaknya kita sikapi bersama, ketika kita risau akan proses memudar ini. Apa yang membuat mulai memudar?

Nah, bila kita mau mencari penyebab mulai memudarnya Bahasa Indonesia di kalangan generasi milenial, kita akan menemukan banyak faktor. Bukan hanya faktor tunggal, misalnya karena semakin banyak orang Indonesia yang belajar dan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini terjadi karena multi faktor, ya banyak faktor. Secara internal, kita bisa melihat bagaimana sikap kita dalam berbahasa. Sebuah sikap yang buruk yang membudaya dan melekat dalam diri bangsa ini, yakni adanya sifat melihat “rumput tetangga lebih hijau”.

Kita selalu terbawa pengaruh dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Kita selalu kagum dan tertarik dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Kita selalu meilihat bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis dan juga bahasa Arab, lebih keren atau lebih penting dari bahasa Indonesia. Sikap ini membuat bahasa Indonesia tidak bisa berkembang dengan baik, menjadi bahasa lingua franca di Asia. Idealnya, kita sebagai bangsa yang besar, harus bangga dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang lebih hijau.

Sikap kita yang kedua yang bisa merendahkan nilai bahas kita adalah ketika sikap snobbisme menggerogoti bangsa ini. Sikap snobbisme ini melekat pada orang-orang atau kaum intelektual dan bisa juga petinggi bangsa ketika berbicara atau menulis. Mereka selalu saja menggunakan kata-kata bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Mereka merasa bangga dengan penggunaan istilah bahasa Inggris tersebut, sehingga kelihatan intelek dan hebat. Ketiga, sikap buruk kita dalam berbahasa adalah sikap tidak tertib berbahasa. Kita memiliki aturan bahasa yang bagus, tetapi ketika kita menulis, sering sekali kita abaikan kaidah bahasa tersebut.

Selain itu, faktor eksternal, tidak terlepas dari politik bahasa sebuah bangsa, seperti halnya bahasa Inggris. Perkembangan bahasa Inggris yang sangat cepat tersebut, tidak terlepas dari politik bahasa dari bangsa-bangsa maju yang memaksa kita berbahasa Inggris. Caranya lewat kemajuan teknologi yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Sehingga, kita merusak  bahasa Indonesia dengan gawai, Akhirnya, kita  beramai-ramai merendahkan dan merusak bahasa Indonesia. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Staf Penyuluh Kebahasaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Banyak faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat, terutama generasi muda kepada bahasa Indonesia. Pertama, diranah pendidikan, khususnya di sekolah masih banyak masalah yang perlu dipecahkan agar pengajaran bahasa Indonesia menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Seringkali siswa-siswa sekolah mengatakan bahwa pelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan dan kurang menarik. Akibatnya penanaman nilai-nilai positif bahasa Indonesia jadi terhambat

Kedua, akses informasi, terutama jika dikaitkan dengan kondisi saat ini. Ketika informasi sudah sangat sulit dikontrol dan diterima oleh anak-anak muda, yang belum mampu menyaringnya  lama-kelamaan akan mengurangi sikap positif mereka terhadap bahasa Indonesia. Terlebih jika generasi muda belum mampu menyaring beragam informasi yang diterima.

Ada anggapan yang salah dari sebagian besar siswa tentang pelajaran bahasa Indonesia. Siswa beranggapan materi yang diajarkan di sekolah tidak berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari. Sehingga muncul anggapan bahasa Indonesia adalah pelajaran yang gampang dan tidak perlu mendapat perhatian.

Anggapan yang salah ini justru menyebabkan para siswa semakin ‘menjauh’ dari bahasa Indonesia. Padahal bahasa Indonesia bukan hanya mengajarkan berkata-kata tapi juga bagaimana menulis formal, menulis surat, membuat naskah pidato, puisi, pengetahuan tentang sastra dan sebagainya. Materi-materi tersebut memang tidak digunakan dalam percakapan keseharian. Namun materi-materi tersebut perlu dipelajari sama seperti materi-materi pelajaran lainnya seperti matematika, sains , bahasa inggris dan sebagainya.

Agar pelajaran bahasa Indonesia tidak membosankan, perlu diberikan penekanan terhadap metode pengajaran agar lebih menarik. Hal ini tentu sangat dipengaruhi pemahaman para guru terhadap materi pelajaran. Sebagai contoh, tidak semua guru bahasa Indonesia menguasai sastra atau ilmu-ilmu linguistik. Bagaimana para guru bisa mengajarkan pelajaran dengan baik dan menyenangkan jika mereka sendiri belum memahami materi yang akan diberikan.

Di lain pihak gempuran beragam informasi yang bisa didapatkan di dunia digital sebagai konsekuensi kemajuan jaman, semakin tidak terhindarkan. Oleh karena itu diperlukan pula peran orang tua untuk menyaring informasi-informasi yang akan diterima anak. Orang tua berperan dalam mengatur bagaimana anak-anak menggunakan gadget serta menerima informasi dari dunia maya.

Selain itu pihak-pihak lain seperti media massa, sekolah, dan pemerintah harus pula membantu menyebarkan nilai-nilai positif dari bahasa Indonesia. Jika pihak-pihak tersebut sudah menerapkan dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar maka penyebarluasan atau penularan sikap positif berbahasa yang baik akan lebih mudah diterapkan kepada generasi muda. (ysf)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF