Begal: Ditembak (Tak) Mati
berita
Humaniora
Sumber Foto : jabarnews.com (gie/watyutink.com) 14 July 2018 19:00
Apa jadinya kalau begal tak kunjung jera bahkan semakin menjadi-jadi? Teror begal bak musim durian, muncul dan hilang seiring waktu. Baru-baru ini tersebar pesan gelap di Grup WhatsApp (WAG) ancaman dari kelompok begal yang hendak melakukan aksi balas dendam kepada warga, karena sejumlah anggotanya tertangkap. Lantas bagaimana aparat keamanan bersikap dalam melakukan tindakan pencegahan?

Pertengahan Juli 2018 polisi tembak mati RS pimpinan 'Bad Boys', gang pelaku kejahatan jalanan yang biasa beroperasi di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Kelompok penjahat jalanan Bad Boys kerap melakukan aksi pembegalan, penjambretan, dan perampasan dengan menggunakan senjata tajam. Sasaran utama mereka adalah kaum hawa dan karyawan sekitar Cilincing. Mereka tak segan menghilangkan nyawa korban jika melawan.

Beberapa bulan sebelumnya, keberanian korban pembegalan bernama Irfan melawan dua pelaku begal di Jembatan Sumarecon Bekasi mendapat apresiasi dan penghargaan dari pihak kepolisian. Perlawanan yang dilakukan Irfan berujung pada tewasnya satu pelaku begal, sementara satu lagi menderita luka parah. Beruntung Irfan memiliki bekal kemampuan bela diri. Namun tak semua orang seperti Irfan. 

Pertengahan 2015 lalu ketika warga diresahkan teror begal, seorang bapak bercerita tangannya harus terbacok dan motor raib diambil begal ketika hendak pulang melalui jalan yang biasa dilewati dari kantor menuju rumahnya. Sejak 2015 sejumlah pembegalan terjadi, yang menelan korban jiwa dan harta. Sebagian pelaku begal berhasil diamankan, tapi sisanya hilang tanpa jejak. Apakah yang menyebabkan pembegalan semakin marak terjadi dan meresahkan warga masyarakat?

Jelang Mudik Lebaran 2018 Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginstruksikan jajaranya untuk tembak mati begal kala beraksi. Tujuannya untuk memberi rasa aman bagi pemudik selama arus mudik dan balik berlangsung. Tindakan tegas terhadap sejumlah pelaku begal telah dilakukan. Masyarakat mengapresiasi hal tersebut. Tindakan tegas berupa penembakan ini dilakukan ketika begal beraksi. Namun, apa langkah yang seharusnya aparat penegak hukum lakukan dalam mencegah terjadinya pembegalan?

Mayoritas pelaku begal anak berusia remaja. Salah satu contohnya adalah gang motor Jepang di Depok, yang anggotanya mayoritas analah anak berusia belasan tahun. Bed Boys di Cilincing yang ketuanya meregang nyawa diucung pistol polisi juga beranggotakan para remaja. Di kota Makasar 70 persen pelaku begal adalah remaja. Persentase ini tak jauh berbeda dengan pelaku begal di kota-kota lainnya. 

Apakah yang menyebabkan pelaku begal didominasi oleh para remaja belia tersebut? Kalau pelaku begal masih berusia di bawah umur, lantas langkah apa yang diambil untuk menghukum mereka? Langkah apa yang harus diambil guna mencegah para remaja menjadi pelaku begal?

Kesulitan apa yang dihadapi aparat penegak hukum atau instansi terkait dalam melakukan tindakan pencegahan pembegalan sehingga begal masih saja marak terjadi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Kriminolog

Menurut saya frekuensi tindak kejahatan begal sudah berkurang. Sudah dilkukan pencegahan-pencegahan oleh aparat penegak hukum, sehingga tidak muncul lagi. Sehingga di beberapa tempat yang katanya rawan, tapi dalam praktiknya tidak terjadi kasus yang menonjol. Jadi bisa saja pencegahannya sudah berlangsung dengan baik. 

Selanjutnya, patrolinya itu dilakukan secara target. Ada target tertentu yang ingin dicapai, dalam rangka penegakan hukum. Namun terkait kenapa kasus begal itu tidak turun-turun, itu sangat tergantung pada wilayahnya. Tidak bisa dipukul rata. Turun-naiknya begal itu tidak bisa dipukul rata. Karena begal itu karena terjadi di wilayah-wilayah tertentu, sebarannya tidak merata. 

Termasuk juga penangannya. Penanganan begal itu tidak bisa diberikan kepada satu intansi saja. Misalnya begal yang sifatnya hanya menggangu keramaian, menganggu publik. Ada yang belum dikategorikan pidana, istilahnya hanya mengkhawatirkan. Itu kan banyak pihak yang terlibat di situ, pemda, sekolah  atau orangtua, bahkan polisi. Sperti di kepolisian, ada patroli atau sabara. 

Jadi kondisinya tergantung, tidak bisa disama ratakan. Kalau sudah terjadi tindak pidana, ini juga bermacam-macam. Kalau itu anak, ada penanganannya sendiri. Untuk pelaku begak anak-anak di bawah umur, itu tergantung jenis tindak pidananya. Ada tindak pidana ringan, kemudian bisa dicari jalan keluarnya. Kecuali tindak pidana berat. Kalau korbannya tidak bisa menerima, maka dilanjutkan saja ke proses pengadilan. 

Jadi tergantung kalau kita bicara begalnya masih anak-anak atau belum dewasa itu tidak bisa dipukul rata. Harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi si pelaku. Berbeda dengan pelaku begal dewasa. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Advokat, Pengamat Kepolisian

Aksi kejahatan jalanan yang marak akhir akhir ini sangat meresahkan masyarakat, aparat keamanan harus mampu mencegah tindakan brutal para begal dengan cara melakukan patroli rutin yang semakin intensif dan melakukan razia pada malam hari mulai dari kelengkapan surat-surat kendaraan bermotor, sajam, senpi dan narkoba. Dengan kata lain polisi harus lebih meningkatkan patroli dan razia. 

Untuk masyarakat diharapkan tidak memancing para pelaku kejahatan dengan tidak memakai perhiasan yang berlebihan. Ini merupakan salah satu langkah pencegahan bisa dilakukan dari diri para pihak yang berpotensi menjadi korban. Karena kita tahu seperti kalimat yang sering diucapkan, bahwa kejahatan itu terjadi bukan karena ada niat pelaku, tapi karena ada kesempatan.

Sementara untuk tindakan tegas tembak di tempat, saya tidak setuju dengan tindakan itu. Terkecuali para pelaku begal tersebut melakukan perlawanan kepada petugas atau berusaha melarikan diri, itupun penembakan dilakukan hanya untuk melumpuhkan, bukan untuk membunuh.

Kita tetap mendorong proses hukum kepada para pelaku begal, jadi biarkan proses hukum berjalan
 tetap kita kedepankan azas azas hukum Equality before the law and Presumption of Innocence(ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol             Dehumanisasi di Hari Kemanusiaan Internasional terhadap Masyarakat Papua