Bias Gender dalam Istilah Pelakor
berita
Humaniora

Sumber Foto : Pondok Tadabur  (gie/Watyutink.com)

10 March 2018 19:00
Di media konvensional maupun media sosial istilah pelakor kini sering dipakai. Pelakor adalah bahasa pergaulan sehari-hari untuk "perebut laki orang." Istilah ini ditujukan buat perempuan selingkuhan dari pria yang sudah beristri. Masalahnya, sebutan pelakor sangat bias gender. 

Dari istilah pelakor perempuan dianggap yang paling bersalah sebagai perusak rumah tangga. Perempuan dianggap perebut. Sesuatu yang sudah dimiliki secara sah--Dalam hal ini perkawinan yang disahkan agama dan negara--dirusak oleh si perempuan dengan cara merebut si suami dari istri yang sah. Pada titik itu hanya perempuan yang dipersalahkan sebagai orang ketiga. Padahal tentu saja kenyataannya tak begitu. 

Seperti ungkapan "butuh dua orang untuk berdansa", demikian pula sebuah hubungan perselingkuhan. Pada praktiknya, perempuan tak betul-betul hanya jadi pihak yang aktif di sini (baca: merebut) dan pria pasif (baca: direbut). Rasanya sulit diterima akal dalam hubungan perselingkuhan hanya ada satu pihak yang aktif. Perselingkuhan adalah hubungan konsensual. Mau sama mau. 

Lalu, kenapa muncul istilah "pelakor" seolah perempuan semata yang paling berperan?           

Khasanah bahasa kita sebetulnya punya istilah yang lebih netral: WIL (wanita intim lain) dan PIL (pria intim lain). Namun di sini persoalannya bukan semantik semata. Ada persoalan sosial dan budaya yang akut. Di tengah masyarakat yang patriarki, perselingkuhan adalah dosa besar bagi perempuan. Perempuan tak sepatutnya menunjukkan sikap memiliki pasangan lain secara tidak sah. Ini beda dengan pria. Pria seakan dibenarkan untuk punya pasangan di luar pasangan resminya. 

Di lain pihak, saat terjadi perselingkuhan, perempuan yang suaminya direbut perempuan lain juga ikut disalahkan. Kita kerap dengar alasan suami selingkuh karena "servis" istri kurang memuaskan. Lagi-lagi di sini si pria (suami) bukan yang bersalah. Perbuatannya tak setia pada pasangan sah malah dibenarkan karena istri sah tak memberi kepuasan.  

Pertanyaan besarnya, kenapa kita sampai jadi masyarakat yang hanya menyalahkan perempuan dalam sebuah hubungan perselingkuhan? Kenapa kita membiarkan pria lolos dari jerat rasa bersalah dari berlaku tak setia?

Yang ironis juga, seperti terekam di media, perempuan-perempuan yang pasangan resminya berselingkuh cenderung menyalahkan pihak perempuan alih-alih pria. Apa yang dialami Jennifer Dunn dilabrak anak perempuan pria selingkuhannya atau Bu Dendy melabrak Nylla Nilala jadi contoh teranyar. Contoh lain dialami Mulan Jameela. Instagram-nya dipenuhi cacian netizen perempuan yang mendakwanya merebut Ahmad dhani dari Maia Estianty. Kenapa perempuan menyalahkan perempuan? Apa ini pertanda perempuan telah termakan budaya patriarki yang ada? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pakar sosiolinguistik, peneliti di Institute of Culture, Discourse, and Communication & dosen di School of Language and Culture, Auckland University of Technology, Selandia Baru.

Suara dari Masyarakat

Setelah menguraikan pendapat saya pada sebuah media disiplin ilmiah tentang pelakor, saya mendapatkan beberapa tanggapan dan masukan. Beberapa masukan yang saya terima adalah pelakor digunakan pertama kali oleh wanita yang merasa sakit hati karena suaminya sudah direbut oleh wanita lain yang memang sudah mengetahui secara pasti bahwa sang lelaki sudah beristri. Kemudian, menurut sumber itu, istilah ini dipopulerkan oleh sebuah akun gosip di media sosial, Instagram. Di sisi lain, saya juga mendapatkan tanggapan dari seorang lelaki yang menyatakan perempuan lain tersebut sudah jelas mengetahui bahwa laki-laki tersebut sudah menikah namun tetap melakukan berbagai macam cara untuk “menjeratnya.” 

Lebih lanjut ia menekankan bahwa laki-laki tersebut innocent, dan setia, tetapi mereka masuk dalam perangkap dan terjerat. Beberapa pesan lain yang masuk adalah: Jika lelaki memang sudah tidak perlu disebutkan lagi (dalam peranannya dalam perselingkuhan). Kalimat ini saya baca sebagai salah bentuk kekerasan retorika bagi perempuan, dan menghilangkan peranan laki-laki dalam wacana perselingkuhan.  

Kali lain, beberapa pendapat datang dari beberapa wanita: Memang kedua belah pihak bersalah tetapi bagaimana pun tetap kesalahan terdapat pada perempuan. Lelaki sudah kodratnya tergoda pada perempuan. Perselingkuhan tidak akan terjadi jika pelakor menolak. 

Apa Maknanya bagi Kita?

Tanggapan tersebut sekali lagi mengingatkan kita bahwa pelakor memang istilah seksis yang menghilangkan peranan laki-laki dan sosial media memberikan banyak ruang dalam penyebarannya. Sebuah studi mengatakan Indonesia berada dalam lima besar pengguna media sosial di dunia. 
Artinya pertukaran arus informasi dari dan bagi orang Indonesia dalam banyak wacana terjadi sangat cepat. Setidaknya ini bisa kita lihat dari meluasnya penggunaan kata pelakor. Bisa jadi pelakor awalnya memang hanya milik seorang istri korban suami yang terlibat perselingkuhan, seperti yang diungkapkan salah satu kolega saya.

Namun dengan derasnya arus perpindahan informasi di media sosial, istilah ini kemudian menjadi milik banyak orang, yang sebenarnya berada di luar ranah pernikahan. Dalam hal ini, beberapa pemilik akun-akun di media sosial mempunyai peranan sangat besar dalam menyebarkan istilah bias gender ini. Laki-laki yang seharusnya ikut bertanggung jawab dalam perselingkuhan dihilangkan perannya, setidaknya dalam wacana dan narasi, yang kebanyakan tersebar di akun media sosial. Dan itu terjadi berulang-ulang, menyiratkan beberapa dari kita masih berada dalam rengkuhan patriakal yang meminggirkan perempuan. 

Hal lain, penggunaan istilah ini juga menyiratkan bahwa beberapa orang gemar sekali mencari pihak yang benar atau yang salah dalam sebuah perselingkuhan, yang seharusnya tidak menjadi urusan publik. Dengan banyaknya penggunaan kata pelakor akhir-akhir ini di sosial media menggambarkan beberapa masyarakat Indonesia memang cenderung mempunyai keinginan untuk memasuki ranah pribadi orang lain dan dengan persepsi timpang terhadap perempuan. 

Dengan kata lain, menjamurnya istilah pelakor di akun media sosial menunjukkan ada pergeseran masalah pribadi ke ruang publik. 

Masih Perlukah Pelabelan Itu?

Pertanyaan apakah diperlukan pelabelan untuk sang lelaki? Dalam tulisan lain, saya mengusulkan penggunaan letise untuk lelaki tidak setia, semata-mata agar ada perimbangan jika memang pelakor ingin tetap digunakan. Makna tersirat, dalam pandangan saya, seharusnya tidak ada lagi pelabelan baik untuk perempuan dan laki-laki apalagi dalam media yang terakses secara luas oleh publik, termasuk media sosial. 

Kemunculan pelabelan ini, dalam pemahaman saya, melambangkan betapa sebagian dari kita gemar sekali memberikan label bagi orang lain, yang juga (mungkin) menggambarkan kekerapan melakukan “peradilan di luar ranah (pribadi) kita.” Setidaknya hal itu tercermin dari pelabelan-pelabelan bias gender yang banyak kita lihat di berbagai media sosial belakangan ini.

Dengan kata lain, saya tidak menyarankan adanya kemunculan-kemunculan pelabelan lain. Juga, media seharusnya bisa lebih bertanggung jawab untuk tidak mempopulerkan dan menghentikan pelabelan seksis yang sangat judgemental ini. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis buku

Istilah pelakor atau perebut laki orang yang kerap dipakai baik dalam bahasa media maupun pergaulan sehari-hari memang tidak bisa dilepaskan dari konstruksi budaya dan nilai-nilai yang patriarkis.  Laki-laki selalu mendapat pemakluman dari masyarakat dalam konteks seksualitas, sebab sudah menjadi belief atau kepercayaan secara umum bahwa laki-laki memiliki dorongan seksual yang sangat tinggi. Maka timbul ungkapan seperti: "Ya namanya juga kucing, kan tidak mungkin menolak kalau disodori daging." 

Dalam hal ini laki-laki disamakan dengan binatang  yang tidak berakal budi, yang bertindak secara naluriah. Sementara perempuan dipandang sebagai pihak yang menyodor-nyodorkan diri ke hidung pria sehingga wajar saja bila langsung disambut.

Kita mendapatkan kesamaan antara sebutan pelakor dengan ungkapan kucing tadi. Laki-laki dipandang sebagai makhluk yang pasif sehingga bisa direbut begitu saja oleh sang perempuan. Citra laki-laki sebagai pihak yang kuat dan berkuasa tiba-tiba langsung berubah menjadi pihak yang lemah jika sudah terkait dengan urusan seksual. Ya namanya juga laki-laki  demikian kita dengar orang akan berucap, maka seluruh tanggung jawab lelaki terhadap kesalahan mereka pun hilang.

Laki-laki di Indonesia dengan satu atau lain cara sudah terbiasa untuk tidak bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan seksual mereka. Pola yang sama dapat kita lihat di semua kasus, mulai dari cat calling atau pelecehan di jalan, perkosaan juga perselingkuhan. Dalam kasus-kasus tersebut, masyarakat termasuk media selalu membuka peluang untuk memaafkan dan memaklumi lelaki. Bahwa mereka itu tidak jahat, tapi dipengaruhi oleh apapun gangguan di luar diri mereka seperti minuman keras, video porno, pakaian perempuan yang merangsang, dan sebagainya. Selalu ada satu atau lain cara bagi laki-laki untuk menyalahkan faktor di luar diri mereka.

Di sisi lain, perempuan yang secara umum dipandang sebagai makhluk lemah dan butuh perlindungan diposisikan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab, jika sudah terkait urusan relasi seksual. Perempuan yang harus mampu menjaga kesuciannya, perempuan yang harus menjaga diri, perempuan yang tidak layak menunjukkan hasrat seksual secara terbuka.

Perempuan (juga laki-laki) yang tumbuh dalam nilai-nilai masyarakat yang sangat patriarkis akan sangat sulit untuk membebaskan dirinya. Nilai-nilai yang patriarkis itu dilestarikan oleh berbagai institusi yang sudah mapan selama berabad-abad seperti keluarga, agama, negara. Laki-laki yang banyak mendapatkan keuntungan dalam sistem nilai yang patriarkis sulit berubah.

Sementara perempuan yang belajar --dengan satu atau lain cara-- bahwa  dunia ini adalah dunia laki-laki, mengadopsi pula sistem nilai patriarkis, karena kerap hanya itulah cara mereka bertahan hidup. Karena seluruh institusi mapan yang mereka ketahui telah memproduksi dan mereproduksi nilai-nilai patriarkis tersebut, maka perempuan pun menganggap begitulah kebenaran.
Maka perempuan pun ikut mereproduksi nilai-nilai patriarkis tersebut, termasuk menyalahkan dan menyerang perempuan lain sebagai perebut suami mereka—alih-alih menganggap bahwa suami mereka sepenuhnya bertanggung jawab pada pilihan-pilihan mereka sendiri.

Dalam kasus perselingkuhan yang merusak rumah tangga, pihak istri pun tidak luput dari serangan masyarakat yang kerap menuding mereka tidak mampu memberikan ‘servis memuaskan’ sehingga lelaki memilih ‘jajan di luar’. Akhirnya para istri pun cenderung menyalahkan perempuan lain, karena sistem nilai yang membentuk mereka sejak kecil telah membuat mereka berpikir bahwa laki-laki tidak berdaya mengendalikan dorongan seksual mereka.

Saya masih percaya bahwa media bertanggung jawab untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi perempuan dan laki-laki. Maka media mesti berada di baris terdepan untuk mulai menggunakan kata dan kalimat yang lebih adil, sebab bahasa menunjukkan cara berpikir, dan bahasa yang digunakan media berpeluang untuk membentuk cara pikir pembacanya. Media yang mesti mulai menampilkan pemberitaan yang lebih adil dan berhenti menggunakan kata-kata yang mengandung stigma dan diskriminasi terhadap perempuan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior, Pengamat Budaya

Harus kita pikirkan dahulu, istilah pelakor ini keluarnya dari mana. Setahu saya istilah itu awalnya dari sosial media. Dugaan saya, istilah "pelakor" munculnya dari perempuan juga. Kalau bicara apa istilah itu bias gender, dunia ini dari semula diciptakan memang bias gender. Misal, ketika manusia jatuh dalam dosa yang disalahkan pertama Hawa, bukan Adam.

Pandangan saya mungkin kurang populer, tapi istilah itu tidak mungkin datang dari lekaki. Karena pasti lahir dari perempuan. Jika begitu, berarti ada pertempuran di antara kalangan perempuan sendiri di sini. Ini sebetulnya drama antar-perempuan yang sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala, dari masyarakat masih tradisional. Di Jawa ada pergundikan, di Tiongkok ada selir (concubine). Di Eropa juga ada tradisi pergundikan yang luar biasa. Makanya ketika orang Belanda ke sini, dengan enteng saja mereka mengangkat gundik yang dinamakan nyai. Di Timur Tengah ada harem.  

Istilah pelakor itu istilah dari perempuan untuk menyerang perempuan. Karena istilah pelakor ini berangkat dari tradisi pergundikan, dalam kultur pergundikan rivalitas antar-perempuan luar biasa. Dramanya sama dengan yang terjadi di dunia kontemporer yang disatu pihak menyebut lawannya pelakor, pelaku perampasan lelakinya. Itu kan sama dengan bagaimana para gundik atau dayang-dayang bersaing memperebutkan entah raja, kaisar atau lelaki kaya. Lepas itu bias gender atau tidak.

Kenapa dalam konteks perselingkuhan, meskipun jelas itu konsensual, perempuan lebih cenderung menyalahkan pihak perempuan, bukan laki-laki? Kira-kira, menurut saya, meski kita hidup di zaman modern. Meski perempuan sekarang lebih modern dan beremansipasi dalam hidupnya, namun ternyata dalam beberapa hal mind set mereka (perempuan) belum berubah dalam hal memposisikan diri antara perempuan dan lelaki. Dalam mind set alam bawah sadar mereka, emansipasi itu boleh jadi belum benar-benar ada. Ketika yang disalahkan (dalam perselingkuhan) bukan lelaki, jangan-jangan perempuan merasa lelaki derajatnya lebih tinggi daripada perempuan memang ada?  

Contoh lain, di luar ada atau tidaknya dalil agama, ternyata banyak sekali perempuan yang bersedia dipoligami. Artinya, mereka dengan gampang menerima ideologi tertentu yang menempatkannya dalam posisi (di bawah) tadi. Jadi, istilah pelakor ini cuma bungkus atau cermin lain dari pemikiran yang sama. Gerakan feminisme yang didengung-dengungkan ini rupanya dalam beberapa hal tak mengubah alam bawah sadar perempuan. Contohnya istilah pelakor itu. (ade)   
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Direktur Eksekutif Lembaga untuk Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran (LETRAA)/Pemerhati Kebijakan Publik

Istilah "pelakor" ini menurut saya sebenarnya digulirkan oleh media dan pengguna sosmed, sehingga mengakibatkan pendistorsian terhadap masyarakat. Pemilihan bahasa yang dipergunakan memang lebih keren dan dianggap lebih gaul menurut umum namun di balik makna tersebut sangat bias gender, karena ada sebuah perlakuan diskriminatif dan kekerasan terhadap perempuan sebagai objek dalam sebuah kasus yang seharusnya bukan hanya menjadi tanggung jawabnya. 

Dalam hal ini, pelakor dianggap adalah pelaku yang dipersalahkan karena perebut suami orang, padahal para penilai perempuan sebagai pelakor hanya bermodal konstruksi sosial yang stereotype, menganggap bahwa pelakor genit, cantik, seksi, dan matre, yang berakhir pada penegasian terhadap kesalahan para laki-laki yang seharusnya juga mempertanggungjawabkan ini secara sosial.

Mengenai persoalan adanya fenomena masyarakat yang suka menghakimi masalah pribadi orang lain, dikarenakan tidak adanya bentuk penguatan terhadap nilai-nilai kebangsaan pada  perempuan, mereka lebih banyak disuguhi oleh tontonan dan bacaan media mapun sosmed yang sifatnya tidak mendidik dan merapuhkan bangunan karakter yang diidamkan oleh founding father dalam mewujudkan pribadi yang kuat untuk bangsa ini.

Persoalan di atas bukan hanya menjadi sebuah tanggung jawab personal dalam keluarga, tapi ini menjadi salah tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Berita-berita tentang rusaknya suatu hubungan (asmara) seringkali dikaitkan dengan hadirnya orang ketiga. Dari situlah muncul istilah "pelakor" atau perebut laki-laki orang. Istilah tersebut dilekatkan kepada perempuan yang dianggap telah melakukan hubungan dengan lelaki yang telah menjadi kekasih atau suami dari perempuan lain.

Perselingkuhan tidak selalu disebabkan karena pihak laki-laki yang kepincut perempuan lain, banyak juga yang sebaliknya; perempuan yang pindah ke lain hati. Perselingkuhan itu soal relasi, bukan hanya salah satu pihak, karena perselingkuhan melibatkan dua pihak yang aktif berhubungan. 

Dalam agama Islam sosok wanita mendapatkan tempat dan kehormatan yang tinggi. Karena itu juga wanita disejajarkan dengan laki-laki untuk memperoleh dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Bagaimana seharusnya sikap dan perilaku seorang wanita untuk menjaga kehormatan dan sekaligus menjalani hidupnya.

Terhadap suatu hubungan, diharapkan kedua pihak untuk saling menjaga dan menyayangi serta menghormati baik hubungan sendiri maupun terhadap hubungan orang lain.

Wanita kemudian dilekatkan pada sifat-sifat feminin; lemah lembut, emosional, lemah, sensitif, pemalu dan seterusnya sementara laki-laki sebaliknya diwajibkan untuk mengikuti nilai-nilai maskulin; kuat, tegas, pekerja keras, agresif.

Di dalam hubungan pernikahan, hak seorang wanita adalah untuk menyetujui pinangan/pernikahan, sedangkan hak seorang laki-laki adalah untuk mentalak/menceraikan. 

Sifat dasar di dunia ini adalah ketidak-sempurnaan. Sehingga jika mencari pasangan yang sempurna di muka bumi ini, maka tidak akan dapat ditemukan.

Dalam perselingkuhan, seringkali yang dipersalahkan adalah seorang wanita. Dalam hubungan seorang wanita dan laki-laki (suami orang lain), bilamana seorang wanita tidak mau dengan laki-laki tersebut maka tidak akan terjadi perselingkuhan. Karena pada dasarnya jika seorang laki-laki tertarik dengan seorang wanita, ia akan berusaha mendekati wanita tersebut. Karenanya bilamana wanita telah mengetahui bahwa laki-laki tersebut sudah beristri, seyogya ia yang akan menjauhi laki-laki tersebut sehingga tidak akan terjadi perselingkuhan atau wanita tersebut disebut sebagai Pelakor.

Itulah yang dikatakan dalam Islam hak seorang wanita untuk menikah, maka pernikahan tidak terjadi. Demikian juga pernikahan dengan suami orang.

Sering dijumpai juga dalam kehidupan, laki-laki memiliki istri lebih dari satu, atau punya pacar yang banyak, tetapi dia tidak menceraikan istri pertamanya. Karena ia tidak menggunakan haknya sebagai suami yang berhak menalak seorang istri.

Sehingga wanita-wanita Indonesia di masa mendatang berani menyatakan tidak mau menikah dengan suami orang, sehingga kita tidak lagi mendengar istilah “Pelakor”. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri