Catalonia Merdeka, Apa Jadinya Bila Liga Spanyol Tanpa FC Barcelona?
berita
Humaniora

Sumber Foto: weloba.com

05 October 2017 19:00
The people have spoken. Rakyat Catalonia telah menyuarakan pendapatnya. Hasil referendum Ahad (1/10) kemarin menunjukkan 90 persen ingin berpisah dari Spanyol. Pemerintah daerah Catalonia menyebut sekitar 2,26 juta orang atau 42,3 persen menggunakan hak pilihnya. Dari jumlah itu 2,02 juta memilih mendukung kemerdekaan.  

Meski pemerintah pusat tak pernah mengakui referendum Catalonia, sebuah pertanyaan langsung menyeruak: bagaimana nasib FC Barcelona dan tim lainnya di La Liga pasca-referendum? Tim FC Barcelona, bersama Espanyol dan Girona, berada di wilayah Catalan. Maka masuk akal kemudian jika kita bertanya tentang tim ini dan nasib persepakbolaan Spanyol.  

Sesuai motonya, "lebih dari sekadar klub", Barca, sebutan akrabnya, tumbuh lebih dari sekadar klub sepakbola bagi rakyat Catalan. Politik seakan tak pernah bisa dipisahkan dari klub yang memiliki Lionel Messi ini. Markas Barca, stadion Camp Nou, jadi tempat rakyat menyuarakan ekspresi politik. Stadion yang dapat menampung 100 ribu orang itu sering jadi lokasi kampanye kemerdekaan. Penggemar Barca kerap juga mengibarkan bendera Catalonia merah kuning saat Barca berlaga. Bahkan, laga antara Barca dan Real Madrid dimaknai tak sekadar dua musuh bebuyutan bertemu, namun juga representasi Catalan versus pemerintah pusat Spanyol.  

Presiden La Liga Javier Tebas mengatakan, jika Catalan merdeka, Barca tak bisa berlaga di liga Spanyol. Nah, menjadi pertanyaan kini, masihkah kita akan menyebut laga El Clasico bila salah satu musuh bebuyutan tak ikut berlaga lagi. Lalu, apa menariknya La Liga tanpa Barca? Bukankah kompetisi jadi menarik ketika ada persaingan di antara tim-tim tangguh? 

Potensi kehilangan Barca berarti pula potensi kehilangan pendapatan yang masif. Bersama Real Madrid, Barca adalah tim sepakbola paling kaya di dunia. Tahun 2014, laman Forbes menyebut Real Madrid bernilai 3,44 miliar dolar AS sedangkan Barca bernilai 3,2 miliar dolar AS. Bila ditotal, dua tim ini memiliki 200 juta lebih fans di Facebook. Saban laga El Clasico ditonton ratusan juta pasang mata. Bayangkan potensi uang yang hilang, tak hanya dari tiket penonton tapi juga dari hak siar TV. Siapkah La Liga menghadapi konsekuensi ini?

Telah banyak preseden tim sepakbola berlaga di luar wilayah negerinya. AS Monaco bermain di Liga Prancis, di Liga Inggris ada klub dari Wales, dan di La Liga sendiri ada FC Andorra dari Andorra. Artinya, Barca bisa bermain di liga tetangga seperti Prancis, Italia, atau Inggris. Namun, inikah solusi terbaik bagi Barca? Bagaimana dengan kemungkinan membuat liga sendiri antar tim Catalan? Jika opsi terakhir yang dipilih, apakah bakal terjadi persaingan seimbang antara tim papan atas kaya raya melawan tim-tim papan bawah kelas kabupaten? 

Yang jelas, apa yang kita saksikan hari-hari ini di Spanyol membuat penggemar sepakbola berharap-harap cemas. Kita dari negeri nun jauh tentu masih ingin menyaksikan laga El Clasico terus. Namun rakyat Catalan telah bersuara. Kita hanya bisa bertanya: apa olahraga tak bisa dipisahkan dari politik?

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Persahabatan yang tulus, persaingan yang jujur, dan prestasi yang diraih dengan cara terhormat sebagai semangat dasar dalam olahraga mestinya terbebas dari kepentingan lain, apalagi politik dan kekuasaan. Tapi, fakta sejarah menunjukkan, kutub olahraga dan kepentingan lain itu justru kerap dibenturkan.

Ironisnya, usia pengingkaran terjadi setara dengan kelahiran olahraga itu sendiri. Olahraga dalam berbagai sisi kemurniannya kerap dijadikan alat propaganda politik. Di level Olimpiade memuncak pada 1980 dan 1984, ketika AS mewakili Blok Barat berbalas boikot dengan Uni Soviet mewakili Blok Timur.

Kini, olahraga kembali terseret referendum Catalan. Sorotan terbesar mengarah ke eksistensi klub elite Barcelona, kompetisi kasta tertinggi La Liga, dan timnas Spanyol. Jika ekistensi ketiganya dimentahkan dengan pemisahan diri Catalan dari Spanyol dalam spektrum politik, La Liga dan La Furia Roja merugi.

Seperti kompetisi reguler di negara lain, nilai tinggi La Liga ditentukan klub, bukan federasi atau operatornya. Apa jadinya Premier League Inggris tanpa Manchester United, Arsenal, Liverpool? Apa jadinya Serie A Italia tanpa AC Milan, Juventus, AS Roma? Apa jadinya La Liga tanpa Barcelona?

Dengan seabrek aset dan brand value-nya, Barcelona punya posisi tawar tinggi. Blaugrana bisa hijrah ke Premier League atau Ligue-1 Prancis jika tak dibolehkan lagi berkiprah di La Liga. Banyak faktor vital ikut terangkut. Larangan Presiden La Liga Javier Tebas terhadap Blaugrana emosional dan prematur.

La Liga kehilangan magnet El Clasico, kekuatan timnas Spanyol pun tergerus. Belum lagi cabang olahraga lain. Jadi, mestinya, semangat dasar olahraga yang sudah membuahkan potensi hebat tak perlu dirusak sendiri dengan sadar hanya karena ego politik dan kekuasaan. Itu setback yang meruntuhkan. (ade)   

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Sepakbola

Banyak kasus yang menunjukkan sepak bola tak bisa dilepaskan dari politik. Begitu juga sebaliknya. Hal itu juga akan terjadi pada Barcelona. Jika saja rakyat Catalonia resmi berpisah dari Spanyol, maka Barcelona akan menghadapi masalah yang pelik.

Dalam kasus Barca, tak ada yang mudah seperti halnya memilih pasangan hidup. Semuanya harus jelas. Hitung-hitungan di atas kertas, bisa saja Barcelona pindah ke liga lain seperti halnya yang terjadi di Ligue 1 atau Premier League. Dua kompetisi itu ‘disusupi’ kontestan dari negara lain.

Akan tetapi bukan itu persoalannya. Barcelona adalah Barcelona, salah satu tim terbaik dunia. Mereka juga tim kaya raya. Jika saja berpisah dengan Divisi Primera la Liga, dipastikan bobot kompetisi strata atas Spanyol itu akan turun drastis. Tingkat kemenarikannya akan berkurang jauh.

Praktis, Madrid akan melenggang sendirian. Tak ada lagi klub yang berada selevel dengan Madrid. Kelas tim tenar seperti Atletico Madrid, Valencia, Sevilla kadang mengejutkan. Tapi soal konsistensi, mereka jauh di bawah Madrid.

Idem ditto kasusnya dengan Barca jika saja bergabung di kompetisi internal Catalonia yang baru. Barca terlalu tinggi kelasnya. Tak ada tim-tim lain di Catalonia yang levelnya sama dengan El Barca. Tak hanya itu, jika itu terjadi, alamat Barca akan kehilangan tajinya. Belum tentu pemain-pemain seperti Lionel Messi, Ivan Rakitic, Luis Suarez, Javier Mascherano, mau bermain di liga baru.

Sekali lagi, kasus Barca memang pelik. Sekarang tinggal orientasinya, mau mempertahankan idealisme sebagai negara baru dan kompetisi yang baru pula, atau mempertahankan pada hegemoni sebagai tim elite dunia. Masing-masing ada harga mahal yang pantas dibayar. (ast)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar