Dari Anak Langit ke Dunia Terbalik, Sinetron Kita Tidak Bhinneka
berita
Humaniora
Sumber Foto : rebanas,com (gie/watyuting.com) 28 April 2018 13:00
Jika ada yang bertanya apa penyebab masyarakat kita saat ini merasa nyaman hidup hanya di lingkungan homogen, antipati pada sang liyan, menafikan heterogenitas dan menolak mereka yang berpaham tak sama, jawabannya mungkin terdapat di kotak ajaib bernama televisi. Wabil khusus lagi tayangan sinetron kita.

Cobalah sesekali luangkan waktu nonton sinetron di TV nasional. Dari pagi sampai petang Anda disuguhi tontonan seragam, kisah azab istri/suami yang durhaka, mertua materialistis, atau kisah cinta orang kaya dari kota ketemu orang desa.

Dari menjelang magrib, memasuki jam tayang utama (primetime), tema sinetronnya beda. Ada cerita cinta remaja lewat Anak Langit dan Siapa Takut Jatuh Cinta (STJC) yang jadi unggulan SCTV. Sedangkan RCTI mengandalkan sinetron Dunia Terbalik yang berlatar sebuah kampung yang mayoritas perempuannya jadi TKI. Laki-lakinya mengurus rumah dan anak-anak. Sebuah dunia yang terbalik. 

Di Anak Langit dan STJC yang dijual adalah mimpi. Pemerannya remaja-remaja tampan dan cantik. Berkulit putih, berhidung bangir. Sempurna fisiknya. Mereka rata-rata super kaya, tanpa pernah kelihatan bekerja. Jarang sekali sinetron ini menampilkan kehidupan kalangan kelas bawah. Setiap individu nyaman hidup di lingkungan pertemanan sepadan. Sama-sama kaya, sama-sama kece.

 

Tengok pula Dunia Terbalik. Latarnya kampung Sunda bernama Ciraos namun tak ada yang bicara bahasa Sunda di sana. Hanya logat saja yang tersisa. Meski mengangkat kehidupan masyarakat kelas bawah, sinetron ini bukan tanpa masalah. Desa Ciraos tak menggambarkan mikrokosmos Indonesia. Semua penduduk desa Muslim. Tidak ada warga dari etnis maupun agama lain. Maka, tidak ada penggambaran toleransi pada mereka yang berbeda suku atau agama. Saat hari besar keagamaan di luar Islam, sinetronnya bersih dari mengangkat tema itu. Seakan negeri ini hanya dihuni penduduk dari etnis dan agama yang sama. 

Sinetron kita dulu tak homogen. Kita masih ingat Si Doel Anak Sekolahan, misalnya, meski latarnya kehidupan Betawi pinggiran, tak semua individu di sana orang Betawi. Ada Basuki, Nunung yang Jawa dan koh Ahong yang Tionghoa. Pun Keluarga Cemara bikinan Arswendo Atmowiloto menggambarkan masyarakat dari berbagai strata sosial dan etnis. 

Kita lalu bertanya, kenapa kini yang ditawarkan homogenitas? Bukankah kemajemukan adalah sifat dasar bangsa kita? 

Sejak dahulu Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa dan agama. Semboyan di lambang negara kita pun berbunyi "Bhinneka Tunggal Ika", berbeda tetapi satu jua. Lantas, kenapa sinetron--tayangan paling banyak ditonton--tak mencerminkan kebhinnekaan tersebut? 

Aneh, sinetron-sinetron yang tak bhinneka dibiarkan tayang terus. Kalaupun kena sanksi KPI, hanya menyentuh konten per episode. Apa tidak ada reward and punishment untuk mempromosikan tayangan yang merayakan kemajemukan?

Apa tayangan yang majemuk tak berpotensi meraih rating? Bukankah Si Doel dulu merajai rating? Kenapa tak dicoba lagi? Sudah matikah kreativitas insan TV kita? Apa benar masyarakat kita hanya suka yang serba seragam?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan, Menulis perkembangan sinetron tanah air di sebuah tabloid hiburan

Semua sinetron top rating saat ini dikuasai 2 PH (production house, rumah produksi) yakni Sinemart (SCTV) dan MNC Pictures (RCTI). Sinemart mengandalkan Siapa Takut Jatuh Cinta, Anak Langit, dan Orang Ketiga. Sedang MNC Pictures dengan Tukang Ojek Pengkolan, Dunia Terbalik, dan Ada Dua Cinta. Semua karakter di semua sinetron tersebut beragama Islam. Termasuk pemain-pemain non-Muslim yang harus memainkan karakter beragama Islam.

Hiro yang diperankan Stefan William di Anak Langit misalnya, dia diceritakan taat beribadah. Saya melihat ini salah satu cara produser merebut kue rating dari kota-kota yang diambil datanya oleh Nielsen yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Seperti Makassar, Surabaya, Palembang, Jakarta, Bandung, dan lainnya. Namanya juga bisnis, dengan karakter beragama Islam tentu diharapkan dapat mengikat penonton yang mayoritas Muslim tersebut. 

Sulit rasanya menyelipkan nilai-nilai kemajemukan di sinetron. Kalaupun ada, hanya pemanis atau ala kadarnya. Seperti memperingati Natal sengaja dimunculkan karakter baru yang merayakan Natal. Atau TV menayangkan sebuah serial lepas atau sinetron pendek untuk menyambut hari raya keagamaan tertentu. Saya ingat tahun 2007 RCTI pernah menyajikan sinetron Sentuh Hatiku yang dibintangi Eva Celia dan Jessica Mila. Sayang, kurang direspons penonton. Ini mungkin yang membuat produser berpikir untuk tidak memasukkan nilai-nilai kemajemukan. Lagi-lagi karena rating. 

Fenomena seperti itu terjadi sejak lama. Seorang pemain non-Muslim dikondisikan berhijab atau menjalankan salat atau membaca Alquran. Menurut saya ini bagian dari pemaksaan. Atas nama profesionalitas sang pemain rela melakukan. 

Pernah saya wawancara seorang bintang sinetron non-Muslim yang dulu dikenal lewat jargon "burket". Di satu sinetron dia diharuskan berhijab. Gerah awalnya kata dia tapi lama kelamaan menikmati. Tapi apa kemudian dia pindah keyakinan? Tidak! Ia hingga kini tetap istikamah pada keyakinannya.

Saat ini industri televisi menurut saya hanya mementingkan rating, rating, dan rating, tanpa ada keinginan untuk mencerdaskan masyarakat. Padahal masyarakat berhak memperoleh informasi yang tidak hanya menghibur dan mendidik tapi di dalamnya terdapat nilai-nilai kemajemukan dan budaya Indonesia. KPI sendiri selama ini yang saya tahu tidak tegas dalam menindak stasiun televisi yang melakukan pelanggaran. 

Tidak pernah sepertinya KPI dalam beberapa pelanggaran mempidanakan pihak stasiun televisi. Lagi-lagi hal ini disebabkan adanya kepentingan antara pihak stasiun televisi, pihak rumah produksi, dan pihak pengiklan. Padahal aturan mainnya sudah diatur dengan jelas dalam Undang-undang Penyiaran yang di dalamnya terdapat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.

Rating masih menjadi "Tuhan"-nya televisi. Rating pula yang bisa menarik pengiklan masuk, yang berarti datangnya pemasukan. Tayangan majemuk sendiri sebenarnya menurut pendapat saya berpotensi meraih rating bagus, tergantung pengemasannya. Kalau dibikin menghibur, ringan, dan tidak kaku seperti Si Doel bisa jadi menyodok Anak Langit, Siapa Takut Jatuh Cinta, dan Dunia Terbalik di daftar peringkat perolehan rating televisi. 

Saya ingat betul di Si Doel kemajemukan dipertontonkan dengan jelas. Ada Betawi, ada Jawa, ada Tiongkok, ada Arab, dan lainnya. Namun kembali lagi ke produser, berani tidak? Apa ada yang nonton? Apalagi di televisi sepertinya ada kebijakan, dalam berapa hari performa rating biasa-biasa saja, tayangan bakal "ditendang". Ini dialami sebuah PH di awal-awal gabung stasiun televisi yang bermarkas di Senayan. Bahkan ada yang baru dalam hitungan hari tayang, diempas cantik. Hus, hus, hus. 

Saat ini tren sinetron kembali ke genre drama keluarga, setelah dua tahun dikuasai remaja. Selera bisa dibentuk. Formulanya, satu sinetron duduk di puncak rating, rumah produksi yang lain bakal mengekor membuat sinetron yang sama persis. Gagal atau tidak urusan belakangan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Sastrawan, budayawan.

Di industri televisi hukumnya supply and demand. Tayangan diproduksi karena ada permintaan. Demand yang ada saat ini jenis tayangan seperti itu (homogen). Karena audiens yang ingin tayangan bermutu, yang kritis, yang cerdas sudah meninggalkan televisi. Siapa sih yang masih nonton TV? Untuk kalangan menengah perkotaan, mereka sudah meninggalkan televisi.

Yang tersisa, yang masih nonton TV, adalah audiens yang punya kecenderungan homogen. Nah, hari-hari ini, demand yang ada pada produsen yang menginginkan tema-tema homogen itu. Itu pun tema-tema keislaman yang diangkat normatif, sebenarnya. Misal, sinetron harus ada "Alhamdulillah", "Subhanallah", doa-doanya. 

Penonton TV saat ini homogen, Islam perkotaan yang skripturalis. Yang tidak menginginkan warna baru yang melihat Islam lebih moderat. Misal, di Ramadan nanti, ustaz-ustaznya hanya bicara ayat-ayat yang normatif saja. Bukan ayat yang mengidentifikasi kita hidup bermasyarakat, majemuk, saling menghargai dan rahmatan lil alamin.

Apa kita bisa berharap dari KPI? Bila diperhatikan, sebuah tayangan baru ditegur KPI bila ada pelaporan dan keresahan di masyarakat. KPI bertindak post-factum. Setelah ada yang mengadu baru beri sanksi. Jadi tak pernah ada upaya yang mencegah tayangan-tayangan (homogen) seperti itu. 

Seharusnya pemerintah, lewat Kominfo membuat regulasi untuk setiap sekian tayangan TV, harus ada satu-dua yang punya pesan toleransi, kemajemukan, inklusivitas. Tayangan yang menyampaikan pesan-pesan pancasila. 

Yang ada kini, bagi stasiun TV, frekuensi yang sebetulnya milik publik dipakai untuk mengumpulkan penonton sebanyak-banyaknya, rating tinggi dan dijual ke pemasang iklan. Yang selalu mempermasalahkan mereka (stasiun TV) menggunakan frekuensi publik kan kita. Mereka sih santai saja.

Buat saya, sebetulnya TV saat ini telah banyak yang meninggalkan penonton. Orang yang berpindah ke medsos nonton sinetronnya. Saya pernah menulis, dramaturgi sinetron kita telah pindah ke sana. Di medsos orang saling benci, saling perang wacana seperti di sinetron. Ini yang harus diwaspadai sebetulnya.

Generasi milenial dan Z kini dibentuk dan dipengaruhi oleh Youtube mentalnya. Bukan sinetron. Mereka yang masih nonton sinetron di TV adalah generasi tua yang kian berkarat dengan homogenitasnya. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri