Dari Tawuran ke Gladiator
berita
Humaniora

Sumber Foto: Kompas.com

 

01 October 2017 10:00
Penulis
Kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di sekolah belum mereda. Dari tindakan bullying psikologis hingga fisik yang berakibat kematian, seperti dialami Hilarius Christian Event Raharjo. Siswa SMA di Bogor itu tewas setelah dipaksa berkelahi di ajang ‘gladiator’ yang direkam teman-temannya di sekolah pada 2015. Ini seperti pergeseran tren dari kegiatan kekerasan pelajar sebelumnya, yakni tawuran.

Bahkan kekerasan fisik dan seksual dialami bocah SD di Kudus, Jawa Tengah. Sekolah melalaikan tugasnya dalam melindungi anak didiknya, yang seharusnya jadi tumpuan anak-anak untuk belajar ilmu pengetahuan, mengembangkan prestasi akademik, potensi diri, tata krama, atau budi pekerti serta aspek penting lainnya.

Mengapa sekolah menjadi “momok” bagi siswa yang lemah fisik? Padahal UUD 1945 secara eksplisit memberikan perhatian besar kepada dunia pendidikan.  Pasal 31 ayat (1) menegaskan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Bagaimana peran para guru meredam kekerasan di sekolah? Padahal sanksi bagi pelaku kekerasan sangat berat yakni dikeluarkan dari sekolah. Toh, tidak memutus rantai kekerasan itu. Kenapa kekerasan di sekolah terus berulang?

Teknologi digital selalu dituduh sebagai pemicu kemalasan anak-anak belajar hingga gadget freak. Benarkah gadget berpengaruh meningkatkan kekerasan di sekolah? Terutama video game online seperti World of Warcraft, Grand Theft Auto, dan lainnya. Tahun 2016, KPAI merekomendasikan pemblokiran 15 game online yang dianggap membahayakan anak-anak. Apakah itu solusi?

Di sisi lain, mindset orangtua yang terkategori generasi X pada teknologi dan literasi digital minus. Mereka tidak menguasai literasi digital, apalagi mengajarkan cara berpikir teknologi, dari konsumsi menjadi produksi. Padahal anak-anak dapat diarahkan membuat aplikasi atau game kreatif dengan imajinasi mereka.

Betapa tidak adilnya bagi anak-anak. Orangtua ketat mengawasi dan melarang, tapi mereka tak kalah gadget freak, sebatas narsis memainkan media sosial. Sedangkan anak-anak generasi milenial di abad 21 memiliki kecepatan beradaptasi pada teknologi digital. Sekolah belum mampu mengajarkan teknologi sebagai ilmu pengetahuan dan inovasi. Mengapa sekolah tak sanggup mengejar derap teknologi? Sehingga kemampuan anak-anak sebatas sebagai users, cuma dapat menonton video kekerasan.

Sedangkan konstitusi memberikan atensi besar terhadap perlindungan anak dari tindak kekerasan. Pasal 28 B ayat 2 berbunyi, “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Siapa yang layak disalahkan, mindset anak-anak, orangtua, atau sekolah yang keliru? Bukankah anak-anak dapat diajarkan belajar coding untuk memproduksi game atau vlog kreatif.

Bagaimana pendapat Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pendiri Coding Indonesia

Gadget itu jembatan abad 21. Nah, anak-anak punya jembatan yang direct, jaraknya pendek. Generasi X punya jalan kesitu, tapi jauh di bawah otak anak-anak itu. Hardware kita tidak sampai. Otak anak-anak ini Processor Intel Core i9, sedang kita Pentium 2 Processor.

Anak-anak lahir dengan kecanggihan visual dan akses internet cepat. Beda anak-anak zaman dulu. Itu bukan sesuatu yang bisa dibandingkan, jangan gunakan nilai “benar” atau “salah”. Nah, bayangkan anak-anak harus menyerahkan keputusan besar pada orangtua yang kemampuannya terbatas.

Ada yang salah di dunia ini. Saya menyebut sebagai ketidakadilan bagi anak-anak. Mereka seharusnya mendapatkan materi, gizi, dan substansi teknologi yang sesuai. Masalahnya, orangtua tidak mampu, cenderung melihat game dengan pesimis. Padahal teknologi itu keniscayaan, tidak bisa dihindari. Orangtua yang berusaha menghalangi dan mengatur ketat penggunaan gadget sama dengan menihilkan hak anak-anak.

Mereka lebih cerdas gunakan gadget, memahami bagaimana komputer bekerja, familiar dengan produk berbentuk visual dan kreatif. Kita masih setengah mati untuk memahami. Kalau orangtua menyadari itu, mereka memberi sesuatu yang subtansial dengan zaman. Tak cuma mengadili plus-minusnya saja, tapi membekali anak-anak dengan teknologi yang sesuai zamannya.

Nah, mindset orangtua harus diubah, tidak perlu takut game itu negatif. Game menempatkan mereka dari sisi konsumsi (users). Itu nggak apa-apa. Tapi mengubah mindset dari consumer jadi producer itu belum ada yang mampu. Orangtua/Gen X seperti kita nggak mampu, guru dan lingkungan nggak mampu. Orangtua bilang, “beli ipad/tablet” tapi lupa barang itu harus dipahami sifatnya, coba baca buku manualnya. Bagaimana mengenalkan literasi digital pada anak-anak. Punya tablet/ipad, tapi literasi digital nggak diajarkan. Karena orangtua nggak memahami literasi digital.

Beritagar.id menulis, lebih 50 persen anak-anak mengakses internet untuk game. Terus itu negatif? Coba tanya orangtuanya mengakses apa? Kalau mengakses Detik.com ya mohon maaf, gimana anaknya paham teknologi. Pengetahuan literasi digital itu lebih penting untuk orangtua dan guru, kapan mereka familiar dengan produk teknologi. Anak-anak nggak usah diajari, mereka bisa sendiri dan cepat beradaptasi dengan teknologi. Orangtua dan guru merupakan yang menciptakan lingkungan mereka. Kebayang nggak, kalau orangtua gunakan smartphone untuk narsis. Seolah facebook dibuat untuk orangtua mereka. Di Amerika saja tidak begitu-begitu amat.

Di sana kesadaran nilai-nilai diterapkan dan lainnya. Saya nggak mau bilang disana lebih baik tapi internet adalah produk abad 21 yang membutuhkan literasi sebagai backbone-nya. Ketika internet datang ke Indonesia, unsur literasi itu belum cukup, jadilah seperti sekarang. Baca buku aja nggak, gimana bisa mengerti internet.

Tahu-tahu KPAI memblokir. Internet adalah kebutuhan di zaman mereka. Itu sangat tidak adil bagi anak-anak tidak bisa mengakses. Itu gila, gak bisa. Jadi kita seperti salah zaman. Orangtua sadar hidup di zaman ini, yang perlu dilakukan mengubah mindset anak-anak dari sekedar consuming jadi producing. Orangtua  terbatas dalam teknologi, sekolah mengajarkan cuma Microsoft Office. Guru tidak mengajarkan bagaimana berpikir komputer dan berpikir komputasi. Nah, komputasi sangat menekankan matematis dan logis, anak diajarkan untuk runtut berpikir.

Ada kegagalan berpikir logis dan tercermin dalam menyikapi anak di abad 21. Anak-anak ini akan dibekali apa nantinya? Kalau sekarang ketakutan, kita tidak bisa menguasai hidup mereka seluruhnya. Parahnya, para intelektual dan lainnya menyalahkan teknologi. Kasus itu terjadi ketika saya mengenalkan Coding pertama kali ke sekolah, saya diomeli, “gimana neh teknologi...’’ intinya teknologi merusak kenyamanan hubungan murid dan guru yang telah terbangun. Orangtua harus berubah mindset-nya, memperbaiki metodenya. Kalau tidak, masyarakat, orangtua dan guru akan dilibas zaman. Coba ubah mindset dari producing ke consuming. Kita tak bisa menutup mata hidup di abad 21. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Selama ini cara menangani kekerasan di sekolah seperti memadamkan api, tetapi tidak berangkat dari akar permasalahannya, sehingga kekerasan di sekolah tidak pernah berhenti bahkan semakin masif dan mengerikan.

Plan Indonesia merilis hasil penelitiannya tahun 2014 yang menemukan fakta bahwa 7 dari 10 anak Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah, dan 34 persen korban tidak pernah melaporkan kepada orang dewasa, baik di sekolah maupun di rumah.

Oleh karena itu, penanganannya butuh sinergi seluruh stakeholder pendidikan, mulai dari kepala sekolah, karyawan TU, guru, siswa, orangtua, Komite Sekolah, dan Dinas Pendidikan.

Perlu persepsi yang sama dari seluruh stakeholder untuk membangun Sekolah Ramah Anak (SRA). SRA tidak hanya gedung fisik yang aman dan kantin yang sehat, namun juga harus mewujudkan zona aman dan nyaman bagi anak. Aman dan nyaman itu, di antaranya, sekolah harus zero perundungan atau kekerasan dalam segala bentuk, baik kekerasan verbal, kekerasan psikis, kekerasan fisik, dan kekerasan financial

Adapun langkah yang dapat dilakukan sekolah untuk zero kekerasan adalah:

(1) Membangun sistem pengaduan yang melindungi korban dan saksi, misalnya dengan barang bukti berupa rekaman cctv.

(2) Mengadakan kelas-kelas parenting, yang tidak hanya bicara nilai anak tetapi juga pemahaman tentang bahayanya bullying bagi tumbuh kembang jiwa dan otak seorang anak. 

(3) Mengupayakan adanya rehabilitasi atau pemulihan bagi korban kekerasan untuk menghindari korban menjadi pelaku ketika sudah jadi siswa senior. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)