Di Angkutan Umum, Jalanan hingga Rumah Sakit, Kenapa Pelecehan Seks Terus Terjadi? 
berita
Humaniora

Dok. Youtube

29 January 2018 16:15
Video itu bikin miris siapa saja yang melihatnya. Seorang wanita yang terduduk lemas dengan selang infus di tangan, terisak berkata, "Kamu ngaku dulu, kamu remas payudara saya kan? Dua atau tiga kali?"  

Yang dituduhnya seorang pria berpakaian perawat, tertunduk. "Kamu ngaku dulu apa yang kamu perbuat. Kamu ngaku dulu!" ucap si wanita, sambil terus menangis.  

Si pria akhirnya mengaku. "Memang saya khilaf," ucapnya. Ia kemudian menjabat tangan pasien wanita tersebut sambil meminta maaf. Dia juga menyalami sejumlah orang yang ada di ruangan itu.

BACA JUGA: Jaringan Pedofilia Global Di Video Mesum Bocah Dengan Wanita Dewasa

Video itu viral pekan kemarin. Kejadiannya di rumah sakit National Hospital Surabaya, Jawa Timur. Pelakunya perawat RS tersebut berinisial J. Korbannya berinisial W, 32 tahun, istri pengacara Yudi Wibowo Sukinto yang menangani kasus Jessica Wongso. Sang perawat mesum lantas dipecat dan dilaporkan ke polisi oleh suami korban. 

Hanya sepekan sebelum video perawat mesum viral, yang jadi pemberitaan ramai adalah pelecehan seksual oleh seorang pria di Jalan Kuningan Datuk, Beji, Depok, dengan korbannya, AM. Sambil mengendarai motornya, pria berinisial IH meremas payudara perempuan di tengah jalan. Aksinya terekam CCTV. Ia lalu ditangkap polisi. 

Pelecehan seksual di tempat umum telah sering kita dengar. Angkutan massal seperti busway, KRL Commuter Line atau angkot kerap jadi tempat para predator berotak mesum beraksi. Apa yang terjadi di sebuah RS di Surabaya atau di jalanan di Depok, tak lebih puncak gunung es. Pertanyaannya lalu, kenapa pelecehan di tempat umum terus terjadi? Apa yang membuat seorang pria mengumbar perilaku bejat macam begitu? Apakah ada kelainan seksual atau kejiwaan lain yang diidap si otak mesum tersebut? 

BACA JUGA: Agar Fans Tak Ikut Bunuh Diri Seperti Jonghyun SHINee

Pada tingkat ekstrim, pelecehan seksual berkembang menjadi tindak kriminal yang lebih berat lagi seperti perkosaan beramai-ramai yang terjadi di sejumlah daerah. Kita tahu pula usia pelaku bervariasi, bahkan da yang masih belum cukup umur. Di sini kita wajib bertanya, apa yang salah dengan pola pendidikan dan pola asuh pelaku pelecehan seksual? 

Seiring perkembangan teknologi video dan media sosial, pelaku pelecehan seksual kerap dipermalukan ke publik lewat video-video yang jadi viral. Tapi di saat bersamaan peristiwa pelecehan seksual juga terus terjadi. Apakah hukuman bagi pelaku ini terlalu ringan hingga tak meninggalkan efek jera? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komnas Perempuan

Pelecehan seksual atau kekerasan seksual terhadap perempuan yang marak terjadi dan ramai diberitakan saat ini sebetulnya sebuah fenomena gunung es saja. Jika kini pemberitaan soal ini ramai, artinya kesadaran media mulai tinggi.  

Kasus pelecehan atau kekerasan seksual terjadi akibat perempuan masih seringkali dianggap warga kelas dua dan bisa diperlakukan kasar, bisa dilecehkan, bisa di-bully dan seterusnya. Begitu sebaliknya. Laki-laki dianggap wajar berlaku kasar, melakukan kekerasan seksual atau mem-bully dan seterusnya.

Memberi efek jera atau menghukum pelaku pelecehan atau kekerasan seksual seharusnya dilihat dari trauma korban. Dalam kasus pelecehan seksual di rumah sakit, korban ke tempat itu (RS--red) untuk mencari perlindungan, ingin sehat, tapi malah mengalami kekerasan seksual. Di tempat kerja manapun atau tempat semacam rumah sakit, penting ada aturan mereka yang berada di lembaga itu tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apapun. Rumah sakit misalnya harus punya kode etik yang ditandatangani setiap petugas, mulai dari dokter, perawat hingga satpam.    

Ada argumen, dalam pelecehan atau kekerasan seksual pihak perempuan kerap dipersalahkan karena memakai pakaian yang mengundang laki-laki berbuat asusila. Saya termasuk yang tidak percaya, orang-orang yang berbusana rapat dari atas sampai bawah tidak mengalami pelecehan atau kekerasan seksual. Mereka yang seperti itu juga banyak jadi korban. 

Pelecehan seksual atau kekerasan seksual dimulai dari pikiran orang-orang yang melakukannya. Biasanya, jika mereka dilempar balik dengan pertanyaan, kalau kekerasan seksual itu terjadi pada anak atau istri sendiri bagaimana? Mereka biasanya diam bila ditanya begitu. 

Sering menyalahkan korban, seperti soal pakaian korban, antara lain menghambat korban melapor kasus pekecehan seksual. Kejadian ini bukan karena pakaian. Banyak juga ibu-ibu yang naik angkot dalam perjalanan ke pasar jadi korban pelecehan seksual.  

Mendidik masyarakat untuk memiliki kesadaran agar tidak menjadi pelaku pelecehan atau kekerasan seksual bisa dilakukan di rumah, sekolah, level masyarakat dan negara. Seharusnya ketika Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, kedua makhluk ini harus saling menjaga dan melindungi. Bukan menyakiti. Bukan juga menganggap salah satu dianggap lemah dan diperlakukan kasar atau dilecehkan. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Psikolog, Pengurus Yayasan Pulih

Pelecehan seksual di ruang publik terjadi dikarenakan kebanyakan laki-laki merasa perempuan boleh dilecehkan. Mereka (baca: lelaki) merasa punya "hak" melecehkan dan memperlakukan perempuan sebagai objek seksual. Pada akhirnya, semuanya kembali pada kontrol. Banyak laki-laki bisa mengontrol atas dirinya saat di tempat umum. Tapi ada beberapa orang yang akhirnya tak bisa mengontrol dirinya ditambah memiliki pemikiran perempuan sebagai objek seksual. Namun, misalnya di RS di Surabaya bilang pelakunya khilaf. Tapi itu tidak bisa jadi pembenaran.  

Kami di Yayasan Pulih sempat melakukan penelitian tentang pelecehan dan kekerasan seksual di ruang publik, ketika kami tanyakan kriteria pria seperti yang berpotensi melakukan pelecehan seksual, ternyata jawabannya tidak ada kriteria khusus. Semua golongan usia bisa menjadi pelaku. Akan tetapi memang ada kelompok yang lebih rentan jadi pelaku, yakni mereka yang bergerombol, misal anak-anak remaja tanggung yang sedang nongkrong lebih berpotensi. Di situ ada social pressure, tekanan untuk menunjukkan keberanian. Selain juga ada budaya patriarki yang sangat toxic yang memandang wajar pelaku pelecehan seksual.

Permasalahan ini sudah sangat berlarut-larut. Ini sudah jadi norma yang tidak tertulis di masyarakat bahwa perempuan yang harus menjaga diri, ketika keluar rumah tidak boleh pakai rok mini dan lain-lain. Yang bisa dilakukan institusi pendidikan dan masyarakat umum saat ini adalah mulai berpikir pelecehan seksual bukan semata tanggung-jawab (kesalahan) perempuan. Laki-laki juga berperan untuk memiliki kontrol diri tidak melakukan (pelecehan) itu.  

Misalnya, bila ada perempuan telanjang di tempat umum, apa serta-merta laki-laki memerkosanya? kan tidak. Pasti ada yang bisa mengontrol dirinya.             

Mengenai hukuman bagi pelaku, bila hukumannya hanya penjara tidak akan menyelesaikan masalah. Bagi pelaku, selain hukuman penjara juga harus ada rehabilitasi. Yayasan Pulih punya konseling bagi pelaku kekerasan. Dan itu bikin orang bertanya-tanya, "Kok pelaku dikonseling? Bukan korbannya?" Dua-duanya kami konseling. Sebab mungkin saja pelaku adalah korban. Mereka korban dalam arti tidak tahu yang mereka lakukan salah. Misal ada mispersepsi terhadap norma-norma tak tertulis tadi.   

Ada hambatan psikologis ada korban pelecehan seksual di ruang publik. Korban mengalami rasa takut. Bila mereka teriak, mereka tak tahu apa ada yang bisa menolong. Ragam pelecehan selksual di ruang publik ada banyak dari mulai cat calling (menggoda di jalan, biasanya verbal/lisan--red) sampai kejadian seperti di Depok atau RS Surabaya (menjamah bagian sensitif korban--red). Di Depok dan RS Surabaya ada buktinya, tapi bagaimana dengan cat calling? Atau kejadian lain yang tak ada bukti atau susah dicari buktinya? Pelaku bisa langsung ngeles ketika dituduh, karena buktinya susah dicari. Hal-hal itu yang lebih banyak mengurungkan niat korban untuk melapor.

Lagipula ketika melapor (ke pihak berwajib), peraturan atau perundang-undangan yang ada masih sumir. Misal, ketika ada cat calling, bagaimana melaporkan pelanggarannya? Bagaimana mencari buktinya? Kalau tidak ada bukti, dituntutnya bagaimana?   

Kami berkampanye, agar korban atau yang melihat pelecehan seksual di ruang publik untuk berani melapor, Speak up. Sebab itu yang jadi masalah saat ini. Banyak orang enggan melapor. Jadi, bila merasa tak nyaman, bilang ke petugas atau minta pertolongan ke orang lain yang ia tahu bisa membantu. Kami juga
memberi psiko-edukasi ke instansi, misalnya kemarin ke PT Transjakarta. Ternyata mereka belum punya SOP secara khusus bila da penumpang mengalami pelecehan seksual di bus atau halte. Untuk korban, yang membutuhkan konseling lanjutan kami tangani lewat pemulihan trauma. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengajar Psikologi Sosial Universitas Pancasila

Pelecehan seksual yang terjadi adalah gambaran akhir dari suatu kondisi sosial yang kompleks. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Mulai yang sifatnya internal seperti sifat dan karakteristis budaya patriarkis, hingga sistem penegakan hukum yang tak tegas. Jika aspek-aspek ini mencukupi, pelecehan akan semakin marak ditemui. 

Oleh karena itu, tak bisa dengan mudah menduga hal ini karena faktor internal atau eksternal semata. Budaya patriarkis yang menganggap laki-laki lebih superior dibanding perempuan mungkin memantik adanya intensi untuk melakukan pelecehan seksual, tetapi jika penegakan hukum dilakukan dengan tegas baik dalam hal preventif seperti pendidikan seksual sejak dini di instansi sekolah hingga prosedur kuratif, tindakan pelecehan bisa jadi hanya akan tertahan di level intensi.

Pendidikan tentu berperan untuk menumbuhkan empati dan rasa penghormatan kepada orang lain, tak peduli apakah orang tersebut laki-laki atau perempuan, tua atau muda, dengan latar belakang agama atau suku apapun. Pendidikan yang tak memberi penekanan kepada penghormatan dan kasih sayang kepada sesama manusia tak akan bisa banyak memberi efek pencegahan terhadap keberadaan perilaku patologi sosial. 

Ada temuan yang menjelaskan memang ada hubungan yang erat antara bagaimana cara orang tua atau pengasuh seorang anak di masa kecil dengan bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain. Ada bukti bahwa jika pada masa kecil seseorang mendapat pengasuhan yang disebut ”secure attachment style”, orang tersebut ketika dewasa akan memiliki “self esteem” dan “interpersonal trust” yang baik. 

Self esteem yang baik membuat yakin dengan apa yang ia miliki. Ia tak perlu banyak memikirkan apa pendapat orang lain mengenainya. Sementara seseorang yang memiliki “interpersonal trust” yang baik akan lebih mudah membangun hubungan dengan orang dengan basis saling percaya dan setara.  Hubungan dengan basis ini tentu tak akan melahirkan kekerasan seksual jika hubungan yang dibangun adalah relasi antar gender.  

Hukuman hanya akan efektif jika sifatnya segera, setelah perilaku dilakukan dan memang dianggap sebagai hukuman. Jadi isunya bukan berat atau ringan. Sebagian besar hukuman dalam konteks pidana dilihat dari perspektif pengamat, bukan pelaku. Kita perlu membuat kajian yang matang, hukuman seperti apa sebenarnya yang memang dianggap sebagai hukuman oleh sebagian pelaku kejahatan seksual. 

Kita perlu membangun semangat bahwa korban pelecehan seksual adalah korban. Ia tak boleh diminta pertanggungjawaban atas beban yang ia telah ia derita. Seringkali korban pelecehan seksual mendapatkan pelecehan tambahan ketika ia melaporkan pelecehan yang ia terima. Budaya seperti ini membuat orang-orang yang mengalami pelecehan semakin enggan untuk melapor.

Korban yang mengalami pelecehan harus dirujuk dan ditangani tenaga ahli, dalam hal ini psikolog. Lebih jauh, seluruh keluarga korban dan teman-teman dari korban harus mendukung penuh korban. Tak perlu banyak bertanya tentang apa yang ia rasakan. Berikan ia rasa nyaman dan aman terlebih dahulu. Pastikan ia merasa bahwa orang-orang terdekatnya masih, terus, dan selalu mendukung dan mencintainya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri