Dunia Tak Seindah Foto Instagram
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 25 November 2018 18:00
Yang mengikuti gosip selebritas tanah dikejutkan kabar Gisella Anastasia menggugat cerai Gading Marten. Dibilang mengejutkan karena sebelumnya tak ada gosip miring soal mereka. Selain itu, mereka selalu pamer kemesraan di Instagram, baik itu berdua saja atau saat bareng putri semata wayang yang masih balita, Gempi. 

Di Instagram, lewat foto-foto yang indah,  Gisel dan Gading memperlihatkan potret keluarga yang harmonis. Namun rupanya foto-foto itu tak menggambarkan wajah sesungguhnya keluarga mereka. Buktinya, bak petir di siang bolong, mendadak muncul kabar Gading digugat cerai Gisel.

Pasangan selebritas itu bukan satu-satunya yang kenyataan hidupnya tak seindah foto Instagram. Kita tentu masih ingat pasangan Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, pemilik First Travel. Di Instagram, mereka pamer foto-foto travelling di seluruh dunia. Siapa sangka, ongkos jalan-jalan itu diambil dari dana jamaah umroh mereka. 

Cerita lain semacam itu masih banyak. Pernah ada kabar seorang pengguna Instagram mengunggah foto sedang tidur di kelas suites maskapai Singapore Airlines, belakangan ketahuan foto itu diambil dari foto orang yang wajahnya diedit. Ada juga cerita dari Lissette Calveiro dari New York yang pada tahun 2013 terjerat banyak utang karena postingan-postingan mewah Instagramnya berasal dari uang pinjaman.

Di Indonesia ada Angela Lee dan suaminya yang harus ditahan Polres Sleman, Yogyakarta atas kasus pencucian uang dan penipuan dengan modus investasi. Angela berbisnis tas mahal dan sering pamer kemewahan di Instagramnya bak sosialita. Tak tahunya ia terjerat utang hingga Rp25 miliar.

Ya, kebanyakan yang di-posting di media sosial tak mencerminkan kenyataan sesungguhnya. Kenapa bisa demikian? Kenapa orang rela berhutang bahkan melanggar hukum demi foto indah di Instagram?

Fear of missing out atau fomo muncul ketika manusia takut "ketinggalan". Bentuknya macam-macam: takut ketinggalan tren terbaru, tempat hang out atau restoran/kafe yang sedang hit, tempat wisata hingga hotel mewah. Tidak memposting itu bikin pemilik medsos takut tak eksis karena merasa ketinggalan. Apakah kini eksistensi kita semata ditentukan postingan medsos?

Bahaya betul bila demikian adanya. Namun, dalam peradaban smartphone berkamera yang kian canggih dan medsos kian mewabah, manusia seperti mendapatkan kepuasan untuk membuat foto lebih bagus dari aslinya. Dari foto-foto indah itu rasa puas makin didapat berkat klikan "love", "like" dan "share".  

Yang terjadi kemudian, kehidupan di medsos kian berbeda dengan kehidupan nyata. Suami-istri selalu tampak romantis di medsos, tapi nyatanya ada prahara rumah tangga; travelling, makan  di resto mewah atau menginap di hotel bintang lima didapat dari berutang sana-sini atau menipu orang.

Pada titik itu kita hidup dalam kebohongan. Itukah kehidupan ideal yang ingin kita wujudkan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat media sosial

Persepsinya, Instagram tempat yang indah-indah. Akhirnya orang ingin tampil lebih indah daripada aslinya. Orang terkonsepsi oleh hal itu. Instagram adalah sosial media berbasis foto. Sehingga dalam benak siapa pun lahir keinginan menampilkan foto yang bisa dinikmati. 

Foto yang bisa dinikmati adalah foto yang indah. Itu adalah persepsi umum. Akhirnya orang terbawa persepsi itu. Apalagi, foto yang disukai adalah foto yang indah-indah. Foto yang (dibuat) serampangan nggak dapat tempat. 

Maka kalau kita foto lantas di samping objek foto ada tempat sampah, itu kita singkirkan. Meja berantakan, kita rapikan dahulu. Itu kita lakukan agar fotonya terlihat indah di Instagram. Ingin kebih indah dari aslinya. 

Orang juga tidak menampilkan masalah di Instagram. Karena persepsi tadi: Instagram bukan tempat (umbar) masalah. Masalah (artis) ada di media entertainment (hiburan). 

Kalau orang posting foto mesra di Instagram itu normal. Cuma memang ada kajian, orang yang terlalu sering foto mesra dengan pasangan, ada kemungkinan hubungan mereka sedang bermasalah. Tapi tidak selalu demikian.

Ada juga orang yang ingin terlihat sebagai orang kaya di Instagram. Tapi orang yang misalnya sampai berutang itu tak cuma ada di Instagram. Ada juga di Facebook. Mereka bukan fear of missing out (fomo). Itu lebih pada takut ketinggalan informasi. Mereka adalah social climber atau anjak sosial, mereka ingin dipersepsikan sebagai orang kaya. Itu nggak ada hubungan dengan Instagram. Para anjak sosial ini memanfaatkan medsos untuk mengekspresikan diri bahwa mereka seperti (orang kaya) itu.

Bila pamer kemewahan untuk jadi selebtwit atau selebgram, bisa saja. Tapi itu bukan faktor utama. Untuk jadi selebtwit atau selebgram butuh waktu panjang. Yang dilakukan oleh orang-orang ini lebih pada dahaga untuk diakui.

Selebtwit atau selebgram diukur dari seberapa banyak followernya, seberapa sering ia posting, dan seberapa besar pengaruh (postingannya). Kombinasi ketiga hal itu menjadikan dia seleb di medsos. Kalau follower-nya sudah di atas 101 ribu, bolehlah ia disebut selebgram kecil-kecilan. 

Yang penting untuk jadi selebgram itu lagi-lagi kontennya. Apa menarik atau tidak. Itu sebabnya setiap masing-masing orang (selebtwit atau selebgram) kontennya berbeda. Kalau ingin jadi seleb di medsos, ciptakanlah konten yang bagus dan berguna sehingga orang follow kita. 

Dan yang penting jangan berbohong. Karena berbohong di sosial media itu gampang ketahuan. Dan kalau ketahuan malu sendiri. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi

Memang ada yang bilang terlalu sering umbar kemesraan di media sosial, kenyataan sesungguhnya tak seperti (mesra) itu. Namun anggapan itu secara umum belum tentu juga benar. Tapi memang ada contohnya. Pasangan yang selalu tampak mesra di medsos ternyata bermasalah.

Meski begitu kita juga nggak bisa bilang semua orang yang berfoto mesra bermasalah. Namun secara umum, medsos membuat orang memberikan sisi terbaiknya karena yang terlihat di situ dilihat publik. Entah itu kebahagiaan, karena kita tentu ingin dilihat sebagai orang yang bahagia. Lalu, orang juga ingin terlihat sukses, melakukan kegiatan keren, yang cool. 

Jadi memang kita tak bisa melihat apa yang di-posting orang di medsos adalah 100 persen dirinya. Sosial media, apapun bentuknya, lebih seperti etalase sebuah toko. Entah gudangnya atau dapurnya berantakan urusan beda. Yang penting, tampilkan yang terbaik karena itu adalah sesuatu yang akan dilihat orang.

Bila analoginya rumah, medsos adalah ruang tamu. Tempat orang lain bertandang ke rumah, berkomunikasi. Dengan begitu kita tentu ingin memberikan kesan atau impresi orang lain yang terbaik terhadap kita.

Ruang tamu atau etalase ini bisa didesain jadi apapun yang kita mau. Artinya, bukan hanya hal positif saja yang muncul. Selain ada yang menampilkan diri sebagai orang yang pintar, ada juga yang tampil sebagai orang yang depresi.

Maka, sosial media bukan jati diri kita sebenarnya, melainkan sebuah bayangan atau impresi salah satu diri yang kita tampilkan. Oleh karena itu kita tak bisa menilai seseorang dari medsosnya saja. 

Efek negatif selalu berusaha menampilkan yang terbaik, maka ada semacam persaingan (dengan orang lain). Ada teori sosial yang disebut "keeping up with the Joneses" yakni kebiasaan membandingkan diri dengan tetangga. Keluarga Jones adalah tetangganya. Dulu kita iri melihat tetangga mobilnya baru, rumahnya lebih mewah atau anaknya lebih pintar di sekolah.

Yang jadi masalah, kalau dulu kita membandingkan hanya dengan tetangga, sekarang (di medsos) kita melihat ratusan atau ribuan orang yang kayaknya menampilkan kebahagian atau hal terbaik terus. Di medsos, setiap hari orang terlihat kerjanya travelling, belanja atau makan (yang enak dan mahal) terus.

Hal itu membuat tekanan tersendiri di batin kita, untuk kita bisa menyamai agar berada di lingkungan sosial itu. Hal seperti itu bisa menimbulkan efek depresi juga. 

Misalnya begini, bila saya seorang miskin yang tinggal di Afrika, saya tak punya pembanding orang kaya, karena semua orang di lingkungan saya miskin. Bandingkan dengan orang yang tak miskin betul, tapi tinggal di Jakarta, dan ia memantau medsos lalu melihat kok orang hidupnya bahagia terus, bisa travelling ke mana-mana.

Pada titik itu, orang Jakarta tersebut lebih tidak bahagia ketimbang orang Afrika yang miskin. Dalam rangka itu, ada orang yang menghalalkan segala cara, entah itu korupsi, menggunakan harta yang bukan miliknya, sampai juga berpura-pura di medsos. Misalnya, memakai foto orang lain di postingannya.

Itu efek dari orang seolah harus menjaga status sosialnya di medsos, sampai harus menghalalkan segala cara. Orang Indonesia sangat sadar atas status sosial (social status concern). Kenapa? Karena kita ini masyarakat yang sangat komunal. Kita sangat mementingkan pendapat orang lain atas kita. Karena kita tak mai dianggap keluar dari komunitas kita.

Wujudnya, bila berada di kelompok orang kaya semua, seseorang akan selalu berusaha (tampil) jadi orang kaya juga. Agar bisa berada di kelompok sosial tersebut. Ini juga berlaku di berbagai kelompok lain. Berada di kelompok religius, harus tampil jadi orang religius dengan memakai atribut dan simbol-simbolnya. Masing-masing kelompok punya simbol.

Kalau ditanya kenapa orang berusaha dengan berbagai cara tampil di medsos, karena orang ingin diterima di lingkungan atau kelompoknya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu