Hardiknas 2018: Bagaimana Nasib Pendidikan Pekerja Anak?
berita
Humaniora
Pekerja anak Muara Angke, Jakarta Utara. (dok. Tempo) 03 May 2018 15:00
Tema peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2018 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) adalah menguatkan pendidikan, memajukan kebudayaan. Namun, penguatan pendidikan seperti apa yang akan dituju? Apakah termasuk penguatan pendidikan bagi anak-anak yang nasibnya tidak sanggup sekolah karena harus bekerja untuk memenuhi ekonomi keluarga? Bagaimana bisa kuat pendidikannya atau maju budayanya bila anak-anak lebih sibuk bekerja ketimbang belajar di kelas?

Pada Agustus 2015, total populasi anak umur 15-17 tahun mencapai 14,35 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,2 juta orang anak telah masuk ke pasar kerja berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan RI. 

Anak adalah setiap orang di bawah umur 18 tahun berdasarkan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dari UU itu dalam Pasal 68, pengusaha dilarang memperkerjakan anak kecuali usia 13-15 tahun dengan pekerjaan ringan tanpa mengganggu perkembangan dalam kesehatan fisik, mental dan sosial dalam rentan maksimal tiga jam per hari. Fakta yang terjadi berbeda dengan pasal tertulis. 

Tidak perlu jauh-jauh untuk mendata pekerja anak, di Jakarta sebagai kawasan pemerintah pusat negara ini, berada di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara, sebagian besar anak sudah bekerja sebagai pengupas kerang, bahkan dari usia 5 tahun. Lalu bagaimana pengawasan dari pemerintah pusat atau daerah terkait ini? Sekitar 80 persen anak di kawasan itu putus sekolah dan harus bekerja demi menyokong ekonomi keluarga berdasarkan data Yayasan Rumpun Anak Pesisir (YRAP). Tambahan pula, anak perempuan yang bekerja pada umumnya rentan dengan pelecehan seksual di kawasan nelayan Muara Angke.

Hardiknas tidaklah sekadar upacara, seremoni ataupun segala hal yang bentuknya perayaan. Apakah hak anak mendapat pendidikan dasar secara merata sudah menjadi fokus utama di balik perayaan Hardiknas 2018?

Di hari yang digaungkan sebagai harinya pendidikan nasional, ada banyak anak yang diwajibkan upacara di sekolah. Namun ada pula anak-anak yang  diwajibkan menghormati pekerjaan sebagai lambang penyokong ekonomi keluarga. Mereka juga hidup di tanah yang sama, tanah Indonesia. Sampai kapan Kampanye Indonesia Bebas Pekerja Anak (KIBPA) oleh pemerintah dirasakan secara nyata oleh anak- anak yang ingin melanjutkan sekolah dan berhenti bekerja?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pelajar, aggota Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan dan Forum Anak

Saya bekerja mengupas kerang sudah sejak usia lima tahun. Alasan saya bekerja adalah faktor ekonomi keluarga yakni membantu keluarga. Dalam keluarga saya, untuk makan saja sangat susah saat itu, mau tidak mau saya harus ikut kerja. Alhamdulillah sampai hari ini saya bisa melanjutkan pendidikan sampai tingkat seperti sekarang yakni menjalankan pendidikan SMA. 

Perjuangan saya untuk kokoh dalam pendirian diri adalah sekolah. Semula orangtua saya berat tetapi akhirnya tekad saya membuat hati orang tua saya luluh dan memberi izin saya untuk sekolah walaupun dengan syarat tetap bekerja setelah pulang sekolah.

Dalam pembagian waktu, saya sudah terbiasa membagi waktu untuk sekolah, bekerja dan berkegiatan sejak saya kecil. Jadi, jujur saya tidak merasa berat karena memang sudah terbiasa.

Terkait hak anak, yang paling utama menurut saya adalah pendidikan dan tidak dipekerjakan, karena pendidikan adalah sarana utama untuk meraih impian sehingga hak anak juga untuk tidak jadi pekerja, agar fokus meraih cita cita dan punya waktu bermain.

Saya melihat banyak kasus di lingkungan saya anak putus sekolah karena dituntut harus bekerja. Hal ini berdampak pada segala aspek kehidupannya, terutama mereka akan memutuskan menikah. Akhirnya, mereka tidak memiliki semangat untuk menggapai cita-cita lagi. Di balik itu, tak dipungkiri pekerja anak rentan dengan kekerasan atau pelecehan seksual karena kami dianggap lemah.

Di tengah kondisi Indonesia saat ini yang masih banyak anak dipekerjakan saya berpesan untuk tidak berhenti belajar. Sekolah itu penting walaupun tidak dengan sekolah formal tetapi bisa juga nonformal agar apa yang kita impikan bisa terwujud.

Saya berharap pemerintah peka dengan masalah pekerja anak karena saya mengalami bagaimana tekanan harus sekolah dan harus bekerja. Pemerintah jangan menutup mata karena kami ingin sama dengan anak-anak yang lain yang bisa sekolah tanpa terkendala biaya walaupun sekarang sudah ada beasiswa di sekolah, tetapi perlu disadari tidak semua anak mendapatkan beasiswa sekalipun sesuai kritetia yang ditawarkan. (win) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati Air bersih Muara Angke, Pendiri Yayasan Rumpun Anak Pesisir Muara Angke

Hampir setiap hari saya dihadapkan dengan kenyataan di lapangan tentang kisah nyata anak-anak bangsa yang tidak mendapatkan haknya atas pendidikan. 

Perayaan besar-besaran setiap tahun termasuk Hardiknas menurut saya tidak penting diadakan karena usai seremonial,anak-anak tetap tidak mendapatkan haknya. Kasus anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah karena merasa selalu dipermalukan oleh lembaga pendidikan dan namanya terpampang di mading sekolah sebagai siswa yang selalu menunggak bayar SPP sering terjadi dank arena faktor ekonomi ini anak putus sekolah.

Setiap tahun selalu ada anak yang datang mengadu karena tidak sanggup menebus ijazah yang ditahan pihak sekolah. Tidak pernah habis kasus buta huruf karena anak-anak tidak punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal karena terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. 

Sekarang ini masih banyak kasus anak-anak yang tidak mendapatkan bantuan biaya pendidikan karena alasan tidak memiliki identitas yang lengkap karena tinggal di wilayah yang tidak diakui secara administratif. Kemiskinan akut menjadi salah satu penyebab karena banyak warga yang hanya fokus dengan urusan perut dan terpaksa mengabaikan pendidikan anaknya.

Ada salah satu kasus yang baru-baru ini saya temukan di lapangan, anak usia 12 tahun belum bisa baca tulis karena di kelas dua SD terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena harus ikut bekerja menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari si anak bekerja bertiga bersama ibu dan bapaknya menjadi buruh pengupas kerang dengan penghasilan Rp20 ribu per hari. Penghasilan Rp600 ribu per bulan masih harus dikurangi dengan bayar kontrakan sebesar Rp300 ribu. Alhasil, seringkali si anak dan keluarganya harus menahan lapar karena uang tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Baru-baru ini si anak dan keluarganya diusir dari rumah kontrakannya karena tidak sanggup membayar. 

Banyak resiko yang anak hadapi, anak-anak pengupas kerang sangat tidak aman dengan peralatan kerja yang bisa membahayakan dirinya seperti penggunaan peralatan kerja gunting dan pisau. Uap dan asap rebusan kerang juga sangat tidak bagus untuk pertumbuhan anak. Selain itu setiap hari bergaul dengan orang-orang dewasa yang sama-sama sedang berjuang untuk hidup membuat anak-anak lebih rentan mendapatkan tindakan kekerasan seperti pelecehan seksual.

Kenyataan di lapangan sangat banyak orang yang berjuang besok makan apa tanpa sempat berpikir memperbaiki masa depan anaknya dengan pendidikan yang lebih baik sejak dini.

Bermain adalah salah satu barang mewah bagi anak-anak yang setiap hari harus bekerja untuk menyambung hidup. Sangatlah miris ketika saya menemui beberapa pekerja anak. Mereka bercerita untuk apa dan kenapa dia harus bekerja, jawaban jujur tanpa mengharap belas kasihan membuat hati makin miris. Mereka mengatakan lebih takut besok dia dan keluarganya tidak makan.

Perlu perhatian khusus dan aksi nyata kita bersama untuk penghapusan pekerja anak di Indonesia dengan melakukan aksi bersama. Butuh proses panjang memang tetapi bila kita mau bergotong royong untuk membantu pasti kita akan mampu melakukan perubahan besar untuk penghapusan pekerja anak. Seperti yang dilakukan oleh beberapa anak muda di Yayasan Rumpun Anak Pesisir yang tidak hanya sekedar nyinyir kritik sana sini. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati anak, mantan junior produser program anak, kreatif program anak di TV

Harapan saya, semoga anak-anak Indonesia selalu punya kesempatan untuk bermimpi memiliki cita-cita dan bahagia. Karena jika sejak kecil mereka sudah memiliki impian, tentu mereka juga punya keinginan untuk selalu belajar dan menuntut ilmu.

Pandangan saya sangat prihatin sekali dengan fakta pekerja anak adalah terampas masa fase golden age, sebaiknya anak mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak dan sesuai. Itu juga didukung dengan peran orangtua dan keluarga dalam segi kewajiban pemberian kasih sayang dan perhatian untuk anak-anak. Serta haruslah juga adanya pemerataan ketersediaan guru di sekolah-sekolah yang ada di pelosok indonesia.

Menurut saya psikis anak akan terbentuk dengan sendiri sesuai dengan lingkungan dimana ia habiskan waktunya sehari-hari. Apalagi jika seorang anak, hanya memikirkan "harus kerja apa, agar bisa dapat uang?" Secara alamiah karakter anak yang terbentuk adalah "money oriented " dan mereka tentu akan melupakan kodratnya untuk bermain dan belajar. Karena dengan bermain dan belajar, anak-anak bisa menemukan jati dirinya dan tentunya anak-anak akan lebih bahagia.

Faktor utama yang terampas saat anak harus bekerja menurut saya adalah kurangnya waktu bermain dan belajar. Dengan bermain, anak-anak bisa bahagia dan ceria. Dengan belajar, anak-anak bisa tahu arah masa depannya nanti. Harapannya, tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang harus bekerja membantu orangtuanya. 

Kunci utama adalah orangtua. Orangtua haruslah membuka pikirannya, bahwa anak-anak zaman sekarang tidak bisa disamakan dengan zaman dulu. Orangtualah sebagai pondasi utama dalam pembentukan pribadi anak-anak yang berkarakter dan berakhlak. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF