Hollywood Jadi Pro Perempuan, Sesaat atau Selamanya?
berita
Humaniora

Sumber Foto: FSR (gie/Watyutink.com)

05 March 2018 16:00
Puncak perhelatan Academy Awards atau Oscar ke-90 yang digelar Minggu malam, 4 Maret 2018 di Dolby Theatre, Los Angeles, AS atau Senin pagi waktu Indonesia tak cuma ajang penghargaan bagi pencapaian terbaik insan film Hollywood, tapi juga penanda wajah pabrik film terbesar dunia itu tengah berubah.

Di Oscar kali ini kita lihat perempuan--serta kelompok minoritas lain--diberi tempat lebih. Kita menyaksikan sutradara perempuan dan penata kamera perempuan dapat nominasi. Pemberi piala pun kebanyakan perempuan.

Itu semua sulit dibayangkan terjadi andai skandal pelecehan dan kekerasan seksual selama bertahun-tahun oleh produser Harvey Weinstein tak terungkap akhir 2017 lalu. Skandal itu tak hanya menghancurkan karier dan reputasi Weinstein, tapi melahirkan efek domino menyeret pria-pria lain predator seks Hollywood. Muncul gerakan tagar #metoo dan Time's up yang mendorong perempuan dan korban lain berani bicara.

BACA JUGA: Black Panther, Superhero Kulit Hitam Di Zaman Trump

Kasus yang menimpa Kevin Spacey bisa jadi contoh. Oktober 2017 lalu, bintang serial House of Cards ini dituduh melakukan pelecehan seksual pada aktor lain saat sang korban berumur 14 tahun. Film barunya, All the Money in the World dijadwalkan rilis November. Lantaran kasus itu sutradara Ridley Scott menghapus semua adegan Spacey. Adegan disyut ulang selama 2 minggu dan jadwal rilis digeser sebulan. Peran Spacey digantikan Christopher Plummer. Uniknya, Plummer dapat nominasi Oscar Aktor Terbaik di film tersebut.

Pertanyaan besarnya, perubahan wajah Hollywood ini sesaat atau akan selamanya?

Meski kerap dicap berpandangan politik liberal, insan film Hollywood selama ini menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Aktor perempuan dibayar lebih rendah dari pria. Di depan layar, perempuan lebih sering ditempatkan sebagai objek seks atau makhluk lemah. Pangkal soalnya terletak pada jumlah perempuan di rantai produksi film. Dari eksekutif studio, sutradara hingga penulis kebanyakan pria.

BACA JUGA: Ketika Ustaz Keok Oleh Hantu Di Pengabdi Setan

Para pria ini bekerja berdasar prasangka alih-alih data. Mereka, misalnya, percaya film superhero cewek takkan banyak ditonton. Tapi faktanya, Wonder Woman yang rilis tahun lalu jadi film terlaris ketiga di AS. Data juga menunjukkan 50 persen pembeli tiket bioskop adalah perempuan. Lalu kenapa insan film pria Hollywood lebih percaya prasangka ketimbang data?

Dari 100 film box office di Amerika Utara tahun 2016, 34 di antaranya menempatkan perempuan sebagai bintang utama atau lawan main utama. Tahun 2007 jumlahnya hanya 20.

Jika datanya kini banyak perempuan nonton film berbagai jenis dari romcom sampai superhero, kita patut curiga, apakah perubahan wajah Hollywood ini semata perkara bisnis? Mereka harus berubah agar tak ditinggal pasar ke medium lain, TV dan video streaming 'kan?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)
 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan film

Laporan investigasi The New York Times tentang predator seks Harvey Weinstein telah menjadi wake up call bagi para perempuan di Amerika sana untuk benar-benar melawan diskriminasi dan pelecehan maupun kekerasan seksual yang kerap menimpa mereka. Investigasi yang segera menjelma jadi gerakan #MeToo itu mempunyai skala perlawanan yang besar--yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika. 

Jika perlawanan tersebut menjadi alasan bagi Hollywood untuk ikut berubah, maka itu adalah sebuah keniscayaan. Memang sudah waktunya. Desakannya sendiri sudah terlampau besar. Sebab, kabar tentang perilaku negatif Harvey itu sudah beredar secara simpang siur selama ini, hanya saja kubu Harvey selalu bisa meredamnya. Namun tidak kali ini. 

Posisi dan peran Harvey Weinstein dalam industri yang terbilang signifikan pun menjadi senjata makan tuan apabila Hollywood tidak berubah. Maka, investigasi tersebut bukan sekadar membongkar habis-habisan perilaku Harvey Weinstein, tapi sekaligus meneguhkan bahwa industri film Hollywood memang menyembunyikan kebobrokan--dan kemudian ini terbukti dengan makin banyak terkuaknya pelecehan seksual yang pernah dilakukan tokoh-tokoh ternama di Hollywood. Karenanya, menurut saya, perubahan wajah Hollywood ini bukanlah sesaat, meski juga harus terus diupayakan agar perubahan ini bisa berlangsung selamanya.

Yang harus benar-benar digarisbawahi, jangan abaikan pula pengaruh kemenangan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45. Mayoritas seisi Hollywood adalah pendukung mantan capres Hillary Clinton. Juga jangan abaikan sikap buruknya dalam menghadapi perempuan. Sejak gerakan #MeToo mengemuka, sejumlah perempuan juga telah melaporkan Trump dengan tuduhan pelecehan seksual. 

Maka dari itu, Hollywood (yang katanya berpandangan politik liberal itu) kini boleh jadi menemukan momentum untuk mengubah wajahnya dengan memperbaiki diri dalam hal kesetaraan gender. Pemerintahan Trump ini seakan menjadi musuh bersama untuk dilawan Hollywood, yang didukung aktor-aktris ternama yang memiliki banyak fans (suporter) yang kemungkinan besar juga dari kalangan moderat. Jadi terlihat di sini Hollywood yang mau tak mau harus berubah, karena kalau tidak berubah, bisa makin dicibir oleh para suporter dan penikmat film, apalagi sejak ada kasus Harvey Weinstein.

Sementara itu, memang harus diakui motif ekonomi memang tidak bisa begitu saja diabaikan. Di industri komersial mana pun, apalagi dalam industri sebesar Hollywood, upaya apa pun harus dan dapat dilakukan demi mendulang profit dari konsumen. Dan jika konsumennya berubah, atau ada kelompok orang yang berpotensi jadi konsumen, tentu strategi bisnis harus dapat mengakomodir itu. 

Dengan adanya kepentingan ekonomi ini dan begitu mengakarnya jalan pikiran yang patriarkis di dalam banyak benak laki-laki di Hollywood (juga di dunia) serta di dalam struktur industri film itu sendiri, saya kira jalan untuk mengubah wajah Hollywood ini tidak cepat dan masih panjang. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Film

"Hollywood Jadi Pro Perempuan, Sesaat atau Selamanya?" pertanyaan menarik. Termasuk bagi kita yang nyatanya, tinggal di Indonesia yang berjarak separuh bumi dengan Amerika. Film-film Hollywood yang kita saksikan telah memberi kita ilusi bahwa kita "dekat" dengan Amerika, bahwa kita mengenal para pesohor di sana, seolah-olah Los Angeles bisa kita singgahi dengan naik commuter line dari stasiun Tanah Abang. Sehebat itu ilusi yang telah diciptakan oleh Hollywood, bahwa seluruh manusia di muka bumi ini peduli akan keberadaan mereka. 

Tetapi, sebelum jawab pertanyaan pembuka paragraf ini, ada baiknya kita tak cepat lupa pada yang terjadi di Hollywood setahun lalu, yakni tentang #OscarSoWhite--atau "Hollywood Perlu untuk Menjadi Pro Kulit Hitam, Sesaat atau Selamanya?"

Tahun lalu para seniman Hollywood kecewa berat dan protes kurangnya representasi sineas kulit hitam di ajang Academy Awards. Setahun kemudian (sekarang), rilis Black Panther, film superhero Marvel tampil dengan tokoh-tokoh yang kebanyakan berkulit hitam, memecahkan banyak rekor box office baik di AS dan dunia. Apa film Black Panther imbas protes #OscarSoWhite ? 

Tentu bukan. Ada tidak adanya protes tersebut, Black Panther tetap dibuat sesuai rencana oleh Studio Marvel/Disney. Tetapi, sukses Black Panther, sedikit banyak mengubah industri perfilman di sana. Bukan karena mereka sekarang pro kulit hitam, melainkan (ironisnya) mereka baru memahami film dengan aktor-aktris berkulit hitam juga memiliki daya jual tinggi, tak kalah dengan film-film Tom Cruise (bahkan The Mummy yang dibintangi Tom Cruise bisa flop). Barangkali kelak akan lebih banyak film action dengan aktor-aktris kulit hitam yang diproduksi di Hollywood, tetapi tentu bukan film semacam Moonlight.

Kini setelah #OscarSoWhite, hadirlah "Time's Up" dan #MeToo, gerakan sosial yang memberi awareness akan praktik diskriminasi terhadap perempuan, soal upah/honor mereka yang selalu lebih rendah dari para pria, juga advokasi untuk berani bicara soal pelecehan seksual atau perbuatan tidak menyenangkan lain. Gerakan ini ditujukan bukan hanya untuk pesohor di Hollywood, tetapi seluruh sektor pekerjaan di AS. 

Jadi, apa yang kita harapkan dari gerakan pro perempuan yang kini melanda Hollywood? Lebih banyak film dengan tokoh utama perempuan? Itu akan terjadi selama film dengan tokoh perempuan menjual banyaki tiket dan menguntungkan. Agar lebih banyak lagi perempuan bekerja di belakang layar—lebih banyak lagi Petty Jenkins (sutradara Wonder Woman (2017)—red) lain yang berkarir di Hollywood? Selama mereka dapat membuktikan kemampuanya, kenapa tidak. Agar para aktris dibayar setara dengan para aktor di Hollywood? Tentu ini menjadi pekerjaan rumah para agen yang merepresentasikan mereka dalam bernegosiasi.

Permasalahan yang kini melanda Hollywood barangkali telah mengakar kuat sejak industri itu bermula seabad yang lalu, secara sistemik, yang tak mudah untuk diubah lewat satu dua kali gerakan protes. Setelah setahun, tak ada perubahan berarti dari #OscarSoWhite.

Lewat Golden Globes, Academy Awards, para pesohor di Hollywood yang peduli akan perubahan ke arah yang lebih baik memang mendapatkan tempat untuk menyuarakan aspirasi mereka. Tetapi, yang juga tak kalah penting, aspirasi mereka tak hanya didengar, tetapi direspon pemangku kepentingan di industri perfilman Hollywood.

Tahun ini Gary Oldman dapat nominasi Aktor Terbaik Oscar. Padahal ia sejak lama telah dituduh mantan istrinya melakukan KDRT. Sebuah tuduhan serius yang dikutuk keras para inisiator dan penggerak "Time's Up" dan #MeToo. Inilah hipokrisi industri hiburan Hollywood. Hipokrisi yang sama yang terjadi di Grammy Awards lalu kala U2 dan Sting bernyanyi, di saat keduanya tidak dinominasikan dalam kategori apapun, sementara Lorde dan sejumlah penyanyi perempuan lain yang dinonimasikam justru tidak diberikan panggung.

Wajah Hollywood tidak akan berubah dalam sekejap. Tetapi, segala usaha yang dilakukan para talenta perempuan, dan minoritas, di sana untuk mendapatkan perlakuan yang adil perlu didukung segala pihak, secara nyata. Bila tidak, Hollywood masih akan dipenuhi para hipokrit untuk jangka waktu yang lama. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri