Iklan BLACKPINK `Shopee` dan Batasan Kesopanan Kita
berita
Humaniora
16 December 2018 10:00
Watyutink.com - Pekan ini, jagat dunia maya ramai oleh ribut-ribut iklan sebuah situs/aplikasi belanja online Shopee yang menampilkan girlband Korea, BLACKPINK. Awal mulanya adalah sebuah petisi di laman Change.org pada 7 Desember silam. Petisi bertajuk 'Hentikan Iklan Shopee BLACKPINK' itu dibuat Maimon Herawati, seorang dosen Universitas Padjajaran. 

Isi petisinya menyebut penampilan BLACKPINK di iklan itu "jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab." Para member BLACKPINK disebut menari saat berpakaian pas-pasan dan tidak menutupi aurat.Dalam empat hari, petisi itu ditandatangani 100 ribu orang lainnya. 

Dunia maya heboh. Sikap orang terbelah. Ada yang setuju pada petisi tersebut. Ada pula yang menganggap petisi itu berlebihan. Untuk pendapat yang kedua beralasan, sinetron kita yang menampilkan kekerasan, tak mendidik, atau berita infotainment yang menampilkan perselingkuhan dan merambah ranah privat lebih pas dikritisi ketimbang artis Korea berpakaian minim sekelebatan. 

Namun, pada Rabu (11/12/2018) KPI akhirnya berpihak pada pendapat pertama. Lewat situs dan surat resminya, KPI merilis peringatan keras kepada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan Shopee-BLACKPINK tersebut. 

Ramai-ramai soal penampilan BLACKPINK yang serba minim ini menimbulkan tanya soal batasan kesopanan yang boleh tampil di media televisi kita. Benarkah iklan itu sudah melanggar norma kesusilaan dan kesopanan kita? 

Perlu diingat, sebetulnya, setiap konten apapun yang tampil di TV gratis (free to air), termasuk iklan, wajib menyertakan surat tanda lolos sensor (STLS) dari LSF (Lembaga Sensor FILm). Artinya, iklan Shopee-BLACKPINK telah mendapat surat tersebut. Maka, kenapa LSF meloloskan sementara kemudian KPI melarangnya? Apakah dua lembaga negara ini punya batasan yang beda tentang kesopanan dan kesusilaan? Atau, KPI bertindak ketika persoalannya ramai di khalayak?

Anda mungkin masih ingat, pada awal 1990-an, serial Wonder Woman yang dibintangi Lynda Carter pernah ditayangkan RCTI. Namun belakangan, serila itu diprotes karena penampilan serba minim sang superhero. Mau bagaimana lagi, Wonder Woman memang hanya mengenakan kemben dan celana dalam di setiap aksinya. Juga, belum hilang dari ingatan kita soal pembluran (ditampak-samarkan) atlet perenang oleh tayangan CNN Indonesia. 

Hingga saat ini pembluran belahan dada masih sering dijumpai di tayangan-tayangan TV kita. Atau, perhatian serial kolosal bersetting kerajaan tempo dulu di TV kita saat ini. Semua perempuannya tak ada lagi yang cuma pakai kemben. Yang pria juga demikian. Nyaris tak ada yang bertelanjang dada lagi. Padahal bila merujuk pada kenyataan sejarah, orang zaman dulu tak berpakaian seperti itu. Apa ini semua cerminan batasan kesopanan dan kesusilaan kita kian bergeser pada yang serba tertutup? 

Tidak bisa dipungkiri, TV masih jadi media yang paling banyak dikonsumsi masyarakat kita. Menurut Nielsen, penetrasi TV mencapai 96 persen dan 77 persen orang masih mengakses konten lewat TV. Kontrol tetap diperlukan. Namun, sejauh mana batasannya--terutama menyangkut etika kesopanan dan kesusilaan?  

Bagi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) iklan Shopee edisi BLACKPINK tak sopan. Namun bagaimana dengan orang lain? Bukankah nilai kesopanan berbeda di tiap orang dan zaman?  

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)

Watyutink.com - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melayangkan peringatan keras kepada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan Shopee BLACKPINK. Siaran iklan tersebut dinilai tidak memperhatikan ketentuan tentang penghormatan terhadap norma kesopanan yang diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI tahun 2012.

Adapun 11 stasiun televisi yang kena surat peringatan tersebut yakni Trans TV, RCTI, RTV, MNC TV, Indosiar, TV One, ANTV, Trans7, GTV, Net, dan SCTV. 

Kami menyayangkan tampilan iklan “Shopee karena berpotensi bertentangan dengan norma kesopanan yang dianut oleh masyarakat Indonesia secara umum. 

Kami meminta kepada produsen, agar dalam membuat iklan dan melakukan promosi untuk senantiasa memperhatikan brand safety, sehingga tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. 

Surat peringatan juga ditembuskan pada Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) agar sesuai dengan MoU yang pernah ditanda-tangani bersama KPI,  P3I melakukan pengawasan dan evaluasi iklan agar sesuai dengan etika pariwara dan norma yang berlaku di masyarakat.

Kami berharap lembaga penyiaran segera melakukan perbaikan internal dengan menghentikan penayangan iklan “Shopee” yang dimaksud, dan menggantinya dengan tampilan lain yang tidak menimbulkan persepsi negatif.

Jika masih menemukan tayangan yang sama sebagaimana dimaksud dalam surat peringatan, KPI akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan regulasi yang ada. (ade)

CATATAN: Disarikan dari keterangan pers KPI yang dikirim penalar. 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan, Menulis perkembangan sinetron tanah air di sebuah tabloid hiburan

Watyutink.com - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kembali menyemprit stasiun televisi. Kali ini terkait tayangan iklan Shopee BlackPink dan acara "Shopee Road to 12.12 Birthday Sale". KPI menilai siaran iklan dan program acara tersebut tidak memperhatikan ketentuan tentang penghormatan terhadap norma kesopanan. 

Muatan demikian menurut KPI berpotensi melanggar Pasal 9 Ayat 1 SPS KPI Tahun 2012 tentang kewajiban program siaran memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak terkait budaya. 

KPI bertindak setelah ada ribut-ribut petisi yang digagas seorang dosen itu. Sangat disayangkan. KPI sebagai lembaga independen yang mengawasi siaran televisi harusnya bertindak sejak awal iklan itu beredar di televisi. Ini malah jelang iklan itu berakhir.

Belakangan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ikut-ikutan melibatkan diri dalam pusara tersebut. KPAI memanggil pihak Shopee sebagai respons dari pengaduan masyarakat. Mereka khawatir tayangan iklan tersebut dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dan anak kemungkinan meniru gaya berpakaian seperti yang dilihat di iklan tersebut. 

Terlalu berlebihan menurut saya. Dalam iklan itu gaya berbusana BlackPink dari mata saya sebagai laki-laki tidak menggoda, tidak vulgar, apalagi seronok. Mereka berpakaian minim lalu meliuk-liuk menari, saya sendiri tidak terangsang melihat mereka. Tubuh mereka langsing-langsing kayak selembar kertas, tambah (mohon maaf) buah dada dan bokong mereka tidak sebesar milik duo pemilik goyang dribel yang sempat heboh beberapa waktu lalu, keempat personel grup idola asal Korea itu memiliki daya tarik seksual secara fisik. 

Yang saya tahu, kelebihan mereka adalah menyanyi dan menari yang membawa mereka hingga menembus pasar Internasional, Amerika salah satunya. 

Mengenai batas kesopanan tidak diatur dengan jelas di UU Penyiaran. Harusnya KPI menginisiasi penambahan pasal yang mengatur tentang cara berbusana sopan yang pantas di televisi. Batas-batasnya sejauh mana, harus berpakaian tertutup dari ujung rambut sampai ujung jari kaki atau berpakaian sesuai adat ketimuran yang dianut masyarakat Indonesia. 

Seksi atau tidak, seronok atau tidak gaya berbusana BlackPink tergantung cara pandang dan otak kita masing-masing. Namun sesungguhnya gaya berbusana bukanlah hal baru. Di Indonesia, beberapa tahun lalu di saat demam girl band, gaya berbusana mereka sebagian besar seperti itu. Cherrybelle, 7icons, dan G-String. Kenapa dulu saat mereka lagi terkenal-terkenalnya dan banyak iklan di televisi KPI tidak menegur pihak stasiun televisi?

Oleh karena itu, sudah sepantasnya KPI bersama LSF atau KPAI atau lembaga lainnya yang berkepentingan membuat sebuah aturan untuk mengatasi masalah ini, karena televisi bukan hanya media penyiaran dengan segala informasi dan hiburan yang disuguhkan tetapi juga untuk mendidik moral, etika dan sopan santun kepada penonton. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri