Ilmuwan Hanya Pahami 5 Persen Isi Alam Semesta
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
12 October 2019 10:00
Watyutink.com - Nobel Banquet dikenal sebagai ‘pesta makan malam terkeren di dunia’. Acara dengan menu sentuhan Skandinavia ini diselenggarakan setiap 10 Desember untuk merayakan peraih Hadiah Nobel bidang fisika, kimia, fisiologi atau kedokteran, sastra, perdamaian, dan ilmu ekonomi.

Menu yang akan disajikan untuk Nobel Banquet 2019 masih dirahasiakan, namun marilah tengok menu pada 2007. Kala itu tamu-tamu kehormatan menikmati lobster jello dengan ikan halibut panggang dibumbui dill, dan kaviar Kalix dari Swedia; ayam muda dengan kentang almon dan campuran akar seledri; serta buah raspberry dan blackcurrant dengan kacang pistachio dan es krim vanila.

Mereka yang menikmati sajian pada ‘pesta makan malam terkeren di dunia’ itu antara lain Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, pendiri dan ketua The Climate Reality Project dan wakil dari  forum Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim. Mereka meraih Nobel Perdamaian atas upayanya membangun dan menyebarluaskan pengetahuan lebih luas tentang perubahan iklim akibat aktivitas manusia, dan meletakkan dasar guna mengatasinya.

Sekitar 1.300 tamu menikmati ‘pesta makan malam terkeren di dunia’ di Balai Kota Stockholm. Mereka adalah sivitas akademika, pejabat pemerintah, pelaku budaya dan industri, korps diplomatik, politisi, dan keluarga kerajaan Swedia.

Menu makan malam terkeren menandai temuan-temuan luar biasa di bidang iptek dan kemanusiaan. Khusus tahun ini Hadiah Nobel untuk bidang fisika dan kimia bertabur pengetahuan tentang alam semesta dan solusi krisis iklim.

Hadiah Nobel Fisika 2019 yang ditetapkan untuk pemahaman tentang evolusi alam semesta dan posisi Bumi di jagat raya, diberikan kepada James Peebles dari Princeton University, serta Michel Mayor dan Didier Queloz dari University of Geneva.

The Royal Swedish Academy of Sciences menerangkan bahwa James Peebles berhasil menafsirkan jejak-jejak alam semesta sejak dini hingga kini. Ia menyimpulkan, ilmuwan hanya memahami lima persen dari isi alam semesta, seperti materi yang membentuk bintang, planet, pohon, dan manusia. Sisanya, 95 persen, yang masih misterius, terdiri dari materi gelap (26 persen) dan energi gelap (69 persen). Materi gelap merupakan materi tidak bercahaya di ruang angkasa, sedangkan energi gelap adalah gaya tolak yang menetralkan gravitasi dan menyebabkan alam semesta mengembang dengan pesat.

Michel Mayor dan Didier Queloz menemukan sebuah planet yang mengorbit bintang yang mirip dengan matahari kita. Planet itu berjarak 50 tahun cahaya dari Bumi itu (satu detik cahaya setara dengan jarak 300.000 km) ditemukan di rasi bintang Pegasus, dan dinamai 51 Pegasi b.

Penemuan ini memulai revolusi dalam astronomi sehingga lebih dari 4.000 eksoplanet, planet yang mengorbit bintang di luar tata surya, telah ditemukan di galaksi Bima Sakti, tempat Bumi berada.

Pada akhirnya manusia mungkin akan menemukan jawaban terhadap pertanyaan: Apakah ada kehidupan lain di luar Planet Bumi? Pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka yang ingin segera pindah ke planet lain karena khawatir dengan kondisi Bumi yang semakin tercemar dan terancam krisis iklim.

Hadiah Nobel Kimia 2019 ditetapkan untuk pengembangan baterai ion litium. Hadiah ini diraih John B. Goodenough dari University of Texas, Austin; M. Stanley Whittingham dari Binghamton University, New York; dan Akira Yoshino dari Asahi Kasei Corporation, Tokyo. Ketiganya tidak bekerja bersama, tetapi penelitian mereka menyempurnakan penemuan masing-masing.

Menurut majalah Smithsonian, para ilmuwan percaya bahwa 25 persen dari seluruh unsur kimia litium yang ada diciptakan ketika alam semesta masih sangat dini, bahkan sebelum sebagian besar bintang terbentuk.

The Royal Swedish Academy of Sciences menjelaskan bahwa pengembangan baterai ion litium merupakan sebuah revolusi teknologi karena memungkinkan adanya baterai ringan isi ulang untuk ponsel, alat pacu jantung, laptop dan mobil listrik.

Dengan menyimpan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air, baterai ion litium dapat menggantikan bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon penyebab krisis iklim.

Temuan-temuan baru memberikan harapan untuk kehidupan yang lebih baik, memperbaiki kualitas lingkungan, dan masa depan yang menjanjikan. Kelak akan lebih banyak generasi mendatang yang bisa menikmati menu-menu keren.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Salamudin Daeng

Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir