Istri Bercadar, Caisar Berjoget, Mereka Bercerai
berita
Humaniora
26 August 2017 00:00
Di jagat hiburan nama Caisar sedang trending. Ia telah menalak istrinya, Indadari, sejak kembali tampil berjoget di sebuah acara TV. Kawin-cerai masalah rumah tangga. Urusan pribadi, bukan persoalan publik. Namun urusan rumah tangga Caisar-Indadari ini layak didiskusikan lebih jauh.

Caisar menjadi seleb lantaran aktif berjoget di layar kaca. Jodoh mempertemukan Caisar dengan Indadari, janda Lucky Hakim. Sejak berumah-tangga, terjadi perubahan pada Caisar. Kesehariannya, Indadari tak hanya berhijab, tapi juga bercadar. Caisar pun ber-"hijrah". Gemerlap dunia hiburan sepenuhnya ditinggalkan. Caisar memilih berwirausaha kecil-kecilan. 

Namun belakangan Caisar muncul lagi di TV. Ia berjoget, berjingkrak, meliuk-liuk mengikuti irama musik. Netizen mencibir, tapi ia bergeming. Yang membuat pemberitaan kian ramai, sang istri tak setuju Caisar berjoget. Ia menolak dinafkahi dengan uang hasil berjoget. Sang istri menganggapnya uang haram. Menurut keyakinannya berjoget dan tampil di TV, haram hukumnya. Caisar lalu menalak sang istri.  

Yang menjadi tanya, benarkah joget dan tampil di TV haram? Kita tahu Rhoma Irama berdakwah sambil bernyanyi dangdut di depan khalayak. Apakah Bang Haji tak tahu hukum bernyanyi dan berjoget menurut agama yang diyakininya? 

Dalam Islam perkara musik dan joget tergolong halal atau haram masih jadi perdebatan. Ulama pun terbelah. Ada yang mengharamkan, ada pula yang membolehkan, sepanjang tidak menganjurkan maksiat dan paham anti-tauhid. Istri Caisar, berada di kubu yang mengharamkan. Pilihan keyakinan ini walau harus kita hormati, namun tetap menarik untuk dijadikan studi kasus dalam kaitan kehidupan di negara Pancasila.      

Tidak ada salahnya memunculkan pertanyaan, apakah paham yang diyakini istri Caisar bukti dari kian meluasnya paham wahabisme di Nusantara? Apa paham yang mengharamkan joget ini, cocok berkembang di Nusantara yang punya tradisi tarian ratusan tahun? 

Joget Caisar jadi tak sekadar urusan rumah tangga. Pemerintah, lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, misalnya, bisa turut mengambil peran, meyakinkan publik bahwa secara kebudayaan menari atau berjoget telah jadi bagian hidup kita selama ratusan tahun. Apa pemerintah akan membiarkan paham wahabisme tumbuh di bumi kita dan berkembang biak?

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Menurut Islam, satu perbuatan yang menyebabkan kelalaian beribadah atau mengingat kepada Allah SWT itu tidak dibenarkan. Tapi kalau kemudian kegiatan itu justru bisa menjadi instrumen pesan dakwah, bisa menjadi kegiatan reflektif, itu justru tidak masalah. Namun terkait dengan masalah Caisar, kalau kegiatan itu dalam rangka mencari nafkah dengan berjoget, sepanjang itu tidak memberikan kemudharatan, tidak ada masalah. Tapi kalau tariannya memberikan kemudharatan, jadi masalah, jadi haram. 

Namun, saya tak berani memvonis apakah yang dilakukan Caisar haram atau halal. Saya tidak dalam posisi memvonis itu. Yang jelas, yang paling tahu adalah Caisar sendiri atau masyarakat yang menilai. Dalam Islam, yang disebut haram atau halal bukan cuma terkait zatnya, tapi terkait juga dengan caranya.

Terlepas dari konteks masalah rumah tangga Caisar dan istrinya, jika ada istri secara terang menyatakan tidak mau atau menolak uang haram dari suaminya, itu justru istri yang baik. Itulah istri solehah. Dalam rumah tangga memang harus berlaku "Wa ta’awanu alal birri wattaqwa walaa ta’awanu alal itsmi wal’udwan (Tolong menolonglah dalam hal kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran)." 

Dalam konteks Muhammadiyah, sejak awal dipahami bila musik bisa menjadi instrumen menambah ketakwaan, bisa menambah keindahan pesan jadi medium dakwah itu baik. Dalam Islam tak mengenal istilah "musik Islam." Misal, nasyid itu bukan musik Islam. Dalam pemahaman kami musik adalah instrumen kebudayaan. Jangan salah, lho, qari yang membaca ayat Al Quran itu termasuk melakukan pendekatan seni. Iramanya adalah seni. 

Maka, mau apapun jenis musiknya, entah itu musik rock, dangdut, sepanjang musik itu mengandung pesan kebaikan, menambah ketakwaan, ia menjadi baik. Menjadi instrumen dakwah. Tapi kalau kemudian, apapun musiknya, bahkan nasyid pun, bila kemudian menyebabkan kemudharatan. Dan pesan-pesan yang disampaikan misalnya pornografi atau pesan yang disampaikan justru kemungkaran, di situ ia dikategorikan haram. Memang ada kelompok yang mengatakan musik haram. Tapi dalam tradisi Islam Sunni yang mainstream di Indonesia tidak dalam posisi seperti itu (mengharamkan musik--red). Bagi saya kelompok-kelompok yang memiliki paham seperti (mengharamkan musik) itu tidak pas (di Indonesia). (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 Mantan narapidana terorisme

Ada yang mengharamkan hiburan, musik, joget dan sebagainya. Tetapi ada juga dalil yang membolehkan. Dalam beberapa riwayat Rasulullah membolehkan (musik), misalnya di pernikahan ada kendang. Bahkan di Arab Saudi ada tradisi menjamu tamu dengan tarian. Jadi, soal halal-haramnya perlu dikaji kembali.

Yang mengkhawatirkan saat memegang satu dalil, lalu menafikan dalil yang lain. Seharusnya hukum Islam tidak bisa diukur hitam-putih. Padahal ada kitab fikih lain, misalnya karangan Yusuf Qardawi, yang membolehkan musik. Artinya, hiburan seperti itu (musik dan lain-lainl) boleh saja, yang penting tidak melalaikan pada (perintah) Allah.

Orang sekarang cenderung mengabaikan fikih ikhtilaf (perbedaan pendapat). Begitu mendapat pemahaman haram, nggak ada reserve. Jadinya cenderung doktrin. Yang terjadi kemudian benturan. Hal ini tak hanya terjadi pada Caisar dan Indadari, tapi juga di keluarga lain. Banyak terjadi orangtua masih suka musik, sedang anak mengharamkan. 

Caisar belum dapat alternatif rezeki, dia agak tersinggung sebagai kepala rumah tangga. Harusnya Caisar dihormati sebagai, apalagi istrinya sedang sakit butuh biaya. Mungkin kemarin ada kata-kata nggak enak terlontar dan menyakitkan.

Tapi saya juga memahami, istri Caisar yang baru mendapatkan jati diri. Lagi senang-senangnya mengaji. Dia bercadar dan sebagainya. Ini masih proses, belum ada pematangan dan sebagainya. Sementara Caisar saya tahu betul, usahanya bankrut semua. Dia pernah punya rumah makan di daerah Cikeas, bangkrut. Ada usaha lain lagi, bangkrut. Jadi dia mau cari duit ke mana lagi? Sementara istrinya sakit kanker. Seharusnya malah, kaum salafi ini bantu dia. Daripada joget-joget mending dibantu, diajak bisnis. 

Dalam beragama kita krisis tasamuh (toleransi). Islam sendiri membolehkan yang haram jadi halal, pada keadaan daurat. Misal, makan daging babi, ketika tak ada makanan lain, daripada mati kelaparan, dibolehkan, asal tidak berlebihan. Caisar bisa dipandang dengan perspektif ini. 

Dalam kaitan dengan pemerintah, Kementerian Agama dapat mengadakan pelatihan bagi guru-guru agama, mentor-mentor pengajian. Beri mereka pemahaman kita hidup di bangsa yang majemuk, perlu memahami realitas dan kerukunan bisa terjaga. Ini baru urusan rumah tangga. Bagaimana jadinya bila terjadi perbedaan pendapat dengan umat lain agama? Jangan sampai kita berperang. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Mantan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU)

Ada beberapa perspektif ulama soal musik. Pertama, haram karena melalaikan seseorang mengingat Allah. Perspektif ini lahir karena musik itu berfoya-foya, berpesta, yang membuatnya lupa pada Allah. 

Kedua, ada yang memahami bagian keindahan alam ciptaan Allah. Ini diyakini kaum sufi. Mereka menganggap bermusik sarana mengenal Allah yang menciptakan alam. Ketiga, ada yang menganggap musik sarana refreshing dari kepenatan pikir atau kesumpeken diri. 

Bagi saya, musik selama dinikmati dengan baik, bagian dari refreshing dan tidak berlebihan, halal. Tapi bermusik yang berlebihan, apalagi dengan minum-minum, joget lelaki-perempuan, bermaksiat, dan lalai pada Allah, tentu haram. Minimal makruh karena memalingkan dari mengingat Allah.

Wahabisme berkaitan dengan paham (isme) keyakinan tentang hal-hal yang furu'iyah dalam aqidah. Jadi tidak bisa diidentifikasi dengan misalnya, oh, kalau mengharamkan (joget) berarti wahabi. Mungkin keyakinan itu lahir dari teks yang lebih ketat atau rasa khawatir dengan joget membuat diri (si pelaku joget) dan orang lain (yang menikmati jogetnya) lalai pada Allah. Sifat orang beragama beda-beda, ada yang senang ketat, yang senang longgar, ada yang senang sedang-sedang saja. 

Paham tidak ingin mendapat penghasilan dari joget bukan ekstrem. Itu paham beragama yang ketat. Ingin lebih hati-hati mendapat rezeki halal menurut dia dan lebih bersih, itu bukan ekstrim. Paham radikal dan ekstrem adalah paham yang mengkafirkan orang lain dan yang membahayakan hidup orang lain dalam skala nasional maupun internasional. Kalau cuma seperti istri Caisar bukan ekstrem. 

Kalau sampai tarian-tarian buka aurat, melalaikan dari beribadah atau berbuat baik, meski di Nusantara, perlu juga diislamisasi. Tidak mengubah esensinya, tapi disemai dengan nilai-nilai beragama yang luhur. Dan itu dilakukan pejuang agama di Indonesia, misalnya, bagaimana wayang diisi syahadat, tradisi sekaten, gapura dari (bahasa Arab) ghåfurå (berarti mohon ampun--red).

Tidak baik semua budaya dihilangkan, tapi tidak baik juga budaya dibiarkan dari dulu tanpa diikutkan dengan perkembangan paham dan nilai yang dianut masyarakat. Caranya,berikanlah masyarakat pendidikan karakter, yang bernilai budaya dan pada saat bersamaan memberi nilai-nilai dari paham agama atau kepercayaan yang dianut di Indonesia. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik