Joshua Oh, Joshua...
berita
Humaniora

Dok. Youtube

20 January 2018 10:00
Sebetulnya, dari sudut budaya pop, apa yang diucapkan Joshua adalah jawaban dari pertanyaan banyak orang: kenapa Anisa Rahma jadi personel Cherrybelle paling dikenal dibanding yang lain? 

Seperti kata Joshua, Anisa bukan leader dari girlband yang sudah bubar itu. Cherly leader-nya. Persisnya, mantan penyanyi cilik itu bilang begini: "Itu terbukti zaman dulu, semua mata lelaki, tertuju pada Anisa, Anisa, Anisa, padahal skill-nya Ani ya tipis-tipis, dance tipis-tipis, cantik relatif, gue mikir, kenapa Anisa lebih unggul dari Cherly, makanya Che, Islam." 

Joshua melanjutkan: "Karena di Indonesia ini, ada satu hal yang tak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apapun, mayoritas-mayoritas."

BACA JUGA: Saat Pangeran Arab Saudi Membeli Lukisan Yesus

Ya, bila Anda ingat, semua personel Cherrybelle keturunan Tionghoa. Hanya Anisa yang muslim dan pribumi. Selain itu, penduduk Indonesia memang mayoritas Muslim. Terbesar di dunia, malah.      

Rupanya, ada yang mengganggap omongan itu dianggap menghina Islam. Di mana bagian menghinanya? Apa karena skill Anisa sebetulnya beda tipis dengan personel Cherrybele lain, tapi kok malah ia yang lebih terkenal? Apa menyebut "mayoritas mengalahkan bakat" tergolong menghina? 

Di sinilah, sekali lagi kita bertemu sebuah fenomena yang tak terlalu baru terkait kehidupan sosial beragama masyarakat Indonesia zaman now: gampang marah dan tersulut emosinya. Apa-apa langsung diprotes, main lapor pihak berwajib.      

BACA JUGA: Agar Fans Tak Ikut Bunuh Diri Seperti Jonghyun SHINee

Joshua jelas bukan yang pertama dari sikap tak rileks dalam beragama. Sebelumnya ada film musikal anak Naura dan Genk Juara hendak diboikot lantaran penjahatnya bilang istigfar. Sejak kasus pelecehan agama berujung vonis pada Ahok, kasus semacam ini makin banyak kita temukan. Yang jadi tanya lalu, mengapa orang beragama zaman sekarang gampang tersulut amarahnya? 

Apa yang diucapkan Joshua bagian dari lawakannya saat tampil di sebuah panggung stand-up comedy yang lalu diunggah seseorang ke Youtube. Apakah lawakan Joshua telah melampaui batas? Dan yang lebih penting lagi, adakah batasan dari sebuah lawakan stand-up comedy? Hal-hal apa saja yang haram dijadikan lelucon? 

Setiap budaya dan orang-orangnya punya ukuran masing-masing atas apa yang disebut lucu dan tidak? Bagaimana mengukurnya di Indonesia yang berpancasila?

Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade)   

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pelawak stand-up comedy

Saya sempat ditanya teman-teman media, dimintai pendapat tentang kasus yang menimpa komika. Saya nggak mau ikut berpendapat. Biasanya saya tolak wawancara begitu. Cuma, yang jelas, komika itu beda dengan pelawak yang bercandanya spontan. Kami menyiapkan materi lawakan dengan menulis dahulu. Menyiapkan semuanya. 

Saya bersyukur masih diundang manggung, nih. Terima kasih banget buat iflix (ia manggung di acara peluncuran seri stand-up comedy iflix, Oi! Jaga Lambe, 18/1/2018--red). Gara-gara kasus (Joshua) kemarin sepi, nih. Orang jadi takut menanggap komika. 

Kemarin saya tampil di sebuah acara korporasi (perusahaan). Di situ banyak banget aturannya. Saya diberi guide-lines (panduan): No SARA, No sex, nggak boleh menyinggung soal gender dan segala macam dan yang terakhir "No fat jokes" (dilarang membuat lelocon soal orang gemuk--red). Untung honornya besar, saya ikut saja. Jadi, sebetulnya saya hamba uang. 

Catatan: Komentar ini disampaikan di panggung acara peluncuran seri stand-up comedy iflix Oi! Jaga Lambe di Beer Hall, kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (18/1/2019). (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Budaya

Ada faktor media sosial juga yang turut berperan di sini. Peran media sosial besar untuk menyalurkan energi marah-marah mereka. Hal ini mengesankan suatu keadaan general, atau yang dipercayai umum bahwa orang beragama di zaman sekarang gampang sekali marah-marah.    

Karena sekarang lebih mudah untuk mengakses atau meng-ekspose sesuatu ke publik lewat media sosial, maka kemarah-marahan ini berbuah mengajak orang lebih cepat marah juga. Jadinya kini lebih banyak orang lebih cepat marah-marah. 

Misalnya ada yang marah di media sosial, "Joshua telah menghina dan melecehkan Islam." Yang melihat itu jadi marah dan yang marah makin banyak. Kalau dulu kemarahan hanya bisa diungkap dalam sebuah forum yang terbatas dan harus dihadiri secara fisik. Sekarang bisa puluhan ribu orang bisa langsung tersulut. Apalagi ada mekanisme retweet dan share. Yang sering kali orang saat ini reaksinya bukan hanya marah tapi juga membagi (menyebarkan kemarahannya). Lama-lama keadaan ini menjadi penyakit sosial. 

Kalau kita bicara Indonesia, seringnya kita bicara mayoritas Islam. Catatan pertamanya adalah semua kelompok agama punya fundamentalismenya sendiri dan kelompok yang suka marah-marah. Begitu juga kaum ateis ataupun sekuler punya fundamentalisnya masing-masing.  

Menyangkut Islam, apakah ada dalam ajaran Islam yang membuka jalan untuk beragama dengan marah-marah. Ada. Dan di semua agama lain juga ada. Namun, karena umat Islam mayoritas di sini, kini ada watak yang saat ini berkembang kecenderungan umat minta dimanja sekali. Umat selalu minta diladeni dan didahulukan. Yang ini akhirnya menimbulkan konflik bila menemukan keadaan yang tak menguntungkan mereka. 

Perasaan merasa kurang dan minta lebih melulu muncul seiring tumbuhnya politik identitas. Misalnya, mereka teriak, "Pemimpin harus beragama Islam." Jadi, ada politik identitas untuk membedakan diri dengan agama lain. 

Menurut saya, apa yang diucapkan Joshua tidak ada yang menyangkut akidah (Islam). Dan kalaupun lawakan itu dikatkan dengan soal akidah, bahkan Nabi Muhammad saja pernah bercanda. Misalnya ada kisah ketika seorang nenek-nenek datang bertanya pada Nabi, "Apakah ia bakal masuk surga?" Nabi menjawab dengan bercanda. Itu kan persoalan akidah, tentang keberadaan surga dan neraka. Tapi oleh Nabi pun jadi bahan bercandaan. 

Dalam lawakan batasannya adalah hak kita sendiri dan orang lain. Tapi bila orang lainnya yang jadi tolak ukurnya punya masalah kejiwaan kan repot. Orang macam itu harus diberlakukan juga batasan lain. Kita bisa balik bertanya, apakah ekspresi keberagamaan itu ada batasannya? Ada. Batasannya juga orang lain. Misalnya bila ia menyinggung atau mengganggu banyak orang. Jika di dalam satu ruangan ada 40 orang lalu ada satu orang yang doyan teriak-teriak, harusnya ia yang dibatasi (karena mengganggu orang lain). 

Memangnya yang bisa melecehkan hanya humor? Nggak. Ekspresi keberagamaan juga. Siapa yang membatasi? Ajaran agama kita sendiri. Misalnya, ada kaidah dalam agama, perlakukan tetanggamu sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Kamu ingin dihormati, ya hormati orang. 

Sekarang misalnya pelawak, hormati dong profesinya. Jangan sedikit-sediit bilang (lawakannya) penistaan atau pelecehan. Soal Joshua ini melecehkannya di mana? Di situ tidak juga ada penghinaan. Bodoh sekali jika menganggap ucapan Joshua penistaan. 

Ingat, agama kita sendiri berpesan, "Jangan berlebih-lebihan dalam  beragama." Bahkan, agama sendiri di situ sudah memberi batasan untuk tidak melampaui batas. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis buku

Orang menjadi mudah marah dan tidak rileks dalam beragama menurut saya disebabkan oleh setidaknya dua hal.

Pertama, pemeluk agama yang mudah marah ini biasanya  menganggap agama itu adalah tujuan, bukan jalan.  Bagi orang seperti ini, seolah selalu hanya ada satu cara yang paling benar untuk mencapai tujuan.  Hanya ada satu tafsir. Dan itu adalah tafsir yang ia pilih untuk percaya. 

Bagi orang yang menempatkan agama sebagai tujuan, biasanya fokus mereka hanyalah tentang bagaimana mematuhi aturan-aturan di dalam teks yang dibaca secara harfiah dan bagaimana menegakkan segala aturan itu dengan ketat tanpa memandang konteks dan latar belakang lahirnya aturan tersebut. Teks-teks keagamaan diposisikan sebagai sesuatu yang tetap, sudah selesai dan tidak ada lagi ruang kelenturan tafsir.

Kedua, kecenderungan meningkatnya sentimen politik identitas (baik ras maupun agama)  di seluruh dunia yang dipicu oleh ilusi kelangkaan sumber daya.

Kita amati keadaan ini misalnya juga terjadi di AS dan Eropa. Ada prasangka negatif dan kecemasan kepada imigran (yang juga memiliki agama asal) yang memicu penguatan identitas sebagai warga lokal khususnya kulit putih. Dalam konteks Indonesia, isu  yang cenderung cepat disulut adalah ketika kelompok agama mayoritas dibenturkan dengan etnis tertentu, seperti Tionghoa yang dianggap lebih menguasai sumber daya.

Narasi-narasi yang kerap beredar dan disebarkan oleh kelompok berkepentingan saat ini sebetulnya memanfaatkan antara lain kenangan dan pengalaman umat berada di bawah rezim Soeharto di mana semua kekuatan kelompok memang mengalami represi.    

Narasi bahwa umat dizalimi dan diperlakukan tidak adil oleh pemerintah terus dikembangkan seolah hal itu masih terjadi, meskipun kenyataannya semua fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Kita bisa berspekulasi tentang kelompok manakah yang berkepentingan menyebarkan narasi tersebut, yang kemungkinan besar membawa ambisi politik maupun ekonomi. Namun saya lebih tertarik untuk menganalisis kenapa narasi ini begitu laku dijual?   

Salah satu kemungkinan adalah di tengah derasnya arus perubahan, limpahan informasi dan hiruk pikuknya perkembangan kemajuan dunia, orang cenderung merasa overwhelmed alias kewalahan. 

Kita membutuhkan cara untuk memaknai segalanya, memerlukan pegangan agar memiliki perasaan ajeg. Bagi sebagian orang jawabannya adalah kembali kepada ‘akar’ atau sesuatu yang bisa memberi makna atas dirinya. Membuatnya merasa aman dan memiliki tempat di dunia ini. Bagi sebagian orang akar itu adalah warna kulitnya, bagi orang lain itu mungkin adalah agamanya. 

Manusia juga lebih mudah menumpukan kesalahan kepada pihak lain, antara lain untuk meningkatkan kohesivitas kelompoknya dan  menciptakan musuh bersama (demi menguatkan identitas). Misalnya gara-gara kelompok A maka kita tidak kunjung kaya, atau karena serbuan kedatangan kelompok B maka negara kita jadi berantakan.   Setiap individu pada hakikatnya sama, memiliki hasrat untuk diterima sebagai dirinya sepenuhnya dan menjadi bagian dari sesuatu yang penting baginya. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri