Kala Beban Sekolah Memicu Siswa Bunuh Diri
berita
Humaniora
Sumber Foto : twitter.com (gie/watyutink.com) 04 June 2018 15:00
Pesan itu berbunyi: "Maklek [pengasuhnya-red.] jangan teriak. Panggil Orang Disekitar. Hub Mardi Waluyo (0342-xxxxxx). Bawa Tas Ini. Kartu BPJS Ada Didalam Amplop. Jangan Ada Ambil Gambar Disini !" Penulisnya, remaja 16 tahun berinisial EP yang bunuh diri di kamar kosnya di Blitar, Jawa Timur, 29 Mei silam. Pelajar SMP itu gantung diri takut tidak diterima masuk SMA favorit di Kota Blitar, SMAN 1 lantaran terbentur sistem zonasi. Ia berdomisili di kabupaten, sementara SMAN 1 terletak di kota. Tragis. Sebab EP siswa berprestasi. Nilai ujian nasionalnya 359,0. Ia dikenal sosok pendiam yang rajin belajar, mengikuti sejumlah olimpiade. 

EP tidak sendirian. Sebelumnya, AL, 15 tahun, melompat dari lantai 33 Apartemen Taman Rasuna, Setia Budi, Jakarta Selatan, Minggu, 20 Mei 2018. Ia stres karena nilainya jelek dan cemas menghadapi ujian bahasa mandarin. Tahun 2017, AM (17), murid salah satu SMK di Padang Sidempuan bunuh diri karena diduga diintimidasi guru karena mengunggah jawaban bocoran UN dari sekolahnya. Sebelumnya juga, pada 2013, seorang murid berinisial FW (17) di Tangerang bunuh diri dengan melompat ke Kali Cisadane karena kecewa tidak lulus Ujian Nasional (UN). Sejak 2007 tercatat sekitar 11 murid meninggal karena UN. Delapan di antaranya bunuh diri dan tiga lainnya sakit keras karena stres. 

Sungguh tak enak jadi murid sekolah saat ini. Beban pelajaran kian menggunung. Dalam sehari waktu belajar di sekolah delapan jam. Itu belum termasuk les tambahan. UN pun jadi momok. Gagal UN seolah berarti gagal hidup. Bagi sekolah, UN jadi standardisasi keberhasilan/kegagalan proses belajar mengajar. Itu sebabnya bagi siswa maupun sekolah UN maha penting. Belajr dan les tambahan saja tak cukup. Tuhan pun dilibatkan lewat doa bersama guru dan murid.      

Tekanan psikologis seperti itu yang akan memicu murid untuk bunuh diri. Apakah pihak pemerintah dan sekolah berpihak pada anak yang menghadapi tekanan psikologis? Atau, apa pemerintah hanya memikirkan angka kemajuan mutu pendidikan dan sekolah hanya sibuk mementingkan akreditasi? 
 
Tahun 2016, pemerintah memfokuskan sekolah untuk penanaman pendidikan karakter. Prinsip saling asah, asih dan asuh harus terlaksana dengan baik, begitulah kata pemerintah. Jika penonjolan pendidikan karakter terus menerus digaungkan, lalu kenapa UN masih menjadi beban berat di “pundak” para murid sekolah? Di mana posisi pendidikan karakter dalam standarisasi mutu pendidikan di Indonesia? Apakah berkarakter hanya dibebankan ke murid saja? Tidakkah sebaiknya tim pengajar/pengatur kebijakan pendidikan juga perlu mendapatkannya?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Rafe’I Ali Institute, Penulis, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’il Anwar, Banten

Berkaitan dengan pendidikan di Indonesia, ada beberapa kata/frasa yang bisa kita tandai dalam membaca persoalan dunia pendidikan hari ini: "UN", "Depresi/Bunuh Diri", "Pendidikan karakter", dan "standarisasi"? Dari beberapa frasa tersebut, kita coba rangkaikan dalam bentuk narasi, "Pemerintah bermimpi menerapkan pendidikan karakter, tetapi menerapkan standarisasi pendidikan melalui UN sehingga menimbulkan depresi dan bunuh diri di kalangan siswa."

Tujuan yang diinginkan di sekolah yang ada di Indonesia yakni karakter, tetapi standarisasi pendidikan tetap mengandalkan ujian secara akademik seperti UN, tentu hal ini tidak sinkron. Ketidaksinkronan itu menyebabkan depresi, anak menjadi korban depresi karena dituntut berhasil UN, dituntut juga penerapan niai karakter di sekolah.

Dunia pendidikan kita di Indonesia memang sedang depresi. Siswanya depresi akibat UN, gurunya depresi akibat tuntutan akreditasi sekolah sehingga terpaksa atau kerap memberikan bocoran jawaban saat UN, dan pemerintah pun depresi karena sampai saat ini mereka masih larut dalam kedepresian sehingga belum move-on ke sistem pendidikan yang menyehatkan.

Di sini kita perlu mempertemukan dua frasa lagi, yaitu "karakter" dan UN sebagai standarisasi pendidikan". Benarkah standarisasi bisa melahirkan karakter? Saya mengharapkan pendidikan Indonesia seharusnya menonjolkan keteladanan. Teladan artinya berorientasi pada akhlak, budi pekerti dan berdimensi kejiwaan, Akhlak dan budi pekerti merupakan bagian dari keteladanan.  

Jika pemerintah menonjolkan nilai pendidikan karakter, yang jadi pertanyaan apakah mereka tahu apa itu karakter? Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti, artinya memiliki kepribadian dan juga berwatak. Untuk itu sudah jelas bahwa kasus bunuh diri semata karena ujian tidak lagi terjadi di kalangan anak didik kita jika pendidikan karakter secara komprehensif direalisasikan. (win) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
pengajar, pemerhati pendidikan

Menurut saya Ujian Nasional (UN) sangat perlu diterapkan untuk pemerataan pengetahuan pendidikan. UN dijadikan patokan para guru untuk mengajarkan materi dengan benar. Kalau tidak ada UN, besar kemungkinan beberapa sekolah seenaknya saja mengajar tanpa ada target. 

Penerapan UN menurut saya sudah bagus karena pelaksanaannya mulai berinovasi ya. Dulu pakai kertas sekarang pakai laptop. Selain itu, ada kisi-kisi dari pemerintah juga. Nilai standarnya juga cukuplah untuk standar nasional. Sekarang juga penentu lulus tidak hanya UN, tetapi nilai dari guru juga. 

Terkait seorang pelajar bunuh diri di Blitar, yang perlu kita pertanyakan adalah selama sekolah sikap pelajar ini bagaimana? Apakah pendiam? Sebenarnya guru punya peran penting akan ini, harus memerhatikan bahkan menjiwai anak didiknya tetapi sayangnya guru sekarang banyak disibukkan dengan administrasi pendidikan yang ribet seperti membuat RPP kurikulum yang cenderung berubah. Jadi fokus guru terpecah. 

Menurut saya guru di Indonesia sebagian besar bukanlah guru sejati. Banyak guru mengajar tidak sesuai jurusannya karena pendapatannya juga kurang, sehingga si guru tersebut meminta les tambahan/mata pelajaran tambahan agar pendapatannya tercukupi. Misalnya guru kimia mengajar kimia dan sejarah. Kan hal ini jelas sudah salah, fokus guru akan terpecah. Karena bukan guru sejati tadi menurut saya beberapa guru tidak mengajar dengan benar atau semena-mena. 

Saya juga ingat peristiwa guru di Padang Sidempuan yang mengancam siswa saat menyebarkan perilaku si guru menyebarkan bocoran jawaban UN. Kan siswa tersebut masih usia anak, wajar saja dia labil dan ketakutan. Inilah contoh guru yang tidak sejati. Guru hanya memikirkan yang penting lulus. Persoalan anak didiknya mengerti pelajaran, dia tidak peduli. Yang lebih miris, si guru tidak sadar pekerjaannya sebagai guru adalah mendidik anak bukan sekadar meluluskan anak. 

Banyak guru dan pembuat kebijakan kesannya tidak berkarakter. Hal itulah menyebabkan guru-guru yang tidak sejati. Jadi, guru hanya sekadar profesi, sumber pendapatan, tidak mendalami peran sebagai guru. Secara fakta, penerapan pendidikan karakter belum dilaksanakan padahal sudah digaung-gaungkan pemerintah. 

Menurut saya, sekolah atau guru tidak mengerti cara menerapkannya dan waktu terbatas untuk menerapkannya, padahal pendidikan karakter secara tertulis sudah ada di rapor siswa. Harapannya pendidikan Indonesia itu tidak berganti-ganti kurikulum setiap tahun karena itu menyulitkan sekolah dan guru, membuang banyak waktu para guru dan membuat fokus guru terpecah. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pemerhati Air bersih Muara Angke, Pendiri Yayasan Rumpun Anak Pesisir Muara Angke

UN (Unjian Nasional) bukanlah standar kelulusan nasional tetapi tanpa disadari UN-lah menjadi penyebab depresi bagi pelajar. Kita semua ikut berperan membuat anak-anak depresi. Keluarga memaksa anak-anaknya untuk belajar super keras untuk menghadapi UN. Sekolah mengadakan pelajaran tambahan di luar jam belajar pada akhirnya membuat pelajar stres, sampai ada sekolah yang mengadakan doa bersama untuk kelancaran menghadapi UN. Tentu hal tersebut menunjukkan bahwa UN sangatlah menakutkan. 

Adanya standarisasi nilai UN untuk masuk sekolah favorit menurut saya tidak efekti, justru hal itu menjadi penyebab anak-anak stres karena mereka jadinya merasa akan memasuki tahapan yang menyeramkan yang membuat mereka tidak konsen mengerjakan soal. Sehingga nilainya jelek dan tidak bisa masuk ke sekolah impiannya. kalau tidak masuk bagaimana? Anak akan stres, kasus di Blitar contohnya, anak stres dan memilih mengakhiri hidupnya. 

Saya sendiri sangat tidak setuju dengan adanya UN karena menjadi “monster” yang menakutkan bagi pelajar. UN sebagai standar kelulusan nasional menimbulkan ketakutan dan stres bagi pelajar yang belum siap menghadapinya. Kondisi anak-anak dalam menghadapi UN berbeda beda. Banyak anak-anak yang cerdas yang biasa selalu menjadi bintang kelas tiba-tiba stres karena dia merasa akan masuk dalam sebuah kompetisi masa depan yang membuat mereka tidak bisa konsentrasi menghadapinya. Tuntutan untuk mendapatkan nilai yang tinggi dengan harapan bisa lanjut ke sekolah favorit membuat konsentrasi mereka malah buyar sehingga yang didapat adalah nilai yang tidak di harapkan. 

Kasus bunuh diri seorang pelajar baru-baru ini bukanlah yang pertama sebagai bukti bahwa UN sebagai standar kelulusan nasional perlu dihapus. Fasilitas sekolah di kota besar dan daerah juga berbeda dan harusnya kita tidak bisa menerapkan standar nilai kelulusan yang sama. Kalau UN di katakan sebagai pendidikan yang mengajarkan kecurangan, korupsi, nepotisme saya sangat setuju. Karakter inikah yang perlu kita ajarkan untuk generasi bangsa kita? 

Kenapa saya katakan demikian? Ketakutan mendapatkan nilai bagus membuat anak-anak berusaha untuk nyontek bahkan rela membeli bocoran soal. Kita sebagai pendidik yang ketakutan anak atau saudara kita yang sedang menghadapi UN tidak lulus berusaha membantu membocorkan soal agar keluarga atau anak kita tersebut bisa lulus. Ini adalah dampak dari UN yang menyeramkan sehingga kita juga ikutan mengajarkan kecurangan pada anak-anak.

Pekerja anak di kampung nelayan Muara Angke merasa bukan hanya UN yang menjadi masalah tetapi sekolah secara umum sangat membebani mereka. Berbeda dengan anak-anak yang tidak perlu bekerja karena sekolahnya masih didukung penuh oleh keluarga. Kesibukan bekerja membuat anak-anak jadi bercabang pikirannya antara mikirin sekolah dan mikirin besok makan apa. Anak-anak yang tidak lulus memang sangat perlu didampingi karena biasanya anak-anak yang tidak lulus ini akan semakin rendah diri. Merasa dirinya bodoh dan tidak pantas sekolah tinggi dan semakin larut menjadi pekerja anak .

Ketika bertanya kepada anak-anak apa yang paling menyenangkan di sekolah, sebagian besar mengatakan jam pulang sekolah yang dipercepat karena berbagai alasan seperti ada rapat guru adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa kita perlu mengubah sistem belajar kita menjadi model yang menyenangkan bagi anak-anak. Guru harus lebih banyak mendapatkan pelatihan khusus agar tercapai model yang diharapkan. Menambah jam pelajaran misalnya, menurut saya malah semakin membuat anak-anak stres dan pelajaran yang didapat tidak maksimal. Jadinya hanya sekedar mengejar nilai dan mengesampingkan pendidikan karakternya. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ahli psikologi, pengajar, pemerhati anak

Kalau menurut saya secara psikologis Ujian Nasional (UN) memberatkan siswa. Kita harus tahu bahwa standar UN sama itu tidak adil, karena kecerdasan siswa berbeda-beda berdasarkan teori kecerdasan psikologi Gardner. Jadi UN membatasi kecerdasan siswa karena sejauh ini UN hanya menilai kecerdasan secara akademis saja. 

Kualitas pendidikan di Indonesia belum merata, sehingga UN jadi momok untuk siswa. Menurut saya penggunaan nilai UN seharusnya bukan jadi tolok ukur buat siswa, tetapi bagi pemerintah, orangtua dan lembaga pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia bersama-sama, baik secara material dan non-material seperti kurikulum. 

Keadaan anak yang tidak lulus UN sangat mengkhawatirkan karena si anak akan merasa tidak berharga. Self-esteem dan self-worth anak akan terganggu ketika anak tidak mendapatkan pendampingan yang tepat untuk melewati masa-masa ini. Self-esteem dan self-worth maksudnya adalah seorang anak merasa depresi, merasa tidak berharga, merasa tidak mampu mengerjakan apapun, menyalahkan diri sendiri walaupun bukan kesalahannya. Hal itulah yang  mendorong anak untuk bunuh diri. Oleh karena itu, sekolah harus memikirkan psikis anak, tidak hanya menuntut akademis tetapi karakter anak perlu diperhatikan. 

Harapan saya untuk pendidikan di Indonesia adalah kualitas pendidikan di Indonesia seharusnya merata supaya setiap anak-anak di Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama baiknya. Kemudian, masyarakat harus menyadari bahwa pendidikan itu bukan tanggung jawab pemerintah dan lembaga pendidikan saja, tetapi seluruh pihak. Keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah sama-sama berusaha untuk menjadi agen pendidikan/tenaga pendidik. 

Semoga pendidikan di Indonesia membuat anak-anak menjadi manusia (sebagai makhluk individu dan makhluk sosial) dan cinta untuk belajar, bukan sekadar mengejar nilai. Terkhusus untuk lembaga pendidikan, semoga setiap anak merasa secure di lembaga pendidikan apapun. Anak merasa diterima dan dicintai, sehingga anak bisa menemukan dan meningkatkan strength/ bakat/ kemampuan/ potensi mereka. (win)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF