Karya Anak Bangsa: Diabaikan di Dalam, Diakui di Luar
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 15 May 2019 15:00
Watyutink.com - Sudah sepatutnya kita sebagai warga negara Indonesia bangga terhadap budaya dan karya lokal anak bangsa. Pasalnya, tidak sedikit karya seni khas Indonesia atau warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia, seperti batik misalnya. Belum lama ini saja diplomasi batik telah mewarnai sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Dalam sidang tersebut, para delegasi dari negara-negara besar, tak terkecuali Sekjen PBB, mengenakan batik dengan berbagai motif. Artinya, batik yang merupakan karya seni khas Indonesia, yang juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, akan semakin populer dan harum di mata dunia.

Sebenarnya tak hanya batik, banyak karya lokal anak bangsa yang juga sangat dihargai oleh negara lain, tapi mirisnya, tak diakui oleh negara sendiri. Kita tahu bahwa Indonesia tak hanya memiliki warisan budaya yang beragam, tetapi juga memiliki anak-anak bangsa yang cerdas, yang telah banyak melahirkan karya yang luar biasa. Namun ketika negara lain menghargainya, negara kita sendiri justru memandangnya sebelah mata dan justru terkesan diabaikan.

Pada dasarnya, Indonesia mampu bersaing dengan negara maju, khususnya dalam bidang Iptek atau teknologi. Sayangnya, Indonesia tak memberikan dukungan fasilitas dan dana bagi anak bangsa yang mampu menciptakan karya teknologi yang canggih, seperti yang dilakukan beberapa negara maju. Tak hanya itu, dana riset di Indonesia pun masih sangat kurang. Mengapa demikian?

Ada beberapa karya canggih anak bangsa yang diakui negara lain, tetapi justru diabaikan pemerintah kita. Seperti alat terapi kanker ciptaan Dr Warsito Taruno. Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) yang telah terbukti efektif dapat memerangi sel kanker, hingga saat ini tidak mendapat izin dari lembaga kesehatan indonesia. Tetapi, Jepang justru membelinya karena dianggap jauh lebih baik dibandingkan dengan produk buatan negara lain.

Kemudian siapa bilang Indonesia tak dapat membuat mobil sports? Seorang pakar mesin Indonesia bernama Ricky Elson, berhasil menciptakan mobil sports berbahan bakar listrik yang diberi nama Selo. Namun, pemerintah menolak mobil tersebut karena tidak lolos uji emisi. Hingga akhirnya mobil tersebut dibeli oleh Malaysia dan dikembangkan lebih lanjut.

Masih banyak karya anak bangsa lainnya yang tidak diakui pemerintah kita, yang pada akhirnya jatuh ke tangan negara lain. Dengan minimnya perhatian pemerintah tersebut, banyak anak bangsa justru lebih memilih berkarya di negara lain dibanding di negara sendiri. Pertanyaannya, mengapa pemerintah terkesan mengabaikan karya anak bangsa? Dan, apa yang menyebabkan anggaran penelitian kita kalah jauh dengan negara lain?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Bangga menjadi bangsa Indonesia. Bahkan semakin bangga dan menggembirakan serta disambut penuh euphoria ketika orang Indonesia, baik pribadi, kelompok atau delegasi Indonesia tampil memikat atau menjadi pemenang di pentas internasional. Miliaran kata tumpah memuji. Yes, I am proud of you my Indonesia. You are the best. You are amazing dan sebagainya.

Itulah seonggok kata yang merefleksikan rasa bangga dengan achievement atau prestasi yang diraih dalam berbagai kontes atau pertandingan di tingkat dunia. We are the winner! Ya, kita  pemenang. Kita bangga menjadi bangsa Indonesia. Kebanggaan itu, bukan saja dalam momentum-momentum kompetitif yang kadangkala menderaikan mata suka dan gembira, tetapi kita juga sangat bangga dengan keberagaman suku, budaya dan seni yang dimiliki bangsa Indonesia, yang justru dapat dikatakan sebanding dengan kekayaan sumber daya alam negeri ini. Kita bangga dengan kekayaan budaya dan seni bangsa ini. Selayaknya kita membakar semangat “ bangga dan cinta Indonesia”. I love Indonesia. Ya I love Indonesia, amazing and amazing, etc

Selain kekayaan dan kemenangan kita seperti disebutkan di atas, kita juga sesungguhnya memiliki banyak ilmuwan, teknokrat dan ahli lainnya yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ali Khomsan, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB di Koran Sindo ediai04 Oktober  2018 menulis “ Orang-orang Indonesia terutama ilmuwan yang bersekolah di luar negeri dan kemudian tidak pulang ke negeri sendiri melainkan berkarier di negara lain memunculkan pertanyaan mengapa mereka (diaspora) tidak tertarik pulang ke Indonesia?  Ya, begitu banyak sudah ilmuwan kita yang hebat dan telah mendapat pendidikan tinggi setingkat S2 dan S3 bahkan Profesor.

Namun, sangat disayangkan dan disesalkan, dalam banyak hal, rasa bangga sebagai  pemenang, pendukung, atau bahkan para inisiator dan khalayak bangsa ini, prestasi atau achievement yang telah diukir oleh mereka yang sudah dengan air mata darah berjuang untuk tampil membanggakan sebagai pemenang di pentas dunia, semua kemenagan dan kebanggaan itu, kadang hanya menyenangkan di kala sorak-sorai pengunjung atau penonton kala pengumuman, namun hilang perlahan bahkan dalam sekejap setelah event selesai.  

Kita cenderung melepaskan para ilmuwan, teknokrat, professor dan sejumlah ahli kita yang melakukan brain drain dan migrasi kreasi ke Negara-negara lain yang mau memberikan apresiasi dan memfasilitas mereka mewujudkan hasil karya besar mereka di negara lain tersebut.

Mengapa ini terjadi? Jawabannya sangat sederhana. Mereka, orang-orang hebat tersebut tidak dihargai di negeri sendiri. kapasitas luar biasa yang dimiliki mereka, sejatinya menggerakan kemajuan bangsa ini, diabaikan begitu saja dan bahkan dibunuh dengan berbagai cara, kebijakan dan juga supporting system lainnya. Secara fakta, tidak ada upaya, terutama pemerintah merawat semangat berprestasi. Pemerintah yang kerapkali mendorong agar kita menjadi bangsa yang berprestasi, namun miskin apresiasi.

Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang juga miskin prestasi. Bangsa pecundang, dan tidak menghargai karya anak bangsa sendiri. Karena semua potensi yang terbaik yang kita miliki memilih melakukan brain drain dan migrasi kreasi, karena alasan di negeri orang mereka lebih dihargai, mau difasilitasi dengan fasilitas yang cukup dalam mengembangkan kemampuan dan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang super canggih dan memberikan ruang yang besar untuk berkarya.

Selain itu, mereka juga mendapat penghargaan secara finansial yang tidak pernah bisa diperoleh dari pemerintah sendiri. Padahal, umummya mereka yang memilih brain drain merupakan orang yang mendapat fasilitas beasiswa dari Negara. Namun, pemerintah lebih cenderung tidak memanfaatkan mereka.

Rendahnya apresiasi, kemauan pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengembangkan kemampuan di tanah air, adalah sebuah kerugian yang dibuat oleh pemerintah sendiri, yang membawa bangsa ini menjadi bangsa pecundang, bukan pemenang. Mari lebih bijak mengelola sumber daya yang ada. Pemerintah Indonesia harus mau berbenah diri. (grh)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Akibat Jalan Non Tol Tak Dipelihara             Catatan YLKI untuk Mudik Lebaran 2019             Tipis Prabowo-Sandi Menang di MK             Putusan MK Tidak Mengakhiri Polemik Pilpres 2019             LGBTIQ Merupakan Pilihan dan Hak Asasi             Asumsi RAPBN 2020 Sulit Tercapai             Strategi Ekspansif Tak Tampak di RAPBN 2020             Transisi Darurat (Demisioner) Permanen????             Membangun Sambil Menindas             Mitigasi Pengaruh Kejadian Politik terhadap Kegiatan Ekonomi