Kenapa Sambutan Asian Para Games 2018 Tak Seheboh Asian Games?
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 01 October 2018 12:30
Mungkin masih ada yang ingat, Presiden Joko Widodo pernah mengungkapkan kekecewaannya soal promosi Asian Games 2018 yang dirasa kurang. Kala itu, pertengahan April silam, Jokowi meminta publikasi Asian Games semakin gencar dilakukan. Bulan Mei, Jokowi mengenakan jaket Asian Games saat menghadiri sebuah acara di Istana Bogor. Jaket yang ia kenakan lantas viral dan dikagumi banyak orang. 

Kamis (27/9/2018) Presiden Jokowi meninjau persiapan Asian Para Games. Namun ia tak mengungkapkan rasa kecewa seperti beberapa bulan jelang Asian Games 2018. Apa Jokowi sudah cukup puas dengan persiapan Asian Para Games 2018?

Selepas Jokowi mengungkapkan kekecewaannya publikasi Asian Games jadi gencar. Setiap instansi pemerintah, BUMN, dan lembaga negara membentangkan spanduk, poster dan baliho besar-besar siap mensukseskan Asian Games. Jembatan penyeberangan, busway serta haltenya dihiasi ornamen Asian Games. Belakangan instansi swasta, dari bank hingga ruko memajang poster maupun spanduk Asian Games. Hingga kini, sejumlah poster, spanduk, dan baliho Asian Games masih belum dicabut padahal event-nya telah tiga pekan berlalu. Spanduk, poster, dan baliho Asian Para Games2018 ada, tapi rasanya jumlahnya kurang dibanding spanduk Asian Games yang telah usai. Kenapa Jokowi tak marah karena Asian Para Games 2018 Tak Seheboh Asian Games? 

Apa mau dikata, euforia Asian Games hingga kini masih terasa. Kemarin kita mencatatkan prestasi luar biasa. Kita sukses jadi tuan rumah. Acara pembukaan dan penutupan Asian Games jadi tontonan kelas dunia. Selain itu, olahragawan kita mencatatkan prestasi membanggakan. Indonesia melesat ke posisi keempat dengan 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu--prestasi tertinggi kita sepanjang keikutsertaan di Asian Games. Masalahnya, apa kita patut larut berlama-lama terbuai dengan prestasi itu sementara ada event olahraga kelas dunia lain siap digelar? 

Asian Para Games mempertandingkan atlet difabel tingkat Asia. Event olahraga ini akan digelar tak kurang sepekan lagi di Jakarta, 6-13 Oktober 2018. Panitia penyelenggara Asian Para Games 2018 (INAPGOC) mengumumkan bakal ada 18 cabang olahraga yang akan mempertandingkan 568 event. Sebanyak 41 negara anggota Asian Paralympic Comittee (APC) mengonfirmasi akan ambil bagian pada ajang multi event terbesar antar atlet-atlet difabel se-Asia tersebut. INAPGOC menyebut, sekitar 2.888 atlet dari 41 negara menyatakan siap bertanding. Jika para atlet telah siap bertanding lantas apa kebanyakan dari kita siap menyaksikan mereka berlaga? 

Sekali lagi, urusan publikasi tampaknya jadi kendala. Di TV kita hari-hari ini, promosi Asian Para Games nyaris tak terdengar. Berbagai pertandingan akan disiarkan TVRI dan Metro TV, namun dua stasiun TV itu bukan pemuncak rating dan share. Per Juli lalu, berdasar data Nielsen, Metro TV berada di peringkat 12, sedang TVRI di posisi 14. Asian Games kemarin tayang di SCTV dan Indosiar yang masuk tiga besar TV paling banyak ditonton. Apakah Asian Para Games dianggap bakal kurang memikat banyak penonton? Bukankah pertandingan Asian Para Games bakal lebih menginspirasi penonton?   

Sejatinya, sambutan kita pada Asian Para Games 2018 cerminan sikap kita pada kaum difabel. Ketika kita menganggap perhelatan olahraga akbar itu tak signifikan, begitu pula anggapan kita pada penyandang disabilitas. Tengok saja, negara masih minim menyediakan fasilitas publik untuk saudara-saudara kita tersebut. Kalaupun ada, okupasinya malah diambil mereka yang tak berkebutuhan khusus. Jika kita, saudaranya, tak peduli pada siapa lagi mereka menaruh harapan? 

Apa pendapat Anda? Watyutink? 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 

Asian Para Games ataupun Para Olympic selalu diselenggarakan setelah Asian Games maupun Olimpiade. Itu sudah menunjukkan mereka (kaum disabilitas) dinomor-duakan. Bukan dalam arti negatif. Tapi memang perhatian pada mereka kurang.

Menurut saya, perhatian dari Pemerintah pada Asian Para Games cukup. Dari masyarakat yang justru kurang. Dari pemerintah kesiapannya sudah oke. Presiden sudah beberapa kali meninjau kesiapan ajang ini. Cuma masyarakatnya kurang antusias. Nggak seperti saat menyambut Asian Games.

Hal itu juga terjadi di mana-mana, di negara lain juga. Kalau yang digelar Para Olympic mungkin gaungnya akan lebih terasa, karena diikuti lebih dari 100 negara. Sedangkan Asian Para Games tak sebanyak itu pesertanya. 

Selain itu, jarak penyelenggaraan Asian Games dan Asian Para Games kali ini terlalu jauh. Yang satu Agustus, satu lagi Oktober. Jadi nggak bisa dibarengi promosinya. Kalau lihat dari spanduk, memang nggak seheboh Asian Games, tapi lumayan untuk sosialisasi. Dan dananya memang nggak sebanyak Asian Games.

Kalau Asian Games, setelah Jokowi mengeluh kurang greget promonya kan langsung digenjot. Untuk Asian Para Games mungkin Pemerintah sudah merasa cukup dengan promo yang ada sekarang, nggak perlu seheboh seperti Asian Games. Mungkin juga karena masalah dana. Tapi di pemberitaan media, menurut saya, soal Asian Para Games ini telah cukup diangkat. 

Di Asian Para Games 2018 kita menargetkan berada di peringkat 8 dengan 16 emas. Sama dengan target awal Asian Games. Tapi masalahnya, hingga sekarang, masyarakat belum menaruh perhatian. Jadi kalau meraih melebihi target ya senang-senang saja reaksinya. Tapi perhatiannya nggak akan terlalu besar karena buat masyarakat pertandingan di Asian Para Games pengalaman yang jarang dilihat. 

Sikap masyarakat pada Asian Para Games ini cerminan juga sikap mereka pada kaum disabilitas. Kita sering hanya merasa kasihan melihat kaum difabel ini. Makanya, relawannya dilatih jangan terlalu menunjukkan rasa kasihan terhadap para atlet. Atlet-atlet ini nggak mau dianggap difabel, mereka datang untuk bertanding, berprestasi.  

Karena ini cerminan sikap Pemerintah dan masyarakat pada kaum disabilitas, maka acara olahraganya juga kurang diperhatikan. Tapi usaha untuk ke sana sudah cukup dilakukan Pemerintah. Sosialiasinya cukup. Pemberitaan di media massa juga cukup. Banyak inspiring stories di Asian Para Games 2018. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior

Dilihat dari penyelenggaraan Asian Games atau Olimpiade sebelumnya jeda penyelenggaraan dengan Asian Para Games dan Para Olympic tak terlalu jauh. Hanya jeda beberapa hari, paling jauh sepekan. Sehingga nggak kehilangan gaungnya. Sekarang jedanya sebulan. Jauh banget. Itu berpengaruh besar. Sekarang kita sudah masuk hiruk-pikuk politik. 

Harusnya ketika sosialisasi Asian Games diiringi sedikit-sedikit promo Asian Para Games. Lagipula, menyelenggarakan Asian Para Games sudah jadi kewajiban tuan rumah. Yang ada, sekarang panitia peneyelenggaranya berbeda. Yang Asian Games oleh INASGOC, sedang Asian Para Games oleh INAPGOC. Saya agak bertanya, kenapa jadi begitu? Kenapa jarak penyelenggaraannya begitu jauh? Kenapa juga penyelenggaranya berbeda? 

Padahal ajang olahraga kaum difabel ini  sebuah ajang luar biasa yang menunjukkan upaya luar biasa  mereka yang lebih hebat dibandingkan orang normal. Lebih inspiring  dan jadi pelajaran. Malah seharusnya, ajang  olahraga kaum difabel yang dilaksanakan laebih dahulu. Baru kemudian Asian Games. Asian Para Games bisa jadi persiapan, semacam warming-up menuju Asian Games. Sebagai tuan rumah kita berhak mengusulkan itu ke Komite Olimpiade Asia. Indonesia bisa jadi pionir bila itu terjadi. Jangan kepalang tanggung.  

Sekarang kita ikut aturan baku, Asian Games baru kemudian Asian Para Games. Itupun jeda waktunya terlalu lama. Jadi sudah kehilangan greget duluan. Kalau saya lihat keseriusan Pemerintah sudah cukup. Jokowi juga sudah turun meninjau. 

Mengenai target prestasi apakah akan menyamai prestasi di Asian Games, dengan segala rasa hormat pada kaum difabel, saya nggak terlalu berharap akan ada prestasi seperti itu. Berharap iya, tapi bila tidak pun tak apa-apa. Say melihat ajang ini sebagai perjuangan orang-orang inferior untuk survive dalam hidup
dan bahkan punya nilai lebih sebagai atlet. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri