Ketika Berwisata Telah Jadi Kebutuhan Primer
berita
Humaniora
06 September 2017 00:00
Idul Adha 2017 tepat hari Jumat, digabung Sabtu dan Minggu, maka jadilah long weekend. Banyak orang memanfaatkan pergi ke luar kota. Situasinya mirip arus mudik Idul Fitri. 

Penyedia jasa layanan jalan tol mengatakan, puncak arus mudik Idul Adha, hanya selisih 3 ribu kendaraan dengan Idul Fitri. Saat Idul Adha 113 ribu, Idul Fitri 116 ribu. Momen liburan, meski hanya tiga hari, tak dibiarkan berlalu. 

Kelas menengah sedang meningkat kencang. Pada 2003 tercatat 81 juta, di 2010 berjumlah 131 juta dan 2020 diperkirakan 140 juta. Mereka umumnya telah mengalami pergeseran konsumsi, dari pemenuhan “kebutuhan” menjadi “keinginan”. Efeknya, antara lain, sektor wisata turut tumbuh.  

Di travel fair yang digelar belum lama ini, nilai transaksi mencapai Rp109 miliar, naik dari tahun lalu Rp99 miliar. Data BPS menyebut tingkat hunian kamar hotel per Juni 2017 mencapai rata-rata 51,02 persen atau naik 2,39 poin dari Juni 2016 sebesar 48,63 persen. Katanya daya beli menurun, kok tingkat hunian hotel malah naik? Katanya masyarakat menahan uangnya, tapi kok banyak yang beli tiket untuk berlibur?  

Survei Agoda April 2017 menyebut kaum milenial tak hanya ke mall atau jalan-jalan di kota besar. Prinsip "work hard, play hard" kaum milenial bergeser dari hura-hura di mall atau clubbing, belok berlibur ke Raja Ampat, Gili Trawangan, atau Bunaken. Anomali macam apa ini? Apa karena lebih asyik selfie dengan latar laut biru nan indah ketimbang gebyar lampu disko? 

Kini nyaris tak ada lagi sudut negeri yang belum terjamah traveller dan fotonya diunggah ke medsos. Tapi apa tujuan berwisata hanya untuk selfie lalu pamer di media sosial? Sudahkah ada dampak kedatangan traveller kota pada masyarakat yang mereka kunjungi? Ekonomi suatu daerah mungkin terangkat kunjungan wisatawan. Namun, bagaimana dampak sosialnya? Kunjungan traveller mempersempit kesenjangan ekonomi atau justru memperlebar?    

Banyak kearifan orang desa yang bisa dipetik traveller kota. Pun juga, warga desa tempat wisata dapat banyak belajar dari kemajuan teknologi yang dibawa traveller kota. 

Sudahkah hal ini terjadi? Jangan-jangan, kita tak terlalu peduli hal itu. Berwisata sekadar piknik, selfie, tapi lupa saling memberdayakan. Perlu digalakkan berwisata cerdas dan wisatawan cerdas agar yang berkunjung dan dikunjungi saling mencerdaskan! Apa pendapat Anda? Watyutink? (ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Travel Blogger dan Penulis seri buku "The Naked Traveler"

Ada sejumlah faktor yang membuat orang saat ini seperti keranjingan traveling. Pertama, kemudahan teknologi. Segala informasi wisata hingga booking tiket sekarang just one click away. hal itu bikin orang semakin impulsif. Tadinya nggak pengen ke mana-mana, tapi melihat kalender ada libur tiga hari, atau lihat tiket promo, jadinya beli, deh. Kalau dulu untuk berwisata dipikirin masak-masak, bisa enam bulan sebelumnya. Kedua, sosial media.

Sekarang, traveling jadi (sarana) gaya. Karena apa? Orang-orang butuh foto-foto untuk mengisi feed (medsos) mereka. Kan bosan foto di Jakarta, melulu, lagi makan di mana. Orang merasa keren kalau bisa foto lagi di tempat anu atau anu. Akhirnya memang intensi orang untuk travel sekarang bukan sekadar mengeksplorasi daerah baru, tapi sekadar mengisi sosmed mereka. Dan medsos orang turut mempengaruhi keputusan kita juga. 

Terkait daya beli turun, menurut saya sekarang orang menahan uang untuk membeli barang retail. Uangnya dialihkan untuk traveling. Dan bagi kaum urban kelas menengah ke atas arahnya saya lihat telah menjadikan traveling sebagai kebutuhan primer. Namun untuk masyarakat Indonesia secara keseluruhan, belum. Lalu, yang harus dicatat juga peer pressure. Masyarakat kita senangnya jalan ramai-ramai.  

Buat saya tidak ada yang salah dan benar bila berwisata sekadar mengisi sosmed. Namun, jujur saya kadang kesel juga melihat orang jalan-jalan tapi dia lebih fokus dengan handphone-nya atau lebih asyik foto-foto ketimbang menikmati keindahan alam. Tapi tren saat ini seperti itu, orang berwisata untuk mengisi feed medsosnya. Itu tak bisa disalahkan juga. Namun memang harus ada edukasi lagi untuk jadi traveler yang bertanggung jawab. 

Karena saya seorang penulis, setiap traveling saya pasti menanyai orang-orang lokal di tempat yang saya singgahi. Dan saya menginformasikannya lagi lewat tulisan di blog atau buku ke khalayak ramai. Dan itu sudah jadi kebiasaan. Jadi itu dilakukan by default saja. Saya justru nggak tahan kalau jalan dengan orang yang nggak bisa lepas dari gadget

Saya malah wondering, "Mereka menikmati (perjalanannya) nggak, ya? Kok, malah foto-foto melulu, terpaku terus pada handphone-nya. Bisa nggak sih duduk sebentar melihat pemandangan dan meresapinya?" Saya nggak bilang itu salah, dan bisa jadi, bagi mereka, perilaku itu tak mengurangi kenikmatan jalan-jalan. Saya lihat misalnya anak zaman sekarang begitu tiba di puncak gunung atau bukit malah sibuk foto-foto. Makanya saya lebih senang ke tempat-tempat wisata di Indonesia yang tak terjangkau sinyal handphone, seperti di banyak wilayah Papua.

Akhirnya, saya perhatikan, orang-orang lokal jadi punya tugas baru, memfoto traveler-traveler ini. Entah itu pengemudi kapal atau pelayan tugasnya bertambah jadi tukang foto orang. Saya pernah dengar curhat seorang penjual di pasar yang memang pasarnya fotogenik, bagus buat foto-foto. Orang yang mau beli malah tersingkir.

Yang saya perhatikan, fenomena berwisata dan asyik foto-foto ini tak hanya khas Indonesia. Ini umumnya khas negara Asia, terutama Asia Tenggara dan apalagi China. Misal, pas di Eropa ada yang sibuk foto-foto begitu nengok saya bisa tebak, ah, ini pasti orang Asia. Orang non-Asia bukannya tak foto-foto mengambil momen di suatu tempat wisata, cuma mereka melakukannya tak sebanyak kita. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)


Traveling bukan saja sudah menjadi kebutuhan utama manusia modern. Traveling juga sudah mulai “naik kelas”. Orang tidak lagi mencari destinasi, tapi mencari pengalaman berpetualang. Hal inilah yang kerap luput dari kebanyakan agen perjalanan yang masih menyediakan kunjungan singkat ke destinasi wisata. 

Itulah kenapa makin banyak orang merencanakan sendiri perjalanannya. Apalagi semua hal, mulai dari tiket pesawat sampai hotel, kini lebih mudah dipesan lewat online. Petualangan yang bersifat pribadi inilah yang kini banyak dicari orang.

Orang mulai mencari pengalaman yang unik untuk memperkaya hidup dan batinnya. Sekadar mampir ke tempat dengan pemandangan indah lalu foto-foto di sana dianggap sebagai kebiasaan turis baru. Traveler biasanya menginginkan hal yang lebih dalam dari hal itu. Bisa saja dalam perjalanan kita tidak menemukan hal yang kita inginkan, tapi pengalaman dari kegagalan itu tetap bisa dimaknai sebagai sebuah keasyikan dalam traveling. Inilah yang membedakan antara traveler dan turis.

Saya mendapat pengalaman amat berharga saat meliput pedalaman hutan Kalimantan Utara dan Timur untuk Edisi Khusus Wisata majalah Tempo. Saya sempat memasuki beberapa hutan dengan keanekaragaman hayati yang cukup kaya. Kerennya, hutan-hutan itu dijaga oleh penduduk sekitar. Mereka yakin, hutan adalah tempat suci yang harus dijaga agar tak ada musibah menimpa mereka. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senor & Penulis

Kenapa kini makin banyak orang berwisata? Salah satunya, menurut saya, promosi pariwisita lebih gencar dibanding dulu. Sekarang promo itu ada di mana-mana, di media online hingga koran. Selain itu juga pameran kerajinan yang kini semakin sering digelar. Misal, di Balai Sidang Jakarta berkali-kali digelar. Dulu mungkin orang tak terlalu peduli bagaimana membuat kain tapis Lampung, sekarang ingin tahu betul. 

Peran media sosial juga sangat besar. Dengan adanya Facebook, promosi pribadi ke pribadi, amat menular. Misal, orang ingin ke Raja Ampat karena melihat temannya posting foto di Facebook. Nggak usah Raja Ampat, deh, untuk orang yang tak punya uang banyak pun, mereka bisa ke Ciwidey, Bandung. Banyak tempat wisata di sana. 

Tidak ada salahnya orang-orang selfie di tempat wisata. Orang mungkin banyak yang berpikir, untuk apa selfie-selfie? Tapi di sisi lain kita lihat segi positifnya. Karena dari sisi itulah orang tertarik berwisata. Ujungnya, dari selfie-selfie itu bisa menguntungkan daerah setempat. Saya pernah ke Gorontalo, lalu unggah fotonya ke Facebook, ada teman tanya, "Itu di mana, Linda? Saya pengin ke sana." Saya bersama anak dan menantu ke Pulo Cinta di Gorontalo. Setelah saya ungguh foto-fotonya ke Facebook, beberapa teman saya ke sana. Saya juga selfie-selfie, tapi background-nya kan keindahan alam tempat wisata. Nah, lokasi background itu yang dijual melalui (selfie) kita. Di Gorontalo juga saya naik bentor, becak motor. Karena saya latarnya wartawan, saya tanya-tanya supirnya seputar bentor dan akhirnya saya tulis jadi reportase kecil di Facebook. Nah, itu bagian dari mempromosikan daerah wisata. 

Kita mau memamerkan diri sendiri ketika berwisata nggak masalah, tapi sebetulnya kita juga mempromosikan daerah wisata juga. Selfie, menurut saya, bisa jadi iklan gratis bagi daerah wisata. Iklan baik maupun buruk. Maksudnya, burukpun kita kabarkan. Saya pernah ke pantai di Padang yang pantainya jorok, saya kirim foto-fotonya ke pemerintah daerah. Kebetulan istri-istri pejabatnya teman saya, akhirnya pantai itu dibersihkan. Kita belajar dari Bandung. Awalnya orang ke sana untuk berbelanja karena banyak FO (factory outlet) kayak Rumah Mode dan lain-lain, lalu kulinernya, dan lama-lama di Bandung ada macam-macam, sampai rumah gaya Eropa Belanda kecil-kecilan juga ada. Orang jadi tertarik berkunjung untuk foto-foto. 

Meski begitu ada kritik saya. Meski sekarang semua informasi wisata bisa didapatkan dengan mudah lewat online, informasi berupa leaflet atau brosur wisata entah di bandara, hotel, restoran harus ada. Di lobi hotel harus ada leaflet lokasi wisata dan tempat kuliner daerah. Hanya di bandara Bali yang begitu, kenapa di bandara Soekarno-Hatta nggak ada? Kita tak boleh berharap mereka mencari sendiri lewat online. Itu wajib disediakan. Tahun lalu saya ke Dresden, sebuah kota kecil di Jerman. Saya masuk sebuah warung kecil di sana. Walau tempatnya kecil, tapi semua info tentang Dresden ada. Kesadaran macam begitu yang tak ada di sini. Kita tak pernah mau belajar dari yang serba bagus di luar negeri. Yang kita pelajari bikin mall melulu, bukan bikin perpustakaan. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri