Ketika Layar Bioskop Kian Mengecil
berita
Humaniora

Sumber Foto: TEKNONETWORK.COM

18 November 2017 15:00
Di antara orang-orang yang terpekur dengan telepon genggam masing-masing di kereta Commuter Line, kini kian banyak yang tak sekadar berkirim pesan, main game, atau baca berita di internet. Yang nonton film, serial Barat atau Korea juga ada. Menikmati layanan streaming kini jadi alternatif orang menghabiskan waktu di perjalanan selama berangkat dan pulang kerja. Gejala ini pertanda apa? Apa masa depan bioskop ada di layar kecil?  

Tengah tahun kemarin, Nielsen merilis survei yang menyimpulkan selama enam bulan pertama 2017, sejumlah orang berusia muda, mereka yang disebut milenial dan generasi Z, tak lagi punya kebiasaan nonton film di bioskop. Sebanyak 53 persen dari yang berusia 21 sampai 29 tahun menonton video di internet setiap hari. Sementara 47 persen dari usia 16 sampai 20 tahun menonton setiap hari. Riset sebuah media online menunjukkan, 51 persen generasi Z memilih nonton film lewat streaming atau unduh, sedangkan bioskop dipirsa 33,89 persen.  Apakah senjakala bisnis bioskop tengah dimulai?  

Internet lewat layanan legal maupun ilegal streaming ataupun mengunduh jadi pilihan alternatif nonton film selain bioskop. Di Amerika, layanan TV streaming Netflix tumbuh pesat dan banyak memiliki serial buatan sendiri yang disukai dan tak kalah mutunya dibanding bikinan stasiun TV. Belakangan Netflix juga memproduksi film panjang. Netflix bekerjasama dengan sineas Korea membuat Okja dan dilombakan di Cannes. Will Smith hingga Angelina Jolie juga memproduksi film bareng Netflix. 

Layanan Netflix juga hadir di sini. Dan ia tak sendirian. Ada Iflix, Hooq, serta Viu. Tren sineas kolaborasi dengan layanan streaming juga hinggap ke sineas kita. Film terlaris tahun ini, Pengabdi Setan disupport Iflix. Sedangkan film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak yang masuk sesi Directors' Fortnight  Festival Cannes 2017 digandeng Hooq. Tak heran di Cannes kemarin juga muncul tanya: Apa layanan streaming bakal menggantikan bioskop di masa depan? 

Jika faktanya ada yang mulai meninggalkan bioskop, bagaimana strategi pihak bioskop menjaring penonton? Apa bioskop premium, seperti IMAX, yang menawarkan pengalaman menonton di layar super besar jadi solusi? 

Perlu dicatat pula, sineas dunia terbelah antara memihak bioskop konvensional dan layanan steaming digital. Christopher Nolan, sutradara trilogi The Dark Knight dan Dunkirk, misalnya, gencar berkampanye agar orang menonton film di bioskop, bukan streaming di layar kecil, entah TV, laptop, tablet, atau handphone pintar. Lalu, bagaimana sikap sineas dan industri film tanah air? 

Seperti berbelanja, menikmati musik dan membaca berita lewat dunia maya, nonton film di layanan streaming adalah keniscayaan teknologi. Atas nama keniscayaan itu, film bisa ditonton di mana saja, kapan saja, dan dengan perangkat apa saja. Tiada lagi titik balik. Jalan untuk survive, beradaptasi. Bagaimana industri film sebaiknya menyikapi keniscayaan ini agar tak terlibas seperti koran, majalah dan bisnis ritel? Lalu, siapkah pula pemerintah mengantisipasinya? Bagaimana, misalnya, menyensor tayangan streaming dari luar negeri? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)  

SHARE ON
OPINI PENALAR
Corporate Secretary Cinema XXI

Kehadiran layanan streaming menjadi tantangan tak hanya bagi Cinema XXI, tapi juga semua pihak bioskop. Tantangan kami sekarang adalah bagaimana bisa menarik orang keluar rumah untuk menonton film di bioskop.

Itu challenge-nya. Apalagi, di Indonesia, layanan streaming yang jadi pesaing kami bukan hanya yang legal, tapi juga ilegal. Sekarang masih banyak situs streaming ilegal di Indonesia. 

Maka dari itu, kami berusaha sebaik mungkin menciptakan suasana terbaik
bagi orang untuk nonton film. Semua hal kami pikirkan. Mulai dari tata suara bahkan AC. Semuanya harus kami perhatikan memang layak seorang penonton keluar dari rumah, dari jauh bermacet-macetan.

Tentu saja, di luar bioskopnya, ada faktor lain, seperti filmnya itu sendiri. Film-film blockbuster, film action atau film horor akan lebih menarik untuk penonton tonton di bioskop. Betul, kan? Pasti biasanya banyak orang yang pilih-pilih juga (sebelum nonton ke bioskop). 

Namun secara keseluruhan, kami ingin penonton tak hanya menikmati fasilitas terbaik (di dalam bioskop), tapi juga setelah nonton mereka bisa hangout dengan keluarga, dengan saudara atau teman-teman. Di situ kami ingin bioskop jadi satu tempat untuk menghabiskan waktu bersama.(ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Aktor dan produser film

Sebagai sineas, saya telah bekerjasama dengan layanan streaming video. Saya membuat web-series untuk Vidio.com serta Genflix. Saya juga menayangkan film-film layar lebar saya di Vidio.com. Film-film itu sudah keluar DVD-nya dan sudah dibajak juga. (Gandhi memproduseri film The Right One, Pizza Man, Midnight Show--red)

Agar tak dibajak lagi di Vidio.com, saya bagi filmnya jadi beberapa part (bagian). Pembajak juga harus menjahit kalau mau bajak. Mereka rasanya juga nggak mau seribet itu sepertinya. 

Di Indonesia pembajakan sangat kuat. Ada banyak layanan streaming ilegal yang bisa nonton film secara gratis. Itu nggak bisa di-delete oleh Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informasi). Di-delete pun mereka ada lagi-ada lagi (dengan nama url baru). 

Menurut saya, pasar penonton bioskop dan penonton streaming jauh berbeda. Kenapa? Karena orang nonton bioskop untuk cari experience-nya. Yang dicari adalah social gathering bersama teman-teman. Menonton bioskop sudah jadi (bagian) lifestyle. Nonton film di bioskop nggak cuma untuk nonton, tapi juga nge-date dengan pacar atau keluarga. Jadi sebagai sarana rekreasi.  

Sedangkan nonton hanya di layanan streaming, baik legal atau ilegal, tidak mendapatkan experience sama bagusnya dibandingkan nonton bioskop. Menurut saya pasar bioskop takkan tergantikan. 

Akan tetapi tergantung filmnya juga, apakah filmnya layak ditonton di bioskop atau tidak. Misalnya begini, enak mana nonton Pengabdi Setan di komputer atau di layar TV di rumah, ketimbang nonton bersama teman-teman sepulang kantor? Lebih enak bareng-bareng, kan. Karena yang dicari hangout dengan teman-teman, bukan nonton film horor sendirian di laptop.            

Saya sendiri tidak terlalu suka nonton film di handphone atau di laptop, kecuali film yang saya ingin banget nonton dan tidak tayang di (bioskop) Indonesia. Ketika nonton film layar lebar di handphone kita tak dapat attachment yang sama (dengan nonton di bioskop). Tetapi untuk serial, entah web-series atau serial TV, saya nonton di handphone. Yang dicari attachment ke serialnya. Begitu juga serial anime, saya tonton di handphone. Untuk serial TV memang cocok ditonton di handphone karena tak perlu lihat detil-detilnya, pengambilan gambarnya juga seringkali close-up.     

Web-series saya, Crazy Girlfriend ditonton 70 ribu penonton di Youtube. Itu belum jumlah penonton di Vidio.com. Bila digabung totalnya dapat 700 ribu
penonton lebih dari 25 episode yang saya bikin, berdurasi antara 2-8 menit. Di situ art dan propertinya biasa saja. Bahkan kosong di belakangnya. Tapi somehow orang tetap suka karena yang dicari kontennya, bukan detil pengambilan gambarnya dan segala macam.  

Untuk film layar lebar sendiri, menurut saya, daripada pusing bikin satu film dengan production value yang terlalu mahal, lebih baik bikin film yang banyak, karena ujung-ujungnya akan ditonton di streaming online juga. Jadi, mending bikin film kecil, atau bikin film besar sekalian. Jangan pernah bikin film nanggung

Yang pasti, kami, sineas, dengan ada layanan streaming atau orang masih ke bioskop atau nggak, kami akan tetap bikin film. Karena kalau nggak bikin film, berarti kami nggak kerja. Ini sudah jadi pekerjaan kami. Kalau orang mau nonton film yang layak di bioskop, mereka bakal ke bioskop, kok. Yang suka nonton film bajakan tak berarti nggak ke bioskop lagi. Bioskop akan tetap ada. (ade) 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Marketing Manager Iflix Indonesia

Iflix kemarin baru saja bekerjasama dengan studio lokal di sini, Rapi Films di film Pengabdi Setan. Di situ kami mengakuisisi sebuah film, dapat windows exclusive penayangan perdana sebelum diputar di-flatform manapun (TV berbayar, TV gratis) setelah di bioskop. Dalam proses akuisisinya, salah satu deal-nya ada naming rights (penamaan di produksi film) sehingga filmnya bisa kami sebut "Iflix Original". 

Sejauh ini kami sudah punya lima judul film nasional yang disebut "Iflix Orginial", ada Filosofi Kopi 2, Pengabdi Setan, Posesif, Susah Sinyal dan Underdog. Banyak hal yang jadi pertimbangan kami mengakuisisi sebuah film. Bisa dari demand penonton, lalu juga karena kami percaya pada sineasnya, baik itu sutradara dan produsernya. Dalam sehari-hari kami beroperasi, kami dapat masukan terus dari pengguna. Kami membuka diskusi di media sosial bertanya, "Kalian pengin nonton film seperti apa, sih?" Jadi kami tahu penonton ingin konten tontonan seperti apa. Selain juga info dari customer service kami punya data algoritma yang bisa mengetahui kebiasaan menonton pengguna.

Kebetulan, dari data pengguna Iflix, film Indonesia lebih banyak ditonton dari film Hollywood. Dari 10 film layar lebar yang paling banyak ditonton di Iflix, tujuh di antaranya film Indonesia. Sejauh ini pengguna kami berjumlah 2,4 juta, kebanyakan usia 18-35 tahun, tersebar paling banyak di Jabodetabek dan lima kota besar Indonesia.  

Kalau Netflix di Amerika, film layar lebar yang mereka buat edar bareng di bioskop dan layanan streaming. Kami tidak memberlakukan kebijakan itu. Karena kami bekerjasama dengan studio lokal, seperti Screenplay Films, Starvision, yang tujuan utamanya merilis film di bioskop. Kami tak ingin berkompetisi head to head dengan bioskop. Kami tetap respect dengan ekosistem (perfilman) yang sudah ada, sambil mewadahi penonton yang ingin nonton sebuah film tapi filmnya sudah nggak ada di bioskop. 

Selama ini ekosistem-nya kan bioskop, (tayang di) free to air (TV gratis), VOD (video on demand), lalu juga muncul versi bajakannya. Kami berusaha memotong itu, dari bioskop tak ke free to air, melainkan (tayang) di Iflix dahulu.   

Di twit-nya Joko Anwar bilang nggak akan rilis DVD Pengabdi Setan di Indonesia karena pasti  filmnya langsung dibajak. Yang ingin nonton lagi, atau belum nonton nanti bisa di Iflix beberapa bulan lagi. Buat sineas, bekerjasama dengan layanan macam Iflix tentu lebih menguntungkan. Mereka memperoleh reward (penghasilan--red), ketimbang ketika filmnya dibajak mereka tak dapat apa-apa. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF