Ketika Sebutan Kafir Dipersoalkan
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 06 March 2019 11:00
Watyutink.com - Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU), akhir pekan lalu mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam. Alasannya, penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia. Sebutan kafir dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Yang diusulkan, sebagai gantinya adalah 'Muwathinun' atau warga negara, dengan begitu status mereka setara dengan warga negara yang lain.

Mari coba pahami dahulu kenapa sebutan kafir dipersoalkan para kiai NU. Selama ini, sebutan kafir memiliki makna konotatif menyebut orang di luar Islam sebagai sang liyan, the other. Ketika orang disebut "the other" maka ia tak dianggap bagian dari kelompok atau komunitas, dan dengan begitu tak punya hak yang sama dengan satu kelompok/komunitas. Ini menjadi masalah ketika muslim yang mayoritas hidup berdampingan dalam negara multikultur dan agama seperti Indonesia. Memang, Islam dianut mayoritas penduduk Indonesia. Namun, bukan berarti pula yang bukan beragama Islam dianggap warga kelas dua. 

Sebagai warga negara, baik muslim dan non-muslim, kedudukannya setara. Tapi dalam praktiknya tak begitu. Kita menyaksikan saudara-saudara kita masih dibatasi untuk beribadah bahkan ketika sudah meninggal. Kita kerap menyaksikan umat agama di luar Islam kerap jadi korban persekusi. Belum lekang juga dari ingatan kasus di Yogyakarta, salib kuburan warga Kristen dipotong warga setempat. Umat Islam pun bukan tak pernah jadi korban persekusi. Di lingkungan tempat muslim bukan mayoritas, persekusi juga menimpa mereka. Jika demikian adanya, bukankah sebutan muwathinun lebih adil ketimbang kafir? 

Masalahnya, sebutan kafir sebetulnya juga fair dan bebas nilai. Kata itu terdapat dalam Alquran dan maknanya memang sebutan bagi mereka yang berada di luar Islam.Dalam bahasa Arab, akar katanya adalah 'kafaara' yang berarti menutup. Secara istilah, kafir berarti orang yang hatinya tertutup dari hidayah Allah. Pada titik ini kafir sebetulnya adalah bahasa yang digunakan secara internal oleh orang Islam bagi mereka yang tak mendapat hidayah Allah (baca: bukan beragama Islam). Maka, yang jadi tanya lalu, bolehkah mengubah sebutan internal yang telah digunakan ribuan tahun dan terdapat dalam kitab suci atas nama kepentingan sebuah bangsa dan negara?

Dalam Alquran, kata kafir digunakan tanpa tendensi menghina umat lain. Setiap agama memiliki sebutan bagi golongan/kaum yang bukan bagian dari agama mereka. Bila dalam Islam yang non-muslim disebut kafir lantaran tak dapat hidayah Allah, di Kristen, yang non-Kristen disebut "domba-domba yang tersesat/hilang". Persoalan bahasa ini kian jadi pelik bila ada umat non-Kristen menggugat menolak disebut domba tersesat. Di sini, yang patut ditanyakan adalah, bukankah usulan NU ini malah jadi kontraproduktif bagi hubungan antar umat beragama? Alih-alih mempersatukan malah kian memperkeruh rasa persaudaraan.  

Maka, yang layak dipersoalkan sebetulnya bukan kata kafir-nya. Tapi implikasi bila seseorang kita sebut kafir. Bila yang kita sebut kafir lantas kita perlakukan sebagai warga kelas dua, kita persekusi, bahkan diperangi, itu yang lebih bermasalah dan layak dicari solusinya. Mengubah panggilan seseorang tanpa mengubah perilaku kita pada mereka yang kita anggap sang liyan adalah sumber masalahnya. Mana yang lebih urgen, mengganti sebutan kafir atau memperlakukan setiap warga negara--muslim dan non-muslim--setara? 

Kita juga sering dapati, mereka yang kerap disebut kelompok fundamentalis dan radikal mengkafirkan sesama saudara muslimnya. Parahnya, setelah dikafirkan darah saudaranya jadi halal. Bukankah pandangan macam begini yang seharusnya dikikis dari bumi Nusantara?   

Apa pendapat Anda? Watyutink?     

SHARE ON
OPINI PENALAR
Wartawan gaya hidup, peminat masalah Timur Tengah dan keislaman, lulus 1999 dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, buku terbarunya "Mengarungi Samudera al-Fatihah" (2019)

Kita harus memahami persoalan ini dengan hati-hati dan kontekstual. Saya yakin para kiai di NU tidak sedang ingin menghapus istilah kafir dalam khazanah Islam. Bagaimana pun juga, kata ini ada dalam Al-Quran dan sunnah (perkataan Nabi). 

Jadi, secara konteks keagamaan (Islam), kata kafir tidak bisa begitu saja disingkirkan. Saya yakin, konteks yang ingin disasar oleh para ulama NU adalah dalam pergaulan kebangsaan. Khususnya di Indonesia yang berdasarkan Pancasila, di mana semua warga negara dianggap setara.

Dengan demikian, tidak ada kafir dzimny di Indonesia, yang dalam negara Islam kelompok itu merupakan warga negara yang beberapa haknya tidak sama dengan hak yang dimiliki oleh umat Islam. 

Para ulama NU tentu juga memaksudkan hal ini dalam pergaulan sehari-hari. Sebenarnya ini adalah penegasan dari apa yang dilakukan oleh umat Islam sebelumnya. Dalam pergaulan sehari-hari tidak ada penyebutan kafir  untuk menyebut kelompok tertentu. Misal, tidak ada orang menyebut: "Hai kafir," kepada seorang non-muslim, kecuali dalam konteks penghinaan. 

Nah, ketika batas-batas konteks itu kabur (atau sengaja dikaburkan), maka memang keputusan para ulama NU itu terkesan kontroversial. Jadi, sebaiknya kita memahami ini dengan kepala dingin. (ade)
 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Mantan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU)

Dalam akidah Islam yang ada dalam Alquran hanya dikenal kata dan istilah muslim, kafir, musyrik. Adapun seorang muslim yang keluar dari Islam disebut murtad. Begitu yang saya ketahui. 

Kalau dalam konteks negara Indonesia, ya dikenal istilah Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA). 

Sama-sama tidak baik, jika takut menyebut orang yang tak beriman kepada Allah SWT dengan sebutan kafir, demikian juga orang yang terlalu berani menyebut kafir kepada setiap orang yang tak sependapat dengan pahamnya. 

(Tidak mengapa) katakan kafir kepada yang tak beriman kepada Allah SWT di negeri ini tanpa harus merendahkan, mengancam, dan mendsikriminasinya dalam bernegara. 

Ada 525 kata kafir dalam Alquran yang bermakna: 1) Enggan mengakui keesaan Allah, risalah Rasul-Nya dan hari kemudian. 2) Enggan bersyukur. 3) Menutupi dirinya dan orang lain dari jalan Allah. 4) Beriman tetapi tidak mengerjakan tuntunan Islam. 5) Menjadikan agama sebagai permainan. 

Catatan: Opini ini dikutip dari unggahan di Facebook penalar. Dikutip di sini dengan ijin. (ade)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri