Layanan Streaming, Penyelamat Industri Musik Indonesia?
berita
Humaniora
Image credit: spaceotechnologies.com 28 May 2018 14:00
Di jagat musik Indonesia momen itu dinamai Oktober Kelabu atau Black October. Kala itu,medio Oktober 2011, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengembalikan jumlah pelanggan RBT (ring back tone) yang sudah mencapai 30 juta kembali menjadi nol. Dibilang kelabu karena sejak pertengahan dekade 2000-an RBT jadi andalan pendapatan perusahaan rekaman dan musisi pasca-rilisan fisik resmi tak lagi diminati lantaran pembajakan dan unduhan musik gratis.

Sejak dunia kian terkoneksi dengan internet, industri musik kerap mendapat pukulan bertubi-tubi. Awal 2000-an, Sheila on 7 dan Padi laku menjual album masing-masing jutaan keping. Di awal 2000-an pula, keping bajakan mulai mendominasi pasar. Dalam catatan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI), pada 2000 produk legal rekaman fisik terjual 52 juta, sedang bajakan 240 juta. Tahun berikutnya yang bajakan melonjak jadi 290 juta. Seiring waktu, penjualan album fisik turun hingga 25 juta pada 2005 dan tahun 2015 tersisa 5 juta. 

Pertengahan dekade 2000-an, teknologi RBT hadir. Industri musik menyambut gembira lantaran perusahaan tak lagi mengandalkan penjualan album fisik yang digerus pembajak. Sejumlah band juga menangguk hasil fantastis dari RBT. Di masa jaya RBT, band Samsons dan D'Masiv pernah dapat puluhan miliar rupiah dari satu lagu. Sayang, bulan madu berakhir lantaran Oktober Kelabu. Benarkah musisi tak bisa lagi berharap dari labum fisik?

Syahdan, dunia musik berjalan terus meski RBT tak lagi diminati.  Bintang-bintang baru hadir. Di jagat musik pop ada Raisa dan Tulus yang sama-sama merilis album perdana tahun 2011. Jagat dangdut melahirkan Cita Citata dan kini Via Vallen. Dari sisi teknologi, kini orang kian terbiasa mendengarkan musik di smartphone.Lantaran layanan internet makin terjangkau, situs streaming jadi pilihan. Spotify, Apple Music, JOOX, hingga YouTube mengubah lanskap musik kita. Data Online Music Streaming Survey 2018 menyebut 88 persen dari 2.000 responden Indonesia menmdengar musik lewat streaming.

YouTube layanan video gratis. Namun tiga yang lain dinikmati dengan berbayar untuk layanan lebih. Artinya, ada uang yang dikeluarkan untuk menikmati musik secara legal. Kebiasaan main unduh gratis lalu membagikan cuma-cuma dikikis. Kesannya baik, tapi benarkah musisi dan industri musik diuntungkan oleh layanan streaming?  

Sebetulnya, yang gratis dan bayar beda tipis. Dalam sebuah hitungan, harga satu klik per lagu tak lebih dari 0,0007 dolar dengan harga langganan 10 dolar per bulan. Di Indonesia, dengan langganan Rp 50 ribu, harga per klik hanya 0,0006 dolar atau sekitar 8 rupiah. Melihat kenyataan itu, apa musisi kini bisa menggantungkan hidupnya dari layanan streaming?       

Perlu diingat, yang diklik kebanyakan lagu populer yang enak didengar. Artinya, eksplorasi seni bermusik yang eksperimental takkan dapat tempat di zaman now. Mimpi saja ada musisi kiwari bikin album macam Guruh Gipsy. Jika demikian, bukankah ini sebuah kemunduran? 

Apa pendapat anda? Watyutink? 

(ade) 

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat musik, mantan wartawan Rolling Stone Indonesia, manager band Seringai

Di Indonesia layanan musik digital yang paling cocok memang streaming service. Pernah diperkenalkan full track download ternyata tak disambut oleh konsumen di Indonesia. Bisa dibilang gagal karena jumlah yang download kecil. Streaming service paling feaseable untuk orang Indonesia karena menawarkan layanan gratis dan premium, tak makan banyak memori di handphone dan konsumen bisa menikmati jutaan koleksi lagu yang ada di (layanan streaming) itu.

Kebiasaan orang menikmati produk bajakan fisik mulai terkikis pastinya karena bersaing dengan barang gratis tidak akan bisa menang sampai kapanpun. Layanan streaming menyediakan yang gratis, tapi yang gratis di situ punya keterbatasan. Sedang untuk bisa menikmati layanan premium tidak bisa gratis. Konsumen distimulasi untuk berlangganan yang berbayar. Karena ada feature yang nggak bisa dinikmati gratis. Spotify, misalnya, konsumen gratis tidak bisa memilih play list sendiri di luar yang disediakan.

Meski begitu penghasilan dari layanan streaming masih terlalu kecil. Musisi masih belum merasakan keuntungan dari streaming service karena royaltinya masih kecil--kecuali lagunya dimainkan sampai ratusan juta. Royaltinya kan didapat dari (jumlah) play. Kalau hanya puluhan ribu atau ratusan ribu belum terlalu besar. Jadi untuk musisi atau band ini belum bisa menggantikan penjualan fisik.

Di streaming juga ada band-band yang memainkan lagu-lagu instrumental atau band-band progresif  yang satu album berisi 3-4 lagu berdurasi masing-masing 15 menit. Di digital durasi nggak jadi problem. Tapi standar sekarang untuk single 4 menit. Jadi (kebanyakan) band pun malas (bikin yang panjang). Hanya band tertentu saja yang mau out of the box seperti itu. Karena hasilnya (dari royalti) sama, mau 4 atau 15 menit, dihitung satu play juga. Lagu-lagu yang panjang akan lebih menarik dimainkan ketika live.

Untuk musik digital yang baru mendatangkan keuntungan banyak hanya RBT.  Dari segi omset pendapatan layanan streaming masih kalah jauh. Kalau RBT dulu omsetnya sudah sampai triliunan rupiah setahun. Konsepnya memang beda, kalau RBT berlangganan dan ada hitungan yang jelas. Selain itu di Indonesia pengguna streaming gratis lebih besar dibanding yang premium (berbayar). Harapannya ini akan berkembang. Dan mulai kelihatan trennya. Dengan market yang berkembang, ini suatu harapan baru.

Dan pengguna streaming ini bukan hanya menengah ke atas, tapi juga menengah ke bawah. Market leader streaming service saat ini adalah Joox yang sebagian besar penggunanya justru dari kalangan menengah ke bawah. Joox bukan bagian grup besar macam Spotify dari Swedia, Apple Music dari Amerika. Joox ini dari China atau Hong Kong, tepatnya. Dalam waktu 3 tahun dia sudah bisa jadi leader dengan berbagai feature yang ada. Di Joox bisa mainkan video, karaoke hingga baca berita. Yang saya tahu berdasarkan info teman-teman di Joox, dari demografisnya segmen mereka grass root (masyarakat bawah). Mereka baru menyasar kelas menengah justru awal tahun ini. Kelas ini lebih paham Spotify.

Dengan semakin bagusnya koneksi internet di Indonesia, dengan sendirinya CD atau DVD bajakan nggak laku. Karena buat apa orang beli lagi fisik bajakan, terkoneksi dengan internet semua bisa didapat gratis. Sekarang musuh pembajak fisik adalah layanan streaming ilegal, illegal downloading dan digital piracy. Di film ada situs-situs streaming ilegal sedang di musik ada tentu illegal downloading. Barang bajakan fisik kini bukan isu besar lagi, karena penjualnya sudah nggak laku. Sudah sepi karena maraknya streaming service ini. (ade)

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri