Lebaran dan Sampah Makanan Kita, Adakah Solusinya?
berita
Humaniora
Hidangan Lebaran (dok. Tempo) 11 June 2018 10:00
Lebaran atau Idul Fitri kita rayakan kurang dari sepekan lagi. Hari besar itu kita rayakan dengan bersilaturahmi, saling bermaafan dan tentu saja, menyantap hidangan istimewa dari yang kita santap saban hari. Lebaran adalah waktunya makan ketupat, opor ayam, rendang, dan entah apa lagi. Ahli kesehatan mewanti-wanti bila tak dikontrol acara makan-makan sepanjang libur Lebaran berpotensi meningkatkan kadar kolesterol, tekanan darah tinggi hingga asam urat. 

Ada satu hal yang kerap luput, bagaimana dengan sampah sisa makanan hidangan Lebaran yang tak kita makan?

Di libur Lebaran diperkirakan jumlah makanan sisa yang terbuang lebih banyak dari biasanya. Ketupat yang tinggal setengah, nasi seperempat piring lagi, rendang yang tinggal dua gigit lagi atau paha ayam yang baru digigit sekali karena keburu kekenyangan. 

Sampah pangan masalah besar. Laporan majalah National Geographic Agustus 2014 mencatat data Badan Pangan Dunia (FAO), sepertiga bahan makanan yang dikonsumsi manusia di seluruh dunia hilang atau terbuang setiap tahun. Angka 1,3 juta metrik ton cukup untuk memenuhi pangan tiga miliar orang. 

Di negara industri, membuang lebih banyak pangan di tingkat grosir dan konsumen dalam rantai makanan daripada negara berkembang. Kehilangan di negara berkembang kerap dikarenakan infrastruktur yang buruk untuk menyalurkan bahan pangan. Di Afrika sub-Sahara, misalnya. Tanpa fasilitas penyimpanan yang baik dan transportasi memadai, 10-20 persen biji-bijian hilang percuma karena tak layak konsumsi. Jumlahnya cukup untuk dimakan 48 juta manusia setahun.

Di negara maju, menurut FAO, 670 metrik ton sisa makanan dibuang ke tempat sampah saban tahun. Angka itu setara dengan seluruh produksi pangan bersih di Afrika sub-Sahara.

Dampak lingkungannya tak sepele. Menyia-nyiakan makanan sama halnya menyia-nyiakan sejumlah bahan bakar, pupuk kimia, air, lahan dan tenaga kerja untuk memproduksinya. Jika diibaratkan sebagai negara, bahan pangan yang terbuang di seluruh dunia adalah generator rumah kaca terbesar ketiga sejagat setelah Tiongkok dan AS.

Menyangkut makanan yang terbuang, akar masalahnya ada di unit terkecil: individu. Kita mengonsumsi lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh. Budaya konsumerisme mendorong kita membeli lebih banyak, padahal belum tentu kita memerlukannya. Bagaimana agar kita tak jadi individu yang konsumtif?

Kontrol diri diperlukan. Makan cukup tak hanya sehat bagi tubuh, tapi juga bijak dengan lingkungan. Tapi prakteknya itu sulit dilakukan karena sepanjang Ramadan, bahkan sebelumnya, kita dibombardir iklan-iklan makanan dan minuman lebih dari biasanya. Kita juga ditanam pandangan, mengonsumsi lebih berarti menggerakkan roda ekonomi. Masalahnya, bagaimana bila yang kita konsumsi itu lantas terbuang percuma? Bisakah tradisi makan secukupnya saat Lebaran jadi membudaya di tengah iklim konsumtif kita? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Manager, Climate Reality Indonesia

Kerugian di sektor pangan merupakan pemborosan sumber daya yang digunakan dalam produksi seperti lahan, tanah, air, energi dan input lainnya, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Sektor makanan menggunakan sekitar 30 persen dari total konsumsi energi dunia dan menyebabkan sekitar 22 persen dari total emisi gas rumah kaca.

Dengan membuang jutaan ton makanan, kita juga secara percuma menghabiskan triliunan galon air yang digunakan untuk menanam, memelihara, mempertahankan, atau menghasilkan makanan. Makanan yang dibuang akan berujung di Tempat Pembuangan Akhir, dan saat makanan mulai mengurai atau membusuk, gas metana akan terlepas. Gas ini adalah salah satu gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Proses untuk pasokan rantai makanan memerlukan bahan bakar fosil, sehingga makanan yang terbuang juga berarti menyia-nyiakan bahan bakar yang telah terpakai. Pada rantai pasokan makanan terjadi penggunaan lahan secara besar-besaran, khususnya untuk pertanian dan peternakan, dan lahan yang digunakan untuk menampung limbah makanan. Membuang makanan berarti menggunakan lahan secara percuma, apalagi jika proses produksi yang tidak bertanggung jawab menjadikan lahan terdegradasi.

Produksi makanan juga sering mengubah tata guna lahan, misalnya area yang tadinya hutan dijadikan perkebunan atau peternakan. Deforestasi berdampak pada berkurangnya keanekaragaman hayati. Di sisi kelautan, sering terjadi eksploitasi secara berlebihan tanpa memikirkan penipisan populasi biota laut secara cepat akan mempengaruhi lingkungan hidup.

Pakar Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menjelaskan limbah makanan terkait dengan perilaku pengecer dan konsumen, karena bagi pengecer lebih murah membuang makanan daripada menggunakannya, sedangkan untuk konsumen lebih praktis membuang. Selain itu studi FAO mengungkapkan limbah makanan di tingkat rumah tangga /konsumen jauh lebih rendah di wilayah termiskin di dunia yaitu sekitar 10 kg per kapita setiap tahun, dibanding dengan negara-negara berpenghasilan tinggi yang mencapai lebih dari 100 kg per kapita.

Sustainable Consumption and Production (SCP) atau Pola Konsumsi dan Produksi yang berkelanjutan atau bertanggung jawab adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk mengurangi kerusakan lingkungan akibat konsumsi yang berlebihan.

SCP yang diinisiasi oleh Badan Lingkungan PBB (UNEP) adalah upaya perwujudan konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab oleh semua pemangku kepentingan secara global (termasuk produsen dan konsumen), dengan perubahan secara terpadu dan sistematis.

Menurut informasi Kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan, Produksi Berkelanjutan menciptakan barang dan jasa dengan menggunakan proses dan sistem, memenuhi ketaatan terhadap peraturan, meminimalisasi timbulan pencemaran, efisien secara ekonomi, aman dan tidak berdampak terhadap kesehatan, ada insentif sosial, serta melaksanakan konservasi energi dan sumber daya alam. Media massa memengaruhi preferensi konsumen dan menyebarkan informasi tentang gaya hidup berkelanjutan.

Konsumsi tetap diperlukan untuk menggerakkan roda ekonomi, namun perlu diiringi dengan informasi yang akurat tentang sisi positif maupun negatif makanan dan minuman yang dipilih. Seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, kombinasi antara kebutuhan pengangkutan produk makanan, kebutuhan pendinginan makanan, permintaan konsumen dan kebutuhan pengelolaan limbah juga akan meningkat dengan cepat.

Paling baik mengonsumsi makanan yang diproduksi pada daerah yang dekat dengan di mana makanan tersebut akan dikonsumsi. Emisi gas rumah kaca yang keluar lebih sedikit terkait dengan proses pengangkutannya. Misalnya, konsumsi buah lokal akan lebih ramah bagi lingkungan dibandingkan dengan konsumsi buah impor.

Dari sisi kesehatan individu, makanan yang lebih segar akan mendukung kesehatan masyarakat. Dengan mengurangi jarak angkut makanan, kebutuhan akan proses pendinginan untuk memperlambat proses pembusukan dapat diminimalisir. Hal ini juga akan mendukung ekonomi lokal, melalui peningkatan konsumsi makanan lokal. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengajar Psikologi Sosial Universitas Pancasila

Tulisan ini akan berusaha untuk memahami apa yang menyebabkan orang membiarkan makanan sisa saat Lebaran dan bagaimana cara mengatasinya.

Paling tidak ada dua tahapan kritis ketika makanan akhirnya terbuang sia-sia dan trik melewatinya.

1. Tubrukan dua norma

Pertama ada dua norma sosial yang bertubrukan ketika Lebaran tiba. Norma pertama bersifat injunctive (sesuatu yang harus dilakukan) yaitu “mubazir atau kesia-siaan adalah hal yang buruk”. Norma lainnya lebih descriptive (yang lazim dilakukan orang banyak) yaitu “lebih baik sisa dari pada kurang”. Tentu kita sama-sama tahu norma mana yang akan lebih juara.

Kita punya kecenderungan psikologis bernama loss aversion, keinginan kita untuk menghindari kerugian jauh lebih besar ketimbang mendapat keuntungan.

Kita tentu tak ingin merasa malu karena gagal menyuguhkan semua tamu makanan ketimbang memenangkan peluang untuk menyediakan makanan yang pas untuk semua. Kondisi inilah yang membuat kita pada akhirnya punya pikiran untuk melebihkan makanan yang akan disajikan. Efeknya kita akan melihat makanan yang tersisa di atas meja makan dan tak lagi menarik untuk disentuh. Lalu bagaimana mengatasinya?

Sebagai tuan rumah kita harus berpikir dengan mode porsi. Harus ada hitung-hitungan yang jelas berapa tamu yang biasanya hadir dan berapa porsi makanan yang perlu disediakan. Menyiapkan makanan dengan model kilogram daging atau liter beras seringkali meleset jauh dari kebutuhan yang sebenarnya. Akan lebih baik jika kita sudah mengenal tamu kita, mulai dari makanan yang ia sukai atau tidak suka hingga berapa banyak anak-anak yang hadir sehingga bisa disiapkan makanan spesial untuk anak-anak (mungkin rendang versi tidak terlalu pedas).

2. Kehadiran orang lain dan naiknya arousal

Salah satu temuan klasik dalam dunia psikologi adalah adanya perbedaan performa yang kita tampilkan ketika bersama orang lain dibandingkan jika tiada siapa pun. Salah satu penjelasan mengapa hal ini terjadi ialah keberadaan orang lain meningkatkan arousal atau gairah seseorang.

Lebih jauh dalam kondisi tertentu terutama jika perilaku yang hendak ditampilkan mudah, akan muncul fenomena bernama social facilitation. Social facilitation berarti peningkatan performa dalam melakukan sesuatu karena kehadirian orang lain.

Dalam konteks Lebaran, performa yang meningkat itu tiada lain adalah mengambil makanan melebihi kemampuan. Keberadaan orang lain yang merangsang arousal kita, kita terjemahkan dengan isyarat tubuh untuk makan banyak dan kemudian kita pun mulai menumpuk makanan di piring dan membawanya sendiri-sendiri. Ujung-ujungnya makanan di piring tak habis dan berakhir di tong sampah.

Lalu bagaimana solusinya? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan tuan rumah untuk mengatasi ini. Pertama, menggunakan piring yang diameternya lebih kecil. Semakin besar ukuran piring semakin besar pula volume makanan yang diletakkan di atasnya begitu pula sebaliknya. Kedua, dengan membuat norma “ambil secukupnya, nanti jika kurang boleh nambah” lebih nyata terlihat. Bisa terus diucapkan, bisa pula dibuat dalam bentuk bendera-bendera kecil di meja makan. Ketiga, makan di meja makan bersama-sama. Kondisi seperti ini memperkuat social facilitation yang telah ada karena keberadaan orang lain berkelanjutan sehingga arousal untuk menghabiskan makanan tetap terjaga. Selain itu, keberadaan orang lain dengan makan bersama-sama seperti ini membuat seseorang merasa dievaluasi, “Ayo makanannya dihabiskan, gak boleh mubazir loh”.

Semoga tulisan ini membantu saudara untuk menyiapkan Lebaran tahun ini dengan kebahagiaan yang utuh tanpa meninggalkan semangat Ramadan yaitu kebersahajaan dan kepedulian dengan sesama. Selamat berhari raya, mohon maaf lahir dan batin. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri