Membaca Simbol Pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT
berita
Humaniora
14 July 2019 17:30
Watyutink.com - Akhirnya keduanya bertemu juga. Setelah tiga bulan pilpres usai, kerusuhan 21-22 Mei yang menewaskan sejumlah orang, serta sidang MK yang melelahkan, dua kandidat Pilpres 2019 Prabowo Subianto dan Jokowi bertemu, Sabtu (13/7/2019) pagi di stasiun MRT Lebak Bulus. Keduanya lalu naik kereta dan turun di kawasan Senayan. Acara berlanjut santap siang di sebuah restoran di pusat perbelanjaan di kawasan itu.

Pertemuan ini disebut bersejarah serta menggaungkan aura positif. Secara simbolis, pertemuan perdana ini menjadi babak baru rekonsiliasi antara dua kubu yang berseteru. Pertanda segala kontestasi yang memecah belah anak bangsa telah usai. Di kesempatan kemarin juga, Prabowo dengan tegas mengatakan selamat bekerja pada Jokowi. Sebuah pernyataan yang berarti ia telah menerima hasil pilpres. 

Bahwa pada saatnya Jokowi akan bertemu Prabowo sudah bisa kita duga. Berbagai kabar yang belakangan beredar mengindikasikan itu. Misalnya, muncul wacana kubu Prabowo ditawari jabatan kementerian dan kepemimpinan di parlemen. Jadi, tinggal tunggu waktu dan tempat bertemu saja. 

Yang tidak banyak orang kira, tempat mereka akhirnya bertemu: di stasiun MRT. Semula orang mengira mereka bakal bertemu di Hambalang, kediaman Prabowo yang asri di Bogor. Atau Istana Bogor, tempat Jokowi dan keluarga tinggal. Apa dua tempat itu tak dipilih karena dianggap tak netral? 

Kubu Jokowi mungkin segan bertemu di rumah Prabowo di Hambalang, karena sebagai pemenang pilpres ada rasa kurang sreg bila menyambangi pihak yang kalah. Sementara itu, kubu Prabowo juga kurang sreg bila berkunjung ke rumah Jokowi. Ingat, pendukung Prabowo merasa mereka menang dan Jokowi curang. Berkunjung ke rumah Jokowi pertanda mengakui kekalahan. Hm, benarkah tafsir-tafsir itu?

Sebagai tempat netral, MRT juga menarik ditelisik dengan analisis bahasa simbol (semiotika). Tempat itu sesungguhnya tak netral dan bebas nilai. MRT adalah moda transportasi massal yang terwujud di era Jokowi. MRT jadi infrastruktur kebanggaannya dan jadi objek kampanyenya kemarin. Apa ini artinya Jokowi sedang pamer hasil kerjanya sebagai presiden?

Yang menarik pula, kala Jokowi dan Prabowo naik kereta MRT banyak warganet yang memaknainya sebagai simbol mereka kini berada satu gerbong. Perbedaan pendapat dan konflik telah selesai. Kini saatnya bersatu. Jokowi mengatakan, kini tidak ada lagi 01 dan 02 maupun cebong dan kampret. Yang ada Garuda Pancasila. Ada juga yang memberi singkatan baru bagi MRT: menyatukan rakyat terbelah. 

Tafsir lebih menarik juga ramai di dunia maya kemarin: ketika Jokowi dan Prabowo bersama di satu gerbong, penumpang gelap tak diajak. Mudah menunjuk penumpang gelap itu. Telunjuk mengarah pada kelompok Islam garis keras yang berada di belakang Prabowo, mereka yang selama ini ingin menegakkan khilafah. Juga kelompok Islam yang tergabung di kelompok alumni 212. 

Juru bicara PA 212 langsung mengatakan tak lagi berada di belakang Prabowo dan menunggu arahan imam mereka, Rizieq Shihab. Benarkah mereka penumpang gelap yang kini ditinggalkan Prabowo yang segerbong dengan Jokowi? Apa mereka yang selama ini ingin menelikung demokrasi kita dengan menumpang paslon Prabowo-Sandi?

Apapun, pertemuan Jokowi dengan Prabowo kemarin sebuah pertanda positif. Elit di atas sudah menunjukkan perdamaian. Bila yang di bawah masih berseteru, apa mungkin mereka ini penumpang gelap sesungguhnya. Yakni yang tidak setuju Indonesia damai, sejahtera, adil dan makmur?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Secara psikologis ada tempat yang nyaman dan tidak nyaman. Ada tempat yang netral dan tidak netral. Pertemuan kan tidak harus di kediaman Prabowo atau Jokowi. Di manapun bisa, yang penting tempatnya nyaman dan enak. Termasuk di stasiun MRT Lebak Bulus. 

Mungkin dipilihnya stasiun MRT Lebak Bulus, sebagai tempat titik mulai sejarah peradaban bangsa. Karena MRT menjadi dimulainya sejarah peradaban itu. Dan bisa jadi pertemuan disana, menjadi awal mula sejarah persatuan antara Prabowo dan jokowi serta pendukung-pendukungnya. 

Tafsir politik bisa macam-macam. Dan bisa kemana-mana. Namun apapun tafsir dari masyarakat harus kita hargai. Stasiun MRT Lebak Bulus menjadi tempat netral yang bisa diterima kedua belah pihak. Dan menjadi tempat yang baik dan positif untuk merajut kebersamaan, sambil memperkenalkan alat transportasi publik ke masyarakat. 

Apapun tafsirnya kita harus berbangga kepada dua tokoh tersebut yang telah mau saling menyapa dan saling bercanda yang penuh tawa. Di manapun tempat pertemuannya pasti akan dimaknai dan ditafsirkan macam-macam. Yang terpenting mereka sudah bertemu. Sudah menjadi pintu masuk untuk melakukan rekonsiliasi. 

Buat saya tak  ada yang namanya penumpang gelap. Semua adalah bagian dari rakyat Indonesia. Hanya beda pandangan saja. Beda pendapat saja. Dan beda pilihan saja. Tak ada tempat bagi khilafah di negeri ini. Tak boleh juga ada yang akan mendirikan khilafah di republik ini. 

Soal menelikung demokrasi atau tidak itu urusan mereka. Yang pasti dan yang jelas, Prabowo-Sandi cinta Pancasila dan NKRI harga mati. Yang diperlukan, kedewasaan berpolitik bagi masyarakat. 

Demokrasi itu harus menghormati yang menang. Sekaligus juga menghargai yang kalah. Kalah menang dalam kontestasi demokrasi itu soal biasa. Yang menang, jangan jumawa. Dan yang kalah jangan kecewa. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Dosen Ilmu komunikasi UMY dan Editor in Chief Jurnal Komunikator

Pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT menjadi perhatian masyarakat dalam minggu ini. Pertemuan dua tokoh besar bangsa ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat baik masyarakat “offline” ataupun masyarakat “online”. Perbincangan masyarakat tersebut bahkan melahirkan berbagai macam tafsir dan pemaknaan terhadap pertemuan dua tokoh tersebut. 

Tafsir terhadap pertemuan dua tokoh besar tersebut terlihat ramai dalam dunia maya. Memang masyarakat online paling banyak memberikan penafsiran terhadap pertemuan tersebut. Menafsirkan sesuatu tidak ada salahnya, namun harus dipahami setiap tafsir yang berkembang dari berbagai pihak dalam hal ini individu ataupun kelompok, pasti hal tersebut banyak dipengaruhi latar belakang pendidikan, afiliasi partai politik tertentu, sampai berasal dari daerah mana si penafsir tersebut berasal juga turut mempengaruhi hasil dari pemaknaan tersebut. 

Semiotika sebenarnya memberikan sedikit jalan tengah dari banyaknya tafsir “liar” di masyarakat saat ini, karena setiap hasil pemaknaan dari semiotika sebenarnya sudah melalui intertekstualitas, dalam bahasa sederhananya setiap pemaknaan dari sebuah tanda pasti selalu menghubungkan dengan teks yang lain. Artinya pemaknaan yang dihasilkan semiotika tidak tiba-tiba muncul tetapi sudah diperkuat data dan kajian-kajian akademis atau non akademis yang memperkuat pemaknaan tersebut. 

Oleh karena itu dalam hal ini saya mencoba sedikit bersemiotika dari pertemuan Prabowo dan Jokowi, melihat berbagai gambar yang beredar di berbagai media dari pertemuan tersebut saya mengambil dua tanda yang akan saya analisis yaitu Mass Rapit Transid (MRT) dan baju putih yang digunakan oleh kedua tokoh tersebut. 

Meminjam istilah salah satu tokoh semiotika Roland Barthes, bahwa ada makna denotasi dan konotasi yang bisa kita gali dari dua tanda tersebut. Secara denotatif kita bisa melihat bahwa MRT adalah sebuah kereta cepat dengan desain yang berbeda dengan kereta api pada umumnya pastinya terlihat lebih modern Sedangkan secara konotatif MRT adalah simbol kemajuan sebuah bangsa, moda transportasi modern dan salah satu solusi kemacetan yang ada di Jakarta (makna konotatif tersebut hasil dari penelusuran berbagai sumber). 
    
Jika kita lihat secara seksama sebenarnya banyak hal yang bisa kita maknai dari pertemuan tersebut salah satunya merujuk pada hasil analisis di atas maka bisa jadi pertemuan dua tokoh tersebut di MRT merupakan sinyal bahwa mereka berdua sama-sama menginginkan Indonesia menjadi negara maju dan segera lepas dari istilah negara “berkembang”. Karena mereka bertemu dalam sebuah simbol kemajuan sebuah bangsa dalam bidang transortasi. 

Kemudian baju putih yang mereka gunakan secara denotatif jelas terlihat bahwa Jokowi menggunakan lengan panjang sedangkan Prabowo menggunakan lengan pendek dengan kombinasi empat saku pakaian. Sedangkan secara konotatif baju putih bisa dimaknai adalah bentuk kesederhanaan, kebebasan, keterbukaan bahkan mampu mengurangi rasa nyeri  (makna konotatif tersebut hasil dari penelusuran berbagai sumber). 

Melihat dua tokoh tersebut bersama-sama menggunakan baju putih (terlepas hal tersebut disengaja atau tidak disengaja) menunjukkan bahwa kedua pemimpin tersebut sebenarnya mempunyai sifat yang sama dalam memimpin sebuah bangsa yaitu penuh kesederhanaan, dan kedua pemimpin tersebut sangat menyukai keterbukaan dalam berbagai bidang, serta yang terpentih makna baju putih menunjukkan bahwa tidak ada luka dan dendam lagi diantara kedua pemimpin tersebut. Artinya rasa sakit yang dirasakan selama Pemilihan Presiden akibat saling serang dan menghujat beberapa waktu yang lalu berangsur-angsur akan hilang. 

Jika kita tafsirkan secara keseluruhan maka pertemuan Jokowi dan Prabowo yang menggunakan baju putih dan dilakukan di MRT merupakan bentuk pesan kepada publik bahwa rekonsiliasi itu sudah terjadi dan mereka sama-sama berkomitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju yang pastinya akan mensejahterakan rakyatnya lewat berbagai fasilitas yang nantinya mampu menunjang produktivitas masyarakat Indonesia. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik