Menjadi Kiri/Tidak Kiri Itu Seksi?
berita
Humaniora

Sumber foto :Twitter

Penulis
Ada yang luput dari berita pengepungan sekelompok massa di kantor YLBHI tempat acara "Asik-asik Aksi" berlangsung Minggu (17/9) lalu. Di luar massa pengepung  konon dibekingi purnawaran TNI dan di antara yang dikepung terdapat sejumlah penyintas tragedi '65 yang renta. Faktanya dari kedua pihak umumnya berusia muda. Fenomena ini patut ditelaah.

Tragedi '65 terjadi 52 tahun lalu. Yang punya ingatan jelas peristiwa itu kakek-nenek mereka. Bahkan orangtua mereka pun masih terlalu kecil atau belum lahir saat peristiwanya terjadi. 

Pasca-Soeharto turun, buku-buku kiri menjamur. Walau larangan menyebarkan paham komunis tak pernah dicabut, kini tak sulit mempelajari ideologi kiri. Dari senior di kampus, generasi ini dapat cerita romantisisme aktivis era Orba. Cerita saat sembunyi-sembunyi baca buku Pram atau merasa selalu diikuti intel. Cerita heroik itu membuat pemuda-pemuda kiri baru ini merasa menjadi kiri itu seksi.

Masalahnya, tanpa heroisme, menjadi kiri kemudian sebatas kegenitan intelektual. Buku-buku kiri dibaca sambil menyeruput kopi mahal di kafe. Apalah artinya mempelajari ideologi kiri namun gaya hidup yang dipraktekkan justru borjuis? Macam orang yang memakai kaus Che Guevara tapi tak kenal siapa dia.

Di lain pihak, ada pula generasi muda yang merasa lebih seksi dengan tak menjadi kiri. Kakek dan orangtua mereka yang tumbuh di masa Orde Baru Soeharto hidup ditakut-takuti PKI/komunisme sebagai bahaya laten. Alhasil, efeknya masih terasa selewat dua generasi. 

Mereka yang kini berusia belasan hingga awal 20-an tak mengalami saban tanggal 30 September diputar "film horor" Pengkhianatan G30S/PKI. Cerita horor PKI mereka peroleh dari orangtua, guru sekolah, atau guru mengaji. Mereka mudah tersulut ketika diajak mengganyang apapun yang berbau kiri. Apakah mereka akan dibiarkan terus dihantui bahaya komunis sementara ideologi itu tak lagi laku di mana-mana? Yang juga penting, siapa yang menyulut mereka? Ada kepentingan politik tertentukah di balik sentimen yang terus dihembuskan ini? 

Yang jelas, setengah abad lewat, baik kaum kiri baru maupun golongan anti-kiri baru mudah terjebak dalam konflik terbuka. Bukankah para bapak bangsa kita bersahabat meski berbeda pandangan ideologi? Kenapa generasi penerusnya malah memelihara kebencian? Tidakkah damai lebih seksi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(ade)

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Budaya

Harus hati-hati gunakan istilah kiri. Istilah itu dipakai untuk sikap oposisi. Biasanya memang bertumpu pada teori-teori kiri, misalnya sosialis. Dalam range kiri salah satunya ideologi komunis. Komunisme lebih berat pada ideologi politik. Sebagai aliran, oposan banyak yang tak sadar mereka berada di posisi kiri. Misalnya, FPI memenuhi kriteria kiri dalam arti oposan terhadap ideologi dominan.

Itu kalau kita luaskan pengertian kiri. Tapi kalau persempit komunis atau PKI, kita juga bisa bertanya, apa yang di dalam YLBHI kemarin pro PKI?  Sebetulnya orang-orang di dalam pro kebebasan berekspresi. Bahwa satu-dua ada yang komunis, tak ada yang tahu. Kemarin bukan ajangnya (golongan komunis). Kemarin kegiatan seni pro kebebasan berekspresi. 

Generasi muda sekarang banyak yang tertarik pada isu '65. Mereka ingin mengangkat suara korban-korban yang kebanyakan memang anggota, simpatisan atau yang dituduh PKI. Pada tahun 1965 ada pembantaian lalu sesudahnya ada penyelewengan sejarah oleh rezim yang berkuasa, maka sekarang banyak anak-anak muda tergugah untuk membela korban. 
Sementara itu mereka yang anti-PKI hasil bentukan berlangsung bertahun-tahun, walau tanpa mengalami indoktrinasi langsung. Indoktrinasi ala Orba berjalan terus dan tinggal dhidupkan lagi oleh yang berkepentingan dan memiliki modal. Baik modal politik dan terutama uang. Secara sederhana, peristiwa kemarin dibikin. Ada orang yang menggelontorkan sumber daya lain untuk menghidup-hidupkan ketakutan pada komunis.

Saya tidak bilang ada konspirasi atau apa. Barangkali awalnya niat baik. Dan banyak sekali di tingkat lapangan kawan-kawan yang sangat emosional anti PKI itu merasa negara sudah gawat betul. Mereka kemudian diberi asupan sumber biang masalah adalah komunis dan Cina. Ketika emosi terbentuk, kita tak bisa lagi bicara hal-hal rasional. Misalnya, orang tak peduli lagi apa faktanya benar, diakui oleh ahli sejarah.  

Di lain pihak, anak muda yang memilih jadi kiri bergabung karena kecenderungan ingin terlibat dalam gerakan radikal. Itu kan terlihat keren. Saya juga pernah muda dan ikut kegiatan revolusioner memberi makna. Banyak hal yang mempengaruhi pilihan tersebut. Misal pergerakan hormon dan perkembangan informasi pemikirannya masih bergejolak semua. Itu kenapa  tawaran-tawaran yang non-mainstream, seperti kiri atau sekalian saja komunis, bisa jadi sangat menarik. Sangat seksi. Dalam konteks itu ilmunya tak utuh. Mereka sebenarnya tak pernah baca Das Kapital atau tulisan tokoh-tokoh komunis lain, tapi sudah melekatkan identitas perlawanan sebagai bagian dirinya. Makanya yang muncul kemudian kegenitan-kegenitan intelektual.  Jadi, yang satu emosional, yang satu lagi genit. Namun kita tak bisa menghambat anak muda berproses. 

Saya justru merasa khawatir pada yang berdiam diri. Mereka yang tua dan berpengalaman, punya ilmu banyak, punya wibawa, kearifan yang diam saja. Sekarang bukan saatnya diam. Sekarang saatnya bergerak membangun kesadaran. 

Untuk generasi muda Islam yang bikin saya ngenes itu  mereka jadi "tukang dorong mobil." Itu istilah populer di gerakan Islam tahun '80-an, gara-gara banyak sekali mobilisasi politik umat Islam dari partai, tapi setelah pemilu kepentingannya tak diperhatikan lagi. Jadi umat Islam sering jadi tukang dorong mobil. Mobilnya jalan, umat nggak diajak naik mobil. Yang bikin saya ngenes kok generasi muda Islam sekarang punya simptom yang sama, ya? Gampang banget mereka dimobilisasi. Disuruh dorong mobil saja. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Penulis

Apakah kiri itu seksi? Zaman saya kuliah di UGM, Yogyakarta, iya. Kalau sekarang rasanya nggak. Kalangan yang berdemo “212” mungkin kini kelihatan seksi untuk sebagian anak-anak muda yang telah kena "jualan" FPI dan sejenisnya. Mungkin kiri dulu kelihatan seksi karena waktu saya kuliah untuk pertama kalinya buku-buku kiri dijual secara bebas, tapi sekaligus juga secara resmi masih dilarang oleh negara. Hal-hal yang dilarang kelihatan menantang, kelihatan seksi. Makin dilarang, makin kelihatan berbeda. Itu natural.

Nah, sekarang menurut saya kiri sudah nggak (seksi lagi). Sudah (kelihatan) biasa. Sebagai contoh, di zaman saya kuliah, kelihatan kiri dipandang cukup bertaraf (keren) secara wacana. Sekarang kan nggak. Apalagi kemarin HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dibubarkan, jangan-jangan yang sekarang seksi HTI. Mungkin untuk anak-anak muda, ideologi kanan lebih seksi sebagai alternatif. 

Pemuda dalam wacana sosial politik Indonesia sering dimitoskan sebagai pendobrak platform politik. Saya sebenarnya skeptis dengan wacana kepemudaan itu. Yang terjadi kemarin di gedung YLBHI, menurut saya, adalah culture wars (perang budaya). 

Beberapa tahun terakhir culture wars telah masuk ke dalam tradisi berpolitik kita. Di AS, misalnya, culture wars antara konservatif lawan progresif bertarung di sekitar isu aborsi, politik, lingkungan, dan macam-macam. Di sini culture wars pada isu-isu yang sangat moralis: penistaan agama atau sejenisnya. Dari situ saya pahami apa yang terjadi dengan kasus '65 telah masuk ke dalam perbendaharaan culture wars kita, antara mereka yang ingin membuka sejarah sebenarnya dan satu pihak lagi yang setia pada narasi negara (Orba) bahwa PKI pemberontak dan pembunuhan massal setelahnya dibenarkan. Kalau kita melihat lagi ke AS, antara kaum konservatif dan liberal, mereka pun tak pernah benar-benar selesai dalam isu Perang Saudara.  

Indonesia sebetulnya bukan satu-satunya negara yang melarang komunisme. Hari ini, di beberapa negara Eropa, yang belakangan dikuasai kelompok sayap kanan, bahkan ultra-kanan, sedang terjadi upaya mem-banned (melarang) komunisme. Patung-patung Lenin di sana mau dirobohkan.

Golongan kiri di Indonesia sangat tidak terorganisir dan kebanyakan berkonflik secara internal. Justru golongan kanan sangat terorganisir lewat ormas atau partai yang membutuhkan suara mereka. Mereka (yang kanan) diperbolehkan oleh negara. Di Indonesia pasca-65 bangunan politiknya secara ideologi identik dengan Islam. Kalau kita bicara kanan di Indonesia seakan-akan itu suatu yang natural. Misalnya, statemen Indonesia anti-komunis seakan-akan sudah natural, padahal secara historik kan tidak. Sementara ketika bicara kiri, seakan-akan itu alien dari tubuh kebangsaan kita. Jangankan kiri, liberalisme saja juga (dianggap) asing. 

Di kaum kiri kita saat ini kesulitan mengajukan program yang make sense. Saya berada di kiri, tapi saya melihat banyak hal yang nggak make sense. Ada kiri yang sejak 2014 menolak Jokowi karena menganggapnya wakil dari borjuasi. Ada juga yang bersikap dia pilihan terbaik dari yang terburuk. Ada juga yang mendukung di awal  namun melihat kebijakan Jokowi seperti ini lalu jadi barisan oposisi meskipun tak berbagi tempat dengan golongan kanan. Yang pasti, sekarang mereka juga bingung. Saya nggak tahu masa depan gerakan kiri di Indonesia. Saya punya teman-teman di sana, tapi saya sendiri sudah terlalu capek kalau masuk ke (gerakan) itu lagi. Mereka tetap hidup dalam ancaman selama Tap MPR belum dicabut. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Jurnalis Senior, Pengamat Budaya

Saya melihatnya yang terjadi saat ini bukan persoalan ideologi. Yang terjadi di YLBHI kemarin ada kaitannya juga dengan wacana pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI. Dalam kerangka itu semua ada yang pro dan ada yang kontra. Pertanyaannya, apa yang pro itu dengan sendirinya anti kiri dan yang kontra anti kanan? 

Menurut saya tidak ada urusan dengan itu semua. Karena yang kiri sebenarnya tidak tahu kiri itu apa, dan yang di kanan tidak tahu kanan itu apa. Tidak ada yang tahu ideologi yang mereka usung. Banyak anak muda Indonesia yang tak pernah baca buku, tahunya hanya media digital saja. Maka, bisa jadi ini bukan persoalan ideologi. 

Lalu, sekarang kita ribut besar tapi apa yang menggerakan anak-anak muda ini jika bukan didasari ideologi? Itu pertanyaan yang saya tunggu. Yang merasa kiri melihat sesuatu (pada peristiwa '65), sedang yang merasa kanan tidak melihat ada yang perlu diungkap lagi. Yang menggerakkan adalah pihak-pihak yang sedang merakayasa bangsa ini agar di satu pihak yang kiri mengingat sesuatu, sedang di kanan melupakan sesuatu. 

Kekuasaan ini sedang bermain memerintahkan rakyatnya, "Hei, kamu rakyat Indonesia, tolong kamu mengingat ini" dan "Tolong kamu melupakan ini." Akhirnya mereka ngotot-ngototan. Yang satu tak mau ingat, yang satu tak mau lupa. Yang satu melawan lupa, yang satu melawan ingat. Yang terjadi adalah penderita skizofrenia melawan penderita skizofrenia. Yang menolak lupa, yang tidak ada pun diingat-ingat, yang fiksi pun dianggap fakta. Sementara yang menolak ingat, melupakan segalanya. Yang fakta pun dianggap fiksi. 

Maka tidak mungkin dua golongan yang gontok-gontokan ini akan seperti Bapak Bangsa pendiri negeri ini yang saling debat di sidang Konstituante memperjuangkan ideologinya, tapi setelah sidang ngobrol atau ngopi bareng. Mereka dulu berdebat memperjuangkan ideologinya. Mereka adalah subyek, ideologinya obyek. Secara kognitif, mereka tetaplah manusia. Setelah gontok-gontokan selesai, sebagai sesama manusia mereka bertemu dan mengobrol seperti biasa. Sekarang problemnya obyek dan subyek telah menjadi satu. Yang terjadi delusional. Tidak bisa lagi membedakan fakta dan fiksi. 

Mereka takkan bisa bertemu karena sama-sama menderita skizofrenia. Dua-duanya butuh psikiater. Jangan bayangkan setiap anak bangsa satu-satu harus ke psikiater. Yang dibutuhkkan adalah kecerdasan. Bagaimana pemerintah mencerdaskan bangsa dari situasi ini. Entah bagaimana caranya kecerdasan bangsa harus ditingkatkan atau kejadian kayak begini bakal terulang atau bahkan lebih buruk lagi. (ade)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri